
BAB 27. Nasehat Baba.
"Demir, jawab Nenek." Nenek Esme berhenti makan dan menunggu jawaban Demir.
"Tak ada apa-apa Nek." Demir beralih menatap Eilaria. "Ei, kau jangan meniru perilaku kakakmu Ansell, lihat dia tak sopan pada Kakak pertamanya."
Eilaria menatap bingung atas ucapan Demir.
"Heh, siapa yang tidak sopan kalau kakaknya sendiri tak jujur pada saingannya. Setidaknya beri satu alasan agar saingannya bisa mundur tanpa tersakiti lebih dalam." Ansell berucap sangat menggebu-gebu sambil menunjuk-nunjuk Demir dengan garpu.
Nenek Esme dan Eilaria hanya menatap bingung apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kau lebih mementingkan sahabatmu daripada kakakmu?" Demir naik pita suara.
"Aku akan mendukungmu jika kau di jalan yang benar." Ansell melotot.
"Kau sekarang berani melototiku hah!" Demir berdiri menggebrak meja makan.
Nenek Esme dan Eilaria terlonjak kaget. Dan Eilaria memeluk erat neneknya karena ketakutan.
"Sudah berhenti. Kalian sudah membuat Ei ketakutan." Nenek Esme berteriak menghentikan pertikaian Ansell dan Demir.
"Nenek nasehati Ansell sampai benar, agar dia bisa bersikap sopan pada kakaknya." Demir duduk dan mengambil minum. Ansell dengan cepat menahan gelas yang akan digunakan untuk minum Demir dan meletakkannya dengan keras ke atas meja.
Demir yang melihat kelakuan Ansell yang sangat kurang ajar langsung menatap dengan tajam.
Ansell mencengkram kerah Demir. "Aku bisa tidak sopan jika kau melakukan hal yang tak seharusnya. Aku tidak mau persahabatan antara aku, Sefa dan Karim hancur karenamu." Ansell langsung memukuli wajah dan bahu Demir dengan membabi buta.
Demir tak bisa melawan karena sadar Ansell adalah Adik perempuannya yang selama ini berjuang untuk melunasi hutangnya. Demir hanya bisa membuat perlindungan diri dengan menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya yang menunduk.
Nenek Esme berjalan mendekat dan melerai keduanya. Eilaria semakin ketakutan.
...----------------...
Jenny membawakan teh hangat untuk Nyonya Ivy dan Tuan Osgur.
"Oh ya Jenny, tadi saya ditelpon Ismet kalau kau harus kembali ke perusahaan."
Belum sempat Jenny mendudukan diri, Nyonya Ivy seperti mengusirnya. Dengan berat hati Jenny mengambil tasnya dan berpamitan.
"Saya permisi dulu Mr."
Altan menatap sekilas dan menganggukan kepala. Setelah kepergian Jenny, Nyonya Ivy sangat senang.
"Altan besok kamu bisa menghadiri party yang aku buat untuk mempererat keluarga kita?" Rencana dadakan yang sengaja dibuat Nyonya Ivy.
"Di mana?"
"Di rumah Paman Ayas dan Bibi Nehriman saat makan siang."
"Akan aku usahakan Bi." Menjawab ragu.
"Tapi kau harus membawa Ansell."
"Ansell?" Altan sedikit kaget. Bagaimana caranya meminta Ansell.
"Iya, karena kerabat kita semua tahu kalau Ansell adalah calon istrimu." Melihat kebingungan Altan Nyonya Ivy punya rencana lagi.
"Kau tenang saja, masalah mengabari Ansell biar Bibi yang menangani."
...----------------...
Riza memandang kedatangan Jenny dengan tatapan geli, pasti ada sesuatu yang terjadi sampai Jenny seperti itu.
Jenny masuk ke ruangannya dengan menghentak-hentakan kaki. Setelah tadi bertemu Ismet dan menanyakan perihal agar Jenny segera kembali. Tapi ternyata Ismet tak menelpon siapapun dan tak menyuruh agar Jenny kembali.
"Kurang ajar! Nyonya Ivy menipuku." Jenny membanting tas kecilnya ke lantai.
Suara ketukan pintu terdengar. "Masuk." Jenny berteriak.
Clara yang masuk jadi merasa takut tadi mendengar teriakan Jenny.
"Ada apa?" Tanya Jenny ketus.
"Aku punya berita baru." Clara berbicara lirih.
"Apa?"
"Aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan Mr Yaza dan Mr Riza."
"Yaza mengatakan apa?"
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik."
Jenny dan Clara kaget mendengar ada orang lain yang sepertinya datang tiba-tiba.
"Mr Riza." Clara memberi hormat.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan." Riza berkata datar, untung saja tadi Riza mengikuti Clara.
"Mmmm....tidak Mr, hanya urusan wanita." Clara menatap Jenny meminta bantuan.
"Ya..benar. Sekarang kau boleh keluar Clara." Jenny memberi kode pada Clara. Dan Clara membungkuk ijin keluar.
"Ada apa kau ke sini?" Jenny memandang tak suka pada Riza.
"Aku...tentu ingin mengajakmu makan siang." Alasan yang tiba-tiba muncul.
Jenny menatap tak percaya. Tapi setelah melihat waktu di jam dinding ruangannya, ternyata benar ini waktu makan siang yang sudah lewat. Perutnya dari tadi belum terisi. Membuat Jenny menerima ajakan Riza.
...----------------...
"Ayo mari duduk." Baba Mehmet mempersilahkan Altan duduk di taman belakang rumahnya dekat dengan tempat kerjanya.
"Kenapa?" Baba Mehmet bertanya lagi saat melihat Altan tampak tak sehat.
"Sedikit lelah." Alasan yang sama.
"Jangan terlalu dipikirkan. Biarkan semua mengalir apa adanya. Jangan dipaksakan jika hanya membuatmu sakit."
Altan menaikan alisnya. Bagaimana Baba tahu apa yang sedang dirasakannya.
"Tidak seperti itu Baba." Altan berusaha mengelak.
"Walaupun kau berusaha mengelak, aku tahu. Kau sama persis seperti Yakuz."
"Sekarang dengarkan aku berbicara." Altan hanya mengangguk mendengar penuturan Baba Mehmet.
"Sekeras apapun kau menahannya, itu hanya akan menyakiti jiwa dan ragamu."
"Katakan yang sejujurnya jika kau memang mencintainya, jangan menjeratnya tanpa kepastian."
"Kau tahu, dulu Yakuz sepertimu. Susah sekali mengungkapkan rasa. Tapi setelah aku memberinya nasehat. Yakuz bisa mendapatkan hati dan cinta tulus ibumu. Walaupun hanya bertahan sembilan tahun kurang, ibumu meninggalkannya karena takdir."
Altan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Jadi sekarang bersikaplah baik padanya, Baba yakin dia gadis yang baik. Pertahankan dia sampai kau bisa memilikinya selamanya sampai maut memisahkan."
Tak terasa waktu sudah hampir petang. Bercerita kepada Baba membuat Altan lebih tenang. Altan berpamitan.
...----------------...
Demir mengajak Sefa keluar untuk jalan-jalan. Karena hari ini Demir ijin tak berangkat kerja, gara-gara kejadian pertengkarannya dengan Ansell siang tadi. Demir berjalan menuju rumah sewa Sefa.
"Demir, kau sudah sampai?" Demir yang tadinya ingin mengetuk pintu dibuat kaget akan kedatangan Sefa dari belakang.
"Iya...kau dari mana?"
"Tentu saja baru pulang." Jawab Sefa.
"Astaga! Maaf, aku lupa tidak menjemputmu." Demir menepuk jidatnya.
"Tidak apa-apa." Sefa membuka pintu rumahnya . "Ayo masuk."
Sefa menyalakan lampu seluruh ruangan. Demir duduk di kursi ruang tamu.
"Tunggu, aku membersihkan diri dulu." Sefa berjalan ke kamarnya mengambil pakaian ganti, dan langsung menuju kamar mandi.
Setelah siap, Sefa dan Demir melangkah ke luar.
Sefa dan Demir kaget mendapati Karim ada di depan rumah Sefa.
"Karim?" Ucap lirih Sefa.
Karim memandang Sefa dan Demir bergantian.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, Sefa?" Karim sudah terpancing emosi saat melihat keduanya bersama.
"Bukankah tadi siang sudah jelas." Demir menyela.
"Diam! Aku tidak bertanya padamu." Karim mencengkram kerah baju Demir.
"Aku mewakili kekasihku. Sekarang lepaskan tanganmu dari bajuku." Demir mencoba melepaskan cengkraman tangan Karim tapi Karim justru mencengkram lebih erat.
"Hentikan Karim." Sefa berteriak membuat Karim melepaskan cengkramannya.
"Sekarang kau sudah tahu kan. Jadi aku mohon pergilah."
Karim menatap tak percaya pada Sefa. Bagaimana bisa Sefa menjadi seperti ini? Bisa berteriak padaku. Pasti ini karena Demir. Karim memandang Demir dengan tatapan bermusuhan.
Dengan berat hati Karim melangkah pergi.
...----------------...
Ansell merapikan tempat tidurnya dan Eilaria sudah berdiri menunggu ranjangnya bersih.
"Kau sudah mengantuk?" Ansell bertanya saat melihat Eilaria menguap. Eilaria mengangguk.
"Ayo naik, sudah bersih." Eilaria naik dan Ansell menyelimutinya lalu ikut berbaring.
Ponselnya berdengung, Ansell mengambilnya dan membukanya. Dilihatnya ada pesan singkat dari Nyonya Ivy. Ajakan datang ke party keluarga siang hari di kediaman Paman Ayas.
Ansell mengetik pesan pada Tuan Altan untuk menanyakan kebenarannya.
"Tuan, tuan sudah tidur?"
"Belum."
"Apa benar besok ada party?"
"Iya."
Apah singkat-singkat sekali jawabannya. Baiklah aku tak akan mengirimnya pesan lagi. Ansell langsung memejamkan kedua matanya.
...----------------...
Altan yang tadinya berharap bahwa Ansell akan mengirim pesan lagi ternyata tidak.
Altan kembali teringat akan kata-kata Baba Mehmet membuatnya berpikir. Ditekannya nomor ponsel Ansell.