
BAB 44. Peringatan Yakuz.
"Kak Yakuz, ada apa?"
Nyonya Ivy dan Tuan Osgur duduk berdampingan di sofa depan Tuan Yakuz Axton. Dengan raut penuh kekhawatiran.
"Kalian ini bagaimana?"
Tuan Osgur dan Nyonya Ivy saling pandang.
"Maksud Kaka?" Nyonya Ivy bertanya.
"Kenapa sampai sekarang kau belum membawa calon untuk putraku ke hadapanku. Sedangkan Mehmet sahabatku sudah pernah berjumpa."
Nyonya Ivy nampak berpikir. "Akan ku usahakan Kaka, Kaka tahu sendiri kan putra Kaka."
"Memangnya apa yang dilakukan putraku?" Tuan Yakuz nampak bingung, ke mana arah pembicaraan ini.
"Dari kemarin Altan dan Ansell pergi berdua, mungkin nanti sore baru pulang kalau tak ada tambahan hari." Nyonya Ivy menjelaskan.
Tuan Yakuz menghentakkan tongkat berlapis emas yang biasa ia bawa ke lantai cukup keras. "Kenapa bisa mereka pergi berdua sedangkan aku belum pernah melihat gadis itu, seperti apa dirinya dan seperti apa sifatnya."
"Kau tahu bukan, aku tak mau putraku tersakiti. Dia belum pernah mengenal wanita dalam kategori dekat, kalian ceroboh." Tuan Yakuz menghentakan kembali tongkat berlapis emas miliknya. Membuat Nyonya Ivy dan Tuan Osgur gugup.
"Kalau sampai putraku tersakiti hatinya oleh gadis itu, kalian akan menanggung seluruh resikonya. Berani-beraninya dia pergi sebelum memperkenalkan diri di hadapanku." Tuan Yakuz sangat kecewa.
"M.Maaf Kak, saya juga baru tahu kemarin dari Adik ipar." Nyonya Ivy tergagap.
"Mereka pergi ke mana?"
"Saya tidak tahu, ponsel Altan dimatikan dari kemarin. Ponsel milik Ansell hari ini juga tidak bisa di hubungi." Nyonya Ivy sangat ketakutan.
Dari dahulu Kakak tirinya selalu menjaga Altan sangat ketat, tak boleh terluka fisik ataupun perasaannya. Meskipun sekarang Altan sudah dewasa tapi masih dianggap anak kecil olehnya.
"Semoga saja Ansell tidak melakukan kesalahan, kalau sampai dia melakukan nya…. Matilah aku!"
"Bagaimana kejadian macam ini bisa terjadi!" Tuan Yakuz membentak saat tahu putra satu-satunya jauh dari pengawasan.
"M.maaf... b.bukan maksud saya kurang ajar. Tapi Altan sekarang sudah dewasa, dia bisa menentukan jalannya sendiri." Tuan Osgur mencoba angkat suara meski tergagap dan gemetar.
"Kalian tahu apa! Kalian tidak punya anak, mana tahu bagaimana perjuanganku membesarkannya seorang diri tanpa campur tangan orang lain."
"Dari kecil putraku tak pernah jauh dari pengawasanku, sampai dia di perguruan tinggi pun aku memberinya pengawasan. Hingga aku mengangkatnya menjadi Presdir dan tetap memantaunya melalui kalian."
Tuan Yakuz menghela nafas. "Dan sekarang, kalian kenapa bisa melakukan kesalahan semacam ini."
"Maafkan kami Kak." Nyonya Ivy dan Tuan Osgur tertunduk lemas.
"Aku tidak butuh permintaan maaf kalian, yang aku butuhkan tetap jaga putraku. Kalau sampai gadis itu menyakitinya, kalian yang ku pastikan mendapat hukumannya."
Tuan Yakuz memberi peringatan keras atas kecerobohan Adik tirinya lalu bangkit sambil bertumpu pada tongkat berlapis emas yang selalu ia bawa. Pergi dengan jalan yang sedikit membungkuk.
Nyonya Ivy dan Tuan Osgur masih duduk dengan lemas mendengar peringatan Kakak tirinya.
"Bagaimana sekarang?" Tuan Osgur bertanya sambil menyandarkan diri ke sandaran sofa dengan gerak lemah lunglai.
"Aku juga tidak tahu, aku belum memperingati gadis itu di awal. Semoga saja Ansell tidak melakukan kesalahan yang akan membuat kita terkena bencana."
...----------------...
Jenny menelpon Riza untuk mengabarkan bahwa hari ini dia tidak bisa masuk kerja karena demam. Jam menunjukan pukul sebelas siang, biasanya Karim sudah datang dari jam delapan. Tapi sampai sekarang tak ada kabar darinya. Jenny mengirim pesan singkat pada Karim.
Di tempat lain Karim sedikit sibuk hari ini, David ijin berangkat saat jam makan siang. Jadi karyawan di cafe nya kurang, mau tidak mau Karim lah yang harus melakukan hal seperti biasa.
Ponsel Karim berdengung, pesan singkat dari Jenny.
"Bisakah kau datang, aku sedang demam dan belum sarapan."
Karim kebingungan, masih satu jam lagi menuju makan siang. Tidak mungkin kalau Karim meninggalkan cafe nya. Hah....Demir. Ide muncul, semoga Demir bisa membantunya dalam satu jam saja. Karim menelpon Demir, untung saja Demir berangkat shift siang.
Selang sepuluh menit Demir sampai.
"Terimakasih kau bisa datang membantuku." Karim memeluk Demir.
"Tenang, tidak masalah. Setelah David berangkat ke sini aku akan langsung pergi ke tempat kerjaku. Sekarang pergilah, dan temui calon kekasihmu."
Demir tersenyum dan menepuk bahu Karim.
"Doakan saja aku berhasil mendapatkannya." Karim tertawa dan pergi meninggalkan Demir.
"Saya sudah di luar rumahmu."
Pesan balasan masuk. "Masuk saja, tidak ku kunci. Aku di kamar."
Karim langsung membuka pintunya dan menutup kembali saat sudah di dalam lalu Karim melepas sepatunya dan berganti sandal rumahan. Kemudian berjalan menuju kamar Jenny.
"Apa masih demam?"
Karim bertanya setelah masuk ke kamar Jenny dan meletakan makanan cepat saji berisi bubur gandum yang di taburi daging sapi cincang halus serta sayur hijau yang juga di cincang halus dalam wadah styrofoam. Aroma yang menggugah selera dan uap panas yang masih mengepul.
Jenny mengangguk dan Karim mengambil sendok plastik untuk mengambil sedikit bubur gandum nya lalu meniupkannya dan menyuapkan pada Jenny.
"Apa terasa panas?" Karim bertanya dan Jenny menggeleng.
"Terimakasih." Jenny tersenyum.
"Ayo habiskan, biar kamu cepat pulih."
...----------------...
Riza nampak malas untuk hari ini, perusahaan tampak sepi. Ini sudah waktunya jam makan siang, Riza berdiri dan menyeret kakinya keluar ruangannya.
"Mr Riza."
Yaza memanggilnya saat Riza sedang menutup pintu ruangannya dan hendak berjalan.
"Ya."
"Mr mau makan siang?"
"Tentu."
"Apa boleh saya ikut, ada yang ingin saya bicarakan." Yaza memberi tahu dan Riza memandangnya penuh tanya.
Lima Belas menit kemudian, Riza dan Yaza sudah berada di cafe kecil tak jauh dari perusahaan.
"Silahkan Tuan, mau pesan apa?"
Riza dan Yaza diberi daftar menu. Riza mesan pide (semacam pizza dengan ukuran kue sedang panjang di isi beberapa sayur dan daging cincang yang di panggang) dan teh madu. Yaza pun menyamakan saja.
Pelayan cafe itu pergi setelah mencatat.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Riza bertanya.
"Mr, tadi saya mendapat kabar bahwa perusahaan kita terpilih masuk dalam nominasi perusahaan terbaik tahun ini." Yaza memberitahu.
"Benarkah, bagus kalau seperti itu. Kapan acaranya?"
"Lusa Mr, tadi saya ke ruangan presdir tapi kosong. Makanya saya memberitahu Mr."
Riza mengangguk. "Oh...presdir sedang keluar hari ini. Nanti saya akan memberitahunya."
Pesanan datang.
"Terimakasih." Ucap Riza kepada pelayan cafe sambil tersenyum. Pelayan cafe mengangguk dan membalas senyum Riza lalu pergi.
"Ayo makan." Ucap Riza dan Yaza mengangguk.
...----------------...
Altan dan Ansell telah selesai makan bersama di halaman depan rumah kayu milik Altan. Ansell membereskan alat makan, dan Altan berdiri.
"Saya akan keluar sebentar, kamu di sini sendiri sebentar tidak apa-apa?" Altan memberi tahu.
"Tidak apa-apa." Ansell tersenyum sambil terus membereskan peralatan makan.
Altan memegang kedua tangan Ansell membuat Ansell menghentikan aktivitasnya. Ansell menatap Altan bingung tapi Altan tersenyum.
Altan mengecup pipi Ansell. "Jangan kemana- mana, saya hanya sebentar."
Pipi Ansell bersemu merah mendapat kecupan dari Altan. Ansell mengangguk, dan Altan tersenyum lalu membelai rambut Ansell kemudian pergi ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.
Tak selang lama Altan keluar dari rumah kayu dan melambaikan tangan ke Ansell sebelum masuk ke mobilnya. Ansell tersenyum dan mengangguk kemudian Altan melajukan mobilnya keluar.
Ansell membawa peralatan makan yang kotor lalu mencucinya. Setelahnya, Ansell duduk di sofa yang semalam di gunakan untuk bersandar tidur oleh Altan da dirinya di depan tungku api unggun kecil.
Pikirannya gundah, ini sudah terlalu jauh. Ansell mengingat kembali setiap ucapan Nyonya Ivy, kalau dirinya tidak boleh melenceng dari isi perjanjian.