
BAB 107. Ruby
Satu minggu berlalu, hingga saat itu tiba. Ketika Altan meminta saran pada Baba Mehmet, "Lakukan yang terbaik, jangan menunggu waktu lama. Niatmu sangat baik, untuk masalah ayahmu, Baba yang akan memberitahunya. ...Baba yakin, ayahmu pasti setuju,"
Altan menatapnya dengan senyum. Pasalnya dalam beberapa hari ini, iya sudah menyiapkan acara khusus untuk melamar Ansell, semuanya ia siapkan sendiri.
Hari demi hari Altan lalui bersama, setiap hari, tak ada waktu yang tertinggal. Sampai Altan memilih rumah untuk ditinggalinya bersama Ansell, rumah yang sama, rumah yang hanya Altan dan Ansell ketahui, dan juga Riza. Rumah pilihan mendiang ibunya, yang di dekorasi sesuai keinginan sang Ibu.
"Baba, doakan Altan."
"Itu pasti, kau sudah ku anggap putraku sendiri. Baba selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkahmu."
Altan memeluk Baba Mehmet, "Terimakasih Baba."
"Semoga sukses."
Altan mengangguk, "saya permisi."
Altan keluar dari kediaman Baba Mehmet dengan senyum secerah matahari, langkahnya tampak penuh semangat, meski di luar masih dingin akibat salju yang sedang turun lebat. Tapi semangatnya tak pudar, langkahnya semakin bersemangat.
***
"Kita mau kemana?" Tanya Ansell bingung saat melihat jalanan sekitar. Pikirannya mengarah pada kafe Our Taste, tempat pertama Altan menciumnya secara paksa.
Langkahnya terhenti, "ini benar jalan ke arah kafe Our Taste."
Ansell menatap Altan, Altan hanya tersenyum. Salju mulai turun lebih deras, udaranya semakin terasa dingin.
"Kenapa kemari?" Ansell menatap sekitar, kafe nya sepi pengunjung, seperti tak ada aktivitas di sekitar kafe.
Altan menarik Ansell agar lebih dekat, tangannya melingkar di pinggul Ansell. Memberi kode pada seseorang.
Lampu-lampu hias menyala, lampu taman dan lampu cafe pun menyala. Ansell dibuat tertegun, melihat keindahan dalam derasnya salju yang turun. Meski semua nampak berkabut, tapi suasana romantis terlihat nyata.
Keduanya saling tatap. Altan mundur satu langkah, merogoh saku celananya, membuka kotak kecil berwarna merah hati. "Maukah kau menjadi istriku, ratu di hatiku, bersamaku selamanya… sampai maut memisahkan?"
Ansell semakin tertegun, bola matanya mulai berkaca-kaca. Antara percaya dan tidak. Selama ini, Altan sudah sangat berubah. Ia lebih pengertian dan memahami, terlebih selalu memberi arahan positif mengenai Ayahnya. Ansell sempat ragu, tapi karena keteguhannya, berhasil meluluhkan keraguan Ansell.
Altan menunggu jawaban Ansell, terlihat Ansell seperti mau menangis lalu Altan menggelengkan kepala. Memberi isyarat agar Ansell tidak menangis.
Ansell tersenyum dalam haru bahagianya, ia mengangguk. "Ya, aku bersedia."
Mata Altan berbinar gembira, dengan penuh senyum kebanggaan, ia mengambil sebuah cincin ruby milik mendiang ibunya untuk disematkan ke jari manis Ansell.
Cincin yang sama dahulu, saat ia berpura-pura melamarnya di depan pemilik stasiun televisi Mr Steven dan Mrs Hazel. Dulu, Ansell mengembalikannya karena itu hanyalah sandiwara. Namun sekarang berbeda, Ansell menerimanya karena ini bukan sandiwara. Ini nyata.
"Terimakasih," Altan mencium kening Ansell.
Ansell mengusap matanya, "kau ini,.mengapa memilih tempat ini sebagai tempat melamarku?" Ansell memukul bahu Altan.
Ia merasa kesal, karena di tempat ini dahulu ia seperti direndahkan dan dilecehkan oleh Altan. Bagaimana bisa, ia bertemu pria yang kurang ajar sepertinya. Mencuri ciuman pertamanya secara paksa.
"Maaf, aku hanya ingin merubah masa lalu kita yang kurang menyenangkan. ...bukankah tempat ini juga, tempat pertama kita bertemu."
"Iya, tapi kan, ...ah, memalukan kalau mengingat!" Ucap Ansell kesal.
"Ya sudah, maka dari itu aku ingin merubahnya menjadi tempat terindah kita."
...----------------...
"Yakuz sahabatku, dahulu kau juga pernah muda bukan. … kau pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai."
Yakuz menghela nafas, "Aku sudah menduga, kau mengajakku bertemu pasti untuk membujukku."
Mehmet tersenyum, "Aku sudah menganggapnya seperti putraku, dia selalu datang dan bercerita segalanya. ...sebaiknya kau lebih memahaminya, agar kau bisa dekat dengannya."
"Dia mempunyai watak sepertiku, tapi hatinya sebenarnya seperti Jasmine. ...aku memang tidak bisa memahaminya, aku hanya ingin selalu menjaganya, mengaturnya sesuai kehendakku. Karena aku sangat menyayanginya, ...aku tidak ingin ada orang yang menyakitinya."
"Kau berlebihan, ...cobalah sedikit lebih dekat dan memahaminya, jiwa muda tidak suka di kengkang, ...berilah dia sedikit kebebasan. Kau masih ingat bukan, apa kata-kata mendiang istri mu ketika mengandung Altan?"
"Sayang, ingat selalu ya. Jika kita mendidik seorang Anak, kita harus bisa menjadi sahabatnya, bukan sekedar menjadi Ayah atau ibunya."
Yakuz menyadari, ternyata ia salah dalam mendidik Altan. Ia hanya menginginkan Altan menjadi seperti dirinya. Andai saja Jasmine masih hidup, pasti ia bisa dekat dan memahami Altan. Jasmine adalah segalanya. Ia bahkan sampai lupa akan kata-kata mendiang istrinya. Pantas saja, dulu Altan sangat dekat dengan ibunya. Bahkan ketika Jasmine meninggal, Altan sangat terpuruk, ia menjadi pendiam. Mungkin karena ia kehilangan sosok seorang Ibu sekaligus sahabatnya.
"Sekarang belum terlambat," ucap Mehmet saat melihat perubahan air muka Yakuz. "Jadilah sahabat untuk putramu, agar kau bisa dekat dan lebih memahaminya."
"Kau benar, ternyata caraku mendidik Altan salah. ...bahkan kau yang bukan Ayah kandungnya, bisa sangat dekat dengannya."
"Jadi, restui putramu. Ini hanya kesalahpahaman saja, karena kau hanya mementingkan egomu. ….saat ini, Altan sedang melamarnya, ...jika nanti ia berhasil, maka lakukanlah yang terbaik untuk putramu… pahami dia, agar kau tahu apa yang dia mau."
...----------------...
"Kita mau kemana lagi?" Perjalanan setelah acara yang sangat istimewa terasa lambat, mungkin karena suasana hati sedang gembira, jadi putaran waktu seakan memahaminya. Tak ingin moment hari ini cepat berlalu.
Ansell menatap Altan yang terlihat fokus menatap jalanan di depannya. Sudah satu minggu ini, Altan selalu membawa mobil sendiri. Lalu dimana Pak Husein, ah, entahlah. Mungkin beliau sedang ditugaskan untuk menjaga rumah saja.
"Kenapa menatapku terus?" Altan menatap sekilas.
"Tidak. ...ingin menatap saja."
"Sudah pernah ku katakan bukan. Jangan terus menatapku, nanti kamu jatuh cinta."
"Memang." Dengan gampangnya Ansell menjawab. "Memang aku sudah jatuh cinta, puas!"
Altan menggeleng dengan senyum, kelakuan dan kata-kata Ansell semakin menjadi-jadi.
"Eh, sejak kapan kau mulai mencintaiku?" Tanya Ansell sungguh-sungguh.
"Memangnya kenapa?"
"Ya, ingin tahu saja. Kalau tidak mau jawab ya sudah." Bibir Ansell mengerucut dan menatap jalan di depannya.
"Sejak awal aku melihatmu." Altan tertawa.
"Akh…. Membual!"
"Tidak percaya?"
"Tentu tidak, kita sama tidak saling kenal."
Altan tersenyum. Satu tangannya menggenggam tangan Ansell yang berada di pangkuan, "itu tidak penting. ...yang terpenting sekarang, aku sangat mencintaimu."
Pipi Ansell merona, ia tersenyum malu. Menatap Altan sekilas dan tersenyum kembali.
Sesampainya di tempat tujuan.
"Ansell," suara lembut Altan berusaha membangunkan Ansell yang tertidur.
"Ansell," ucap lembut lagi saat Ansell belum juga terbangun. Mungkin memang perjalanan jauh, jadi ia lelah dan tertidur.
Menunggu Ansell yang belum juga terbangun, Altan keluar, memutar lalu membawa Ansell ke dalam rumah. Menidurkan Ansell di sofa dekat dengan tungku.
Altan menghidupkan api di dalam tungku agar Ansell merasa hangat. Cuaca di sini lebih petang dan dingin, mungkin karena dataran tinggi. Dilihatnya arloji menunjukan pukul tujuh malam waktu setempat, Altan kembali ke luar untuk mencari perbekalan memasaknya. Ia ingin menikmati waktu bersama Ansell lebih. Berhari-hari ia menyiapkan semua ini sendiri, tanpa sepengetahuan Ansell. Altan berniat jika ia tak mendapatkan restu dari Ayahnya, ia ingin pergi jauh membawa Ansell. Dan tempat inilah yang ia miliki, tempat warisan dari mendiang ibunya.
Ansell mengerjap, mendengar bunyi spatula dan alat masak. Dilihatnya sekitar, "tempat ini," gumamnya.
Ansell berjalan menuju sumber suara, ia tersenyum, melihat Altan mengenakan celemek dan membuat makanan.
"Kau sudah bangun,"
Ansell yang sedang bersandar melihat fokus, mengangguk. Berjalan mendekat dan membantunya.
"Biar aku saja," tutur Ansell tapi Altan menolak.
"Tidak," ia tersenyum. "Kita sama-sama."
Saat semua hidangan telah tersaji, keduanya makan malam bersama. Ternyata masak bersama lebih mengasikan dan rasanya juga lebih nikmat, mereka sama-sama tersenyum.
"Kenapa kita kesini, dan bagaimana pekerjaanmu?"
"Aku mengambil cuti, Riza yang akan menghandle semuanya. Jika membutuhkan tanda tangan, dia pasti kemari,"
"Kau seenaknya saja, …"
"Tidak juga, ...bukankah dia mendapat upah setiap bulannya."
"Ya, ya….kau tetap menjadi kau…. Lalu bagaimana denganku, aku belum meminta ijin pada Fathur… dan juga belum berpamitan pada Shanum, si cantik itu pasti mencariku."
"Fathur sudah tahu,"
Ansell membulatkan mata, geram sekali rasanya. Altan seenaknya sendiri mengatur semuanya, bahkan sampai malam ini. Ansell merasa bingung, dia tidak membawa apapun.
"Kau kenapa?" Tanya Altan ketika melihat raut kegelisahan Ansell.
"Apa kau sakit? Disini memang udaranya lebih dingin kalau sedang turun salju.,"
"Bukan itu, …" tatapnya ragu, "aku tidak membawa apapun."
Altan menggeleng dengan senyum, "Tidak perlu khawatir, semua sudah aku siapkan."
"Semua?, ….sejak kapan kau mengatur semuanya? Bukankah sehari-hari kau bekerja, ...apa kau ingin menjauh dari ayahmu?"
"Tidak, ...itu langkah terakhir jika memang terjadi. Yang utama, aku ingin bersamamu tanpa memikirkan apapun tentang status dan pekerjaan."
"Jangan bilang ini hanya sekedar alasan," tanya Ansell penuh curiga.
Pasalnya, setelah mendapat peringatan dari ayahnya dan tidak mendapat restu. Altan seakan-akan biasa saja dan berusaha menunjukan sikap tenangnya, namun Ansell memahami, jiwanya resah. Ia juga ingin tetap bersama Altan, menjalani hari-harinya berjalan bersama saling bergandengan tangan hingga menua. Tapi ia juga tak ingin, memisahkan ikatan antara Ayah dan Anak. Ansell hanya dapat berdoa, semoga hati Yakuz Axton bisa luluh dan melembut. Semoga semua kesalahpahaman ini cepat berakhir, ia menyadari semua ini karena kesalahannya.
"Sudah, lanjutkan makannya." Jawab Altan, dan seketika Ansell pun diam. Ia lebih memilih melanjutkan makannya daripada harus berdebat.