Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 93. Bikin Onar.



BAB 93. Bikin Onar.


"Kakak, ...Kakak pulang?" Sapa Ei yang sedang sibuk membantu Nenek membuat cemilan Lokum.


"Iya," Ansell berhenti sejenak mencicipi Lokum bikinan Ei. "Enak, ....pintar." 


Ei tersenyum mendapat pujian dari Ansell, "Kaka tidak lembur?"


"Tidak, ...Kakak mandi dulu, ....bikin yang banyak ya, manis-manis gini bikin mood membaik."


"He'em, ...he'em" Ei manggut-manggut saja meski tak tahu apa yang dimaksud kakaknya.


"Ansell, .....sepertinya ada tamu."


"Coba bukakan sebentar..." pinta Nenek Esme  ketika mendengar pintu diketuk-ketuk, karena Nenek sedang sibuk mondar-mandir, tangan kotor oleh tepung serta adonan.


"Iya, Nek." Ansell pun berbalik menaruh pakaian ganti serta handuknya di kursi dan berjalan cepat ke luar.


Mata Ansell membelalak. "Kamu?"


"Hai,"


"...kenapa kaget?"


Ansell menjawab malas, "Ada apa kemari?"


Pria depan pintu mengerutkan kening. "Aku mencarimu,"


"Jangan banyak alasan!" Jawabnya ketus dengan tampang enggan tanpa basa basi.


Pria tersebut tersenyum. "Kau kenapa?"


"Apa aku salah mencari alamat rumahmu?"


"Masih saja basa-basi!"


Pria tersebut justru tertawa. "Sepertinya kau sudah tahu."


"Apa maumu!"


"Mauku?" Pria tersebut seolah berpikir.


"Kamu...." tertawa.


"Gila!" Ansell yang sudah malas menanggapinya berusaha untuk menutup pintu rumahnya, tapi sayangnya, kaki si pria menahan.


"Tunggu,"


"Siapa, Ansell!" Suara teriakan Nenek Esme terdengar dari dalam.


"Bukan siapa-siapa, Nek."


"Orang cari alamat." 


"Cepat pergi!" Ucap Ansell menggeretak si Pria.


"Oh, ....kirain tamu." Teriakan Nenek terdengar lagi.


"Pergi!" Ansell menggeretak lagi dengan tatapan tajam, tapi justru si Pria tersenyum licik.


"Tunggu, ...Nona manis."


"Jangan buru-buru, ....mari kita bicara di luar."


Ansell hanya mendengus sambil membuang muka.


"Kau tidak mau bukan, jika nenekmu tahu ada tamu di luar."


"Tidak penting!" Jawab ketus Ansell. Ansell benar sangat muak jika harus bercakap dengan pria seribu kebohongan.


"Jangan membuatku naik darah!" Pria tersebut menggeram dan secara paksa menarik pergelangan tangan Ansell, menyeretnya agar mengikuti kemauan si Pria.


"Brengsek!" Ansell tidak terima dengan perlakuan kasarnya, ia menendang betis pria kurang ajar yang menyeretnya paksa.


"Kurang ajar!" Tangan si Pria terangkat tinggi, sebuah pukulan nyaris menghantam wajah Ansell. Ansell berusaha menghindar dengan memejamkan mata berharap ada seseorang yang menolongnya.


Cekalan tangan menghentikan laju tangan pria kasar yang hendak memukul Ansell, berubah menjadi bogem mentah yang mengenai wajah si pria.


BUGH!


Pria tersebut tersungkur.


"Beraninya kau!"


Pria malang yang tersungkur, tersenyum miring sambil memegangi sebelah ujung sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. "Sudah ku duga, kau bukan wanita baik-baik."


Tatapannya tertuju pada Ansell. Ansell dibuat semakin marah, pria kurang ajar yang harus dibuat menyesal. Tatapan mata Ansell memerah digenangi kaca-kaca mendengar ucapan kotor si pria, yang menghinanya.


"Aaaaa...." Ansell mencoba berjalan cepat hendak menendang dan memukul pria yang saat tadinya tersungkur kini berdiri tegak. Langkahnya terhenti ketika sang kakak menariknya.


"Ansell, hentikan!"


"Untuk apa kau mengotori tanganmu!"


Ansell meronta, "Dia kurang ajar!"


"...aku harus memberinya pelajaran."


"Drama kolosal apa yang sedang kalian pertunjukan!"


Demir tetap diam, melihat lebih lanjut apa yang ingin dilakukan si pria yang belum Demir tahu. Sambil memegangi Ansell yang terus meronta.


"Kau ternyata licik juga Nona,"


"Aku kira, ....kau berbeda dari wanita lain yang hanya mengincar uang kekasihmu...,"


"Ternyata aku salah," tertawa lagi.


"Bahkan lihat, kau memiliki pria lain di sini."


"Wajah cantikmu berfungsi juga untuk menipu." Imbuhnya lagi dengan senyum miringnya.


Demir yang terus saja diam sedari tadi sudah tak tahan mendengar ucapan kejinya.


"Brengsek!"


BUGH!


BUGH!


Pukulan bertubi-tubi Demir menghantam wajah dan kepalanya, kemejanya di cengkram kuat Demir. Amarah Demir sangat di luar kendali, mendengar betapa tidak enaknya ucapan dari pria itu.


Pria tersebut kembali tersungkur, Demir tak hentinya terus memukuli. Ansell menjadi gugup bercampur takut. Ansell berusaha melerai dengan menarik Demir yang berada di atas pria malang, agar menghentikan pukulannya sebelum keadaan menjadi di luar kendali.


"Menyingkir Ansell!"


"Jangan hentikan  aku!"


"Hentikan, Kak."


"Aku mohon, ...jangan sampai Nenek melihat kelakuan kakak."


"Aku mohon." Bujuk Ansell agar Demir melepas pria malang yang saat ini merasakan kesakitan.


Matanya melotot, tak mengira, jika pria yang memukulinya adalah Kakak Ansell.


"Awas, Kau! ....pergilah, sebelum aku berteriak memanggil warga sini,"


"Menjijikan!" Demir memperingati. Pria tersebut pun bergegas pergi, bukan karena takut di hakimi masa, namun karena salah sangka kepada Ansell.


"Siapa dia?"


"Kenapa bisa kau mengenal pria tak sopan sepertinya, beraninya hanya kepada wanita." Tanya Demir dengan tatapan mengintimidasi.


"Dia, Ilyas Faruk."


"Ilyas Faruk?"


"Pengusaha terkenal itu?"


Ansell mengangguk.


"Pengusaha macam apa dia, pendidikan tinggi tapi moral nol besar!" 


"Kakak tidak apa-apa?" Ansell menarik tangan Demir dan mendapati buku-buku jari tangannya memerah disertai bercak darah yang menempel.


"Ini bukan darahku." Demir seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran adiknya.


"Kau tidak apa-apa?" Kini berganti Demir yang menanyakan hal yang sama pada Ansell. Di pergelangan tangan Ansell terdapat bekas cengkraman yang kuat, akibat cengkraman Ilyas.


"Tidak apa-apa, Kak."


"Ayo masuk, sebelum Nenek tahu apa yang terjadi di sini."


 


...----------------...


Altan berkaca melihat penampilan dirinya, stelan kaos hitam polos berpadu dengan jaket abu-abu tebal, celana jeans hitam serta sepatu slip on warna abu hitam. Tersenyum gembira, tak seperti biasanya ia merasakan hal mendebarkan seperti ini. Bahkan sampai tak terpikirkan sebelumnya, ia diminta menemui Demir secara langsung.


Mungkin ini terbilang sesuatu yang belum pernah ia pikirkan matang-matang, namun setelah kemarin ia membawa Ansell menemui ayahnya. Altan menjadi yakin dengan hatinya dan kemantapannya untuk menemui Demir.


Yang pada awalnya Altan merasa masih ragu dengan jawabannya sendiri kepada Demir. Saat ini berubah dengan keyakinan yang mantap. Ia harus menunjukan dan membuat Demir percaya, bahwa ketulusan cintanya pada Ansell adalah nyata dan semua orang harus tahu itu. Bukan sekedar gosip isapan jempol semata.


Ditambah lagi tadi sore, ia berhasil mendapatkan surat perjanjian itu dari Bibinya. Altan merapikan kembali pakaiannya serta rambutnya, sekiranya dilihat sudah sempurna, ia turun menuju tempat parkir mobilnya.


Pak Husein sudah menunggu. "Tuan Muda, mobilnya sudah siap."


Ucapnya pada Altan dengan senyum. Pak Husein sangat bahagia, melihat Tuan Mudanya selalu tersenyum seperti ini. Dan apa lagi, Pak Husein akan mengantar langsung Altan menemui Ansell di waktu malam seperti ini. Pak Husein teringat dahulu saat remajanya, saat malam mengajak sang istri yang masih berstatus pacar untuk makan malam romantis.


"Terimakasih, Pak,"


"Tapi maaf, saya akan membawa mobil sendiri." Ucap Altan ketika melihat Pak Husein masih memegang kunci mobilnya.


"Oh, ...ya, saya kira...." Pak Husein tersenyum sambil memberikan kunci mobilnya.


"Semoga sukses, Tuan Muda." Imbuhnya lagi.


Altan mengangguk sambil tersenyum dan masuk ke mobilnya. Selama ini Pak Husein lah yang mengertinya, yang memahami dan membimbingnya. Beliau selalu ada di saat dibutuhkan, beliaulah kepercayaannya. Beliau yang sudah menua tetapi masih setia menjaganya. Di usianya seharusnya beliau sudah pensiun, tetapi beliau masih belum mau.


Altan sudah pernah menanyakannya dahulu, tetapi Pak Husein menolaknya. Ia menjawab, 'Saya akan terus mengabdi, Sampai Tuan Muda mendapatkan kebahagiaan nyata.'


Altan tahu maksud dari ucapan beliau, Altan pun tak bisa memaksanya jika ini sudah kemauannya. Lagi pula Altan juga masih membutuhkannya, bukan untuk menjadi supir pribadinya yang selalu mengantar jemputnya. Tetapi lebih ke arah, untuk menentukan jalan terbaik dari setiap masalah yang menurut Altan belum bisa diselesaikan. Ia sama seperti Baba Mehmet.