Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
BAB 104. Berusaha Mendapatkan Kepercayaannya Kembali.



BAB 104. Berusaha Mendapatkan Kepercayaannya Kembali.


Ucapan Fathur tadi masih terngiang jelas di telinga, hati dan pikiran Altan. Ia sangat merasa menyesal dan bersalah. Seharusnya ia mempercayai Ansell, bukan malah membiarkannya  pergi menjauh tanpa kabar dalam satu bulan kurang. Apa yang harus ia lakukan saat ini, hatinya ingin sekali langsung menemui Ansell, tapi, jika ia muncul tiba-tiba apakah Ansell tidak marah? Terlebih, ia juga tak pernah memberi kabar pada Ansell selama ini. Bodoh! Altan terus merutuki kebodohannya. Bingung apa yang harus dilakukannya.


Jika dia menemui Ansell dan Ansell tidak memaafkannya bagaimana?, tapi jika tidak menemuinya, rasa penyesalan pasti akan terus menghantui. Lalu bagaimana jika sampai Ayahnya tahu, ia bertemu Ansell kembali. Pasti Ayahnya sangat marah, karena Ayahnya berpikir, Ansell telah mempermainkan keluarga Yakuz. Semuanya semakin membingungkan.


Hingga sampai otaknya mengingat satu nama, dialah Baba Mehmet. Mungkin Baba Mehmet bisa membantu memberikan jalan terbaik dalam mengatasi masalah ini.


Altan melajukan mobilnya saat terpaku lama dalam area parkir resto. Pak Husein menunggu di dalam mobil saat Altan telah sampai di rumah Baba Mehmet.


"Silahkan minum, ini bisa menghangatkan tubuhmu yang kedinginan," ucap Baba Mehmet.


Altan mengangguk dan meminum sedikit air jahe merah yang dicampur ke dalam teh hangat.


"Bagaimana kabar ayahmu?"


"Baik, Baba."


"Kalau kau?"


Altan diam dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan, karena suasana hatinya sangat kalut.


Baba Mehmet memahami, ia menghela nafas. "Setiap masalah di kehidupan ini, pasti ada jalan keluarnya. Jangan dipikul sendiri, kau hanya akan kelelahan."


Altan menatap Baba Mehmet, "Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku melakukan kesalahan besar. … aku takut, aku tidak termaafkan. ...aku takut, ia sangat membenciku."


"Jika dia mencintaimu dengan ketulusan, dia pasti akan memaafkanmu. Yang terpenting, jujurlah dan minta maaf dengan tulus. ..akui seluruh kesalahanmu, dan buang jauh-jauh egomu, jika kau telah berhasil mendapatkan maaf darinya. Karena sesungguhnya, sebuah ego lah yang menggelapkan hati dan pikiranmu."


"Lalu bagaimana dengan ayahku, Baba. Beliau sangat marah padanya. Jika beliau tahu aku menemuinya lagi, pasti……"


"Sudah, jangan pikirkan itu. Jika kau yakin pada ketulusan mu dan ketulusannya. Pasti sikap angkuh ayahmu bisa luluh. Kau hanya perlu membuktikan keseriusanmu padanya, untuk masalah lain, Baba akan berusaha membantu sebisa Baba." Beliau tersenyum.


"Terimakasih, Baba."


"Lakukan yang menurutmu terbaik, jangan termakan ego lagi. Belajarlah memahaminya dan belajarlah dari setiap kesalahan."


Altan mengangguk. Hanya Baba yang bisa memahaminya, memberikan nasehat bijaknya.


"Lakukan sekarang, jangan menunggu waktu lama…. Karena semakin lama, waktu akan semakin menyakitkan."


Altan mengangguk dan berdiri untuk undur diri. "Terima kasih, Baba."


"Hati-hati di jalan, jangan lupa jaga kesehatan. Cuaca sedang tidak stabil, badai salju sering datang. Salam untuk Pak Husein dan ….Ansell."


Altan kembali mengangguk dan tersenyum lalu menyalami Baba Mehmet, barulah ia keluar.


***


Altan melepas jaketnya, menaiki tangga menuju kamar. Setelah selesai membersihkan diri, ia duduk termenung di sofa, ia ingin menghubungi Ansell, tapi nalurinya mengatakan lebih baik menemuinya langsung dari pada hanya mengirim pesan.


Dan setelah mendengar penjelasan Baba Mehmet tadi, Altan sangat merutuki kebodohannya. Dia tidak bisa memahami Ansell, berbeda dengan Riza, hati dan perasaannya lebih peka. Riza sudah berulang kali memberitahunya, tapi egoku mengalahkan akal sehatku kembali.


Tanpa menunggu lama, Altan mengambil jaket tebalnya, memakai sepatu nya dan mengambil kontak mobil.


"Tuan, Tuan Muda mau kemana? Di luar sedang badai salju." Teriak Pak Husein memperingatkan. Namun Altan tak mendengarkan peringatan Pak Husein.


Altan melajukan satu mobilnya menuju rumah Ansell. Ada sebuah permintaan maaf yang ingin ia ungkapkan, meski ini telat, Altan akan tetap mengungkapkannya, entah itu akan termaafkan atau tidak.


Perjalanan sangat lambat karena badai salju, jarak pandang tak begitu jelas tertutup kabut dingin. Altan terpaksa memelankan laju mobilnya, entah berapa kilometer lagi akan sampai. Ini perjuangan yang harus Altan lalui.


Satu  jam berlalu, Altan telah sampai di luar rumah Ansell. Udaranya sangatlah dingin. Altan meniup tangannya sendiri, merasakan kehangatan dari deru nafasnya. Bibirnya mulai mengering karena menahan dinginnya udara malam yang diselimuti salju tebal. Tangannya mulai terasa kaku karena kedinginan, tapi Altan berusaha menahannya dengan menggosokan satu sama lain tangannya.


Altan mengetuk pintu, namun tak ada jawaban atau tanda-tanda dibukanya pintu rumah Ansell. Ia merogoh saku celananya, memberi pesan singkat pada Ansell.


"Saya di luar,"


Pesan telah terkirim, namun belum di balas. Altan bersidakap menahan dinginnya udara malam diluar rumah sendiri, sambil bersandar pada dinding. Berkali-kali dilihatnya layar ponsel, tak ada balasan. Apakah Ansell membencinya? Sudah tak mau menemuinya? Altan mencoba menghubunginya, satu kali tak ada jawaban, dua, tiga, sampai enam kali pun masih tak ada jawaban. 


Altan menghela nafas, hampir setengah jam ia terus menunggu di depan rumah Ansell. Dilihatnya lagi ponsel miliknya, waktu menunjukkan jam delapan malam waktu setempat. Ini saatnya makan malam, hawa udara dingin semakin terasa menusuk. Ia menatap pintu yang tetap tertutup rapat. Diketuknya lagi, berharap Ansell membukakan pintu untuknya.


Satu ketukan, belum terbuka. Dua dan tiga ketukan, gagang pintu bergerak di selingi pintu yang berderit membuka. Altan menatap seksama, seorang Nenek tua yang membukakan pintu dengan tatapan bingung disertai terkejut. Altan tersenyum lalu menyalami nya, mencium punggung tangannya.


"Siapa?" Nenek Esme bertanya, ia tidak tahu siapa pria yang berkunjung malam-malam.


"Altan."


Nenek Esme semakin terkejut, ini pertama kalinya ia melihat Altan. Dilihatnya sekitar, pria ini hanya datang sendiri. Dilihatnya kembali wajahnya, bibirnya terlihat mengering karena kedinginan, mungkin ia sudah lama di luar.  "Mari masuk, di luar dingin." Ajak Nenek Esme.


"Nenek akan panggilkan Ansell." Ucapnya kemudian berjalan menaiki tangga.


Altan melepas sepatunya, meletakkannya di rak sepatu. Ia hanya memakai kaus kaki. Terlihat anak kecil sedang melihatnya dari balik pintu, Altan tersenyum dan anak kecil itu berjalan mendekat.


"Kakak siapa?"


Altan berlutut, tersenyum. "Altan,"


Mata Eilaria membulat, "Tuan Altan, bos Kak Ansell?"


Altan mengangguk, " panggil saja Kak Altan."


"Tuan," sapa Ansell.


****


"Bagaimana kabarmu?" Altan bersuara setelah sekian lama diam berdua dengan Ansell. Ia sedikit canggung, rasa bersalahnya bagaikan tamparan keras.


Ansell menatap sekilas Altan yang sedang duduk di atas ranjang Ei, jantungnya berdebar. Rasa sedihnya mencuat kembali. Menatapnya semakin mengiris hatinya, membuka kembali luka lama. Pria yang ia cintai tak dapat mempercayainya, mengingkari janjinya. Meski selama hampir sebulan ini, Ansell berusaha melupakan setiap sesak di hatinya, nyatanya tak berhasil. Semakin kuat Ansell berusaha lari dari kenyataan, semakin terasa sakit rasanya merindukan.


Melihat Ansell yang tak menjawab pertanyaannya, Altan menghela nafas. "Maafkan saya,"


Nyeri, semakin terasa nyeri hati Ansell. Kenapa permintaan maaf itu semakin menyakiti. Ansell menundukkan kepalanya, berusaha menghapus gejolak air mata yang ingin menerobos ke luar.


Altan berdiri, berjalan mendekati Ansell yang duduk di ranjangnya. Berlutut, lalu menggenggam tangan Ansell yang meremas piyama tidurnya. "Maaf."


Permintaan maaf kedua semakin menyayat, Ansell tak dapat menahan lagi tangisnya. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya, menahan isakannya.


Altan memahami. Sesakit inikah perasaanya, kata maaf terlambatku menjadikannya semakin sakit. 


Ansell tak dapat menatapnya, hanya menunduk sambil menahan isakanya yang bisa ia lakukan. Altan memeluknya,memeluknya erat. Seakan ia tak ingin berpisah lagi dengan Ansell. Sedangkan Ansell, tetap diam dan menahan isakannya terus.


"Aku sadar, kata maafku terlambat dan menyakitkan bagimu. Jika kau ingin memukulku, pukullah sebanyak mungkin, sekeras mungkin. ...Tapi tolong, maafkan aku."


Akhirnya tangis Ansell pecah sudah, ia menangis tersedu-sedu dalam peluk Altan. Memukul dada Altan. "Kenapa! Kenapa kau tidak percaya waktu itu! Kenapa kau tidak datang ke pernikahan Kakakku!"


"Kau tau, aku seperti orang yang kehilangan kewarasan! Aku menunggumu dalam dinginnya salju, menanti kedatanganmu sendirian! Kenapa kau tidak datang. Sebenci itukah, sejahat itukah kau tidak mempercayaiku!"


"Aku datang,"


"Bohong!"


"Aku bersumpah, aku datang, aku melihatmu."


"Bohong! Kau hanya ingin melindungi dirimu saja."


"Aku memang tidak pantas kau percayai lagi." ucap pasrah Altan.


"Kenapa? Kenapa kau tidak menemuiku, sekeras itukah egomu. Aku membencimu! …..Aku membencimu!" Ansell mendorong kuat Altan hingga Altan melepas pelukannya.


"Maafkan aku," ucap Altan lemah.


"Seharusnya aku sangat membencimu, sangat dan sangat membencimu. Kenapa aku tidak bisa melakukannya."


Altan kembali menggenggam tangan Ansell sambil berlutut. Ansell menutup matanya dengan telapak tangannya, mengusap rambutnya dan menatap Altan.


"Kenapa kau menemuiku? Apa kau sudah tahu?"


Altan mengangguk. "Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar itu dariku?"


"Harusnya kau percaya, tanpa harus aku menjelaskan, bukankah kita pernah berjanji untuk saling percaya. Lalu dimana kepercayaan itu?"


Altan hanya diam sambil menatap Ansell. Ia benar, aku tak dapat menepati janjinya.


Ansell menghela nafas, memejamkan matanya, berusaha tenang mengontrol kembali kondisi hatinya, dan menghela nafas lagi. "Sudahlah, jadikan ini sebagai pembelajaran hidup. Agar kau bisa mengontrol egomu lagi dan memahami setiap kondisi."


"Apa itu tandanya kau memaafkan aku?"


Ansell mengangguk. Ansell masih ingat ucapannya sendiri waktu itu. "maaf, saya belum bisa membuat tuan bahagia, jika waktu itu tiba, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya."


Altan kembali memeluknya, "terima kasih banyak."


Ternyata benar yang dikatakan Baba Mehmet tadi, Altan sangat senang, pilihan yang ia ambil adalah pilihan terbaik tanpa harus membuang waktu. Ia mengeratkan pelukan, ia tidak mau kehilangan Ansell lagi, sudah cukup rasa sesak selama ini, merindukan.