
BAB 59. Awal Yang Buruk.
Seorang pelayan datang membawakan tiga gelas jus jeruk dan membuat percakapan itu terhenti. Setelah selesai menyajikan pesanan, pelayan itu mengangguk dan pergi.
"Apa keuntungan dari kerja sama ini. Maksudku jika kerja sama ini terlaksana apa kau berani membayar produk kami dengan harga yang telah kami tetapkan? Dan kau tidak akan melakukan kecurangan seperti dahulu?" Tanya Riza.
"Keuntungannya, pasti produk perusahaan Axton akan sangat laris di pasaran. Dan ya tentu aku akan membayar sesuai harga yang kalian terapkan. Dan aku tidak akan menaikkan harga yang melambung tinggi seperti kesalahanku dahulu." Jawab Ilyas.
"Apa ucapanmu bisa kami pegang? Secara kamu pernah menjadi rekan bisnis kami, dan dahulu kau hampir saja membuat minat konsumen kepada perusahaan kami menurun drastis karena harga jual yang kau tetapkan terlalu tinggi." Sindir Altan.
"Ya, maaf. Itu kesalahan kami dahulu, dan kami tidak akan mengulanginya lagi. Aku pastikan kalian akan memegang ucapanku." Jawab Ilyas.
"Oke, aku dan team kerjaku akan berunding dahulu." Ucap Riza sedangkan Altan hanya diam untuk saat ini. Kesalahan terbesar waktu itu masih terus membekas hingga kini. Kemudian Altan dan Riza berdiri untuk pergi kembali ke perusahaan.
...----------------...
Waktu sudah semakin sore, tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Deniz di perusahaan.
Altan duduk kembali di kursi kerjanya lalu menelpon Ansell untuk masuk ke ruangannya dan membawakan dokumen pesanannya.
Ansell datang dengan membawa dokumen pesanan Altan.
"Ini Tuan." Ansell menyerahkannya kepada Altan.
"Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya terlebih dahulu." Ucap Altan dan Ansell mengangguk.
Pintu berderit dan seorang wanita cantik datang dengan langkah ceria.
"Altan maaf, aku baru sempat kemari. Aku harus menyelesaikan pekerjaan terakhirku di tempat kerjaku." Deniz berjalan dan melewati Ansell begitu saja lalu mencium pipi Altan dan membuat Altan kaget kemudian menatap Ansell.
Ansell menghela nafas saat melihat perempuan lain mencium pipi Altan tepat di depan matanya. Altan merasa seperti terhimpit batu besar saat ini. Melihat Ansell dengan penuh kekecewaan dan tak dapat menolak kelakuan Deniz, karena Deniz memang seperti itu.
"Oke tidak masalah, saya harap besok kau tidak terlambat." Jawab Altan dan langsung beralih menatap dokumen lagi untuk diperiksa. Deniz bahkan mengabaikan keberadaan Ansell saat ini.
Ansell rasanya sudah tidak bisa bertahan di ruangan Altan, rasa cemburu itu menyesakkan nya, . "Tuan, apa sudah selesai?"
Tanya Ansell dan Altan menatap sekilas, raut wajah bosan Ansell sudah terlihat jelas. Altan menutup dokumennya dan menyerahkannya pada Ansell, Ansell dengan segera mengambil dokumennya dan langsung pergi tanpa berkata apa pun.
"Ansell." Altan memanggilnya saat Ansell membuka pintu untuk keluar, tapi Ansell mengabaikannya.
"Ansell." Altan memanggil lagi saat pintu sudah tertutup. Altan menghela nafas.
"Maaf." Ucap Deniz saat merasakan ada sesuatu di antara Altan dan Ansell. Ternyata gosip yang beredar benar nyatanya, Deniz bisa merasakan itu.
Tapi Deniz akan tetap berjuang untuk dapat mendapatkan Altan, karena bagi Deniz dialah yang pertama mencintai Altan dari dahulu bukan Ansell.
"Sebentar." Ucap Altan dan langsung berdiri meninggalkan Deniz sendiri di ruangannya.
Altan bergegas ke ruangan Ansell untuk menjelaskan semuanya yang baru saja terjadi tepat di hadapan Ansell.
Altan membuka pintu ruangan Ansell dan melihat Ansell sedang mengemasi barang di meja kerjanya, memasukan laptop, alat tulis, tablet, buku agenda, kertas-kertas kerjanya serta ponselnya ke dalam tas besar yang selalu Ia bawa.
"Ansell, dengarkan saya." Altan menahan tangan Ansell saat sedang mengemasi seluruhnya.
"Maaf Tuan, ini sudah sore dan jam kerja sudah berakhir. Saya harus kembali." Ucap Ansell tanpa memandang Altan dan melepaskan tangannya yang ditahan Altan.
"Maaf, kalau saya menyakitimu. Tapi seperti itulah Denis kalau berjumpa dengan saya." Altan berusaha menjelaskan.
"Ya...ya..ya... saya tahu dan saya akan mengerti. Saya yang akan terus mengerti dan memahaminya." Sindirnya.
"Bukan seperti itu Ansell." Sela Altan.
"Ya, Anda presdir dan Anda maha benar." Ansell selesai dan menarik tas nya tetapi Altan menahannya.
"Ansell."
"Ini sudah sore Tuan, dan saya harus kembali." Ansell menarik kembali tasnya dan pergi meninggalkan Altan.
"Ansell." Altan memanggilnya lagi tapi Ansell berjalan cepat ke luar membuat Altan menjatuhkan tangannya ke meja kerja Ansell dengan keras.
...----------------...
"Semua takkan berakhir, dan aku pastikan aku akan mendapatkanmu.Riza."
"Malam ini, adalah malam kita. Aku akan membawamu di mana cerita indah ini tak akan berakhir."
Di lain sisi, Riza baru pulang dari perusahaannya.
"Hallo Bolla. Kau tahu, hari ini sangat melelahkan. Sepertinya aku harus membersihkan diri, agar otot badanku tak menegang." Ucap Riza kepada anjing kesayangannya, sementara anjingnya hanya menggonggong membalas ucapan Riza.
"Oke, tunggu disini sampai aku kembali." Ucap Riza lagi lalu menyalakan televisi dan Bolla duduk di atas sofa panjang sambil menonton televisi yang Riza nyalakan seperti memahami apa yang tuannya perintahkan. Riza meletakan ponselnya di meja depan Bolla.
"Jaga benda berhargaku." Perintahnya dan langsung mencium Bolla.
Riza bergerak cepat ke atas menuju kamarnya. Setelah selesai mandi Riza turun kembali dan bergerak ke dapur untuk membuat teh madu, kemudian duduk bersebelahan dengan Bolla.
Ponsel Riza bergetar, dilihatnya panggilan masuk dari Feray. Riza segera mengangkatnya.
"Hallo?"
Mendengarkan....
"Sekarang kau ada di mana?"
Mendengarkan....
"Oke, aku akan ke situ. Tunggu."
Riza langsung mematikan ponselnya dan naik ke atas untuk mengambil jaket dan kunci mobilnya kemudian turun.
"Bolla, jaga rumah sebentar. Aku akan segera kembali." Perintah Riza kepada anjingnya, dan Bolla menggonggong lalu Riza menciumnya dan keluar.
Feray duduk sendiri di trotoar jalan menunggu Riza, kondisi sudah terbilang malam. Saat melihat mobil Riza datang, Feray langsung berdiri dan Riza menghentikan mobilnya tepat di hadapan Feray lalu Riza keluar.
"Bagaimana kau bisa di sini sendirian?" Tanya Riza saat berhadapan dengan Feray dan menatap Feray yang seperti kedinginan dengan hanya memakai dress panjang tanpa lengan.
"Dia meninggalkanku sendirian." Alasan Feray sambil menangis.
Dan Riza langsung melepas jaketnya dan mengenakannya pada Feray. "Ayo pulang, udaranya sangat dingin."
Ucap Riza dan langsung membawa Feray masuk ke dalam mobilnya.
"Kau mau pulang ke mana? Ke rumah Kakak iparku atau ke rumahmu?" Tanya Riza saat dalam perjalanan.
"Ke rumah mu, bolehkan? Aku tidak mau ke rumahku, pasti sepi. Ayah dan ibuku masih di luar negeri dan kakakku pasti di apartemennya. Kalau aku ke rumah Bibi Ivy, pasti Bibi Ivy akan menanyakan banyak pertanyaan." Jawab Feray dan Riza sedikit tak enak hati. Tidak mungkin membiarkan Feray sendiri, tapi kalau di rumahku?
Dengan sangat terpaksa Riza memperbolehkan Feray tinggal di rumahnya. Sesampainya di rumah Riza, Riza membukakan pintu dan mempersilahkan Feray masuk lalu mengantarnya ke kamar milik Riza.
"Pakailah kamarku, aku akan tidur di bawah bersama Bolla. Kau bisa memakai pakaianku, karena tidak mungkin kau tidur dengan menggunakan dress. Kalau perlu apa-apa, panggil aku."
Ucap Riza sedikit canggung dan Feray mengangguk.
"Oke, aku akan ke bawah." Riza keluar dari kamarnya dan kembali bersama Bolla menonton televisi.
...----------------...
Di teras belakang rumah Ansell, berkumpullah Ansell, Sefa, Demir dan Karim. Mereka semua sedang berbincang sambil memakan biji bunga matahari(kuaci).
"Karim, bagaimana usahamu mendekati pujaan hatimu?" Tanya Demir.
"Belum ada perkembangan, sepertinya Jenny tidak menyukaiku?"
"Kenapa?" Tanya Sefa.
"Entahlah, mungkin aku kurang kaya." Jawab Karim lesu.
"Ayo berjuang lebih keras." Ansell memberi semangat, meski dirinya tidak semangat.
"Kau kenapa?" Sefa menatap Ansell. "Menyemangati Karim, tapi kau tidak semangat."
"Apa karena Altan?" Imbuh Demir.