Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Emosi Yang Tak Stabil.



"Kamu kenapa Ansell?" Tanya Sefa saat melihat kedatangan Ansell ke kafe tempat kerjanya.


"Beeee.teeee." jawabnya malas.


"Ayo, ayo duduk. Aku buatkan jus alpokat, biar mood mu stabil." Sefa berjalan ke dapur untuk membuatkan segelas jus.


Beberapa saat kemudian Sefa kembali dan memberikan jus pada Ansell lalu Sefa duduk di samping Ansell.


"Kenapa? Kok jam segini udah nyampe. Bukannya kamu ijin setengah hari?"


"Lagi males aja di perusahaan."


"Gara-gara perempuan yang tadi pagi?" Tebak Sefa.


"Iya lah... Altan juga."


"Altan?"


"Iya!"


"Bukannya dia mendukungku, dia malah diam!"


"Mendukung?"


"Maksud kamu bagaimana si Ansell."


"Ya, tadi pas aku dan Altan sedang berbincang berdua tiba-tiba saja Deniz muncul. Ya aku langsung pegang bahu Altan lah, biar dia tahu. Kalau aku dan Altan ada hubungan meski diam-diam, dan aku gak bakal nyerah hanya karena omongannya."


"Lalu apa salahnya Altan?"


"Ya, karena Altan hanya diam. Bukannya dia memegang tanganku kek, biar Deniz langsung down. Ehhh... ini malah nggak. Gak peka!"


"Hem......"


"Kenapa! Cuma hem!"


"Lagian kamu malah jadi kayak anak kecil begini. Dan berani-beraninya kamu pegang Altan."


Ansell melotot. "Ya ampun!"


"Ya, ampun." Sefa menirukan ekspresi keterkejutan Ansell.


"Baru sadar?"


Ansell mengangguk. "Bagaimana ini, aku malu Sefa." Rengek Ansell


"Bingung sendiri kan. Makanya jangan mudah terpancing emosi."


"Abisnya si Deniz muncul pas kami lagi berdua."


"Ya sudah, jangan terlalu di pikirin. Pasti Altan memahami kok."


"Bagaimana tidak di pikirkan. Malunya itu loh."


"Sefa." Teriak Mr. Harry.


"Iya Pak."


Ansell yang melihat Mr. Harry hanya diam dan berpura-pura tak melihatnya. Mr. Harry pun demikian, ia masih memendam rasa kecewanya dahulu. Berani-beraninya bawahan memarahi atasannya, gadis arogan.


"Aku ke sana dahulu ya, nanti sambung lagi. Kamu si datangnya lebih awal, jadi harus menunggu sampai aku istirahat."


"Ya, gak papa."


"Sefa!" Teriak Mr. Harry kembali.


"Tuuhhh cepetan, nanti di telen hidup-hidup."


"Apaan sih." Jawab Sefa yang langsung berlari meninggalkan Ansell.


...----------------...


Paman Osgur merasa kasihan pada Riza, seharian ini terlihat tak bersemangat. Meski terkadang seolah-olah bahagia di depan orang lain, tetapi ia merasa kesepian sendiri.


"Riza." Ucap sang Kakak yang masuk ke ruang kerja Riza.


Riza tersenyum. "Kak."


Osgur duduk di hadapan Riza yang sedari tadi terlihat melamun dan murung.


"Bersabarlah, terkadang hidup ini sangat membutuhkan kesabaran ekstra di setiap masalah. Jangan mudah menyerah."


"Tapi sepertinya aku sudah berada di titik kelelahanku, kak. Ada waktunya aku berhenti sejenak, tanpa di paksakan."


"Maksud kamu, kau benar-benar akan berniat mengundurkan diri begitu?"


"Sepertinya. Karena manusia adalah sarangnya keterbatasan."


"Riiizzzaaaaaa." Suara sang Kakak sangat menekan meski tak keras.


"Tolong Kak. Jangan menahanku, biarkan aku bernafas sedikit. Beri aku ruang, karena sedikit ruang bisa mengantarkan aku dan juga Altan ke titik semula. Dimana kami saling membutuhkan satu sama lain, saling bisa mengintropeksi diri."


"Aku hanya perlu itu Kak. Jika aku tetap berada di sini, situasinya akan tetap seperti ini. Ini lebih sakit dari sekedar patah hati Kak."


"Aku mohon, mengertilah."


"Tapikan kamu bisa ambil cuti beberapa hari, jangan berpikir langsung mengundurkan diri. Coba berpikir lebih tenang."


"Jangan karena hanya masalah kecil malah dibikin semakin runyam."


"Kaka, aku juga tidak berpikir ingin membuat masalah semakin runyam. Tetapi jika aku tidak melakukan tindakan yang sedemikian, Altan akan tetap seperti ini."


"Kakak tau bukan seperti apa keras kepalanya Altan. Mana mungkin dia akan menyadarinya, dia akan tetap seperti ini."


"Karena dia berpikir jika aku hanya mengambil cuti untuk beberapa hari, toh aku pasti akan kembali bekerja bukan. Tetapi jika aku mengajukan pengunduran diri, aku ingin melihat seperti apa reaksi Altan."


"Kaka, aku mohon."


"Bagiku ini jalan satu-satunya. Jika Altan masih membutuhkanku, dia akan berbicara padaku seperti biasa dan menahanku untuk tidak meninggalkannya."


"Tetapi jika tidak bagaimana?"


"Bagaimana dengan perusahaan ini Riza, kau juga harus memikirkan kami dan perusahaan ini. Kinerjamu sangat bagus, kau sangat dibutuhkan Riza."


"Jangan hanya karena masalah pribadi kalian, perusahaan ini menjadi dampaknya."


"Kaka, jangan membuatku semakin tertekan Kak. Aku butuh ruang."


Osgur menghela nafas. Ternyata menangani pria dewasa lebih sulit dibandingkan dua bocah kecil yang bertengkar karena mainan. Waktu telah mengubah segalanya, begitu juga dengan jati diri dan keogoisan. Mereka harus bisa mengatasi ini, agar mereka bisa lebih dewasa dan bijak dalam bersikap satu sama lain. Belajar dari kesalahan-kesalahan masing-masing yang berdampak pada orang-orang di sekeliling dan juga pada diri sendiri.


Riza dan Altan, dua bocah kecil yang dibesarkan di jaga bersama olehnya. Sekarang mereka harus berusaha mendekatkan diri dan mengintropeksi diri masing-masing dengan caranya sendiri. Semoga mereka bisa kembali seperti waktu lalu dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.


Osgur juga memahami yang dikatakan sang Adik. Benar juga, jika Riza pergi pasti Altan akan menyadari setiap kesalahannya selama ini yang mendiamkan Riza. Riza juga perlu ruang agar pikirannya kembali fresh dan raganya tidak lelah tertekan seperti ini.


Lagi pula jika mereka berjauh-jauhan pasti akan ada kerinduan di setiap waktu yang mereka pernah lewati bersama. Setiap detik dan menit yang mereka biarkan begitu saja hanya karena kepentingan hati masing-masing. Setiap moment-moment berharga yang seharusnya mereka ukir bersama namun harus terbuang sia-sia karena ke egoisan.


"Baiklah.... semoga ini yang terbaik dan akan menjadi baik."


"Terimakasih Kak."


...----------------...


"Kaka....."


"Kakak dari mana? Kok pulangnya sampai malam?"


"Dan kenapa membawa banyak sekali belanjaan bersama Kak Sefa?"


Tanya Ei yang langsung berlari menghampiri Ansell dan Sefa.


"Nenek, cepat kemari. Kak Ansell dan Kak Sefa belanja banyak sekali." Ei pun berteriak lagi.


"Hei....bocah!"


"Ayo bantu Kakak!"


"Malah teriak-teriak. Kau ingin membangunkan seisi rumah tetangga apa."


Ansell menarahi sang Adik yang makin besar malah makin cerewet. Sedangkan Ei mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar ingin menangis mendengar sang Kakak memarahinya. Senyum bahagia dan tingkah girangnya pudar. Sefa yang melihat perubahan gadis kecil yang akan menjadi adiknya merasa iba.


"Ansell."


Ansell melihat Sefe yang memberi kode agar menatap Ei. Ansell pun menghela nafas, ia sadar. Perkataannya membuat sang Adik ketakutan.


Ansell meletakan barang belanjaan yang ia pegang lalu mendekati Ei. "Maafin Kakak ya." Mengusap rambut Ei.


"Bukan maksud Kakak memarahi Ei, Kakak hanya lelah."


Ei mengangguk dan tersenyum. "Kaka lelah?"


"Ei buatkan teh madu hangat ya?"


Ansell tersenyum. "Iya, terimakasih."


Ei mengangguk dan berbalik ke dapur untuk membuatkan teh hangat bercampur madu.


"Ansell, kamu ini kenapa si. Seharian marah-marah, cemberut dan murung."


"Aku juga nggak tahu. Suasana hati nggak labil."


"Ya sudah, ayo kita bawa masuk. Sisanya biar Kak Demir yang bawa."


"Memang Demir sudah pulang?"


"Lagi di jalan." jawabnya asal.


...----------------...


"Demir, lama sekali. Ayo cepat." Karim merasa sudah bosan, masa memilih cincin pertunangan hampir satu setengah jam."


"Iya sebentar."


"Jadi berapa?"


"3.000 lira." Jawab pemilik toko emas.


Demir mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang sejumlah yang harus di bayarkan. Sang pemilik toko menggitung kembali lalu setelahnya memberikan sepasang cincin yang telah di beli Demir.


"Terimakasih."


"Ayo cepat, lapar nih." Keluh Karim.


"Iya cerewet, kaya perempuan pas lagi datang bulan saja. Marah-marah terus."


"Heellaaahhh..... kamu saja yang kelamaan milih, pegel nih kaki. Berdiri terus."


"Lah kan ada tempat duduk."


"Tempat duduknya keras, bokongku sakit."


"Alllaasaaan!"


"Ayo buruan, udah laper."


"Iya."


Sepanjang jalan Demir tersenyum-senyum memandangi sepasang cincin bermata indah. Hari bahagianya akan di tentukan besok, semoga saja ibunya Sefa benar-benar merestui hubungannya agar cepat menikah.


"Udah... jangan dilihatin terus, bikin iri."