Ansell The Rental Girl

Ansell The Rental Girl
Pantang Menyerah Part 2



Ke esokan paginya, gambar yang di buat Altan selesai, Altan menghembuskan nafas lega disertai lelah. Duduk tegak, mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengendurkan otot-otot tubuhnya yang lelah. Semalaman bekerja dengan penuh semangat, mengingat betapa percayadirinya Ansell kepadanya.


Di pandangnya Ansell yang masih terlelap di kursi, mengingat kembali awal perkenalannya. Gadis muda cantik jelita, yang Ia cium paksa dan mengklaim bahwa dirinya adalah kekasihnya di hadapan seluruh pengunjung kafe.


Dan betapa syock-nya Ansell, sampai menamparnya. Ya, gadis pertama yang berani menampar seorang Altan Yakuz.


Tapi takdir terus mengubah segalanya, gadis yang setia menemaninya saat ini. Bertahan dengannya, saat keterpurukan singgah di hidupnya. Dialah, Ansell. Memulai semua pekerjaan dari nol kembali.


Ansell, pantas di pertahankan.


"Ansell, bangun."


Suara lembut Altan berusaha membangunkannya agar Ansell tidak terkaget, dengan menepuk halus tangan Ansell yang berada di hadapan wajah cantiknya.


Ansell mengusap kasar wajahnya, lalu menutup mulutnya dan menguap.


"Tuan?" Ansell terkaget. "Maaf, ketiduran. Jam berapa ini? Apa kopinya sudah habis?"


Ansell masih belum sadar sepenuhnya, dia mengira ini masih petang. Sebab gorden tebal masih menutup jendela kaca ruang kerja Altan.


"Sudah pagi." Jawab Altan dengan senyum.


"Apah!" Ansell kembali terkaget. "Sudah pagi? Maaf, saya harus ke dapur."


Ansell segera duduk dan menarik selimutnya untuk di bawa ke tempat cucian kotor lalu harus segera membuatkan sarapan pagi untuk Altan. Ansell beranjak dari duduknya, tapi Altan menahannya.


"Tuan?" Ansell bingung.


"Pulanglah. Tidak perlu membuatkan sarapan pagi." Ucapnya kemudian berjalan ke arah lemari kecil dan mengambil sebuah kunci dari laci.


"Pakailah."


Sebuah kunci mobil Altan berikan untuk Ansell, namun Ansell hanya menatapnya dan tersenyum.


"Tidak, Tuan. Saya akan tetap membuatkan sarapan pagi untuk Tuan. Nanti siang saat semua pekerjaan terlihat membaik, barulah saya akan pulang."


Altan membalas senyum, Ansell tetap keras kepala seperti dirinya. Sebelum memastikan semuanya berjalan sesuai harapan, dia pasti tidak akan kembali.


"Baiklah. Setidaknya, ambil kunci ini." Altan menarik paksa tangan Ansell dan meletakan kuncinya pada telapak tangan Ansell yang terbuka.


"Pakailah nanti siang, kau bisa membawanya langsung nanti. Dan-


Altan menggantung  kalimatnya, membuat Ansell menatapnya fokus. Menunggu kelanjutan kata-katanya.


"Mandilah di bawah, barulah bisa kau membuatkanku sarapan."


Ansell tersenyum dan meletakan tangannya di samping kening sebelah kiri memberi hormat dengan tawa. "Siap, laksanakan."


Altan hanya tertawa dengan gelengan kepala. Ansell mengambil tas kerjanya dan merapikan seluruhnya lalu berjalan keluar dengan membawa selimut kotor serta tas kerja miliknya.


...----------------...


Riza terbangun saat merasakan cahaya mentari yang masuk melalui jendela kaca besarnya saat Feray membuka gorden.


"Selamat pagi." Sapa Feray dengan secercah senyum riangnya.


Riza tersenyum dengan sangat di paksakan. Baginya hari ini adalah hari penuh rasa malu untuknya. Jika Ia kembali ke kantor, apa reaksi semua team-nya? Mereka pasti akan menatap penuh dendam dan sinis.


"Kenapa? Apa kau masih ragu dengan awal pagimu?"


Tanya Feray saat melihat Riza menekuk wajahnya dengan raut senggan untuk melakukan aktifitas.


"Ayolah." Feray menarik paksa selimut yang masih menutupi tubuh Riza.


"Semua akan baik-baik saja. Percayalah."


"Aku ragu." Riza duduk dan bersender pada senderan sofa.


"Tidak perlu ragu. Semua pasti sudah berjalan seperti sedia kala." Feray menarik Riza untuk berdiri.


"Yang perlu kau lakukan adalah cepat mandi dan buktikan pada Altan, bahwa kau akan membantunya dan tetap berjuang untuk perusahaan keluarganya. Buktikan kau bukan pecundang yang akan melarikan diri saat kekacauan singgah di antara kalian."


Riza hanya menatapnya, bingung harus berkata apa.


Riza tersenyum dan mengangguk, gadis yang ia sisihkan selama ini tetap menemaninya di saat-saat terburuk. Riza berjalan ke atas menuju kamar-nya, Feray ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


...----------------...


Di rumah sederhana keluarga Ansell. Demir nampak mondar-mandir di halaman belakang dengan menggigit ibu jarinya, sementara Nenek Esme yang sedang memasak juga terlihat was-was. Karena semalaman Ansell tidak kembali ke rumah, sedangkan Demir hanya menenangkannya seperti biasa.


Nenek Esme tahu, pasti Demir juga sedang mengkhawatirkan Ansell.


"Nek, apa sarapannya sudah selesai?"


Suara Ei mengagetkan Nenek Esme. "Ya, ada yang sudah selesai. Bisa bantu Nenek?"


Ei mengangguk lalu membawakan dua buah piring menu sarapan pagi ke halaman belakang, kemudian kembali ke dapur dan membawakan dua buah piring lagi yang masih mengepulkan asap. Sementara Nenek Esme membawa nampan berisi gelas dan teko plastik tempat air mengikuti Ei.


"Demir." Panggil Nenek Esme.


"Iya." Jawabnya dan berjalan cepat menuju meja makan lalu duduk.


Ei dan Nenek Esme sudah mengambil beberapa lauk, tetapi Demir hanya memandangi seluruh sajian dengan tatapan kosong.


"Demir." Nenek Esme menepuk halus punggung tangan Demir yang tergeletak di atas meja.


"Iya Nek."


"Sarapan dahulu."


Dengan rasa malas, Demir terpaksa mengambil sarapan paginya yang sudah di ambilkan oleh neneknya. Rasanya sebelum Demir menuntaskan apa yang ada di pikirannya pada Ansell, untuk makan atau melakukan apapun menjadi serba tidak enak.


Tapi Demir masih berpikir pada Nenek dan adik bungsunya, jika dia terlihat murung terus. Mereka pasti juga was-was pada Ansell, terlebih Altan belum pernah menemui neneknya untuk mengutarakan hal baik dengan Ansell.


Bagi neneknya, Ansell tetaplah Ansell kecil yang tetap harus di khawatirkan. Apalagi Altan tergolong pria kaya, dia bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun. Lalu setelah bosan, pasti Ansell akan di buang?


"Ansell pasti akan kembali nanti siang."


Ucap Nenek Emse membuat Demir menatapnya. Demir tahu, neneknya juga pasti sedang memikirkan Ansell semalaman.


"Ya." Demir mengangguk dengan senyum kepalsuan, lalu menatap Ei.


"Ayo, habiskan Ei. Nanti Kaka antar."


"Iya, Kak."


...----------------...


Di perusahaan, Altan tampak lebih percaya diri di bandingkan hari kemarin. Hampir seluruh staf dan jajaran team kerjanya menyapa dengan senyum gembira, mereka semua bangga memiliki pemimpin seperti Altan. Tidak mudah menyerah. Namun mereka sebenarnya tidak begitu tahu, tanpa Ansell berada di sisih Altan, tidak mungkin semua kembali normal seperti ini.


Altan memasuki ruangannya di ikuti Ansell. Ansell mengambil seluruh kertas hasil coretan indah jari- jemari lincah Altan, di tumpuknya menjadi satu sebelum melakukan breafing pagi dengan seluruh team kerja serta jajaran staf.


Ponsel milik Ansell bergetar, beberapa pesan masuk yang mengabarkan semua sudah siap menunggu presdir di ruang breafing pagi. Dengan cekatan Ansell membawa seluruh bahan serta alat dan hasil karya dalam peluknya.


"Tuan, semua team dan staf sudah menunggu di ruangan. Mrs. Jenny juga sudah mempersiapkan pengajuan untuk mendapatkan hak cipta hari ini di temani Mr. Yaza dan Mr. Ismet, sementara Mr. Riza sedang dalam perjalanan." Ansell menjelaskan.


"Baiklah. Ayo kita ke ruangan." Altan berdiri dan merapikan kembali pakaian kerjanya. Langkah awal yang akan di lakukan dengan penuh semangat.


"Tapi, bagaimana dengan Mr. Riza?" Tanya Ansell ragu, namun Altan tak menanggapinya. Baginya, penghianatan kemarin masih terngiang jelas dalam memori otaknya. Altan berjalan melewati Ansell.


Ansell menghela nafas, sepertinya Riza butuh perjuangan untuk mendapatkan kembali hati sahabatnya. Ansell melangkah mengikuti Altan.


Suasana ruang breafing begitu menyenangkan, mungkin karena semua team  benar-benar melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin.


Altan berdiri di samping kursi kepemimpinannya, sementara Ansell sudah berada di tempatnya.


"Selamat pagi." Altan menyapa seluruh team dan staf nya.


"Selamat pagi presdir." Jawabnya serempak penuh semangat, meski wajah-wajah lelah nampak jelas. Tetapi demi meninggikan kembali nama perusahaan, mereka semua sangat bersemangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih masih setia dengan Ansell dan Altan. love u all.


salam hangat -Ende Setiani- 😊