
Seo Jun-Woo kini mulai berbatuk darah, luka besar yang ada di bagian perutnya benar-benar terasa sangat menyakitkan. Dia teringat bahwa setelah kembali, dia tidak pernah mengalami luka yang begitu besar seperti ini dan separah ini.
Karena biasanya dia orang yang cukup waspada. Bahkan di kehidupannya yang sebelumnya dia juga sangat jadang sampai memiliki luka sebesar ini. Jika pernah, itu mungkin sebelum dia mati di kehidupan sebelumnya. Serangan dahsyat dari Avatar Dewa Kegelapan.
Dia sampai sekarang masih ingat dengan rasa sakit ini yang benar-benar sama dengan rasa sakit yang dia rasakan ketika melawan Dewa Kegelapan. Dan jika memperhatikan lagi luka yang dialaminya saat ini benar-benar memiliki posisi yang sama dengan lukanya saat itu.
"Wow, kamu sungguh luar biasa bisa bertahan dari Luka sebesar itu, sebenarnya hidupmu itu seperti apa?" Kata Lust menatap ke arah Seo Jun-Woo yang saat ini masih terjatuh di lantai memegangi perutnya dan muntah darah itu.
Tatapan menarik ketika menatap kearah Seo Jun-Woo.
"Tidak....."
Seo Jun-Woo masih mencoba bertahan dari lukanya ini. Kali ini obat pemilihan ajaibnya tidak ada, ini juga bukan luka yang akan mudah disembuhkan.
Emiliana juga sedang tidak ada disini.
Seo Jun-Woo menjadi panik dengan luka yang dia alami. Tidak, dia tidak bisa berakhir seperti ini dia pasti bisa bertahan dan lolos dari ini semua. Dia bisa bertahan.
Seo Jun-Woo kali ini mulai mengedarkan energi yang ada di dalam tubuhnya mencoba untuk menutupi luka besar yang dimilikinya itu. Ini juga cara yang dia gunakan untuk menahan luka dari serangan Avatar Dewa Kegelapan sebelumnya.
[Kemampuan Heavenly Thunder diaktifkan]
Kali ini, Seo Jun-Woo dengan susah payah mulai mengeluarkan kemampuan miliknya dan diarahkan langsung ke arah Lust. Namun tentu saja seperti serangan-serangan sebelumnya, hal itu benar-benar bisa dihindari dengan mudah.
Lust mulai berjalan mendekat ke arah Seo Jun-Woo, namun Seo Jun-Woo tetap mundur mencoba untuk menjaga jarak dan mencoba mengaktifkan kemampuannya yang lain. Namun tentu saja rasanya lebih menyakitkan dari sebelumnya ketika dia bergerak.
Darah juga mulai keluar dari sudut mulutnya, setelah mudah darah lagi. Tubuhnya benar-benar terasa sangat lemas karena kehilangan banyak darah.
Lust menata pemandangan itu dengan ekspresi kagum namun dalam sekejap juga segera ada tepat di depan Seo Jun-Woo.
"Kenapa kamu berjuang sekeras itu?" Tanyanya tiba-tiba.
"Diam!!"
Seo Jun-Woo hendak menjaga jarak lagi namun sayangnya tangannya dililit oleh cambuk milik Lust.
[Kemampuan Dark Energy Blast diaktifkan]
Tentu saja seujung woo masih mencoba melawan untuk menghancurkan cambuk, namun kali ini gagal. Lust masih datang kearahnya, dan makin mempererat cambuknya pada Seo Jun-Woo. Tangannya baru saja memegang wajah Seo Jun-Woo dan berkata lagi,
"Tidak apa-apa kamu tidak perlu berusaha keras lagi... Kamu bisa menjadi milikku...."
Kata-kata itu, terdengar seperti menghipnotis, membuat Seo Jun-Woo merasa sedikit mabuk seolah kehilangan pijakan.
Rasa sakit di seluruh tubuhnya terlalu menyakitkan sampai-sampai dia merasa ini adalah akhir dari kehidupan kali ini. Dia tahu dia tidak boleh kehilangan kesadaran sekarang.
"Tidak...."
Namun seolah energinya tersebar dia perlahan-lahan mulai menutup matanya.
"Milikku," kata Lust lagi dengan ekspresi keserakahan.
Hal berikutnya yang Seo Jun-Woo rasakan adalah dia berada di tempat yang asing. Dan melihat sebuah kamar yang asing namun terlihat familiar.
"Tidak... Apakah Aku kembali lagi?"
Seo Jun-Woo masih tidak mengerti dengan hal-hal yang terjadi, padahal masih jelas ingatan pertarungannya dengan Lust. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana dia bisa terluka.
Jadi apakah dia benar-benar mati?
Ini tidak mungkin kan?
Lalu ini dimana?
Sampai ruangan kamar itu, kemudian dibuka oleh seseorang. Seo Jun-Woo awalnya mengira ini mungkin saja rumah sakit dan dia sudah disembuhkan atau diselamatkan oleh seseorang entah bagaimana caranya.
Hal pertama yang ingin dia pastikan adalah untuk membuka status Windows miliknya. Namun berapa kali pun dia mengucapkan hal itu, status Windows itu tidak muncul.
"Kak Jun-Hee, hal aneh apa yang barusan Kakak lakukan? Bukannya bangun, Kakak malah berbicara aneh? Apakah Kakak masih memimpikan bermain game?"
Terdengar suara samar dari seorang gadis yang terdengar asing, namun juga terasa familiar.
Seo Jun-Woo mulai mengangkat wajahnya dan tatapannya menatap ke arah gadis yang tersenyum itu.
"Seo Eun-Hye?"
"Kenapa Kakak memanggilku dengan cara aneh seperti itu?"
"Bagaimana bisa?"
Seo Jun-Woo benar-benar menjadi terkejut dengan hal-hal yang dilihatnya itu. Apakah ini mimpi atau ilusi?
Dia mencoba untuk mencubit dirinya sendiri. Namun merasakan sakit, dan sekarang huruf-huruf berdiri untuk menyentuh wajah gadis itu, Seo Eun-Hye, adik perempuannya yang seharusnya sudah meninggal dalam Tragedi Dungeon Pertama.
Dungeon?
Apa itu Dungeon?
"Oppa, kenapa?" Tanya gadis itu aneh.
Seo Jun-Woo juga menjadi bingung, lalu sepintas menatap wajahnya di cermin dikamar.
Ini wajah familiar yang sudah lama tidak dia lihat.
Wajah Seo Jun-Hee
Siapa Seo Jun-Hee?
Dia adalah Seo Jun-Hee.
Siapa Seo Jun-Woo?
Tiba-tiba pikirannya menjadi bingung.
"Hah, Kakak tidur jam segini makanya Kakak jadi bermimpi aneh bukan? Padahal kita ada janji Akan Makan bersama di Luar untuk merayakan kelulusan Kakak,"
"Kelulusan?"
"Benar, Kak. Kakak baru saja lulus dari SMA, Peringkat pertama di Sekolah, bukankah ini hal-hal yang harus dirayakan? Dengan ini juga, Kakak bisa bebas memilih mau masuk Universitas mana!"
Dia masih sedikit bingung dengan situasi yang ada, namun hanya mengikuti kearah mana gadis itu membawanya. Dan benar saja, dia dibawa menuju kesebuah mobil, di mana di dalamnya ada kedua orang tuanya.
"Di hari penting ini kamu malah ketiduran?" Tanya seorang Pria parubaya yang saat ini berada di setir mobil.
"Jangan seperti itu sayang, Jun-Hee kita baru saja mengalami masa-masa sulit setelah belajar keras untuk ujian bukan tak wajar jika sekarang dia bersantai?" Kata seorang wanita parubaya disana.
"Hah, kamu begitu memanjakannya."
"Ukhh, ayolah berhenti bicara dan segera jalan saja, Ayah! Aku benar-benar sudah kelaparan ini!"
Seo Jun-Woo yang melihat pemandangan itu, entah kenapa menangis. Ada ingat mengerikan yang ada di dalam pikirannya, dimana mereka semua meninggal dalam tragedi.
"Hey? Kakak kenapa?"
"Bukan apa-apa,"
Dia mulai tersenyum, lalu segera mereka tiba di sebuah restoran yang terlihat familiar. Ekspresi Seo Jun-Woo segera menjadi buruk.
"Tidak... Bagaimana jika bukan kesana? Bukankah ada restoran yang lebih bagus di Jalan Y?"
"Kita sudah sampai namun Kakak ingin pindah restoran? Tapi Aku sudah kelaparan!"
Seo Eun-Hye terlihat tidak peduli dengan ucapan kakaknya itu dan hendak membuka mobil namun tangannya segera dipegang oleh Seo Jun-Woo yang saat ini memiliki ekspresi ketakutan.
"Apaan sih Kak?"
Kedua orang tua mereka menatap keduanya dengan ekspresi bingung.
"Itu benar, kenapa kamu tiba-tiba aneh Jun-Hee?"
"Jangan... Jangan kesana!"
"Tidak ada apa-apa disana, kamu kenapa sih?"
Pada akhirnya, Seo Jun-Woo tidak bisa mencegah mereka untuk memasuki restoran itu. Dan duduk di kursi pojok dekat jendela.
Seo Jun-Woo mulai duduk dan memegang menu dengan ekspresi tidak nyaman. Karena teringat, dalam ingatan atau mimpi buruknya, ada kejadian yang tidak menyenangkan dimana Keluarganya meninggal di Restoran ini.
Seo Jun-Woo menatap ke arah jam tangannya seolah menghitung waktu. Dalam mimpinya tiba-tiba saja terjadi gempa lalu semuanya menjadi kacau.
Namun bahkan setelah makanan pesanan mereka sampai, tidak terjadi apa-apa. Semua tenang, satu keluarga itu mulai menikmati makanan pesanan mereka bahagia.
Seo Jun-Woo masih ragu, tidak begitu memiliki nafsu makan dan hanya makan sedikit. Masih takut dengan hal-hal yang dia pikirkan.
Nyatanya, bahkan setelah mereka keluar dari Restoran dan acara makan mereka selesai, tidak terjadi apapun.
"Tidak ada apa-apa?"
"Kakak Aneh deh, memangnya hal apa yang Kakak harapkan terjadi?"
Seo Jun-Woo menatap keluar jendela mobil dengan ekspresi rumit mulai menatap ke arah sekeliling. Pemandangan kota yang tenang.
Tidak ada monster, tidak ada mayat, tidak ada portal aneh. Langit masih memiliki warna biru yang indah. Sore hari di kota itu benar-benar damai.