
Seo Jun-Woo keluar dari ruangan Istirahat yang digunakan oleh Lee Chae-won. Begitu keluar dari sana dia segera bertemu dengan lorong panjang yang menghubungkan Istana dengan tempat latihan. Jika memperhatikannya lagi, ini juga pertama kalinya dia berkunjung ke Istana Arcangel Mikaela yang juga merupakan pemimpin dari Para Arcangel.
Biasanya jika ada acara semacam ini, akan diadakan di Istana milik Uriel atau Acrhangel lainnya, karena Mikaela lebih tertutup daripada semuanya, dan tidak mengijinkan begitu banyak orang untuk masuk ke Istananya.
Seo Jun-Woo lalu mulai menatap kearah sekelilingnya, dan seperti yang dia perkirakan desain tempat itu masih sama seperti saat masuk Istana. Terlihat begitu sederhana dan tidak memiliki begitu banyak hiasan. Dia berpikir, apakah tidak apa-apa untuk berkeliling sebentar?
Setelah Acara Pertarungan sebelumnya, Para Constellation lainnya juga memiliki waktu Istirahat dan disediakan ruangan bersantai, agar mereka bisa memikirkan dan menenangkan pikiran setelah mendengar semua hal yang terjadi.
"Harusnya tidak apa-apa jika dia berkeliling tempat itu."
Setelah menentukan tujuannya dia menelusuri lorong-lorong itu. Lalu tiba disebuah taman. Taman itu juga hanya terlihat seperti taman bunga mawar biasa, tidak ada yang spesial dari sana, dengan Air Mancur ditengahnya.
Seo Jun-Woo mulai melihat-lihat patung besar di tengah air mancur yang merupakan patung dari simbol Constellation Mikaela, Arcangel dengan tiga belas sayap.
Sayap Arcangel melambangkan kekuatan mereka, dengan tiga belas sayap, Mikaela adalah terkuat diantara Para Arcangel. Yang lainnya hanya memiliki dua belas sayap. Dan Para Prajurit dan penjaga, hanya Angel biasa dengan rata-rata 2-8 sayap.
Melihat sekeliling, Seo Jun-Woo tidak menemukan apapun penjaga yang ada di taman itu. Mungkin karena Sang Acrhangel tidak menyukai kebisingan dan hanya menyukai ketenangan.
Jika lurus ketika melewati taman itu, Seo Jun-Woo akan menemukan sebuah rumah kaca yang terlihat cukup unik. Di dalamnya, masih memiliki aneka macam bunga, lebih indah dari bunga-bunga yang ada di taman luar.
Rumah kaca itu tidak semuanya memiliki dinding kaca transparan, di ujung ruangan ada sebuah kaca warna-warni yang memiliki semacam motif bergambar diatasnya.
Disana ada gambar Arcangel dengan tiga belas sayap. Namun ada yang sedikit berbeda dari patung-patung Arcangel yang ada di depan. Seo Jun-Woo juga tidak mengerti begitu pasti tentang apa bedanya, hanya saja dia merasa gambar ini sedikit berbeda.
Arcangel yang ada digambar, digambarkan berada di langit, terbang dengan ketiga belas sayapnya, di bawahnya, ada banyak malaikat yang menunduk kearahnya. Gambar berikutnya, Sang Acrhangel bersama dengan begitu banyak Angel lainnya yang memeluknya dan terlihat begitu dekat dengan mereka.
"Apakah ini simbol di cintai?"
Dan baru sekarang Seo Jun-Woo mengerti perbedaan gambar Acrhangel yang ada di gambar dengan patung yang ada didepan. Terlihat dari baris gambar berikutnya, gambar Arcangel itu kali ini memiliki wajah yang begitu jelas.
Bagaimana cara Seo Jun-Woo mengatakannya?
Gambar itu menyimbolkan keindahan, entah itu laki-laki atau perempuan, namun tidak ada kata-kata lain yang lebih menggambarkan tentang gambar itu selain keindahannya yang memukau.
"Ini bukan Mikaela."
Siluet yang ada digambar itu terlihat sedikit familiar, walaupun warna mata dan rambutnya sedikit berbeda, dan sayapnya berbeda.
"Lucifer?"
Sepintas gambar itu, mengingatkannya pada sosok Sang Raja Iblis tertentu, yang memiliki penampilan memukau dan menawan sangat berbeda dengan Raja Iblis lain yang lebih terlihat menyeramkan, seolah tempat itu, Dimensi Kegelapan bukanlah tempatnya.
Ketika Seo Jun-Woo diliputi dengan kebingungan dia tidak menyadari jika seseorang berada disana, datang dari belakang.
"Tidakkah kamu sangat tidak sopan untuk berkeliling Istana orang tanpa ijin?"
Ada wajah galak terlihat dari orang itu, menunjukkan ekspresi kesal yang jelas.
Seo Jun-Woo menatap kearah belakang, dan menemukan sosok yang mengejutkannya.
Seo Jun-Woo mencoba berkata dengan sopan agar tidak menyinggung sang pemilik istana.
"Aku ingat kamu. Kamu seseorang yang pernah ada di Dimensi Kegelapan. Aku akan memaafkanmu atas tidakan tidak sopan yang kamu miliki, karena kamu pernah menyelamatkan Avatarnya Charles. Jiwanya masih ada bersamamu, benar?"
Seo Jun-Woo yang ditanya itu segera menjadi gugup namun tidak ada cara untuk mengelak dari pertanyaan itu.
"Benar."
"Ini aneh, aku baru pertama kalinya melihat sosok sepertimu yang memiliki kekuatan Kegelapan dan Cahaya. Tidak, ini benar-benar luar biasa untuk melihat manusia bisa mengembalikan kekuatan cahaya dan kegelapan dengan begitu baik."
"Ini hanya sebuah keberuntungan."
Mikaela jelas menunjukkan rasa tidak percaya mendengar kata-kata itu.
"Apakah kamu benar-benar tidak memiliki Constellation pendukung?"
"Tidak. Dan saya tidak pernah tertarik untuk menjadi pengikut siapapun."
"Cukup menarik."
Lalu ada keheningan yang ada di antara mereka. Seo Jun-Woo kembali mengarahkan tatapannya pada lukisan yang ada di kaca di depan.
Mikaela tentu melihat tatapan Seo Jun-Woo, dan berkata,
"Apakah secara kebetulan kamu pernah bertemu Lucifer di Dimensi Kegelapan?"
Seo Jun-Woo yang ditanya itu segera tersenyum canggung dan berkata,
"Benar. Sebelumnya, saya pernah bercerita berhasil melarikan diri dari salah satu Raja Iblis, namun belum mengatakan dengan jelas siapa itu. Dia adalah Raja Iblis Lucifer."
"Kamu benar-benar pergi keberuntungan yang tinggi bisa lolos dari mahluk semacam itu."
"Benar, ini benar-benar sebuah keberuntungan."
"Jadi apa pendapatmu tentangnya?"
Seo Jun-Woo yang mendengar itu tanpa pikir panjang segera berkata,
"Sosok yang sangat kuat dan mengerikan, lambang dari ketakutan itu sendiri,"
"Benar. Dia memang sosok seperti itu, sosok yang kuat dan mengerikan. Namun suatu ketika, dia pernah menjadi sosok yang paling di puja dan paling dicintai, karena sosoknya paling indah dan paling kuat," kata Mikaela sambil menatap ke arah lukisan kaca yang ada di depan.
Seo Jun-Woo cukup terkejut dengan hal-hal yang dia dengar dan lihat.
"Dia pernah menjadi Acrhangel? Tapi bagaimana?"
Mikaela yang ditanya itu hanya menatap hampa kearah lukisan itu, seolah sedang memikirkan kejadian di masa lalu. Awal dari semuanya.