
Terjadi pertengkaran kecil di dalam rombongan mahluk yang baru datang itu. Namun itu tidak berlangsung lama, karena segera mereka mendapatkan perintah dari atasan mereka untuk tidak membuang-buang waktu terlalu lama lewat telepati.
'Aku minta kalian menemukan barangnya secepatnya. Bagian dari Kekuatanku yang hilang harusnya di segel di mantan Istanaku. Aku membutuhkan barang itu untuk menyempurnakan Kekuatanku.'
"Tentu saja, Tuan Lucifer. Saya pasti akan mendapatkan hal itu sesuai rencana."
'Benar, jangan sampai gagal dan ingat, alihkan Mikaela sebentar sampai rencana selesai, kalian bisa menghancurkan apa saja yang ada di sana namun ingatlah, Sang Arcangel bukan lawan yang mudah Aku harap kalian hati-hati dan selalu bersiap melarikan diri jika di perlukan.'
"Apa yang Tuan Lucifer takutkan? Kami bahkan bisa menyerang dan menghancurkan tempat ini sekarang juga! Dengan Dua dari Seaven Deadly Sin dan Dua Raja Iblis, ini harusnya cukup. Saya pasti akan mempersembahkan Kepala Arcangel Mikaela pada anda," kata Lust, dengan percaya diri, kata-katanya yang kejam sangat berbeda dengan sosoknya yang cantik dan mempesona.
'Tentu, Lakukan apa yang kalian suka. Aku juga menantikan kekuatan kalian yang sesungguhnya, Para penghuni Dimensi Lain,'
Dari ujung telepati, Lucifer masih duduk di singgasananya dengan sombongnya, menantikan rencana besarnya. Ini tidak hanya untuk menguasai Heavenly Realm, namun juga seluruh Dimensi Para Constellation agar menjadi miliknya, agar dia bisa menjadi penguasa dari segalanya.
Sangat beruntung, beberapa tahun lalu dia sempat melakukan beberapa eksperimen dengan portal dimensi, dan berhasil menemukan hal-hal bagus dari Dimensi lain. Semacam kekuatan besar jahat yang penghuni Dimensi lain, 'Seaven Deadlysin'. Mereka membuat Aliansi, untuk saling membantu dalam penguasaan Dimensi.
Kejauhan Heavenly Realm hanya satu bagian dari rencananya.
"Aku benar-benar menantikan kekacauan yang akan terjadi."
Dan sekarang dia memiliki hal lain yang harus di urus. Ada seorang Pria dengan rambut pirang saat ini datang kearahnya, dan berlutut.
"Salam, Tuan Lucifer."
Lucifer yang melihat sosok orang itu, tersenyum dan berkata,
"Aiden jadi kamu berhasil dengan rencanamu?"
"Tentu Tuan Lucifer, ini berkat anda. Saya disini untuk mengucapkan Terimakasih. Dan ini adalah hadiah untuk Tuan Lucifer,"
Lucifer lalu melihat sesuatu berada didalam kotak, itu adalah sebuah kepala salah satu Constellation hebat dari Heavenly Realm. Salah satu Acrhangel yang jatuh sebelumnya.
"Pffff... Jadi itu perbuatanmu? Aku selalu bertanya-tanya siapa yang berani menyerang mereka duluan? Jadi itu kamu?"
"Saya hanya ingin menguji kekuatan Saya tidak mengira bahwa lawan yang ditemui begitu lemah,"
"Hmm, kamu benar-benar tidak terduga. Jadi hadiah apa yang kamu inginkan dariku atas prestasi mu ini? Aku kira kamu datang tidak hanya membawa hadiah dengan cuma-cuma?"
Aiden mendengar itu segera tersenyum, dan berkata,
"Tidak ada yang hamba inginkan, ini hanya bentuk balas jasa untuk Tuan Lucifer,"
"Cih, kamu benar-benar sosok penjilat."
"Terimakasih atas pujiannya."
"Ah benar, jika kamu memiliki waktu luang, pergilah bersama Diamblo, dia sedang mengurus tugas penting. Aku rasa, kamu yang lebih mengerti tempat itu, jadi pandu lah dia,"
"Maksud anda?"
"Kamu akan mengerti setelah sampai disana,"
####
Kembali ke depan Portal Dimensi, dimana Raja Iblis dan Seaven Deadly Sin hendak menyerang. Sebuah pasukan juga sudah keluar dari dalam gerbang Dimensi.
Setelah berdiskusi, Tim itu dibagi menjadi dua tim. Satu Tim untuk membuat kekacauan, dan yang satunya untuk mencari target yang Tuan mereka minta.
"Benar, jangan sampai ini gagal," kata Belphegor sambil mulai mengeluarkan trisula miliknya, bersiap untuk menyerang.
"Jangan meremehkan kemampuan kami!" Kata Lust terlihat begitu kesal karena diremehkan oleh kedua Raja Iblis itu. Padahal belum tentu mereka lebih lemah dari keduanya.
Dengan itu, kedua tim mulai berpisah. Dimulai dari Belphegor dan Agares menuju ke Istana barat. Kali ini yang mereka bidik adalah Istana Sang Constellation Mother of Holy Fire. Mereka menilai, ini salah satu yang cukup lemah dari pada Constellation lainnya.
DUAARRR
Belphegor segera melemparkan Trisula miliknya kearah Istana itu, mengakibatkan sebuah ledakan yang sangat besar.
Uriel sendiri, masih berada dalam Istana Mikaela, sampai dia mendengar laporan dari bawahannya soal Istananya yang diledakkan itu.
"Kurang Ajar!! Apakah ada serangan? Dan kenapa mereka musti merusak Istana Indah ku?" Kata Uriel mulai mengeluh.
"Diamlah. Ini bukan saatnya kamu meratapi soal Istanamu itu, kita harus segera kesana. Kita tidak boleh kecolongan seperti sebelumnya,"
"Benar, mari segera kumpulkan yang lainnya menuju kesana," kata Mikaela memberikan perintah.
Dia segera memanggil pasukannya untuk bersiap menuju ke tempat kejadian dengan kekuatan penuhnya, dan hanya meninggalkan beberapa prajurit di Istananya.
Bisa dibilang, ketika Lust dan Greed tiba di Istana itu, istana itu terlihat lebih kosong dari sebelumnya. Bahkan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali di sudut-sudut tertentu.
"Sungguh membosankan di sini benar-benar tidak ada mangsa,"
"Sudahlah jangan banyak bicara mari kita segera menuju Taman yang ada di Peta sebelumnya."
Namun tentu saja, alasan kenapa istana itu dibiarkan hampir kosong, bukan karena pemiliknya ceroboh, namun sang pemilik sudah menyiapkan beberapa jebakan sebelumnya.
Tempat ketika mereka masuk ke dalam Istana tanpa Ijin, mereka tiba-tiba dikirimkan ke sebuah ruangan yang terlihat seperti labirin dengan dinding yang tidak bisa ditembus.
"Sungguh? Ternyata ada hal sial semacam ini?"
"Sialan, aku tidak mengira jika ada pengamanan semacam ini,"
DUAKKK
Beberapa jebakan yang berada dalam labirin itu mulai diaktifkan ketika merasakan kehadiran jahat yang datang itu.
Di tempat lainnya, saat ini Seo Jun-Woo dan Kim Jung-Hwa masih berada di pusat ruangan misterius.
Disana, ada Cystal besar yang dikelilingi oleh semacam rantai. Seo Jun-Woo merasakan energi yang sangat besar dari sana, mirip dengan Fregmen Cahaya.
"Tunggu, biar Aku yang memeriksanya," kata Seo Jun-Woo lalu mencoba mengaktifkan kemampuannya untuk menyerap energi dari frekuensi cahaya itu.
Namun bukannya berhasil Dia segera diliputi oleh rasa sakit ketika menyentuh kristal itu seolah ada semacam kekuatan yang menolaknya. Dan tidak sedikitpun kekuatan itu berhasil terserap.
DUARRR
Karena efek tolakan itu, Seo Jun-Woo bahkan menjadi terlempar beberapa meter ke belakang. Dia tidak pernah mengalami kegagalan seperti ini sebelumnya.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Kim Jung-Hwa khawatir.
"Cih, ini bukan hal yang perlu untuk dikhawatirkan. Aku hanya masih mencoba menyelidiki tentang benda apa ini."