The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Harapan Daisy



Previously....


Emosinya kini bagaikan sebuah angin topan, tak terkendali dan terasa seperti akan menghancurkan dan merobek-robek dirinya.


Lelaki itu meneriakkan nama kekasihnya dalam benaknya dengan dirinya yang berlari sangat kencang untuk segera menyelamatkan gadisnya.


"Cassandra!!"


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(36)  ...


Flashback on


Di sebuah kereta yang mewah, terdapat dua sosok manusia. Mereka terdiam cukup lama, hingga akhirnya sang lelaki berinisiatif dengan mendekati gadis bersurai coklat yang berada di sebelahnya.


Lelaki bersurai pirang itu menjatuhkan kepalanya di atas pundak ramping kekasihnya, kemudian menggenggam tangan gadis itu yang berlapis sarung tangan putih penuh kelembutan.


"Ada apa? Tiba-tiba bertindak seperti ini," celetuk Cassandra menatap kekasihnya yang tengah memejamkan matanya.


"Aku merindukanmu," ujar Arlen kemudian melepas kain ketat yang melapisi tangan gadis bernetra garnet.


"Bukankah kita selalu bersama akhir-akhir ini? Dengan begitu kau masih saja merindukanku?" kekeh Cassandra.


Arlen mengangkat kelopak matanya sehingga menampilkan iris biru langitnya disertai dengan bulu mata panjang dan lentiknya yang ikut bergoyang.


Lelaki itu kemudian mengangkat tangan gadisnya yang lebih kecil darinya kemudian mencium punggungnya.


Cassandra melipat bibirnya sembari menarik pelan tangannya yang tengah menerima kecupan dari lelakinya. Dirinya mengalihkan pandangan ke arah luar jendela menatap pemandangan.


Jujur saja, sampai sekarang... ia masih merasa malu ketika kekasihnya tersebut menatap tangannya yang dipenuhi bekas luka yang permanen.


Arlen sedikit mengangkat kepalanya dan menoleh ke samping untuk menatap kekasihnya. Seakan mengerti dengan ekpresi yang gadis itu lukiskan, dia pun membiarkan gadis itu bertindak sesuai keinginannya.


Lelaki itu kembali menjatuhkan kepalanya pada pundak sang gadis dan kembali menikmati momen yang tenang ini sembari menutup kelopak mata.


Cukup lama mereka berdiam dalam posisi itu, hingga akhirnya sebuah kalimat dari bibir Cassandra membuyarkan suasana yang sempat sunyi.


"Kemarin... aku mendapat surat dari Anastasia," ujar gadis itu.


"Apa katanya?" tanya Arlen lugas sembari kembali pada posisi tegapnya saat duduk.


Cassandra tampak mulai terlarut dalam lamunannya. "Dia bilang, bahwa sore ini dia ingin mengajakku ke suatu tempat.


Lelaki yang menjadi kekasih gadis tersebut itu mulai terusik. "Kau tentu tidak akan pergi begitu saja, bukan? Itu terlalu gegabah," peringatnya.


"Awalnya aku berpikir begitu. Namun... aku ingin bertindak cepat, Arlen." Cassandra menatap dalam tepat ke arah manik mata aquamarine tersebut.


Arlen tahu, ketika kekasihnya itu telah menyebut namanya, maka gadis itu benar-benar telah bulat akan keputusannya.


Namun... mimpi buruk di mana dia kehilangan Cassandra waktu itu selalu datang akhir-akhir ini ke mimpinya.


Siapa manusia yang tidak takut ketika mereka telah pernah kehilangan seseorang yang mereka dicintai tepat di hadapan mereka sendiri?


"Kau tahu bukan, bahwa aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu? Kau tahu bukan... betapa hancurnya aku waktu itu ketika kau menghilang tepat di hadapanku...?" lirih lelaki itu mengungkapkan semuanya.


Dia sudah lelah bersikap tenang, dan selalu menerima setiap keputusan gadis itu yang sangat berbahaya. Ketika dia tenggelam dalam ombak kecemasan yang tak berujung, dia sudah lelah mengalami semua itu.


"Tapi ini adalah satu-satunya cara. Aku ingin Ana untuk tidak membenciku. Agar kita bertiga bisa kembali bersahabat seperti dulu. Kau tentu mengerti akan perasaanku, bukan?" Cassandra melemahkan nada suaranya.


Gadis itu benar-benar ingin kedamaian menghampiri hidupnya, dirinya sudah muak dengan seluruh drama di dalam kehidupannya ini yang tak ada habisnya.


"Lalu apa kau juga mengerti akan perasaanku?"


Cassandra terkesiap ketika mendengar perkataan Arlen yang menyelanya dengan cepat.


"Kau selalu ingin aku memahami perasaanmu, tapi apa kau pernah memikirkan perasaanku?" Lelaki itu kembali berkata.


Cassandra lagi-lagi terdiam. Kalimat Arlen sangat menusuk dirinya. Itu benar... apakah selama ini dirinya pernah memikirkan perasaan lelaki itu?


Tanpa sadar, matanya memanas dengan dadanya yang terasa sesak. Hatinya berdenyut nyeri, tenggorokannya seakan dililit oleh sebuah duri tajam.


"Jawab aku, Cassandra la Devoline."


Gadis itu pasrah, dia sudah tak sanggup menahan air matanya. Tangannya pun kini telah membekap mulutnya agar sebuah isakan tak bisa terdengar.


Ternyata dia hanya memikirkan dirinya sendiri selama ini, dan berakhir tidak memikirkan lelaki itu yang juga banyak menopang beban dalam hidupnya.


Bagaimana dirinya bisa sejahat ini?


"M-maaf... hiks... maaf...." Air mata kini telah membanjiri mata beserta pipi gadis itu yang sedikit tirus. "Maaf... Arlen... aku egois... m-maaf... hiks...."


Cassandra menundukkan wajahnya, dengan dirinya yang masih berusaha untuk menghentikan tangisannya. Namun semuanya sia-sia, tangisnya tak kunjung reda.


Hingga akhirnya sebuah pelukan mengarungi seluruh tubuh gadis itu, membuatnya merasakan kehangatan yang mulai menyergap dan menyebar.


Gadis itu kembali membalas dekapan kekasihnya dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada lebar milik lelaki itu.


Arlen masih setia mengelus punggung Cassandra berusaha untuk menenangkan gadis itu.


Apa rasa khawatirnya terlalu mengekang gadis itu? Apa rasa ingin melindunginya terlalu berlebihan? Pertanyaan itu seketika muncul di benaknya.


"Aku akan memberikan satu syarat," celetuk lelaki bersurai pirang itu di sela-sela tangisan sang kekasih.


Tangisan Cassandra mulai mereda, dengan kebingungan yang mulai menghampirinya.


"Kau harus membawa sesuatu agar aku bisa langsung mencarimu ketika kau dalam bahaya," cecar Arlen mengabaikan Cassandra yang tengah mendongak menatapnya.


Karena tadi pangeran Yari sempat tiba-tiba mengajaknya ke sebuah pedesaan, dirinya tak bisa menemani  Cassandra.


Gadis itu tidak percaya ini. Setelah dia telah banyak berbuat salah seperti ini, lelaki itu masih berusaha memahami dirinya?


Bagaimana bisa... ada lelaki sebaik itu di dunia yang kejam ini?


"Arlen...." Cassandra masih saja tidak percaya akan perkataan yang ia dengar.


"Dengar. Ini adalah kesempatan terakhir yang kuberikan untukmu. Jangan bertindak berbahaya," tutur Arlen menatap Cassandra posesif.


Gadis itu mengangguk berkali-kali, dia akan menggunakan pengertian yang lelaki itu berikan sebaik-baik mungkin.


"Kalau begitu, aku akan membawa beberapa kembang api. Jika aku dalam bahaya, maka aku akan langsung memberikanmu tanda."


Arlen mengangguk. Tak lama dari itu, ibu jarinya sampai di wajah cantik gadis itu dan mengusap air mata yang masih membekas.


"Berhentilah menangis, kau membuatku semakin tak bisa menahan diriku."


Tiba-tiba saja tubuh Cassandra terangkat ke udara dan terjatuh ke atas pangkuan milik lelaki bermanik biru langit tersebut.


Gadis itu membelalakkan matanya ketika kekasihnya itu mengunci pergerakannya. Tangan kanan lelaki melingkari pinggangnya, sedangkan tangan kirinya menangkup tengkuknya beserta beberapa helai rambutnya yang terjuntai.


"Setidaknya, biarkan aku melakukan ini," ujar lelaki itu meneduhkan pandangannya sembari menatap bibir milik kekasihnya.


Seakan mengerti, gadis itu pun menurunkan wajahnya untuk mengklaim bibir persik milik kekasihnya yang memabukkan.


Flashback off


Ledakan kelopak api di langit senja itu sempat berhenti beberapa saat lalu, ketika sudah cukup banyak ledakan yang telah terluncur.


Untung saja Arlen telah cukup dekat di lokasi di mana kembang api itu terus meluncur. Dan setelah mengikuti tanda tersebut cukup lama, dia sampai di pegunungan yang asing.


Dengan alis yang berkerut dan giginya yang bergemeretak, lelaki itu pun hanya bisa bertanya dalam batinnya.


"Kenapa kau selalu saja membahayakan dirimu?"


Setelah menelusuri pegunungan itu cukup dalam, dia pun mendengar sebuah suara dari arah kanan. Dirinya seperti mengenal suara itu.


Tanpa berlama- lama, lelaki itu turun dari kudanya dan berjalan mendekati suara yang sedari tadi terdengar.


Seketika ia terkejut mendapatu sesosok yang tengah menangis tersedu-sedu di dekat ujung tebing jurang yang dalam.


"Daisy!"


Gadis yang terduduk di atas permukaan tanah itu langsung mendongak ketika mendengar namanya terpanggil.


"Kakak!"


Arlen langsung berlari menghampiri Daisy tersebut kemudian menarik adiknya tersebut menjauh dari tebing jurang.


"Apa yang kau lakukan?! Bagaimana jika kau terjatuh?!" tutur lelaki itu kemudian mengelap airmata yang terus mengalir deras di pipi adiknya.


"Kakak! Kau harus mendengarkanku! Kak Cassie dan Kak Ana, mereka...!"


Daisy tampak tersendat-sendat dengan nafasnya yang tidak beraturan, Arlen pun lantas membantu adiknya itu bernafas secara normal.


Tak lama, Daisy pun kembali berbicara. Dia harus memberitahukan segalanya pada kakaknya.


"Kakak... Kak Cassie dan Kak Ana...."


"Ada apa dengan mereka, Daisy?" sela Arlen berusaha untuk tidak terlalu menekan adiknya.


"Mereka... jatuh dari jurang itu.... kumohon, selamatkan mereka...!"


Seketika lelaki beriris biru itu tersentak dengan matanya yang menyalang hebat. Jatuh... dari jurang...?


"Tidak mungkin...," lirih lelaki itu syok berat. Seketika, seluruh saraf ketenangan di dalam otaknya terputus sehingga dia kehilangan kendali.


"Bagaimana bisa mereka jatuh ke jurang?" tanya Arlen terdengar lemah.


Daisy masih setia dengan tangisnya sehingga dia kesusahan untuk menjawab.


"Jawab aku, Daisy!" sergah lelaki bersurai pirang itu membuat adiknya tersentak.


Tak lama dari itu, Daisy pun mulai menceritakan semuanya.


Flashback on


"Kak Cassie! Jangan lakukan itu, aku mohon padamu!" jerit Daisy tak terima dengan keputusan Cassandra.


Gadis bermanik biru itu berderai air mata. Tak lama dari itu, tubuhnya pun tersungkur di atas tanah ketika didorong secara keras oleh Anastasia.


"Akh!" ringisnya. Tak lama dari itu, dia pun mendapati Cassandra mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.


Daisy semakin frustrasi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Tidak mungkin dirinya membiarkan Cassandra jatuh begitu saja dan melayangkan nyawa.


Dia hanya bisa memanggil nama gadis itu berusaha menyadarkannya, namun seketika dia terdiam ketika Cassandra membelakanginya dan menunjuk ke arah belakangnya.


Daisy terbelalak, mengapa Cassandra menunjuk ke arah belakang? Secara cepat, Daisy pun memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk oleh Cassandra.


Gadis bernetra biru itu lagi-lagi terkejut. Ternyata di tempat posisi awal Cassandra berdiri, ada sebuah ukiran tulisan di atas tanah yang Cassandra pijak sebelumnya.


Dorong Anastasia.


Itulah tulisan yang Daisy lihat. Dia kembali berpikir. Apa Cassandra ingin menjatuhkan Anastasia agar mereka berdua selamat?


Apa dirinya sanggup menjatuhkan Anastasia? Meskipun gadis bermata hijau itu ingin mencelakai mereka berdua, tetap saja dirinya tak bisa membunuh orang dengan begitu mudahnya.


Namun... jika dia hanya diam, maka Cassandra akan yang akan kehilangan nyawa. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Ketika Anastasia telah mengambil ancang-ancang ingin mendorong Cassandra, Daisy tak bisa lagi berpikiran jernih.


Gadis beriris biru itu langsung mendorong Anastasia agar gadis itu terjatuh.


Namun... lagi-lagi dirinya merasa bingung akan semua. Bukannya malah lari, Cassandra justru menangkap tangan Anastasia dan menahan bobot tubuh gadis bersurai pirang itu agar tidak terjatuh.


Apa arti dari semua ini? Bukankah Cassandra yang menyuruhnya untuk mendorong Anastasia? Tapi kenapa sekarang Cassandra malah menyelamatkan Anastasia?


Ini sangat aneh, sungguh aneh.


Hingga tak lama dari itu, kedua gadis yang sempat berada di ujung tebing hutan itu langsung terjatuh ke bawah.


Daisy pun langsung berteriak ketika mendapati kedua perempuan itu terjun ke bawah.


"KAK CASSIE!!!"


Flashback off


"Aku bingung. Kak Cassie memintaku untuk mendorong Kak Ana, namun Kak Cassie malah menyelamatkan Kak Ana. Aku benar-benar bingung dengan semua yang terjadi secara mendadak ini!" papar Daisy frustrasi.


Gadis itu menggigit kuku jarinya secara keras, kembali memikirkan tindakan Cassandra yang masih sangat ambigu.


Tak lama dari itu, Daisy tersentak ketika kakaknya tersebut menggeram kesal dengan raut wajah yang tak bisa dia mengerti.


"Argh!! Si bodoh itu! Bagaimana bisa dia masih bersikap baik di saat seperti ini?!"


Namun setidaknya dia bisa melihat satu hal... kakaknya itu tengah terluka sangat dalam.


Tak lama dari itu, hembusan nafas kasar terdorong dari pernapasan Arlen. Lelaki itu kemudian menepuk pelan pundak adiknya. "Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu," ujarnya.


"Tapi bagaimana dengan Kak Cassie dan Kak Ana?!" sergah Daisy secara cepat.


"Aku akan menyelamatkan mereka setelah mengantarmu."


"Tapi...!"


"Daisy," potong Arlen penuh penekanan. "Jangan membantah."


Sontak, Daisy terdiam. Entah kenapa, lidahnya kelu untuk berbicara. Tatapan tajam dari kakaknya, lebih mengerikan dari apapun saat ini.


Tak bisa lagi berkata, Daisy pun hanya bisa menuruti perintah kakaknya tersebut.


"Jangan sampai orang lain mengetahui ini. Kau mengerti?" tanya Arlen pada adiknya tersebut.


Daisy hanya bisa mengangguk, hingga akhirnya setelah sekian lama gadis itu telah sampai di kediamannya dengan penampilan yang acak-acakan.


Gadis itu hanya bisa berharap... semoga kakaknya itu bisa menemukan kedua sosok perempuan yang menjadi sahabatnya tersebut dalam keadaan selamat.


Untuk saat ini... hanya itu yang Daisy harapkan.


...11.03.2021...