
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(1)...
Ah... sial! Semua makanan di kulkasku habis! Huh... sepertinya dalam dua tahun, hari ini aku harus keluar dari rumahku untuk pertama kalinya.
Sungguh mengesalkan, tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Jika ingin memesan online, kebetulan wifi ku bulan ini terputus dan aku lupa untuk membayarnya.
Kusambar jaket hoodieku dan memasang tudungnya untuk menutupi kepala. Sebuah masker berwarna hitam kupakai untuk menutupi setengah wajahku.
Setelah siap, kutarik nafasku kemudian memakai sandal jepitku lalu melangkahkan kaki ke dunia luar yang mengerikan ini.
Sinar matahari yang langsung menerjang dan menyerbu, menyilaukan pandanganku hingga telapak tanganku secara sontak bertugas menghalanginya.
Banyak kendaraan yang menghasilkan asap menyesakkan di mana-mana, ada juga manusia yang masih berjalan kaki guna untuk menyehatkan tubuh.
Untuk pertama, lebih baik aku ke minimarket dan membayar tagihan listrik dan air atau yang lainnya, serta membeli bahan makanan.
Tak jauh, kini terletaklah sebuah minimarket minimalis yang menjadi tempat tujuanku.
Kulangkahkan kakiku dan udara dingin menyambut kedatanganku. Keranjang yang berbentuk petak berwarna biru, kuraih dan kutenteng seraya dengan mataku yang berlari kesana-kemari mencari bahan makanan.
Sepertinya semua bahan yang kuperlukan telah kudapatkan, kalau begitu tinggal bayar saja.
Bagaimana ini? Tabunganku tak akan bisa bertahan untuk menanggung beban hidupku untuk kira-kira seminggu lagi.
Apa aku harus mencari pekerjaan? Tapi ketika mereka mengetahui identitas asliku, apa mereka mau memperkerjakan aktris yang nama baiknya telah tercemar sepertiku?
Memikirkannya saja... sudah membuatku banjir akan keraguan.
"Nona...?"
Seketika aku sadar dari lamunanku dan mendongakkan wajahku menatap kasir yang berada di hadapanku.
"Ya?" balasku dan kasir ini tampak tersenyum.
"Saya hanya ingin bilang, bahwa kami saat ini tengah mengadakan diskon pada buah jeruk kami. Potongannya mencapai 50%, apa anda berminat?" ucapnya seraya menunjukkan sekumpulan buah bulat yang berada di sampingnya.
Buah jeruk... kah?
Tiba-tiba tanganku mengambil salah satunya dan berakhir menatapnya. Sudah berapa lama aku tidak makan ini?
Lalu... kenapa aku malah kembali mengingatnya? Bukankah aku sudah bersikeras untuk melupakan dia? Jadi kenapa... aku masih saja merindukannya?
"Nona... apa anda baik-baik saja?"
Aku terkesiap mendapati mata ini kembali mengalirkan setetes air. Dengan cepat aku menyingkirkannya dan menarik nafasku yang mulai terasa berat.
"Ya. Kalau begitu, saya akan membelinya."
"Baiklah, Nona." Kasir itu kemudian menghitung seluruh belanjaanku dengan mengetik permukaan keyboard kemudian memberitahukanku nominalnya.
Kutarik dompetku dari saku hoodieku, kemudian memberikan sejumlah uang untuk membayar seluruh keperluanku.
Setelah berakhir, aku pun melangkahkan kakiku keluar. Membeli bahan makanan, sudah. Membayar tagihan listrik dan air, sudah.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku langsung pulang?
Ah iya! Lebih baik aku mengunjungi anak-anak di panti asuhan! Aku benar-benar sangat merindukan mereka.
Bagaimana kabar mereka ya? Untuk sekedar informasi, saat aku terlempar di dunia asing saat itu, waktu di dunia yang tengah aku pijaki saat ini juga bergerak dua tahun.
Ya, dua tahunku di sana sama halnya dengan di dunia ini.
Karena tak ingin berlama-lama, aku pun pergi menunggu di halte bus. Saat bus telah sampai, aku segera menaikinya.
...~•~...
Akhirnya aku sampai juga. Ternyata tempat ini sama sekali tidak berubah, semuanya masih seperti dulu.. saat aku masih tinggal di tempat ini.
Sederhana... namun nyaman dan hangat. Dapat kulihat banyak anak-anak bermain di sana. Sepertinya, bunda Freya sudah mengadopsi beberapa anak baru lagi.
"Hei, bukankah itu Kak Cass?!"
"Di mana? Benarkah?"
"Tidak salah lagi! Aku sangat mengenal bagaimana rupa Kak Cass! Kakak!!"
Aku sedikit terkejut ketika mendapati anak-anak yang kukenali dulunya masih sangat kecil, kini telah bertumbuh tinggi dan besar.
Ada Sean, Dean, dan juga Kean. Ketiga kembar ini adalah anak-anak yang dulu sangat menempel padaku.
Tidak kusangka ternyata mereka sudah sebesar ini.
"Kakak! Bagaimana kabar Kakak? Kukira kakak sudah melupakan kami!" seru Sean membuatku terkekeh.
"Itu benar, Kak. Dean kira, kakak sudah pergi ke tempat yang jauh dan tak akan kembali lagi," ucap Dean tenang. Ya, memang itulah sifat Dean, tenang dan lembut, sangat berbanding balik dengan Sean yang periang dan cukup berisik.
"Kukira kau sudah mati, oleh karena itu tidak pernah menjenguk kami lagi," sahut Kean ketus yang dihadiahkan jitakan oleh saudaranya.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu! Lagipula... bukankah kau yang sangat menantikan kak Cass pulang? Kenapa kau malah ketus seperti itu!" sergah Sean.
Dari tampang mereka, sepertinya mereka akan bertengkar saat ini juga.
"Sudah-sudah! Sean, tidak perlu sampai menjitak Kean seperti itu," imbuhku menenangkan.
Aku pun berjongkok untuk menyamai tinggiku dengan Kean. Kutangkap pipinya kemudian menatapnya yang tengah memalingkan wajahnya dariku.
Kulukis senyum manis yang biasa kugunakan untuk membujuk seseorang. Seperti senyum yang selalu kulayangkan pada pria itu.
"Kakak bukan tidak ingin menjenguk Kean. Hanya saja, akhir-akhir ini Kakak banyak urusan, oleh karena itu tidak sempat untuk menjenguk Kean. Tapi mau selama apapun, Kakak pasti akan mengingat Kean yang selalu menunggu Kakak di sini," bujukku.
Kean akhirnya menatapku, dengan bibirnya yang ia manyunkan.
"Maafkan Kakak, ya? Karena Kakak sudah salah, tidak menjenguk Kean selama ini."
Tes... Tes...
Ya, inilah sifat Kean. Berbeda dengan kedua kakaknya, Sean dan Dean. Kean adalah anak yang keras di luar namun lembut di dalam.
Meskipun dia sering berkata kasar, tapi dalam hatinya dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu.
"Kak Cass...!! Hiks...."
Aku, Sean, dan Dean tergelak kemudian kami berempat pun berpeluk bersama. Sudah lama... aku tidak merasakan kenyamanan dari sebuah pelukan.
"Cassandra?"
Seketika aku melihat ke arah belakangku, dan saat itu juga aku melihat sosok malaikat yang telah berbaik hati membiayai hidupku ketika aku masih belum bisa menghasilkan uang sendiri.
"Bunda!" seruku kemudian bunda bersimpuh dan ikut berpelukan bersama kami.
"Sudah lama kamu tidak ke sini, bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Cass baik-baik saja, Bun. Maafkan Cass yang jarang menjenguk kalian."
"Tidak perlu, karena kehadiran Cass sekarang sudah cukup bagi Bunda dan adik-adik kamu."
Aku tersenyum lebar, keluarga... adalah anugrah Tuhan yang sangat berharga.
Karena keluargalah, karena orang yang kucintailah, aku bisa bahagia dalam hidupku yang singkat ini.
"Ayo, Sayang. Bunda masak sesuatu untuk kamu makan."
"Ah tidak perlu, Bunda. Cass juga sudah makan sebelum ke sini."
"Hmm, baiklah. Kalau begitu, Cass temankan Sean, Dean, dan Kean saja, ya?"
"Baiklah, Bunda."
...~•~...
Seperkian detik kemudian, tiba-tiba saja perutku bunyi menandakan cacing di dalam perutku meminta makan.
Ah, sebaiknya tadi aku makan masakan Bunda saja. Lagipula kenapa pula aku harus berbohong sih?!
Sekarang, lebih baik aku mengisi perutku terlebih dahulu. Akan bahaya jika cacing di perutku menggila, karena mereka mungkin saja akan memakan isi perutku. Dan aku benar-benar tak ingin itu sampai terjadi.
Setelah beberapa saat berjalan, terlihatlah sebuah restoran mewah yang menjual beberapa makanan yang cukup menggugah selera.
Karena sudah lama aku tidak mencicipi rasa makanan mewah, lantas aku pun masuk ke tempat tersebut dan duduk di sebuah sepasang meja dan kursi yang kosong.
Tak perlu waktu lama, seorang pelayan menghampiriku. Dengan cepat, aku memesan makanan yang menurutku cukup mengundang selera, dan pelayan itu kemudian mengangguk dan pergi meninggalkanku.
Kuputar kepalaku ke sana dan ke sini melihat sekeliling. Ternyata ini memang benar-benar restoran mewah.
Banyak orang-orang yang berpakaian formal dan gaun yang menawan, bahkan saat aku melihat berapa harga makanan yang kupesan tadi, aku sempat tersedak air liurku sendiri.
Kau makan di restoran mewah di saat tabunganmu tak lagi sanggup membiayai hidupmu? Kau sangat hebat, Cassandra Augustine.
Atau lebih tepatnya, Cassandra la Devoline? Sampai sekarang, aku pun masih bingung sebenarnya yang mana nama asliku.
"Apa kau telah menyiapkan cincin di kuenya?"
Tiba-tiba saja aku mendengar suara pria yang berada di sampingku. Aku bukannya berniat menguping, tapi karena suaranya cukup besar sehingga aku keterusan untuk mendengarkannya.
"Ya, Tuan. Sebuah cincin pertunangan di dalam kue, benar? Saya akan segera menyuruh pegawai saya untuk mengantarkannya pada anda."
"Bagus. Kalau begitu cepatlah, kekasihku sebentar lagi akan sampai."
Pria yang menjadi pembeli kue itu tersenyum merekah. Ternyata dia ingin melamar kekasihnya?
Yah... cara seperti itu memang sempat populer akhir-akhir ini. Tapi aku sangat tidak menyukainya.
Bagaimana tidak? Jika kau tidak sadar dan tiba-tiba saja tersedak oleh cincin itu? Bisa-bisa kau mati konyol!
"Hai, Baby. Maaf sudah nunggu lama?"
Irisku bergerak namun tidak dengan kepalaku. Dapat aku lihat ada seorang wanita yang bisa dibilang, yah... cukup cantik. Namun tidak secantik diriku ini.
Wanita itu duduk di hadapan pria tadi, sepertinya itu tunangannya yang baru saja dia ributkan.
Tak lama, kini ada seorang pelayan yang mendekati mereka dan memberi sepiring kue.
Pria itu tampak tengah gugup, bisa dilihat dari keringat yang mulai bercucuran di pelipisnya.
Sebenarnya aku agak sedikit tertarik melihat bagaimana kejadian selanjutnya, namun aku tentu tak bisa mengabaikan makanan yang telah tersaji.
Wah... sudah berapa lama aku tidak makan makanan mewah seperti ini? Rasanya ingin menangis... hiks!
Garpu dan sendok sudah ada di dua telapak tangan, waktunya makan!
Astaga kue ini sangat lembut! Bagaimana bisa ada makanan seenak ini?!
Saat aku tengah asyik dengan kudapanku, telingaku tak sengaja menangkap suara dari sebelahku.
"Kue ini sangat enak, Sayang. Sudah kuduga kau memang tahu segala hal yang disukai!"
Tunggu... bukankah tadi pria itu bilang bahwa akan ada cincin di kuenya? Lalu... kenapa wanita itu tidak menyadari ataupun tersedak?
"Uhuk!"
Sial! Apa ini...?! Tenggorokanku tercekik...! Seseorang tolong aku...! Aku tak bisa bernafas!
"Nona... nona...!" Dengan nafas yang tertahan, aku bisa mendengar banyak orang yang menghampiriku ketika aku terjatuh dari kursi.
Aku... tak bisa bernafas... Ada sesuatu yang menyangkut... di... tenggorokanku...
Hingga akhirnya aku benar-benar tak bisa merasakan apa-apa lagi setelah mataku tertutup sempurna waktu itu.
Ya, hal itulah... penyebabku bisa kembali bertemu dengannya. Penyebab aku bisa kembali terlempar ke dunia itu.
Semuanya hanya karena... cincin terkutuk
...04.01.2020...