
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Buktikanlah bahwa kau tidak membenci diriku, dengan menjadi milikku malam ini."
Cassandra terdiam sejenak. Tapi tak sampai semenit kemudian, gadis itu langsung membelalakkan matanya, dan dia pun mundur beberapa langkah menjauhi Arlen.
"A-a-a-a-a-a-apa yang kau katakan?! Apa kau gila?!" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Arlen tak percaya saking terkejutnya.
"Kenapa? Bukankah itu adalah hal wajar bagi sepasang suami istri? Sudah hampir enam tahun kita menikah, tapi kau belum memenuhi tugasmu sebagai istri," ujar pria itu tampak tenang, sangat berbeda dengan Cassandra yang seperti cacing kepanasan.
"Selama itu kah mereka telah menikah?" batin Cassandra. "Tapi untuk sekarang, hal itu tidaklah penting! Fokuslah Cassandra!"
"T-tapi bukankah kau bisa melakukan hal itu dengan Anastasia? K-karena aku sekarang sedang terluka, bukan?!" tolak Cassandra tak berani menatap pria yang ada di hadapannya.
Hawa dingin kini hadir di antara mereka berdua, tapi hawa dingin tidak datang tanpa sebab, melainkan datang dari salah satu antara mereka.
"Aku kehilangan ingatan, aku tak tahu persis sudah berapa lama kita menikah. Aku perlu waktu untuk mempersiapkan diri, karena sekarang aku masih sangat asing denganmu."
Pria itu tak menjawab, ia hanya asyik menatap Cassandra yang tengah berusaha menolak ajakannya dengan iris biru lautnya.
"Sementara aku mempersiapkan diriku untuk melakukan hal itu denganmu, kau bisa melakukannya dengan Anastasia, ya?"
Cassandra kini mulai merasakan hawa itu semakin mencekik dirinya, suasana di antara mereka sangat dingin dan mencekam, dan gadis itu mulai tak nyaman di saat Arlen hanya diam menatap dirinya dengan tatapan tajam.
Cassandra pun hanya bisa bergulat dengan ketakutannya, takut pria itu menolak tawarannya.
Kini pria itu pun mengalihkan pandangannya dari Cassandra secara sinis, lalu mendengus pelan dengan raut wajahnya yang sangat sangat tampak tak senang.
"Baiklah, aku akan menunggumu."
Kalimat yang keluar dari bibir Arlen setidaknya bisa membuat Cassandra lega untuk sekarang, gadis itu menghembuskan nafasnya.
Pria itu lalu mengulas senyum miring yang seperti senyum ejekan dengan alisnya yang ia naikkan sebelah, dan mengatakan sesuatu sebelum ia berbalik kemudian meninggalkan Cassandra yang masih diam mematung di tempatnya.
"Walaupun kau kehilangan hilang ingatanmu, kau tetap saja kikuk."
Aneh, ini sangat aneh.
Cassandra pun tak bisa menghilangkan wajah pria itu yang tengah tersenyum seperti tadi di pikirannya.
Kenapa saat melihat senyuman itu, ia merasa sangat tidak asing?
...🥀...
Cassandra Pov
Sudah seminggu aku menetap di dunia ini. Sejauh ini masih aman, tidak ada masalah yang menimpaku. Luka-luka ku juga sudah mulai mengering.
Seminggu yang kulalui dengan hanya menetap di mansion ini membuatku sedikit bosan. Ah... aku merindukan ponsel dan komputerku....
Aku menghela nafas pelan merindukan kebiasaan ku yang menghabiskan waktu hanya dengan bermain game, makan, mandi, tidur.
Saat ini aku tengah berbaring sambil berguling kesana kemari di atas kasurku yang lumayan luas dan sangat empuk.
Tak lama, kini pintu kamarku terbuka dan muncullah Elise yang tengah membawa sebuah surat.
"Nyonya, ada surat untuk anda," ujar Elise sambil memberi surat itu padaku, dan aku pun mengambilnya.
"Putri Veronica? Apa aku mengenalnya, Elise?" tanyaku saat melihat tulisan yang tertera di sampul surat itu kemudian mengambil sebuah kertas yang berada di dalamnya.
"Putri Veronica adalah sahabat masa kecil anda, Nyonya," jelas Elise dan aku pun hanya ber oh ria.
Mataku tak berhenti bergerak membaca huruf demi huruf yang tertulis di situ. Ternyata ini adalah undangan untuk minum teh bersama.
^^^Halo, Cassandra.^^^
^^^Aku Veronica, sahabat masa kecilmu. Aku dengar kau kemarin kehilangan ingatanmu, aku sangat sedih mendengarnya. Jika kau berkenan, maukah kau menemaniku untuk minum teh di taman istana? Aku sangat ingin bertemu denganmu dan mengobrol padamu.^^^
"Elise, bisakah kau membantuku berpakaian?" pintaku sambil membangkitkan tubuhku yang terbaring.
"Anda mau pergi kemana, Nyonya?"
"Aku akan menemani Putri Veronica minum teh di taman belakang istana," ujarku sambil menata rambut panjang ku di cermin dan menatap refleksi dari tubuh ini.
Semenjak aku masuk ke tubuh ini, aku selalu merasa heran. Wajah Cassandra la Devoline seperti jiplakan dari wajahku.
Ya, seperti wajahku dengan versi yang lebih terawat. Bahkan rambut coklat panjang bergelombangnya sama persis dengan rambut asliku.
Tapi untuk sekarang, sebaiknya aku segera bersiap-siap untuk pergi dan masuk ke dalam istana.
Karena aku selalu penasaran bagaimana mewahnya istana yang berada di abad pertengahan.
...🥀...
Cukup jauh perjalanan yang harus di tempuh ke istana dari tempatku. Kini aku telah sampai di pintu utama istana.
Pintu masuknya saja sudah sebesar dan setinggi ini, bagaimana di dalamnya? Kulihat ada beberapa pengawal yang menjaga pintu masuk istana.
Tapi aku melihat ada seorang wanita yang tengah berdiri di antara mereka? Apa dia Putri Veronica?
Ternyata dugaanku benar, wanita itu melambai-lambaikan tangannya padaku sambil memanggil namaku di hiasi senyum yang lebar dan cantik di wajahnya yang imut.
"Cassandra! Aku sangat merindukanmu!"
Dia mendekap ku dengan sangat erat sambil kegirangan, yang membuatku terkekeh kemudian membalas dekapannya.
"Cassandra, apa kau masih ingat dengan sahabatmu ini?" tanyanya sambil melepaskan pelukan kami di hiasi raut murung di wajahnya.
Aku menunjukkan senyum tak enak, jangankan mengingatnya, aku pun sama sekali tidak mengetahuinya. Tapi aku merasa nyaman dengan keberadaannya.
Sangat berbeda dengan yang kurasakan pada Anastasia.
"Maaf, aku tak mengenalmu. Tapi aku tahu sedikit tentangmu dari pelayanku," ujarku membuatnya kembali murung.
"Ya sudahlah. Kalau begitu ayo kita pergi ke taman belakang sekarang!" ajaknya dan aku pun mengangguk setuju.
.
.
.
.
.
.
Kami pun akhirnya tiba di taman belakang. Kuakui, taman belakang ini kalah jauh dengan taman belakang di mansion Arlen.
Taman belakang istana hanya di penuhi oleh bunga mawar merah, berbeda dengan taman belakang di mansion Arlen yang memiliki bunga warna-warni yang bermacam-macam.
Sambil meminum teh dengan santai, kami pun berbincang tentang banyak hal. Aku tidak terlalu merasa bosan karena sekarang aku mempunyai teman berbicara.
Ditambah, Putri Veronica ternyata adalah orang yang asyik di ajak bicara. Aku mengerti kenapa Cassandra bisa bersahabat dengannya.
"Hei, Cassandra. Tidak kah kau terlalu lembut dengan istri kedua suamimu itu?" tanya Veronica membuatku terusik.
"Bahkan dia tadi datang bersama dengan suamimu ke sini untuk menemui pada ayahku, padahal kau kan istri pertama, tapi kenapa malah dia yang malah menemani suamimu ke sini?"
Aku baru saja mengetahuinya, pantas saja aku tak melihat batang hidung mereka berdua hari ini.
"Mungkin saja Anastasia mempunyai kepentingan dengan Yang Mulia Raja, Veronica," ujarku.
"Lihatlah! Kau terlalu baik! Wanita itu pasti mempunyai niat lain yang tidak kau ketahui!' kekeuh Veronica, ternyata dia juga bisa menyadari raut wajah palsu Anastasia.
Tapi di sini, aku harus berperan sebagai Cassandra yang baik hati dan lembut, aku tetap harus berpura-pura. "Sudahlah Veronica, lagipula aku juga tak terlalu memikirkan hal itu."
"Dia pasti memiliki niat--"
"Salam Yang Mulia Putri, semoga anda selalu diberkahi oleh Dewi Langit."
Seketika aku langsung menolehkan kepalaku ke arah asal suara itu. Aku pun berdecak di dalam hati, kenapa wanita itu ada di mana-mana?!
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^31 Oktober 2020^^^