
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Seusai perjalanan jauh yang tak terkira, dan perjuangan kami yang melawan kencangnya kabur salju yang menerpa, akhirnya kami pun sampai di tempat yang menajdi tujuan kami.
Namun bertepatan dengan itu, mataku terbelalak lebar, mulutku ternganga.
Aku sangat sangat tak dapat mempercayai dengan apa yang berada di hadapanku sekarang.
Seperti lautan darah yang dibumbui dengan banyaknya daging tak bernyawa, beribu-ribu pasukan telah banyak gugur.
Belum sempat kami membantu, ternyata para pasukan musuh pun telah pupus dan tak lagi bersisa.
Tigal ratus ribu pasukan Erosphire yang bertugas melindungi tiga wilayah, ternyata telah berada di sini.
Namun bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah aku dan Pangeran Darren belum sempat memberitahu pasukan kami tentang hal itu?
Lalu, bagaimana bisa sekarang Pangeran Yari tengah berada di atas kuda yang ditungganginya mengacungkan pedang ke langit dan para prajurit bersorak ria ketika telah mencapai kemenangan?
Aku sungguh tidak mempercayainya, namun di sisi lain aku merasa lega, karena perang benar-benar telah berakhir.
Kemenangan kali ini diraih oleh Kerajaan Erosphire, dan Kerajaan Nephorine harus menelan kenyataan pahit ketika yang mereka dapatkan adalah kekalahan.
Kulirik pria yang berada di sampingku ini. Dia tampak menunjukkan raut tak percaya yang tertimbun oleh ekspresi datar dan tenang.
Seluruh pasukan yang mengikuti kami pun memasang ekspresi yang sama, karena ini semua tidak dapat dipercaya.
Musuh yang tergeletak dan terbaring di atas putihnya salju yang telah dinodai oleh noda merah, jumlahnya ada mencapai empat ratus ribu lebih pasukan.
Lantas, bagaimana Pangeran Yari memimpin tiga ratus ribu pasukan untuk melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukannya?
Apa ini adalah kekuatan tersembunyi Pangeran pertama Kerajaan Erosphire?
Tidak ada yang mengetahui ataupun mempunyai jawaban atas pertanyaan tersebut, kecuali Pangeran itu sendiri.
"HIDUP KERAJAAN EROSPHIRE!!"
Teriakan nyaring dan lantang para prajurit terdengar memenuhi dan menusuk pendengaran.
Ini aneh, padahal semua ini adalah kebahagiaan untuk seluruh penduduk negeri Erosphire.
Namun, kenapa aku malah merasa bahwa semua ini adalah awal dari bencana besar di masa akan mendatang yang seorang pun tak mengetahuinya?
...🥀...
Setelah hari demi hari dipenuhi perjuangan dan pengorbanan, perang pun benar-benar telah berakhir.
Luka, rasa sakit, keahlian, pengorbanan, siksaan, strategi. Semua itu diperlukan untuk sebuah perang yang datang secara mendadak.
Sekarang, aku bisa menghembuskan nafas lega mengingat-ingat bahwa itu semua telah terlewati.
Saat ini aku--lebih tepatnya kami-- tengah berada di dalam sebuah kereta kuda yang mengantar kepulangan kami.
Cukup jauh perjalanan kami untuk kembali ke pusat kota yang mejadi tempat terletaknya istana, sehingga kami harus menunggu paling lama empat hari untuk sampai.
Rasa kantuk mulai menghinggap di kedua kelopak mataku di kala dinginnya udara dan hangatnya sebuah kain yang menyelimutiku beradu.
Udara yang dingin seakan terus membujukku dan menghasutku untuk bertualang di indahnya bunga tidur yang setia menunggu.
Ditambah aku juga belum sempat tidur selama dua malam, sehingga mataku terus meronta untuk tertutup.
"Apa kau mengantuk?"
Aku sontak menoleh ke sampingku menatap pria yang duduk tepat disebelahku.
Karena kereta ini cukup kecil, jadi hanya cukup menampung dua manusia di dalamnya.
"Ya, sedikit," jawabku seperti bisikan karena rasa kantuk ini semakin membesar dan kapan saja siap membuatku tertidur.
"Kalau begitu tidurlah--"
Aku tak dapat mendengar apa-apa lagi setelah kepalaku jatuh tepat di atas sesuatu yang terasa keras begitupun nyaman.
Setelah aku sampai di dunia ini, entah kenapa aku merasa, bahwa tidurku kali ini adalah tidurku yang ternyenyak dan terdamai yang pernah ada.
.
.
.
.
"Cassandra, bangunlah!"
Samar-samar aku mendengar sebuah suara lirih memanggilku, dan suara itu terasa tidak asing.
Aku berusaha untuk membuka kedua kelopak mataku untuk melihat sosok yang terus-menerus memanggil namaku itu.
Akhirnya setelah beberapa kali aku berusaha, mataku pun terbuka sempurna.
Namun, yang pertama kali kulihat adalah sesuatu yang sangat tidak ingin aku lihat.
Sebuah genangan air mengalir begitu saja ketika aku melihat dua manusia yang tengah tak berdaya.
Yang pertama kulihat adalah seorang wanita yang dipenuhi dengan banyak luka-luka memar dan luka yang mengoyak kulit di seluruh permukaan tubuhnya.
Kedua mata wanita itu tertutup sempurna, dengan kernyitan yang menjadi lambang dari rasa sakitnya.
Sosok kedua yang kulihat adalah seorang pria yang nampak putus asa ketika ia melihat wanita itu tergeletak tak berdaya.
Pria itu sangat kotor dan lusuh, bahkan banyak ranting-ranting pohon yang tipis dan halus menyangkut di benang yang menjadi bahan dasar dari pakaian yang ia pakai.
Hatiku seakan tersayat oleh tajamnya kunai, di kala pria itu terlihat sangat putus ada seolah-olah pria itu kehilangan alasan hidupnya.
"Sungguh gadis belia yang sangat malang."
Terdengar suara halus dan samar-samar terkirim langsung menuju isi pikiranku. Aku mencoba memutar kepalaku mencari sosok pelaku tersebut.
Namun nihil, sosok itu seakan menyatu dan berbaur dengan udara dingin yang menusuk kulitku.
"Dituduh dan disangka menjadi pelaku, menjadi kambing hitam dalam suatu fitnah yang keji."
Aku ingin mengeluarkan suaraku, namun suaraku seakan ditahan oleh sesuatu yang mencekik.
"Nasib yang sungguh mengerikan dan ironis."
Ingin ku bertanya siapa dia. Ingin ku bertanya dimana aku. Ingin aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Bahkan sosok yang menjadi belahan jiwanya baru saja menyesal ketika semuanya telah terlambat."
Apa ini? Kenapa perkataan itu sangat menusuk? Kenapa... hatiku ingin menggila karena nyeri ketika mendengar suara itu?
"Namun kau beruntung, meskipun kau menerima nasib yang malang, namun aku bisa mengubah itu, menjadi awal yang baru."
Nasib yang malang? Sebenarnya kepada siapa kau berbicara?!
"Aku akan membuatmu terlahir kembali, ke suatu dunia yang asing, agar kau bisa mengubah garis takdirmu, tanpa mengenali siapa kau sebenarnya."
Dapat kudengar kembali suara pria yang lirih memanggil-manggil namaku.
"Cassandra...!"
"Cassandra...."
"Cassandra!"
"Hah!" Seketika kedua kelopak matamu terbuka disertai dengan genangan air yang membasahi dan mengguyur pipiku.
Kuedarkan pandanganku ke sekitarku, ini adalah kereta kuda yang sempat ku naiki.
Dan... ketika aku menoleh tepat ke arah sampingku, aku melihat seorang pria bersurai pirang yang menatapku heran.
"Bagaimana kau bisa berkeringat di cuaca yang sangat dingin ini?" tanyanya sambil berusaha menggapai dan menyeka peluh yang membanjiri dahiku.
Namun aku langsung memalingkan wajahku, lalu aku pun dengan cepat mengusap airmata dan keringat dingin tersebut.
Dia kembali bertanya dan aku pun menggelengkan kepalaku seraya mengulas senyum tipis dan kembali mengusap genangan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.
Mimpi, kah? Itu terasa sangat nyata untuk sebuah mimpi. Bahkan, aku mengingat semuanya secara persis tanpa terlewat sedikitpun.
Bagaimana mengerikannya wanita yang dipenuhi luka itu. Bagaimana menyedihkannya pria yang tengah menangis tak tertahankan itu.
Bagaimana menusuknya perkataan sosok yang seakan membaur dengan udara itu.
Aku mampu mengingat semuanya, namun aku tak mampu untuk mengerti sedikitpun semua itu.
"Apa itu tadi?"
...🥀...
Fyuh! Akhirnya kami telah sampai di ibu kota Kerajaan Erosphire setelah belasan jam pangkal pahaku keram karena duduk.
Cuaca masih saja dingin, sehingga aku makin mempererat kain yang membalut seluruh permukaan kulitku.
Kurasakan tangan kekar melingkariku, sehingga membuat tubuhku semakin hangat dan nyaman.
"Ayo masuk, di luar sangat dingin," ujarnya dan aku pun mengangguk patuh seraya mengikuti tubuhnya yang berjalan di depanku.
Namun tak lama kemudian aku baru sadar akan sesuatu. Lantas, aku pun menarik telapak tangannya yang dingin tapi hangat ketika telapak tangan milikku menggenggamnya.
"Tunggu! Bukankah kau bilang kau membawaku secara diam-diam? Sepertinya aku tidak perlu ikut menghadap Yang Mulia Raja," paparku dan dia juga tampak baru saja menyadarinya.
Tidak kusangka ternyata pria kompeten sepertinya melupakan hal kecil.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu terlebih dahulu," tawarnya dan aku langsung menolak.
"Tidak perlu, kau pergi saja menghadap Yang Mulia. Biar aku pulang terlebih dahulu," selaku sembari tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu tunggu aku," ucapnya dan aku pun mengangguk.
Dia berbalik kemudian berlalu masuk ke dalam istana. Kulangkahkan kakiku untuk kembali menaikkan kuda menuju ke rumah.
Namun sebelum itu, entah kenapa aku merasa seperti ada sepasang mata yang mengawasiku.
Aku celingukan memperhatikan sekitar, tapi aku juga tidak mungkin tahu dimana sepasang kata tersebut yang tengah menatapku di antara kerumunan prajurit yang mencapai ribuan ini.
Ah, sudahlah. Mungkin itu perasaanku saja, lebih baik aku segera bergegas pulang lalu berendam di air hangat.
Ya, betul sekali. Sepertinya berendam di air hangat merupakan pilihan terbaik saat ini.
Bahkan perutku terasa sangat lapar, di saat pulang nanti aku akan menyuruh Elise memasakkan berbagai macam makanan untukku, hahaha!
Air panas dan makanan, tunggu aku wahai cintaku!
...🥀...
Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan bangsawan yang baru saja menyelamatkan negeri mereka, terdapatlah berbagai pujian yang terlontar dari sang penguasa negeri tersebut.
Peperangan yang memakan banyak nyawa prajurit yang melayang, akhirnya terbayarkan dengan sebuah kemenangan besar yang dicapai.
"Selamat kepada kita semua karena telah memenangkan peperangan kali ini, semoga negeri ini selalu terbebas dari bahaya yang dapat merugikan kita," ucap sang Raja menghasilkan keheningan yang melanda ruangan itu.
Karena jika sang Raja berbicara, para bangsawan cukup diam dn mendengarkan.
Kecuali jika sang Raja memang mengajak sang bangsawan tersebut untuk berbicara, barulah bangsawan tersebut diperbolehkan bersuara.
"Duke Floniouse," panggil Raja.
"Ya, Yang Mulia?"
"Aku sudah mendengar dari Pangeran Yari, bahwa kau sangat berjasa karena telah berhasil menembus pertahanan utama Nephorine dan banyak berjuang untuk memenangkan peperangan kali ini."
Arlen pun berlutut dengan satu kaki yang ditekuk seraya dengan tangan yang diposisikan di atas dada. "Sudah menjadi tugas saya untuk membantu menyelamatkan negeri ini," jawabnya kemudian dibalas dengan anggukan oleh sang Raja.
"Aku akan memberimu beberapa hadiah atas jasamu di perang ini nanti."
"Terimakasih banyak atas kemurahan hati anda, Yang Mulia. Semoga dewi langit selalu memberkati anda."
"Berdirilah, Duke," titah Raja dan Arlen pun langsung mematuhinya dan kembali berdiri.
"Untuk Pangeran Yari. Aku sungguh terkesan denganmu kali ini. Kau melawan empat ratus ribu lebih musuh hanya dengan tiga ratus ribu pasukan, sungguh hebat," puji Raja.
"Terimakasih, Ayahanda. Saya sangat menghargai pujian anda."
Lalu berlanjutlah kata-kata pujian kepada bangsawan-bangsawan lainnya yang telah berpartisipasi pada perang yang telah berlalu ini.
Hingga akhirnya, sebuah pengumuman penting dari sang Raja membuat suasana kembali hening.
"Baiklah, aku tidak ingin berbasa-basi. Untuk merayakan kemenangan ini, aku akan membuat sebuah pesta meriah di istana yang bisa dihadiri oleh siapa saja. Sebarkanlah berita bahagia ini kepada seluruh penjuru negeri kita." Sang Raja kembali memerintah dan para manusia yang berada di ruangan itu harus menuruti segala titah yang berasal dari bibir sang Raja.
...🥀...
Saat aku telah sampai di depan pintu masuk rumah, aku pun mengetuk secara perlahan pintu tersebut.
Selang beberapa saat, ternyata yang membukakan pintu adalah wanita ular berkaki dia, Anastasia.
"Cassandra!"
Dia pun menciptakan raut wajah gembira seraya memelukku erat. Entah kegembiraan nya ini palsu atau bukan, tapi setidaknya aku harus membalas pelukannya.
Tak lama dari itu, wanita itu pun melepaskan pelukan kami. Dengan senyum manis yang terlukis di wajahnya, dia pun berkata padaku.
"Cassandra, kudengar kau diam-diam ikut dalam perang ini. Bagaimana bisa kau melakukan hal yang berbahaya seperti itu? Asal kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu," ujarnya dan aku pun membalas senyumannya.
"Maafkan aku karena membuatmu khawatir Anastasia. Namun karena aku tak bisa membiarkan Arlen sendirian dalam bahaya, aku pun bertekad untuk membantunya. Bukankah itu adalah hal yang wajar bagi sepasang orang yang saling mencintai?" sindirku secara halus.
Karena sudah lama tidak berjumpa dengannya, mulut ini jadi gatal untuk membuatnya kesal, hehe.
"Oh iya, dimana Arlen? Dia tidak bersama denganmu?" ucapnya mengalihkan topik.
"Ya. Arlen masih mempunyai sesuatu yang penting di istana, jadi mungkin dia agak pulang sedikit terlambat," balasku.
"Begitu. Ya sudah, lebih baik kau istirahat, Cassandra. Kau pasti lelah."
Ada benarnya juga apa yang dia katakan.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi ke kamarku terlebih dahulu."
Setelah mengatakan itu aku pun bergegas pergi ke kamarku dan membaringkan tubuhku di kasurku.
Ah, aku merindukanmu wahai kasur
ku yang nyaman. Namun karena cuaca dingin aku pun berniat berendam air hangat terlebih dahulu seperti yang aku rencanakan tadi.
Kupanggil Elise, kemudian tak lama dari itu aku pun telah selesai dengan ritual pembersihan tubuhku.
Dengan piyama yang lumayan tebal dan selimut yang membungkus tubuhku, aku mengambil buku diary di laci meja tepat berada di sebelah kasurku.
Kutulis semua hal yang telah kualami selama ini di atas kertas dengan pena bulu yang bertengger di jari-jemariku.
Mulai dari awal aku terjebak di sini hingga peperangan ini selesai, ku tuangkan semuanya dalam bentuk kata-kata.
Tak lama dari itu, kini aku mendengar ketukan di pintu kamarku.
Aneh, biasanya ketika malam seperti ini tidak ada yang akan mengetuk pintu kamarku.
Apa Elise yang mengetuk? Jika iya, mungkin ia butuh sesuatu dariku.
Aku pun turun dari permukaan Kastilia dan berjalan melangkah pintu kemudian membukanya.
Namun siapa sangka, malah dia yang mengunjungi kamarku.
"Kau?"
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke ^^^
^^^10 Desember 2020^^^