
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Di sisi lain...
"Yang Mulia, apa masih lama untuk sampai ke sana?" tanyaku tak tenang. Kegelisahan dan kecemasan mulai menggerogoti diriku.
Pangeran saat ini tengah menunggangi seekor kuda disertai dengan aku yang tengah duduk di belakangnya.
"Bersabarlah, Duchess. Kabut salju ini semakin lebat dan memperlambat lari kuda kita," ujar Pangeran membuatku tambah tak tenang.
Benar apa yang dikatakan olehnya, cuaca saat ini sangat tidak bagus. Kabut salju semakin lebat dan tambah lebat sehingga menghambat perjalanan kami.
Tak jarang aku mengeratkan jubah tipis yang kupakai karena suhu ditambah dengan angin kencang yang menerpa kulit telanjangku seakan membuat tubuhku beku.
Suasana dingin ini seolah-olah tengah menyiksaku ditambah dengan kegelisahan yang semakin merambat ke seluruh hatiku.
Memang aku yakin terhadap diriku, namun tetap saja ketakutan akan selalu menyertai di saat situasi genting seperti ini.
Tiga puluh lima ribu pasukan pun kini mengikuti kami dari belakang, suara tapak kaki kuda saling beradu di tengah-tengah dinginnya kabut salju yang menusuk-nusuk kulit.
"Duchess, daritadi saya penasaran. Kau bilang bahwa Duke Floniouse menerobos pertahanan utama Nephorine hanya dengan empat ribu pasukan? Lalu, kalian kemanakan enam belas pasukan yang tersisa?"
Pertanyaan Pangeran membuatku teringat dengan rencana yang kami buat beberapa jam yang lalu.
Flashback
Beberapa jam yang lalu...
"Apa pasukan Nephorine tidak ada kelemahan?" tanyaku karena kami berdua tak kunjung menemukan suatu rencana yang tepat.
"Mereka adalah pasukan yang kuat, mereka sepertinya tidak ada kelemahan," ujar Arlen membuatku menghembuskan nafasku panjang.
"Aih, apa kita memang tak memiliki peluang untuk melawan mereka?" gumamku seraya melipat kedua tanganku.
Setelah itu kami berdua saling bergelut dengan pikiran masing-masing, tak ada kalimat yang terlayang dari bibir kami.
"Ah, ada," ucapnya tiba-tiba membuatku langsung menatapnya.
"Sebenarnya ini bukan kelemahan, lebih tepatnya kekurangan."
Dia berkata membuatku semakin ingin tahu. "Apa kekurangan mereka?" tanyaku tak sabaran.
"Walaupun jumlah pasukan mereka banyak, tapi tidak ada satupun pemanah di pasukan mereka, mereka juga tidak ada satupun yang menggunakan perisai," ungkapnya membuatku berpikir-pikir.
Pemanah?
Perisai?
Kalah jumlah?
Pikiranku terus berusaha menggali suatu ide yang mungkin akan berguna.
Tiga kata itu selalu tetulang-ulang di otakku. Seketika, seperti ada sebuah lampu di atas kepalaku, aku mendapat sebuah ide.
"Hei, apa di sekitar pertahanan utama Nephorine ada sebuah dataran tinggi?" tanyaku. Aku sangat berharap semoga ada.
Dia tampak mengingat-ingat dengan iris serta pupil nya yang tergerak ke atas. Bahkan alis tebalnya pun ikut terangkat sebelah.
"Dataran tinggi?" gumamnya. "Sepertinya ada."
Akhirnya, ini jawaban yang kutunggu-tunggu. "Benarkah?!"
"Ya. Memangnya kenapa? Apa kau ada ide?" tanyanya dan aku menjawab dengan cepat.
"Ya! Aku ada ide, tapi sepertinya... agak sedikit susah," ucapku ragu. Karena sepertinya, rencanaku ini agak sedikit ekstrim.
"Susah?"
"Ya... lebih tepatnya, sedikit mustahil," ringisku sembari mengerutkan alisku. Tapi tidak ada lagi rencana yang sepertinya akan berhasil selain itu.
"Asalkan ada sedikit kemungkinan, aku akan menerimanya," yakinnya dengan tegas.
Saat ini, entah kenapa aku bisa melihat aura kepemimpinan yang muncul dari dalam dirinya.
"Baiklah jika kau memaksa. Jadi seperti ini, bisakah kau menerobos pertahanan utama Nephorine dengan empat ribu pasukan?"
"Empat ribu pasukan?"
"Aku tahu, aku tahu ini terdengar mustahil," potongku dengan cepat. "Namun hanya untuk sementara. Kau bilang bahwa pasukan Nephorine tidak memiliki pemanah, bukan?"
Dia pun mengangguk pertanda benar.
"Terutama kita akan membagi dua puluh ribu prajuritmu. Pertama, empat ribu prajurit untuk ikut denganmu menerobos pertahan utama. Kedua, enam ribu prajurit yang terbagi menjadi dua bagian. Ketiga, sepuluh ribu prajurit yang akan menjadi pemanah," jelasku dan dia tampak setuju-setuju saja, tidak ada protesan ataupun bantahan.
Tapi setelah itu, akhirnya ada sebuah kalimat pertanyaan terlontar dari bibirnya.
"Sepuluh ribu pemanah? Bukankah jumlah itu terlalu banyak untuk seorang pemanah?"
"Justru pemanah tersebut adalah kunci dari kesuksesan perang kali ini," potongku.
"Kunci kesuksesan?"
"Ya. Jadi, untuk pengalihan, kau terobos pertahanan utama mereka dengan empat ribu pasukan, setelah waktunya telah tepat, kau suruhlah prajuritnya untuk mengangkat perisai mereka untuk melindungi diri kalian," terangku panjang lebar dan dia tampak kembali menaikkan sebelah alisnya.
"Melindungi diri kami dari apa?" tanyanya. Pertanyaan yang sudah aku duga.
"Dari hujan panah," ucapku mengukir senyum lebar. "Dengan begitu, akan banyak musuh yang berguguran dan, dan kalian pun tidak akan terkena. Jika musuh telah terkena hujan panah itu, barulah enam ribu pasukan yang dibagi menjadi dua itu ikut menyerang musuh yang telah banyak terluka dari dua arah."
"Pemanah-pemanah tersebut akan menembakkan panahnya dari atas dataran tinggi sehingga musuh tidak dapat melihat keberadaannya, bagaimana menurutmu?"
Dia tampak bimbang, apa strategiku terlalu ekstrim, ya? Menyerang musuh yang belum tahu jumlah pasti dengan empat ribu pasukan, sepertinya itu terlalu sembrono.
Lagipula, bagaimana mungkin dia akan mempercayai seorang wanita yang ia ketahui sama sekali tidak berpengalaman dalam strategi perang?
Sepertinya aku terlalu berharap dan naif.
"Baiklah, kita pakai strategimu."
"Sudah kuduga kau pasti akan menolak-- tunggu, apa?" tanyaku untukĀ memastikan perkataannya tadi.
Sepertinya aku salah dengar.
"Kita pakai strategimu, karena menurutku itu cukup meyakinkan," ujarnya kembali membuatku terbelalak tak percaya.
"Kau serius? Maksudku, bagaimana bisa kau percaya?"
Ini semua sungguh di luar dugaanku!
"Aku percaya karena menurutku hal yang kau katakan cukup meyakinkan. Apa ada yang salah dengan itu?"
Aku hampir tak bisa berkata apa-apa dibuatnya. Tak kusangka ternyata dia sangat mempercayai kemampuanku.
"T-tidak. Tidak ada yang salah," balasku kikuk. Sebenarnya apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini?
Di saat aku di dekatnya, entah kenapa aku mulai nyaman. Di saat aku melihatnya tertawa lepas waktu itu, entah kenapa hatiku terasa menghangat.
Di saat dia mempercayai ku, entah kenapa aku tak ingin mengecewakannya.
Aku pun menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang daun telingaku berusaha bersikap senetral mungkin.
"K-kalau begitu, sebelum itu, aku akan berusaha menyelinap ke markas musuh, siapa tahu aku akan menemukan kelemahan musuh."
"Apa?" tanyanya dengan cepat. Apa ada yang salah?
"Aku bilang aku akan berusaha menyelinap ke markas musuh," ulangku.
"Kau gila? Bagaimana jika kau tertangkap? Bagaimana jika kau tak bisa kembali?"
Aku semakin mengerutkan alisku. Bukankah barusan dia terlihat sangat mempecayaiku? Lalu kenapa sekarang dia bertanya seolah-olah dia tidak percaya padaku?
"Bukankah dari awal aku sudah bilang padamu? Aku ikut denganmu karena aku bisa saja menjadi umpan, ataupun mata-mata," ucapku dan dia tampak tak suka dengan jawabanku.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya, itu terlalu berbahaya untukmu," bantahnya membuatku semakin tak mengerti.
Sejenak dia terlihat sangat mempercayai ku. Sejenak, dia terlihat sangat meragukanku.
"Aku sudah bilang padamu. Aku adalah wanita yang tidak suka dikekang, aku ingin melakukan apa yang aku inginkan dan apa yang menurutku benar," tegasku dan dia bergeming.
"Kumohon percayalah padaku, aku pasti bisa melakukannya," lirihku dengan nada menyedihkan. Semoga saja sandiwara menyedihkanku kali ini mempan baginya.
"Tunggulah aku, aku pasti akan datang. Di saat yang telah kita perkirakan telah datang, maka suruhlah prajuritmu berkumpul. Angkatlah perisai kalian, dan lindungilah diri kalian sendiri."
Aku berusaha untuk meyakinkannya, semoga saja dia luluh atas keteguhanku.
"Baiklah, aku mempercayaimu."
Tiga kata itu lebih dari cukup untuk membuat hatiku senang bukan main. Senyum yang merekah bak bunga teratai tak bisa kusembunyikan.
Melihatnya percaya padaku, cukup membuat semangatku membara dan berkoar-koar.
"Hihi. Kau tenang saja! Aku pasti akan datang tepat waktu, dan kita pasti akan memenangkan peperangan kali ini!" seruku. "Kau juga, berjuanglah untuk menahan para musuh itu sampai pada waktunya!"
"Aku percaya padamu, jadi percayalah padaku."
Aku pun mengepalkan lalu menyodorkan telapak tanganku bermaksud untuk bertos ria.
Senyum keyakinan kulayangkan padanya. Dan tak disangka, dia juga membalas senyumanku dengan senyuman tipis.
Dia pun ikut mengepalkan tangannya kemudian kami pun bertos ria.
Baru kali ini, aku merasa sangat percaya terhadap orang lain. Dan, baru kali ini, aku merasakan perasaan hangat yang meluap-luap seperti ini di hatiku.
Flashback off
"Jadi, kau terburu-buru seperti itu karena kau harus memberi aba-aba pada Duke Floniouse?"
"Ya, itu benar, Yang Mulia. Oleh karena itu saya tak boleh terlambat sedikitpun, karena hal itu menyangkut nyawa suami saya," jawabku tanpa ragu dengan menyebut kata 'suami'.
"Duchess," panggil Pangeran dan aku pun langsung menyahut.
"Ya, Yang Mulia?" sahutku.
"Berpeganganlah yang kuat padaku," ujarnya membuatku bingung.
"Maksudnya, Yang Mulia?"
"Sudahlah, ikuti saja kata-kataku," titahnya dan aku pun berpegangan dengannya secara erat.
Dapat kurasakan kuda ini semakin lama semakin melaju, sepertinya inilah kenapa pangeran ingin aku berpegangan dengan erat padanya.
Dalam hatiku, terus kuulang kata-kata yang sedikit ampuh untuk menghilangkan rasa cemasku.
"Tunggulah aku. Aku pasti akan menyelamatkanmu."
...š„...
"Semua prajurit, berkumpul dan angkatlah perisai kalian untuk melindungi kita semua!"
Mereka pun membentuk formasi membulat, sehingga mampu melindungi diri mereka.
"Tuan! Sebenarnya kita harus berlindung dari apa? Kenapa kita membuat fomasi seperti ini?! Musuh terus menyerang, Tuan!" teriak salah satu prajurit.
Pria itu hanya diam, tidak berniat menjawab pertanyaan prajuritnya.
Raut wajahnya datar, seperti tidak dihiasi oleh keraguan ataupun ketakutan.
Syut!
Sebuah suara panah yang melaju dan melayang kini terdengar. Bahkan semakin lama semakin banyak terdengar.
Suara teriakan dari para musuh pun kini ikut menyertai dan mengisi kedinginan cuaca di tempat yang telah dihiasi oleh banyaknya daging yang teronggok dan cairan merah yang terciprat.
Tak lama dari itu, kini senyum menyeringai serta kelegaan menghampiri dan menghilangkan seluruh ketakukan dan kecemasan pria bersurai pirang itu.
Setelah beberapa saat, kini pria itu pun berteriak lantang kepada semua prajuritnya.
"Semua prajurit! Serang!"
"HAA!!!"
Teriakan para prajurit kini terdengar memekakkan telinga. Pria itu pun berhenti sejenak, kemudian berbalik untuk menatap ke arah dataran tinggi yang berada di belakangnya.
Dari kejauhan, dia melihat sesosok yang tengah berdiri dengan surai coklat panjangnya yang tergerai, sehingga dengan bebas angin pun meniup hingga beberapa helainya terlayang dengan indah di udara.
Dengan suara lirih disertai dengan kelegaan yang menghampiri dan menyingkirkan seluruh kebimbangan dan keraguannya, pria itu pun berbisik lirih.
Bisikan lirih yang berada dari lubuk hatinya yang dalam. "Ternyata kau menepati janjimu, cintaku."
Saat ia berbalik dan hendak untuk kembali pada aksi sebelumnya yaitu menebas para musuh, ia terkesiap di kala ia mendengar sebuah jeritan feminim yang nyaring.
"ARLENN!!! SEMANGAT!!!"
Jeritan itu sungguh membuat semangatnya membara, lelah yang bisa rasakan seakan menghilang dan menguap begitu saja di udara yang dingin ini.
Senyum merekah yang jarang ia tunjukkan, kini terlukis dengan indah dan sempurna di wajah tampannya yang telah dinodai oleh banyak bercak merah dan luka.
Seakan seperti orang gila, pria itu menebas musuh-musuh dengan sangat cepat seperti iblis yang tengah menebas mangsa-mangsanya.
Jeritan feminim kembali terdengarĀ menusuk pendengaran. "PASUKAN SAYAP BARAT DAN TIMUR, PASUKAN MEGALOS, SERANG!!!"
"HAA!!!"
Jeritan demi jeritan terdengar dan menyertai perang itu. Pasukan sayap barat dan timur, kini ikut menyerangĀ ketika telah mendengar aba-aba, begitu pula dengan pasukan Megalos.
Mata pedang yang beradu, suara tusukan ketika ujung pedang menembus kulit, dan suara cipratan darah kembali terdengar dan berlangsung secara lama.
Hingga akhirnya, sorak sorai yang terlontar dari beribu-ribu bibir prajurit, menyudahi aksi di tempat itu.
Pasukan Nephorine kalah telak, armor dan tubuh yang diguyuri oleh percikan darah, itulah yang menghiasi para manusia yang berjuang di tempat itu.
Seorang pria bersurai pirang, berbalik arah lalu mengacungkan mata pedangnya kelangit seraya tersenyum penuh arti kepada sosok wanita bersurai coklat tua yang terletak jauh darinya.
Senyum kebanggaan sekaligus senyum kelegaan menghiasi wajah cantiknya, ketika dia melihat sosok pria bersurai pirang yang tersenyum ketika arahnya seraya mengacungkan pedangnya yang mengkilap.
Wanita itu tak bisa menunggu untuk mendekati dan mengucapkan selamat kepada pria itu yang telah berhasil membawa kemenagan kepada negeri mereka.
Dia berlari sekencang-kencangnya untuk menghampiri pria itu, dan pria itu pun melakukan hal yang sama dengannya.
Di suatu tempat yang dituruni oleh lebatnya butiran es yang turun dari langit mendung, kedua insan Tuhan yang saling bertatap penuh arti dan saling melempar senyum.
"Kau menepati janjimu." Sang pria berkata dibalas dengan kekehan kecil dari sang wanita.
"Ya, aku datang. Untuk menyelamatkanmu," jawabnya sembari membalas tatapan mendalam sang pria.
Seketika, tubuh wanita itu telah melayang di udara karena sang pria mengangkat dan memutar-mutar tubuh ramping itu di udara karena kebahagiaan yang meledak-ledak di dirinya.
Lantas, wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.
Gelak tawa setia menyertai mereka berdua yang tengah menikmati momennya.
Hingga pria itu menghentikan aksinya yang memutar sang wanita. Pria itu kembali menatap sang wanita dengan tatapan dalam.
Suatu kalimat yang terlontar sanggup mewakilkan semua rasa yang ia layangkan terhadap yang wanita.
"Aku mencintaimu."
Wanita itu tampak terkejut dengan perkataan yang telontar dari bibir yang terletak tak jauh dari wajahnya.
Namun sebuah kalimat yang tak terduga kini terlontar dari bibirnya yang hangat meskipun cuaca di sekitar mereka sangat dingin.
"Aku juga mencintaimu."
Sang pria sangat tidak menyangka hal tersebut, sehingga tanpa aba-aba, pria itu mempertemukan bibir mereka.
Dengan perasaan yang meluap-luap dan tak dapat dikendalikan, mereka mewakili semua itu, hanya dengan sebuah kecupan yang mengandung berjuta perasaan di dalamnya.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke ^^^
^^^08 Desember 2020^^^