The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} 'Kau sudah melakukan yang terbaik.'



Previously....


"Sepertinya, ada masalah besar di sini."


Tiba-tiba saja ucapannya terpotong ketika gadis itu mendengar suara lelaki yang sangat tidak asing di pendengarannya. Tidak, bahkan sangat ia kenal.


Sontak dia menghadap ke belakang, dan Marquess Thrones terlihat sangat terkejut dengan kehadiran sesosok di ambang pintu.


"Lord Arlen?!"


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(20)...


"Maafkan atas kelancanganku mengganggu waktu kalian berdua." Lelaki itu menunduk sejenak berpura-pura hormat, sehingga Marquess Thrones menjadi tidak enak dibuatnya.


"Ah, tidak perlu. Saya hanya berbincang tentang masalah kecil saja dengan Lady," jawab Marquess.


"Apa yang dia lakukan di sini?" batin Cassandra. Gadis itu hanya bisa mengerutkan alisnya sedikit cemaa sembari diam.


"Namun aku dengar sepertinya masalahnya cukup rumit. Kalian membicarakan tentang air, bukan?" terka Arlen dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"Y-ya begitulah," ujar Marquess itu.


"Lady," panggil lelaki bersurai pirang itu.


Sontak Cassandra langsung tersadar dan membungkuk sejenak ketika putra Duke itu memanggilnya secara formal. "Ya, My Lord?"


"Aku sempat melihat bagian sungai yang sangat menghitam. Dan aku menemukan sebuah benda seperti batu di dasarnya. Apa itu adalah batubara yang kau maksud?"


"Ya, itu benar My Lord."


"Bisa kau jelaskan?"


"Tentu saja, My Lord." Lantas, gadis itu menarik nafas terlebih dahulu kemudian menggali informasi tentang bebatuan itu di otaknya. Semoga saja dia masih mengingat pelajaran semasa sekolah dulu.


"Batubara adalah bebatuan sedimen yang bisa terbakar dan memiliki merkuri berbahaya di dalamnya," jedanya. "Biasanya merkuri akan ke udara setelah dibakar dan jatuh ke sungai di dekatnya. Tapi, seperti kondisi yang saya bilang. Batubara itu langsung dibuang begitu saja ke sungai, sehingga merkuri yang terendap sudah pasti menyebar ke seluruh sungai dan masuk ke permukaan dengan menyerap ke dasar air sungai."


Lelaki itu sempat membuat lekukan samar di bibirnya. "Begitu, penjelasan Lady begitu lengkap dan meyakinkan."


"Berarti maksud Lady adalah, sungai itu keruh akibat merkuri berbahaya yang ada di dalam batu itu?" imbuhnya.


Jari telunjuknya ia letakkan di bibir bawahnya sembari menggerakkannya pelan.


"T-tapi! Itu hanyalah bebatuan biasa, mana mungkin bisa mencemari sungai sebesar itu!" sergah Marquess protes.


"Itu karena batubara adalah bebatuan berbahaya yang bisa terbakar. Sama halnya dengan arang. Terdapat kandungan berbahaya di dalamnya, tentu hal itu sudah pasti akan membuat sungai tercemar."


Dengan cepat Cassandra menyela. Gadis itu tidak akan membiarkan kesempatan terbuang sia-sia.


"Semua penjelasan Lady terdengar masuk akal bagiku. Dengan penjelasan selengkap dan meyakinkan begitu, tentu saja kemampuan Lady tidak bisa dibantah. Benar begitu, bukan? Marquess?"


Keadaan langsung terbalik begitu saja, membuat Marquess Thrones berdecak kesal secara tersembunyi.


"Lalu Lady, bagaimana cara anda untuk membereskan masalah ini?"


"Sudah pasti, untuk terutama kita harus mengangkat seluruh batubara yang terbenam di sungai, My Lord. Setelah itu kita akan melakukan penjernihan air agar air tersebut kembali layak dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan penduduk."


Selang beberapa detik, kelopak mata gadis itu sedikit melebar ketika dia menyadari sesuatu yang hampir menjadi bencana jika dibiarkan.


"Kalau begitu--"


Secara cepat, gadis itu memotong pembicaraan. "Maaf jika saya lancang dengan menyela perkataan anda, My Lord. Tapi ada satu hal penting lagi yang harus saya sampaikan."


"Katakanlah," perintah lelaki beriris biru itu.


"Kita juga harus menutup saluran sungai di wilayah Marquess menuju wilayah lain. Jika kita biarkan, maka racunnya bisa saja menyebar sebelum kita mengetahuinya," imbuh gadis bernetra coklat tersebut.


"Begitu." Lelaki itu mengangguk-angguk kepala pelan.


Mereka berdua berbincang dengan santai namun serius, membuat Marquess Thrones terabaikan dan kesal dalam diam. 


"Saya mohon, My Lord. Berikan saya kesempatan, saya akan menyelesaikan masalah ini," pinta Cassandra tertunduk semakin memojokkan Marquess.


Ia membungkukkan badannya dan melebarkan rok gaunnya, sebuah etika dasar seorang nona bangsawan. Namun siapa sangka bahwa di dalam hatinya gadis itu menghela nafas sangat panjang.


"Menurut saya, niat Lady la Devoline patut dipenuhi. Karena secara tidak langsung, semua ini terjadi akibat kelalaian anda, bukan? Marquess."


Arlen hanya bisa menatap dengan santai, karena sudah pasti Marquess itu tidak akan membantah jika dipojokkan seperti ini. Dagunya sedikit terangkat angkuh dengan tatapan yang menusuk.


"Sebelum terlambat, saya ingin menyelesaikan semuanya. Saya tidak ingin ada penduduk yang teracuni oleh air sungai tersebut," imbuh gadis berhidung mancung itu.


Setelah desakan demi desakan yang telah tertuju secara lurus dan tepat pada Marquess, pria itu tak bisa lagi membantah.


Tentu saja dia akan dicap sebagai pemimpin wilayah yang buruk karena membiarkan penduduknya terkena suatu bencana yang mengancam.


Hembusan kasar dan kesal terdorong dari paru-parunya, dan dengan berat hati, dia pun hanya bisa berkata.


"Baiklah."


...~•~...


Ketika masalah itu telah selesai, kedua manusia ini pun berjalan berdampingan untuk keluar dari kediaman Marquess menuju penginapan yang telah disiapkan oleh pria berumur itu.


Ya, mereka memang akan menetap di wilayah ini untuk sementara. Karena mereka akan berkontribusi besar dalam kegiatan penjernihan air kali ini, dan tentu hal itu akan memakan waktu yang cukup lama.


"Itu... tentang hal yang tadi," ujar Cassandra menggantung. "Terima kasih, jika tidak ada kau sudah pasti nama baik ayah akan hancur karenaku," ungkapnya sedikit tertunduk.


Jika saja Arlen tidak muncul, maka sudah pasti akan susah membuat Marquess untuk menerima keputusannya dan niat baiknya. Dan tentu saja, jika dia gagal maka seluruh tembok kepercayaan yang gadis itu bangun pada ayahnya akan runtuh begitu saja.


"Bukan masalah besar," jawab lelaki itu. "Lagipula, semua bukan salahmu."


"Tapi tetap saja--"


"Aku hanya membantu sedikit. Semuanya tergantung padamu, karena kau juga harus melakukan penjernihan seperti kau bilang."


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa kau tahu aku ada di sini?" tanya gadis itu.


"Aku tidak tahu jika kau ada di sini. Ayahku meminta agar aku melakukan negoisasi dengan Marquess," jelas lelaki tersebut.


"Apa negoisasinya berhasil?"


"Ya."


"Begitu."


Setelah basa-basi yang cukup panjang, saatnya keheningan berperan menggantikan.


Hanya suara tapak kaki mereka yang memukul lantailah yang terdengar, dan suara-suara bising lain yang ada di dalam kediaman itu.


"Sudah lama kita tidak latihan pedang bersama," celetuk lelaki berhelai lurus itu membuat gadis di sebelahnya terusik.


Benar juga apa yang dikatakannya. Setelah memenangkan pertandingan dan masalah keracunan itu, mereka hampir tidak pernah bertemu sekalipun.


Karena Cassandra disibukkan oleh masalah politik ayahnya, begitupun dengan Arlen.


"Di saat temanmu sakit, apa kau tak ada niatan untuk menjenguknya?" Perkataan lelaki itu malah terdengar menyindir.


"K-kau juga. Bukankah kau tidak lagi menemuiku setelah kejadian itu?" balas Cassandra tak mau kalah.


"Huh." Lelaki itu menyatakan rasa kesalnya seperti menyindir dengan pelan dan senyum getir yang menghina. Namun Cassandra masih bisa mendengarnya.


"Tidak menemuimu? Tentu aku tidak bisa menemuimu ketika kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu," hardiknya.


"Apa dia marah?" batin gadis itu.


"Hari demi hari menerima alasan yang sama dari bibir pelayanmu, siapa yang tidak muak?"


"Baiklah sepertinya dia marah," gumamnya dalam hati. Namun tak lama dari itu, dia terkikik kecil. "Lucu juga melihatnya seperti ini."


"Kau benar juga. Semua orang pasti akan merajuk jika diperlakukan seperti itu," jawab Cassandra tersenyum dengan iris beserta pupil yang terangkat ke atas seolah-olah tengah berpikir.


"Aku tidak merajuk," bantah lelaki itu dingin.


Lekukan senyum jahil tercipta di bibir gadis itu, sehingga dia pun langsung berlari ke hadapan lelaki bernetra biru langit tersebut dan mencondongkan badannya dengan kedua tangan yang ia kaitkan di belakang punggungnya.


"Hm? Apa aku bilang bahwa itu kau?" tanyanya tersenyum lebar.


Arlen tampak menghela nafas, kemudian menyentil dahi gadis itu pelan. "Baiklah, kau menang."


Ia pun mengambil jalur menyamping untuk melewati gadis itu yang tengah mencondongkan tubuhnya.


Sebelum itu, dia sempat memindahkan pupilnya secara cepat ketika Cassandra mencondongkan tubuhnya padanya.


Apa gadis itu tidak tahu bahwa aksi tersebut sangat berbahaya ketika dia memakai baju yang berdada cukup rendah?


"Hei, Lord Arlen yang terhormat. Apa kau masih marah? Apa kau masih merajuk?" goda gadis itu semakin gencar.


"Hentikan," titah lelaki itu.


"Kenapa? Apa kau masih merajuk? Hahaha!" gelak gadis itu. Tidak ingat bahwa mereka masih berada di kediaman orang lain.


"Bukan itu, senyummu itu."


"Eh?" Seketika senyumnya luntur perlahan-lahan, kelopak matanya terangkat sehingga terpampang iris coklat tua di dalamnya.


Apa lelaki itu tidak menyukai senyum yang ia tunjukkan?


"Jangan memaksakan tersenyum jika kau tidak ingin," lugas lelaki itu menatap dalam sosok di hadapannya.


Bibir gadis itu langsung terkatup, dan kepalanya mulai terjatuh sehingga helai nya turun menutupi wajahnya.


"Dan jangan menunjukkan seolah-olah semuanya baik-baik saja. Aku tak suka," cecarnya.


Tak lama, tangan gadis itu terangkat dan mengusap-usap matanya.


"Hah... padahal aku berusaha menyembunyikannya. Tapi jika kau membongkar dan mengatakannya sejelas itu, aku sudah pasti tidak bisa menahannya," curahnya mengelap bulir air yang terus mengalir dan terjatuh.


Ya, Arlen tahu itu. Semua yang Cassandra sembunyikan. Sedari tadi, gadis itu menyembunyikan rasa takutnya dengan tawa dan senyuman palsu.


Bagaimana tidak? Gadis itu sangat takut bahwa Marquess itu tetap tidak menerima permintaannya. Dengan begitu, seluruh kepercayaan yang ia bangun di hati ayahnya tentu akan hancur dan hangus begitu saja.


Dan yang lebih parah, ayahnya mungkin akan kembali seperti dulu lagi. Selalu membentaknya, menyakitinya, dan selalu memaksanya.


Gadis bernetra coklat itu sudah tak sanggup menahan itu semua lagi, dan dia tidak ingin mengalami hal itu lagi.


Suara isakan halus mengisi keheningan, dan tanpa aba-aba tangan lelaki itu terulur untuk menarik pucuk kepala gadis itu dan menempelkannya pada bahunya.


"Kau sudah melakukan yang terbaik," bisik lelaki itu membiarkan gadis di pelukannya menangis sepuasnya.


.


.


.


.


.


.


"Astaga, bajumu basah semua. Aish bagaimana ini?" gusar Cassandra ketika mendapati pakaian lelaki itu basah semua akibat airmata beserta air kental yang berasal dari hidungnya.


Setelah puas-sepuasnya gadis itu menangis, akhirnya dia berhenti ketika badai di hatinya mereda.


Dan ketika dia mengangkat wajahnya yang menempel di bahu lelaki itu, pakaian putra Duke itu sudah sangat lengas. Lalu dia khawatir setengah mati saat menyadarinya.


Bagaimana tidak? Sudah pasti pakaian lelaki itu mahal, dia tidak punya uang untuk menggantinya. Terlebih, sudah pasti pakaian seperti itu harganya fantastis.


"Lebih baik kau berikan saja padaku, aku akan mencucinya," katanya masih dilingkupi rasa gusar.


Jari-jemarinya tak berhenti bergerak upaya mengelap dan menyingkirkan segala air yang telah menyerap itu.


Tak lama, Arlen pun menyingkirkan tangan gadis itu dengan pelan. "Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan."


"Tapi pakaian mahal ini ternoda karenaku. Oleh karena itu, biarkan aku mencucinya."


"Tidak perlu. Lagipula, memangnya kau bisa mencuci?"


Cassandra sedikit tersindir ketika lelaki di hadapannya ini berbicara seperti itu. Saat dia menjadi pengangguran, tentu saja dia mencuci baju sendiri karena tidak ingin mengeluarkan biaya untuk laundry.


"Tentu saja bisa, apa kau meremehkanku?" sinisnya.


Arlen hanya menaikkan alisnya sebelah. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran, dia pun berkata. "Baiklah."


"Kau juga menginap bukan? Kalau begitu kau berikan saja pakaianmu nanti padaku," cecarnya membuat lawan bicaranya mengangguk.


Mereka pun kembali berjalan berdampingan, perasaan mereka saja atau memang lorong kediaman Marquess ini sangat panjang?


"Jangan lakukan itu lagi," ujar Arlen secara tiba-tiba membuat Cassandra bingung.


"Lakukan apa?"


"Jangan condongkan badanmu di hadapan lelaki. Aset berharga tubuh atasmu akan terlihat," imbuhnya.


Butuh waktu bagi gadis itu untuk mencerna apa yang dikatakan barusan oleh lelaki itu.


Namun saat matanya menangkap ke mana arah pandangan lelaki di depannya, membuatnya langsung mengetahuinya.


Sontak dia membelalakkan matanya dan sedikit ternganga. Dalam sekejap, kedua jarinya pun mencolok kedua bola mata Arlen yang sudah ditutupi oleh kelopak mata terlebih dahulu karena refleks.


"Dasar!"


...~•~...


Seperti yang Marquess Thrones janjikan, Cassandra dan Arlen akan menginap di sebuah penginapan yang telah dipilih tanpa biaya.


Siapa yang membayar? Tentu saja Marquess Thrones sendiri.


Saat ini mereka tengah berada di meja resepsionis --atau bisa dibilang begitu-- untuk mengambil kunci kamar mereka.


"Ah, My Lord, My Lady. His Lordship telah memberitahu saya bahwa kalian akan datang. Apa anda ingin makan terlebih dahulu? Sekarang adalah jam makan malam," papar resepsionis penginapan itu.


"Apa kau ingin makan terlebih dahulu?"


Cassandra mengangguk cepat. Karena sedari tadi dia belum mengisi perutnya dengan gizi.


"Ya, kami akan kembali nanti."


Mereka berdua pun pergi ke meja makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh mereka. Sembari berbincang-bincang dan bercanda, mereka akhirnya telah selesai dengan ritual menyalurkan gizi ke tubuh mereka.


Lantas, mereka kembali ke meja resepsionis untuk mengambil kunci mereka. Karena waktu telah larut, sudah saatnya untuk beristirahat.


Namun, saat mereka menunya kuncinya, si resepsionis itu malah bertingkah aneh.


"I.. itu... My Lord...," ucapnya terbata-bata.


Sepasang lelaki dan gadis itu langsung melempar balik pandangan satu sama lain karena kebingungan.


"Maaf, My Lord. Barusan saja, ada seseorang yang memesan satu kamar lagi. Jadi, sekarang hanya tersisa satu kamar saja," jelasnya ragu.


"Tentu kasurnya ada dua bukan?" tanya Cassandra tersenyum. Semoga saja yang ada di pikirannya tidak benar.


Dia harus membuang-buang jauh pikiran negatif dan tak benar itu.


"Itu... hanya satu kamar dengan kasur untuk pasangan yang tersisa," imbuh resepsionis itu.


Masih setia dengan senyuman manis yang merekah dan kelopak mata yang tertutup, gadis itu pun berkata.


"F*ck."


...07.02.2021...