
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Boleh aku mendapatkan satu permintaan?" tanya wanita itu.
"Dengan senang hati, apa permintaanmu?"
Wanita bersurai pirang ini bergerak dan mendekatkan bibirnya ke telinga sang pria.
"Apa kau bisa menuduh Cassandra sebagai dalang pembunuhan Yang Mulia Raja?"
Pria bersurai hitam itu sempat terkejut. Namun dengan cepat ia kembali tenang dan berkata.
"Kau yakin? Kau tidak akan menyesal?" Pria itu memastikan. Sebenarnya pria itu tidak ingin membunuh seseorang yang dimaksud oleh sang wanita.
Karena dirinya juga tidak membenci sosok tersebut. Dan sosok itu sama sekali tidak ada masalah dengannya.
Namun jika ini adalah permintaan wanita yang dicintainya, maka dirinya akan dengan senang hati memenuhinya.
...🥀...
"Di mana dia? Tiba -tiba menghilang tanpa jejak," gumam seorang pria dengan netra biru langitnya.
Sudah cukup lama wanita yang dicarinya itu pergi, namun sampai sekarang belum kembali dan menunjukkan batang hidungnya.
Banyak sudah jejak kaki yang ia ciptakan dan tinggalkan di lantai licin dan mulus istana, tapi tetap saja tidak menemukan jejak sedikitpun dari sang wanita.
"Oh, salam Duke Floniouse. Apa yang tengah kau lakukan?"
Tampak seorang gadis berpapasan dengan pria itu, sehingga pria itu langsung memberi salam hormat ketika melihat siapa gadis tersebut.
"Salam Yang Mulia Putri. Saya tengah mencari keberadaan istri saya, apa anda ada melihatnya?" tanyanya.
Putri yang bernama Veronica itu tampak sedikit bingung. "Tadi Cassandra bilang padaku bahwa dia ingin menemuimu, jika sekarang kau berada di sini, lalu di mana dia?"
Gadis yang mempunyai surai hitam sekelam malam itu menaikkan sebelah alisnya yang berwarna seirama, dengan tangannya yang tengah menopang dagu.
Pria itu terdiam, tampak tenang dari luar. Namun tidak dari dalam. Walaupun ini terkesan berlebihan, tapi dirinya saat ini benar-benar cemas akan keberadaan istrinya.
Karena istrinya tersebut terkadang suka nekat ketika melakukan sesuatu.
"Mungkin Cassandra hanya tersesat. Sebaiknya kau pergi kembali mencarinya," saran sang putri.
Helaan nafas terhembus dari bibir persik pria itu. "Baiklah. Maaf telah mengganggu waktu anda, Yang Mulia. Kalau begitu, saya pamit undur diri."
Arlen menundukkan kepala memberi salam pamit pada putri Veronica, kemudian kembali bergegas mencari sang istri.
Waktu kembali berjalan dan berlalu, hingga tanpa sadar malam telah semakin larut.
Sampai sekarang wanita itu belum ditemukan, sehingga membuat sang pria semakin frustasi.
Hingga akhirnya, sesuatu yang aneh pun terjadi. Para bangsawan-bangsawan lain mulai melihatnya dengan seksama seraya berbisik-bisik, dan suasana terasa mencekam.
Ada apa dengan perubahan suasana yang mendadak ini?
Seorang pria bersurai coklat datang menghampirinya dengan terburu-buru dan tergesa-gesa.
"Ada apa, Count?" tanya Arlen sedikit, bingung.
"Duke... ada sesuatu yang harus kukatakan. Dan... tidak di sini," ujar Count Beronald.
Arlen seakan mengerti langsung mengangguk, kemudian mengikuti kemana Count Beronald akan membawanya.
.
.
.
.
"Ada apa, Count? Sepertinya sangat penting," ucap pria bersurai pirang itu.
"Sebenarnya ini tentang Cassie-- m-maksudku tentang Duchess Floniouse," balas Frost.
Arlen hanya diam dengan tangannya yang dilipat di depan dada, namun Frost sangat tahu bahwa pria itu tengah menunggu kalimat selanjutnya yang akan ia lontarkan.
"Sebenarnya... Yang Mulia Raja...," kata Frost menggantungkan kalimatnya. Pria itu tampak ragu melanjutkannya.
"Yang Mulia Raja... telah terbunuh."
Pria bersurai pirang ini membulatkan matanya. "Bagaimana bisa? Seorang Raja terbunuh secara tiba-tiba, apa keamanan istana ini sangatlah tidak becus?"
Frost menggenggam kedua telapak tangannya, bahkan tulang rahang Count itu tercetak jelas karena emosi yang berkalut.
"Bukan itu sebenarnya yang menjadi masalah, Duke," imbuh Frost.
Arlen sedikit bingung dan kesal karena sedari tadi Frost tampak bertele-tele dan seluruh perkataannya terdengar ambigu.
"Lalu apa?"
Frost menggertakkan giginya dengan alis yang mengernyit. Bahkan kuku jarinya pun telah memutih karena kekuatan yang ia salurkan di telapak tangannya.
Walaupun dia tak ingin memercayainya, tapi dia tetap harus mempercayainya. Walaupun dia tak ingin mengatakannya, tapi dia harus mengatakannya.
"Duchess... adalah pembunuhnya."
...🥀...
"Apa... aku harus membunuhmu sekarang, Duchess?"
Suaranya terdengar mematikan dengan seringaian yang menyertai. Ujung belatinya yang pipih dan tajam semakin mendekat hingga bisa aku rasakan sakit mulai hinggap di area leherku.
"Apa anda yang melakukan semua ini, Pangeran?" tanyaku merasa tercekat.
"Jika iya, memangnya kenapa, Duchess? Apa kau akan memberitahukannya kepada semua orang?" Dia berbicara dengan tenang namun terselubung nada ancaman di dalamnya.
"Tentu saja, setelah apa yang anda lakukan, anda harus mendapatkan balasan yang setimpal," hardikku menatapnya tajam.
Tidak kusangka ternyata topeng kebaikannya sungguh tebal sehingga aku sama sekali tak menyadari bahwa ada iblis yang sangat licik di balik topeng itu.
"Kau tak akan bisa, Duchess," ejeknya membuatku tersenyum remeh.
"Anda terlalu memandang remeh saya, Yang Mulia," ucapku lalu dengan cepat menginjak kakinya dengan kuat.
Aku sengaja mengajaknya mengobrol terlebih dahulu agar dia lengah. Ternyata sesuai dugaanku, dia memang lengah.
Oleh karena itu aku dengan cepat menginjak kakinya, dan dia sempat terkejut hingga belatinya terlepas dari genggamannya.
"Akh!"
Belati itu jatuh ke tanah, dengan cepat aku langsung mengambilnya dan menodongkannya.
"Anda lengah, Yang Mulia," ejekku. Dia sempat terdiam sejenak, namun tak lama dari itu tawa menggelegar terlayang dari mulutnya.
"Hahaha! Ternyata kau hebat juga, Duchess. Aku sangat tidak menyangka hal ini."
Apa dia berniat memuji atau menghinaku?
"Anda tak bisa sembunyi dari kesalahan, Yang Mulia," kataku penuh penekanan.
"Sama halnya dengan dua lelaki bodoh yang selama ini memata-matai ku."
Deg!
Ternyata dia mengetahuinya selama ini?! Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?!
Tenang... tenanglah dulu Cassandra. Berusahalah untuk tidak panik.
"Hah... ternyata anda menyadarinya, Yang Mulia. Tapi, apa hubungannya itu dengan semua ini? Apa dengan itu anda bisa bebas dari semua ini?" balasku tak mau kalah.
"Tentu tidak bisa. Tapi coba kau pikirkan apa yang akan kulakukan terhadap dua lelaki bodoh itu dan juga suamimu," ancam nya membuatku tersentak.
"Aku dengan mudah saja membunuh dua lelaki bodoh dan tak berguna itu. Lagipula, dia hanyalah manusia rendahan yang hanya mengacau rencanaku."
"Jangan melibatkan orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan semua ini, Yang Mulia," kesalku.
Emosiku mati-matian sedari tadi kutahan. Jika aku bisa, aku benar-benar ingin menonjok wajahnya sekarang yang tengah tersenyum remeh.
"Bisa saja. Asalkan kau menuruti semua perintahku. Dan menjatuhkan belati itu sekarang, Duchess," ujarnya menekankan kalimat akhirnya padaku.
"Kkh!" Aku menggertakkan gigiku dengan tulang wajah yang mengeras, aku benar-benar tersudut saat ini.
Pangeran semakin mendekat ke arahku, kemudian berbisik ke arahku.
"Jadilah dalang dari pembunuhan ini, Duchess. Jika anda ingin dua lelaki bodoh itu dan pria yang anda cintai hidup," bisiknya mematikan.
Apa aku harus menerimanya? Apa aku harus menghunuskan belati ini dan menusuknya sekarang juga?
Apa aku harus menolaknya? Tapi apa aku boleh memilih keputusan egois itu? Hanya untuk keselamatan diriku sendiri?
Lagipula, bukankah aku sendiri yang menjerumuskan diriku ke dalam semua ini?
Lantas, apa pantas orang lain yang menanggung seluruh kesalahan dan kecerobohan diriku tersebut?
Jika aku melakukan hal itu, aku sama saja seperti bedebah yang hanya memikirkan diri sendiri.
Bukankah ini juga kesempatan yang bagus? Mungkin dengan begini aku bisa kembali ke duniaku?
Apa ini memang benar akhir dari novel ini? Atau memang akhir dari takdirku sendiri?
Sepertinya, dengan begini juga... aku bisa melepaskannya sepenuhnya. Mungkin ini memang... waktu yang tepat untuk melepaskannya dan menghilang dari kehidupannya.
Senyum getir tiba-tiba saja terlukis di wajahku. Ternyata, mau di mana-mana saja, aku tetap sial.
Kutarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan upaya menenangkan diriku.
Perlahan-lahan, aku melonggarkan genggaman tanganku hingga belati tajam itu terjatuh ke tanah yang lembab dan dingin.
Kedua sudut bibirku kunaikkan, membentuk sebuah senyuman manis.
"Baiklah, Pangeran. Saya akan melakukan perintah anda," ujarku.
Pangeran menatapku cukup lama dengan pandangan misteriusnya, kemudian mengambil belati yang terjatuh di dekatku.
Lalu tak lama dari itu dia membisikkan beberapa kata padaku.
"Aku melakukan ini, demi kebaikan negeri ini, Duchess."
Tak peduli apa yang dikatakannya, tak peduli apa maksud dari perkataannya. Karena yang kupikirkan sekarang ini adalah, sosok dia yang selalu membuat hidupku jauh lebih bermakna.
Sosok dia yang telah membuat hidupku yang terasa hambar kini dibumbui dengan rasa sakit, perjuangan, dan kasih sayang.
Walaupun aku harus menderita dalam kesendirian, asalkan dia tetap bahagia dan tetap hidup, maka aku rela berada lama-lama di dalam lorong penderitaan.
Tak peduli dia akan berbagi cintanya dengan siapa, tak peduli sebenarnya kepada siapa hatinya berlabuh, aku hanya akan melakukan satu hal.
Aku akan tetap mencintainya, dengan seluruh hal yang kupunya.
Meskipun kami harus kembali terpisahkan oleh dua dunia yang berbeda.
Dua dunia yang menjadi jurang untuk kami kembali bersatu.
Asalkan dia masih dapat menghembuskan nafas di dunia ini, aku akan rela memberikan seluruh nafasku untuknya.
...🥀...
"Sialan! Lepaskan aku!" murka seorang pria yang seperti tengah kerasukan. Beberapa pengawal istana telah menahannya untuk waktu yang lama, namun pria itu tetap tak gentar untuk terus memberontak.
Dia tak bisa diam saja ketika wanita yang amat ia cintai dengan seluruh nafasnya tengah diborgol dan terus dipaksa berjalan dengan kasar oleh para-para pengawal istana untuk menuju penjara bawah tanah yang gelap dan dingin.
Sebenarnya apa yang terjadi ia sama sekali tidak tahu. Bagaimana bisa wanita itu tiba-tiba saja menjadi dalang pembunuhan?
Bagaimana bisa wanita itu membunuh seseorang dengan hati yang sehangat dan selembut cahaya matahari?
Di saat wanita itu sempat melihatnya, wanita itu melayangkan senyum getir dan lemah yang mana membuat dirinya semakin menggila.
"SIALAN! LEPASKAN TANGAN KOTOR KALIAN DARINYA, BAJING*N!"
Pria itu sangat menyesal karena tidak membawa pedangnya. Jika ia membawa pedangnya tadi, maka ia akan dengan mudah menebas semua orang yang menghalanginya saat ini.
"Tuan Duke... untuk sekarang anda harus--"
"Berhenti memerintahku, rendahan! Kau tidak pantas memerintahku! Lepaskan aku sekarang juga!"
Kenapa... semuanya tiba-tiba menjadi seperti ini? Kenapa tiba-tiba situasi menjadi runyam dan berantakan seperti ini?
Sebenarnya apa maksud dari semua ini...?!
"Duke, mohon tenanglah." Tiba-tiba saja datang seorang pria dengan nada bicaranya yang tenang.
"TENANG?! KAU PIKIR AKU AKAN TENANG KETIKA KALIAN MEMBAWA ISTRIKU UNTUK DISIKSA?!" Pria bersurai pirang itu tak bisa mengendalikan suaranya beserta emosinya.
Dia benar-benar kacau, dia benar-benar frustasi. Seolah-olah hidupnya akan hancur saat itu juga.
"Duchess tersangka menjadi dalang dari pembunuhan Yang Mulia Raja, saat ini kami tengah membawanya ke penjara bawah tanah untuk diinterogasi," jelas Pangeran Darren.
Arlen tertawa getir, dengan senyum miring yang melambangkan kesedihan dan kemarahan yang bersatu. "Dalang pembunuhan? Darimana kau mendapat teori seperti itu, Yang Mulia Pangeran Darren yang terhormat?"
Pangeran Darren terdiam. Semua orang yang ada di tempat itu terdiam, hanya suara angin yang kencang mengisi.
Mereka sangat terkejut hingga tak bisa berkata-kata, melihat Duke Arlen de Floniouse yang selalu tenang dan mengintimidasi mengamuk seperti orang gila di hadapan mereka.
Seperti... monster yang kehilangan sesuatu yang berharga.
"Aku melihat jasad Yang Mulia Raja dengan pedang yang menusuk jantungnya. Dan Duchess, dia ada tepat di samping jasadnya," papar Pangeran Darren masih senantiasa tenang.
"Duchess juga tidak menyangkal bahwa dia bukanlah dalang dari pembunuhan ini. Oleh karena itu kam harus menginterogasi tentang semua kejadian ini," lanjut Pangeran Darren.
Arlen masih setia tergelak, namun tak lama dari itu dia terdiam. Dan tatapan penuh kebencian menghiasi netra biru langitnya yang menggelap.
"Diam kau, bangs*t. Tahu apa kau tentang istriku?"
"Berani-beraninya kau kepada Yang Mulia Pangeran!" celetuk bangsawan lain yang berada di tempat itu.
Pangeran Darren mengangkat telapak tangannya ke udara menyuruh bangsawan tersebut tetap diam dan tidak ikut campur.
"Aku tahu kau tak bisa menerima semua ini, Duke. Tapi, semuanya telah terjadi. Dan kita akan tahu, Duchess bersalah atau tidak."
"Bersalah? Membunuh Yang Mulia Raja?" kata Arlen dengan nada rendah yang menusuk pendengaran. "Bukankah dari semua ini ada kemungkinan bahwa anda lah yang membunuh Yang Mulia Raja?"
Suasana di tempat tersebut mulai riuh, karena perkataan yang terjatuh dari bibir Arlen.
"Apa maksudmu, Duke?" tanya Pangeran Darren penuh dengan penekanan.
"Bukanlah anda yang menemukan jasad Yang Mulia Raja? Lalu, bagaimana bisa saya yakin jika anda mungkin saja menuduh dan mengancam istri saya?"
Semua perkataan pria bersurai pirang itu kembali membuat para bangsawan dan para pengawal yang berada di antara mereka bergumam dan saling mengutarakan pendapat.
Namun tak lama dari itu, terdengar suara jeritan kesakitan yang menyeruak masuk ke pendengaran Arlen.
Pria itu kembali mengamuk. "Bajing*n kau! Apa yang kau lakukan padanya?!" murkanya.
"Sudah kubilang kami akan menginterogasinya," jawab Pangeran Darren tenang.
"Apa penyiksaan dan interogasi bermakna sama bagimu?!" teriak Arlen. "Lepaskan aku," titahnya dengan nada rendah.
Pangeran Darren entah kenapa sedikit takut melihat tatapan yang Duke itu layangkan padanya. Dengan cepat, dia menyuruh para pengawal yang menahan Arlen untuk melepaskan pria yang mengamuk itu.
Arlen dengan cepat melesat untuk menemui istrinya. Dia tidak akan diam saja kepada semua orang yang telah membuatnya wanita yang sangat ia cintai tersiksa, lepas begitu saja.
Pria itu, benar-benar telah gila... dan kejam.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^31 Desember 2020^^^