The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 47 : Kejujuran yang Terpendam



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Langkah kaki yang jenjang menghiasi lantai licin yang mengkilap di lorong kediaman itu.


Dengan kepala yang celingukan untuk mencari keberadaan wanita yang dicarinya, pria itu tak henti-hentinya merasa heran.


Pasalnya, pria itu ingin berbicara dengan wanita itu, tapi dia tidak ada di dalam kamarnya.


Dirinya juga sudah bertanya pada pelayan yang paling dekat dengan wanita itu, namun pelayan itu menjawab bahwa wanita itu sempat berjalan-jalan di taman belakang.


Saat dia telah mencari keberadaannya di taman belakang, wanita itu tidak ada. Sudah banyak tempat di rumahnya ia jelajahi, tetap hasilnya nihil.


Jarang-jarang sekali sosok itu tiba-tiba menghilang tanpa sebab seperti ini.


Sebenarnya kemana ia pergi? 


Ini tak bisa dibiarkan, pria itu lalu pergi ke lantai bawah dan berniat mengambil kudanya untuk mencari keberadaan wanita itu.


Namun saat ia membuka pintu belakang yang terletak di dapur, ia langsung tersentak dan terkejut.


"Darimana saja kau? Pergi tanpa seizinku di sore hari seperti ini," hardik nya dengan sosok wanita bernetra coklat tua di hadapannya.


Surai wanita itu tampak acak-acakan dengan butir-butir putih yang menghiasi, nafasnya terengah-engah.


"Ada apa denganmu? Seperti baru dikerjar-kejar oleh hantu," celetuk pria itu.


Cassandra sedikit kesal. "Ya, kaulah hantunya," cibirnya sembari menarik nafas dengan serakah.


"Hah... melelahkan sekali...."


"Aku bertanya dengan serius, darimana kau?" tanya Arlen.


"Tidak kemana-mana. Aku hanya berlari-lari untuk olahraga." Cassandra beralasan.


"Olahraga di musim dingin? Kau pikir aku bodoh? Lagipula aku juga tadi sudah memeriksa taman belakang, dan kau tak ada di sana," balas Arlen membuat wanita itu bungkam.


Tak tahu bagaiamana lagi harus membohongi pria satu ini.


"Kutanya sekali lagi, darimana kau?"


Karena tak bisa lagi beralasan dan berbohong, wanita itu pun melakukan sesuatu yang tak pernah ia lakukan.


Tanpa disangka, wanita itu seketika men jinjit lalu mengecup singkat bibir merah muda yang terus bergerak tersebut.


"Dari hatimu," ucapnya usil dengan jari telunjuk yang diposisikan di depan bibirnya.


Wanita itu pun berlari sekencang-kencangnya menaikki tangga menuju kamarnya.


Arlen menyentuh bibirnya dengan jarinya, lalu tersenyum seraya menghela nafas pelan.


"Aku rela tidak berbicara dan bertemu dengannya jika balasannya adalah bibirnya."


...🥀...


Cassandra Pov


Ah, aku tak menyangka jika aku berani-beraninya melakukan hal itu. Mencium dia secara tiba-tiba, bukankah itu terlalu terang-terangan?


Bagaimana bisa aku menghadapinya besok?


Lagipula kenapa aku tiba-tiba melakukan itu padanya, sih?!


Argh! Aku tak bisa mengontrol rasa maluku, dan bibirnya kembali tak bisa hilang dari bayanganku.


Kubenamkan wajahku di bantalku, kemudian tetap pada posisi nyaman ini.


Pikiranku kembali merangkak ke saat-saat aku mendengar percakapan tersembunyi itu.


Flashback


Aku pun mendekatkan telingaku untuk mendengar suara dari dalam. Dengan hati-hati, aku pun berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun.


"Ada apa kau tiba-tiba memanggilku tanpa alasan seperti ini?"


"Apa salah jika aku ingin melihat wajah cantik kekasihku?"


Mataku terpelotot ketika aku mendengar suara pria yang tidak asing. Bukan tidak asing, tapi aku mengenalinya. Sangat.


"Ck, aku bukan kekasihmu. Kau tahu bukan bahwa aku sekarang adalah istri Arlen, harap ingat itu."


"Istri? Jika bukan dari bantuan dariku, kau tidak mungkin bisa menjadi istri Duke itu, Sayang."


Bantuan? Bantuan apa?


Aku harus mendengar lebih jelas, dan juga harus ekstra hati-hati. Ingat Cassandra, ingat.


Hati-hati.


"Jika aku tidak membunuh adiknya, maka kau tidak akan pernah bisa menjadi istrinya, Ana."


Membunuh adik?! Jadi, yang membunuh adik Arlen ternyata adalah Pangeran Darren?!


Dan mereka bersekongkol untuk menuduh Cassandra la Devoline?! Astaga benar-benar!


"Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu! Kau tidak berhak memanggilku seperti itu!"


Sebenarnya aku ingin mendengarkan apalagi yang akan mereka bicarakan, namun ada suatu dorongan dari diriku untuk menyuruhku segera pergi dari sini.


Dengan segera dan perlahan-lahan, aku pun melangkah pergi. Bisa bahaya jika Anastasia menemukanku mengikutinya sampai ke sini.


Bisa-bisa mereka langsung membunuhku. Jika seperti itu, aku jadi seperti karakter utama dari game yang mati sebelum sempat melawan boss.


Dan aku akan sangat malu jika mati seperti itu.


Sama halnya saat aku mati karena tersedak gigi waktu itu.


Flashback off


Aku pun bertukar posisi menjadi telentang sambil menatap langit-langit kamarku.


Berarti jika Pangeran Darren adalah kekasih Anastasia, ada kemungkinan dia dan Anastasia telah melakukan hal itu, bukan?


Mengingat Arlen yang rela menunggu Cassandra la Devoline untuk bermalam dengannya.


Berarti ada juga kemungkinan bahwa anak yang dikandungnya bukan milik Arlen melainkan milik Pangeran Darren?


Bisa jadi.


Dan Arlen juga waktu itu mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi pada malam itu.


Kemungkinan Anastasia juga merencanakan hal itu dengan berpura-pura telah merelakan Arlen untuk Cassandra.


Yang menjadi pertanyaannya adalah, apa tujuan Pangeran Darren dengan mematuhi seluruh permintaan Anastasia?


Ada dua kemungkinan. Pertama, Pangeran Darren mungkin terpaksa. Kedua, Pangeran Darren mencintai Anastasia.


Sepertinya kemungkinan pertama ini sulit dipercaya. Karena jika Pangeran Darren melakukannya dengan terpaksa, terpaksa karena apa?


Pangeran Darren adalah seorang Pangeran, dia juga tidak mungkin takut karena diancam hanya oleh seorang wanita.


Itu artinya, Pangeran Darren mencintai Anastasia. Ya, itu kemungkinan yang lebih masuk akal.


Aku pun menghela nafas, semua ini terlalu rumit.


Jika Pangeran Darren benar-benar mencintai Anastasia, itu artinya Pangeran Darren tidak mau Anastasia bermalam dengan pria mana pun bukan?


Siapa yang rela jika wanita yang dicintainya bermalam dengan pria lain?


Kecuali jika pria tersebut benar-benar telah ikhlas akan kebahagiaan wanita yang dicintainya.


Apa ada kemungkinan bahwa Arlen dan Anastasia benar-benar tidak melakukannya malam itu?


Jika memang benar seperti itu, entah kenapa aku merasa hatiku sedikit lega. Seakan baru saja terlepas dari lilitan rantai yang mencekik.


Dan aku benar-benar berharap jika semua benar-benar seperti perkiraanku.


Karena aku masih saja merasa tidak rela ketika mengetahui bahwa Arlen bermalam dengan wanita berkaki dua itu.


Aku harus mencari petunjuk lain, agar aku bisa membuat rencana secepatnya, dan tahu akan segala rencana licik Anastasia.


Sudah kuduga wanita itu memang belum sepenuhnya tobat, dapet kulihat dari caranya memandangku.


Hah... aku benar-benar lelah, sebaiknya aku berendam di air hangat terlebih dahulu, setelah itu tidur.


Saat aku ingin beranjak pergi ke kamar mandi, terdengar suara ketukan di pintu kamarku, dan aku langsung mengadahkan kepalaku.


Dengan segera aku beranjak melihat siapa itu, lalu kubuka pintu kamarku.


Sosok yang menjulang tinggi dengan bahu lebarnya terpatri di depanku.


Astaga, aku jadi teringat kejadian tadi. Aku sekarang benar-benar tak ingin menemuinya, bukan karena aku benci tapi karena aku terlalu malu.


Aku memalingkan wajahku, dan mencengkram ujung rok ku.


"Apa kau butuh sesu--"


Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, wajahku ditangkup dan sebuah tangan kekar melilit di pinggang ku.


Bibirku disergap begitu saja, dan aku tak bisa melepaskan tautan ini karena tubuhnya yang semakin merengkuh ku mendekat padanya.


Tangan kanannya menekan tengkuk ku, agar dia semakin leluasa menguasai bibirku.


Sedangkan tangan kirinya semakin mendekap erat pinggang ku hingga bertubrukan dengan tubuhnya tanpa jarak sedikitpun.


Kedua tanganku tergerak dengan sendirinya untuk bergantung di lehernya yang lumayan tinggi dari jangkauanku.


Aku memiringkan kepalaku agar dia tidak kesusahan. Tenaga di kakiku hampir saja hilang ketika lidahnya menyeruak dan menelusuri rongga mulutku.


Dia bergerak tak terkendali di dalam mulutku, hingga aku hanya bisa pasrah dengan seluruh pergerakannya.


Namun lambat laun, aku kehabisan nafasku. Aku memukul pelan dadanya untuk menyuruhnya melepaskanku.


Awalnya dia tidak menghiraukan, lalu saat aku memukul keras dadanya barulah dia sadar dan secara tidak rela melepaskan diriku.


Kutarik nafas sebanyak yang aku perlu, dengan terengah-engah dan mengusap bibirku yang sedikit lengas.


"Kau mau membuatku mati?" tanyaku kesal dan dia hanya menampilkan senyum miringnya.


"Salahkan dirimu yang telah memancing ku," jawabnya.


"Memancing, sejak kapan aku memancingmu?"


"Di saat aku dengan serius menanyakan dari mana dirimu."


"Oh ayolah, itu hanya kecupan singkat saja," protes ku. Walaupun aku sempat kalang kabur karena kecupan singkat yang aku katakan ini.


"Mungkin bagi pria lain itu biasa saja. Tapi tidak denganku, pria yang jarang sekali bermesraan dengan istrinya."


Dia berkata jujur seperti itu membuatku tergelak. Apa dia baru saja mengakui bahwa dirinya kurang belaian?


"Astaga, bagaimana kau bisa berkata jujur seperti itu?" tawaku menutup mulutku yang tak bisa mengendalikan tawa.


"Kau yang membuatku seperti ini, namun sekarang kau malah menertawakanku. Kau kejam sekali, Cintaku."


Apa dia baru saja membuat candaan sekarang, atau dia merajuk? Sungguh dia membuatku tak bisa menahan tawaku.


"Ha...." Aku menghela nafas pelan ketika sudah puas dengan tawaku.


"Kau sudah puas tertawa?"


"S-sudah, hehe," cengirku. Entah kenapa, rasanya aku lega sekali. Sangat berbeda dengan beberapa hari yang lalu.


"Jadi, apa kita sudah berbaikan?" tanyanya membuatku bingung.


"Hah?"


"Sejak beberapa hari ini kau selalu mengurung diri di kamar, kau seperti tak ingin menemuiku,"  paparnya membuatku tertunduk.


"A-aku bukan bermaksud begitu, aku hanya malas keluar, itu saja," kilahku.


"Benarkah?" telisiknya.


Saat aku ingin membalasnya, dia langsung menarik lenganku dan memutar posisi kami.


Dia mengkungkungku dan mengunci pintu kamar yang berada di belakang punggungku.


"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau membohongiku, bukan?" ancamnya membuatku menelan sesuatu yang men janggal di tenggorokanku.


Dia menatapku seolah-olah hendak memangsaku dan tidak akan membiarkanku melarikan diri begitu saja.


"Huh... baiklah-baiklah. Aku memang marah padamu, sangat marah sehingga aku bisa saja menamparmu seperti waktu itu."


"Kalau begitu tampar aku. Tampar aku, jika itu bisa membuatmu tidak lagi marah padaku," selanya.


"Tidak, tidak perlu. Karena mau aku tampar berapa kali dirimu, tak akan mengubah fakta bahwa Anastasia tengah mengandung anakmu."


"Mungkin," sambungku dalam hati.


"Aku pria brengsek, kan?"


Aku mendongakkan wajahku yang sempat menunduk, dan dia terlihat sangat bersalah.


Membuatku tak tega. Senyum jijik yang terpatri di wajahnya serta dengan kernyitan di alisnya seakan menusuk hatiku.


Pandangannya menuju ke bawah, seperti tak pantas untuk menatapku.


"Aku dengan bangganya berkata bahwa aku mencintaimu. Tapi yang kulakukan hanyalah menyakitimu terus menerus dan membuatmu kecewa terhadapku."


"Aku memang bodoh, Cassandra. Sama seperti yang kulakukan saat aku menyakitimu dulu," ungkapnya membuatku mengepalkan tanganku.


Tidak, bukan kau yang salah. Ini semua bukan salahmu, dan kau tidak perlu merasa bersalah padaku.


"Tidak, kau tidak bodoh." Aku menangkup wajahnya dengan kedua telapak tanganku lalu menatapnya dalam dengan senyuman lirih.


"Kau hanya tidak tahu. Dan kau tidak perlu minta maaf padaku. Karena kau sama sekali tidak bersalah," balasku masih setia menatap netra birunya yang memukau.


Netra birunya bergerak kearahku, lalu dia menyentuh telapak tanganku dengan lembutnya.


"Lagipula kau juga telah selalu melindungiku, kau juga selalu mengkhawatirkan diriku. Itu... sudah lebih cukup bagiku. Dan aku hanya bisa berkata...."


Kurekahkan senyumku dan melanjutkan perkataanku. Dan dia tampak menunggu apa yang hendak aku katakan. "Aku mencintaimu."


Dia tampak menunjukkan senyum lirih di wajah tampannya yang tak pernah membuatku bosan menatapnya.


"Aku lebih mencintaimu."


Tiga kata itu membuat hatiku seakan dihujani oleh ribuan bunga yang bermekaran.


Dan entah kenapa airmataku mengalir begitu saja membayangkan hari di mana aku harus melepaskannya.


"Maaf... aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Airmataku turun begitu saja...," kataku sembari menyeka airmataku dengan cepat.


"Menangislah sebanyak yang kau mau, karena aku akan selalu setia menemanimu di setiap tangismu."


Tangisku semakin menjadi-jadi di saat dia berkata seperti itu. Karena aku belum pernah mendengar orang mengatakan hal itu kepadaku ketika aku menangis.


Aku terharu, aku bahagia, aku senang. Hal itu baru saja kurasakan ketika aku baru sampai di dunia ini.


Hal itu baru saja kurasakan ketika aku bertemu dengan dia.


Pria yang kucintai.


Tanpa izin, aku langsung memeluknya dan mendekatnya erat. Dia sedikit membungkukkan badannya agar aku bisa menaruh daguku di bahunya.


Kedua tangan kekarnya membalas pelukanku dan mendekapku dengan erat.


Kehangatan langsung menyambut, tangis semakin menjadi-jadi.


"A-aku sudah lelah bersikap baik-baik saja. Ak-aku sedih hiks..., aku merasa hatiku sakit... ketika mengetahui kau bermalam dengan Anastasia. Aku ingin marah, namun aku tak berani mengungkapkan kemarahan itu padamu. Aku...."


Kucurahkan segalanya isi hatiku. Aku sudah tak kuat berpura-pura, aku sudah tak kuat menyembunyikan perasaanku.


Aku ingin menyerahkan seluruh kekesalanku, kesedihanku, kemarahanku, kekecewaanku, dan kebahagiaanku padanya.


"Aku... aku merasa duniaku hancur ketika mengetahui bahwa Anastasia tengah mengandung anakmu. Aku seperti orang gila! Aku merasa seperti orang gila karena rasa sakit itu! Aku... aku mencintaimu ...hiks... aku tak ingin kau menjadi milik orang lain. Aku hanya ingin kau menjadi milikku seorang...!"


Elusan pada pucuk kepalaku dan punggungku membuatku merasa sedikit tenang.


Dan hatiku merasa sangat lega dan kosong ketika aku mengungkapkan segalanya.


"Ungkapkan semua... ungkapkan semua kesedihanmu. Aku sangat senang ketika kau mau jujur padaku, Cintaku."


Sebuah senyuman terbentuk di tengah-tengah tangisku. Betapa beruntungnya aku, dapat memiliki pria ini walau hanya untuk sementara.


Apa ada pria yang lebih baik dari dirinya? Bagi orang lain mungkin ada, tapi bagiku tidak.


Dia, adalah pria terbaik yang pernah kutemui.


Tapi sayang, dia tidak sepenuhnya milikku.


Dia menarik diri dari pelukan ini, aku tak rela. Namun dia memaksa dengan perlahan untuk melepas pelukan ini.


Tangannya terulur untuk mengusap pipiku, lalu mendongakkan wajahku. Netta biru langitnya kembali menatapku teduh.


Wajahnya memiring dan kian mendekat padaku. Sehingga aku pun menutup mataku yang sudah dihiasi sisa-sisa airmata.


Bibirnya menekan bibirku lembut, sehingga aku bisa merasakan seluruh  perasaan yang ia salurkan melalui tautan ini.


Aku... menginginkan dia sepenuhnya.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^23 Desember 2020^^^