
Cassandra Pov
"Cassandra! Cassandra! Akhirnya kau datang! Aku sudah menunggumu dari tadi!" teriak Ana menghampiriku saat aku memasuki ruangan ganti pengantin wanita.
Ah, apa aku belum memberitahu kalian? Maaf, aku lupa. Hari ini adalah pernikahan Ana dan Pangeran Darren sekaligus penobatan Raja dan Ratu baru kerajaan Erosphire.
"Maaf, Ana. Tadi keretaku sempat bermasalah saat ingin datang kemari," jawabku.
"Benarkah?! Apa kau terluka?!"
Aku melambai-lambaikan kedua tanganku menyatakan tidak. "Aku baik-baik saja."
"Begitu? Syukurlah." Ana menghembuskan nafas sembari menunduk. Namun tak lama dari itu, dia kembali mendongak.
"Hei, bagaimana dengan gaunku? Apa dadanya terlalu rendah? Atau aku tidak cocok memakainya?" tanyanya bertubi-tubi.
Ya, aku bisa mengerti itu. Siapa yang tidak gugup saat akan menjalankan ritual suci dengan lelaki yang mereka sukai?
"Tenang. Kau kelihatan sempurna. Wanita mana yang bisa menandingi kecantikan seorang Anastasia Emerald? Oh ya, aku lupa! Kau kan sebentar lagi akan menjadi Anastasia Erosphire, hohoho~" godaku dengan kedua alisku yang kuangkat.
"Ish! Diam! Kau juga, bukankah sebentar lagi kau akan mencuri nama belakang sahabatku?" Ana terkekeh.
Seketika, senyumku seakan ingin pudar begitu saja. Sudah hampir sebulan semenjak kejadian membahagiakan itu. Mengingat situasi sekarang, entah kenapa cukup membuatku agak sedikit kecewa.
"Jadi, kapan kalian akan menikah? Para rakyat sudah beberapa kali membicarakan kapan kalian akan menikah," celetuk Ana.
"Ah, sudahlah. Lagipula, setelah mendapat gelar penasihat kerajaan, pekerjaanku semakin menumpuk. Kau tak perlu memikirkan diriku, cukup kau pikirkan saja bagaimana kau akan melewatkan malam pertamamu nanti, hihi~"
"Dasar! Jangan mengingatkanku akan hal memalukan seperti itu!"
Aku terkekeh mendapati Ana yang kesal dan wajahnya yang merah padam.
"Kenapa? Itu adalah kewajibanmu. Lagipula, melakukan hal tersebut adalah hukum alam. Kau harus terbiasa," ucapku semakin gencar menjahili Ana.
"Kau berbicara seolah-olah kau telah sangat mengerti tentang melakukan hal itu," balas Ana. Seketika, dia pun melolotkan matanya. "Hah! Atau jangan-jangan kalian pernah melakukannya sebelum sah menjadi sepasang suami is--"
"Kau gila, ya?! Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu di luar nikah. Asal kau tahu, aku tersinggung." Entah kenapa malah jadi aku yang kesal.
"Hahaha! Memangnya ada orang yang bilang jika mereka tersinggung?" Ana tergelak.
"Lady, waktu kita tidak banyak."
Mendadak muncul kepala pelayan istana sembari menunduk. Kulirik Ana di sebelahku, Ana terlihat tengah kesal.
"Apa kau tidak lihat bahwa aku tengah dalam perbincangan? Bagaimana bisa kau begitu lancang dengan menginterupsi perkataanku? Lain kali, biasakanlah untuk sopan sebelum kau kehilangan kepalamu," ketusnya.
Seketika aku terkejut, apa ada sesuatu yang membuat Ana marah?
"Baiklah, Lady. Kalau begitu saya akan memberikan anda beberapa waktu lagi," ujar pelayan tadi kemudian kembali membereskan beberapa barang yang berantakan.
"Ada apa? Kau sepertinya terlihat sangat kesal," kataku berusaha untuk tidak menyinggungnya.
"Hah... dia itu, sudah sejak lama bersikap seenaknya kepadaku. Dia bersikap seolah-olah aku adalah wanita yang tidak tahu apa-apa tentang etika kerajaan. Dan dia juga bersikap, seolah-olah aku ini adalah hanya wanita rendah yang beruntung bisa mendapatkan cinta dari seorang calon raja. Bagaimana bisa aku tidak kesal ketika diperlakukan seperti itu?!" cecar Ana panjang lebar.
Jika sudah berbicara dengan sangat panjang seperti itu, tandanya bahwa Ana benar-benar tengah kesal.
"Kau juga lihat, bukan? Dia bahkan tidak meminta maaf atau berpamit padaku, benar-benar tidak punya sopan santun! Cih!"
"Sudahlah, kau abaikan saja. Lagipula aku juga tahu, kau juga akan menjadi ratu yang sangat hebat nantinya," bujukku.
Ana kemudian tertunduk gelisah. "Tentang itu... apa aku benar-benar bisa menjadi ratu yang baik? Apa aku bisa menjalankan tugas-tugasku dengan benar nantinya? Jujur, aku masih merasa ragu, Cassandra."
Kutepuk bahu sahabatku satu ini, kemudian menatapnya. "Hei, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Bahkan Pangeran Darren pun percaya pada dirimu untuk menjadikanmu pendampingnya. Lantas, kenapa kau malah merasa bahwa dirimu tak pantas?"
Ana terdiam dengan alis mengerut. Sepertinya dia masih ragu akan semuanya.
"Lagipula. Suatu kesalahan sudah pasti akan terjadi di dalam hidup kita. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah berusaha untuk tidak mengulang kesalahan itu lagi," terangku panjang lebar.
Seperkian detik kemudian, Ana pun kembali menghela nafas. Kemudian dia pun mengukir senyum manisnya kembali. "Kau benar! Aku harus percaya pada diriku sendiri! Terima kasih, Cassandra! Kau memang sahabat sejatiku."
Ana pun memelukku dengan erat dengan nada bicaranya yang manja di akhir kalimat, membuatku tertawa. "Sama-sama, sahabat."
"Kalau begitu. Aku harus kembali mempersiapkan diriku, atau bibi tua itu akan kembali mengomel dengan nafas baunya," kelakar Ana.
Aku terkekeh singkat. "Jika boleh, apa aku boleh membantumu mempersiapkan diri?"
"Tentu saja!"
...~•~...
Pernikahan diadakan di sebuah gereja istana yang terletak di tengah-tengah ibukota Erosphire.
Saat ini, aku tengah duduk di kursi yang telah tersedia dengan Arlen di sampingku. Kulirik dia yang ada di sampingku, Arlen terlihat sangat fokus dengan pernikahan yang diselenggarakan di hadapannya.
"Ada apa?"
Seketika aku tersentak ketika dia menangkap bahwa aku tengah menatapnya. "A-ah, tidak ada apa-apa. Sepertinya, kau fokus sekali."
"Tentu saja. Aku tidak mungkin melewatkan waktu di mana sahabatku menikah," jawabnya membuatku tersenyum getir.
"K-kau benar juga."
Selepas itu, kami berdua pun kembali fokus pada ritual sakral yang berada tepat di hadapan kami.
"Dengan begini, aku menyatakan kalian berdua sebagai sepasang suami-istri. Kau bisa mencium pengantin wanita."
Dari kejauhan, aku bisa melihat kebahagiaan menempeli pangeran Darren dan Ana.
Tanpa sadar, air mataku terjatuh. Percikan sinar kebahagiaan mereka, mengenai hatiku hingga rasa haruku tak bisa kutahan ketika melihat sahabatku yang telah kembali pada cahaya kebaikan.
Syukurlah...
Aku pun mengalungi lengan Arlen sembari menyandarkan kepalaku di bahunya yang tinggi. Dia hanya tersenyum tipis, kemudian menaruh pipinya di atas pucuk kepalaku.
Pada akhirnya, kini Raja dan Ratu baru telah terbentuk di Kerajaan Erosphire, ketika mahkota mereka masing-masing telah berada di atas kepala mereka.
Aku hanya bisa berharap... semoga mereka bisa memimpin kerajaan ini kepada kebaikan dan keadilan yang sungguh bersinar.
...~•~...
Seminggu kemudian....
Haish! Kenapa pekerjaan ini tidak ada habis-habisnya?! Bahkan kertas yang akan ditandatangani pun sedari beberapa hari yang lalu tidak berkurang.
Karena setiap harinya terus bertambah, itulah kenapa.
Menjadi penasehat kerajaan dan Countess secara sekaligus benar-benar melelahkan. Aku benar-benar ingin bersenang-senang.
Bahkan Arlen pun juga sibuk dengan pekerjaannya, sehingga kami pun belum pernah melihat satu sama lain selama satu minggu ini.
Ketika tenggelam dalam lamunanku, ada sebuah suara batu yang dilemparkan ke jendela ruang kerjaku sehingga aku langsung menoleh.
Mataku membelalak ketika mendapati sosoknya yang tengah mengetuk jendela kacaku. "Kenapa kau tidak lewat pintu depan? Astaga!"
Aku pun membuka jendelaku kemudian membiarkannya masuk. Arlen pun melompat kemudian langsung mendekapku erat.
"Aku merindukanmu."
Sebuah lengkungan senyum tak bisa kutahan untuk muncul di wajahku, sehingga kubalas pelukannya dengan mengalungkan kedua tanganku di punggungnya .
"Aku juga."
"Apa kau ingin pergi denganku?" tanyanya.
"Kemana?" Aku berbalik tanya.
"Ada sebuah danau di dekat sini, kita bisa berjalan-jalan menghabiskan waktu."
Aku sebenarnya ingin ikut, namun pekerjaanku masih banyak. "Tidak bisa, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."
"Aku akan membantumu mengerjakannya nanti," jawabnya.
"Ide bagus. Kalau begitu, aku akan berganti pakaian dulu. Kau tunggu saja di sini," ucapku melepaskan dekapan kami dan pergi ke kamarku.
.
.
.
.
Setelah memakai pakaian yang lebih sederhana, kami pun pergi dengan berjalan kaki karena Arlen bilang bahwa tempatnya tidak jauh.
Saat kami telah sampai, aku tak bisa menahan untuk tak takjub. Danau ini sangat indah ketika cahaya matahari senja menerpa airnya sehingga menghasilkan kilauan indah yang memesona untuk dipandang.
Kami pun berjalan perlahan di atas jembatan panjang yang mengitari danau luas ini, dengan angin lembut yang membelai surai dan kulit kami.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan bahwa tangannya kini menggengam tanganku. Hingga aku bisa merasakan kehangatan yang ia salurkan padaku.
"Apa kau sudah bisa menceritakan tentang dunia yang pernah kau lalui, sekarang?"
Mendadak aku terkejut. Dia tiba-tiba menanyakan hal itu padaku. Namun, janji tetaplah janji. Aku harus menepatinya.
"Baiklah. Sebenarnya sedikit rumit menjelaskan bagaimana dunia itu. Namun, dunia itu adalah dunia di mana kau bisa mendengar suaraku dari kejauhan berkat teknologi," jelasku.
"Mendengar suaramu dari kejauhan? Teknologi?"
Aku tersenyum. Sudah pasti dia akan kebingungan seperti itu. "Ya, misalkan saja aku ada di Kerajaan Nephorine, sedangkan kau ada di Erosphire. Kau bisa mendengar suaraku melalui telepon."
"Bagaimana mereka bisa melakukannya? Apa mereka melakukannya dengan sihir?" tanyanya lagi membuatku tekekeh.
"Tentu saja tidak. Tidak ada sihir di zaman itu, semuanya menggunakan akal pikir manusia," jawabku.
"Ceritakan lagi."
"Baiklah jika kau memaksa," ujarku kemudian menjelaskan berbagai macam hal yang hanya ada di dunia zaman teknologi sembari berjalan santai mengitari danau.
Hingga akhirnya, dia pun mengatakn sesuatu yang menusuk hatiku.
"Hei, bagaimana menurutmu tentang pernikahan kita? Apa kau ingin melakukannya secepat mungkin?" tanyanya membuatku membeku.
Bagaimana caranya aku membalas itu?
Sebenarnya... aku sudah tidak terlalu peduli dengan pernikahan, lagipula awalnya kami memang sudah terhubung dengan tali pernikahan.
Namun tentu saja aku ingin melakukannya karena aku ingin dinyatakan sebagai pemilik sah dari kekasihku di waktu ini.
Lagipula jika ingin menggelar pernikahan di saat seperti ini, tentu kami akan kewalahan. Tugas dan pekerjaan kami yang sempat tertunda di perang lalu, harus dilaksanakan segera mungkin.
Ditambah dengan status kami yang baru, membuat pekerjaan kami semakin bertambah hari demi harinya.
"Kumohon jangan marah. Sebenarnya...," ucapku menggantung karena ragu dan sedikit takut. Namun mau tak mau aku harus mengatakannya.
"Aku... tidak ingin menikah terlebih dahulu di saat seperti ini. Kau tahu bukan, bahwa sekarang kita sangat sibuk? Bahkan ingin bertemu pun sangat susah, apalagi ingin menggelar pernikahan yang sangat memakan waktu. Jadi kupikir... ada baiknya kita menunda terlebih dahulu untuk sementara...," jelasku dengan nada tenggelam.
Jujur, aku benar-benar takut bahwa dia mana marah saat ini. Karena, mau bagaimanapun dia juga telah melamarku di depan seluruh rakyat Erosphire waktu itu.
"Tidak kusangka ternyata kita sepemikiran."
Aku mendongak tak percaya ketika dia mengatakan hal itu. Dia pun langsung menatapku dalam dengan iris birunya yang dilapisi cahaya senja yang menerpa.
"Kupikir, kau akan protes dan marah kepadaku karena telah menunda pernikahan selama ini. Namun tidak disangka, ternyata kau juga memikirkan apa yang kupikirkan."
Arlen pun kembali mendekapku, aku masih tidak percaya dengan perkataannya.
"Oleh karena itu, kita tunda saja terlebih pernikahan kita," ucapnya berbisik membuatku mengangguk.
"Lagipula, bukankah kita sudah menjadi sepasang suami istri dari awal?" kataku terkekeh menatapnya di sela-sela dekapan kami.
"Aku tidak peduli kau istriku atau bukan. Asalkan aku bisa berada di sampingmu, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain itu," paparnya membuatku merasakan hangat di seluruh sarafku.
"Aku mencintaimu." Tanpa sadar, tiba-tiba saja kata-kata itu muncul dari bibirku.
Pandanganku tak lepas dari dirinya yang terus menatapku dengan kehangatan senyum manisnya yang membaur dengan cahaya matahari senja.
"Aku lebih mencintaimu."
Wajahnya mendekat, nafasnya menerpa, tatapannya mendalam, bibir persiknya hampir saja sampai pada bibir milikku.
Kebahagiaan apa lagi yang bisa kuminta jika aku telah memiliki dirinya tepat di hadapanku?
Hal apa lagi yang lebih manis dari bibirnya yang tengah tersenyum padaku?
Hal apa lagi yang lebih lembut dari tatapan iris birunya yang menusukku?
Hal apa lagi... yang lebih besar dari pengorbanan dan cintanya kepadaku?
Pada akhirnya, bibir kami pun bertemu di tengah-tengah cahaya senja yang sedari tadi seakan tersenyum menikmati segala detik waktu yang kami lewatkan.
Tidak ada hal lain lagi... yang kuinginkan selain dirinya.
Arlen de Floniouse.
Terima kasih... telah berbaik hati untuk hadir di kehidupanku.
...08.04.2021...