The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Lamaran sang Pangeran



Previously....


Anastasia pun tampak menarik napas dalam duduknya. Namun dalam sekejap, gadis itu langsung berdiri membuat semua yang ada di ruangan itu sedikit terkejut.


Tatapan gadis bernetra hijau permata itu tampak serius, hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu yang mampu membuat semua orang terperangah kecuali Arlen.


"Aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Arlen."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(40) ...


"Sia-sia dia mengungkapkan semua ide terbaiknya. Karena mau bagaimana pun, pada akhirnya kitalah yang akan menang," gelak Pangeran Yari sembari menegak minuman anggur segarnya dan duduk santai di kursi panjang yang ada di ruangan pribadinya.


Dua sosok lain yang berada di ruangan itu hanya diam. Seorang gadis dengan rambut panjangnya yang hitam, hanya bisa diam mendengarkan segalanya.


Sedangkan sang lelaki yang di sebelahnya yang mempunyai surai coklat muda, tampak berwaspada akan seluruh kondisi yang terjadi.


Pertama, hal janggal yang terjadi di negeri ini adalah kehadiran penyihir yang tak diketahui asal-usulnya itu. Kedua, gadis bergelar Countess la Devoline itu yang tiba-tiba sangat bersikeras untuk mengadakan perang.


"Kau sudah berdiskusi dengan pangeran Naelson tentang rencana kita, bukan?" tanya lelaki bersurai coklat muda itu.


"Tentu saja, terutama mereka akan mengerahkan banyak pasukan di pertahanan utama mereka ketika Duke Floniouse datang menyerang mereka. Seusai Duke itu musnah, barulah mereka akan menyerang Erosphire habis-habisan setelah itu mereka akan mengalah ketika aku menyerang mereka," papar pangeran Yari panjang lebar.


Lelaki bersurai coklat muda itu mengangguk mengerti, semuanya memang berjalan dengan mulus. Namun tetap saja, kehadiran Countess itu bisa saja berbahaya bagi mereka.


"Tapi Kakak, tetaplah berhati-hati. Karena jika kau ketahuan, maka kau akan dicap pengkhianat untuk selamanya. Dan takhta pun bukanlah menjadi milikmu lagi," peringat gadis berambut hitam legam itu.


"Kau tenang saja, Adikku. Semua sudah berada dalam kendaliku, kau cukup mainkan peranmu saja," kata pangeran Yari berbangga sembari menyisir helai hitamnya dengan jarinya.


"Apa Countess la Devoline akan ikut serta dalam perang ini?" Lelaki berambut coklat muda itu menyahut.


"Ya. Dia akan memimpin pasukan pemanah dan menginstruksikan mereka ketika waktunya telah tepat untuk menurunkan hujan panah," jelas pangeran Yari.


"Bagus. Di saat wanita itu tengah lengah, kau harus membunuhnya," tegas lelaki berambut coklat itu dengan pandangan dingin.


Lantas, gadis yang memiliki rambut hitam di sebelahnya terperangah dan menatap tidak percaya lelaki yang disukainya itu. "Me-membunuhnya... katamu?"


"Ya. Atau kau... lebih mementingkan kebahagiaan wanita itu dibandingkan kebahagiaanku?" tanya lelaki bersurai coklat muda itu menatap tak suka sang gadis.


Ketika dirinya berpikir ulang tentang semua situasi ini, gadis itu malah menjadi bimbang sendiri. Apa benar ini yang diinginkannya? 


Apa benar situasi mengerikan seperti ini adalah hal yang dia inginkan? Padahal, awalnya dia hanya ingin bersama dan mendukung lelaki yang ia sukai dan berharap lelaki itu bisa mencintainya kembali.


Namun ternyata, lelaki yang memiliki rambut coklat itu mempunyai akar dendam yang amat dalam. Sehingga dirinya butuh waktu lama dan butuh kerja keras agar bisa mencabut akar dendam itu.


Sungguh semua ini membuatnya ragu dan khawatir. Karena bagaimanapun, dia tentu tidak tega ketika melihat sahabatnya dibunuh begitu saja oleh lelaki yang ia sukai.


Namun di sisi lain, jika dia tidak menuruti keinginan lelaki tersebut, maka perasaan yang dimilikinya tak akan pernah terbalas dan dirinya akan berujung tenggelam dalam penderitaannya.


Cukup lama gadis itu terdiam, hingga akhirnya dia mendorong hela nafas yang sangat panjang. Pertanda bahwa gadis tersebut telah membuat keputusan.


"Baiklah, aku akan mendukung segala keputusanmu," ucap gadis itu tegas.


Lelaki berambut coklat muda dan pangeran Yari saling melempar pandangan sejenak, kemudian senyum miring terpahat di keduanya.


"Kalau begitu, kau teruslah hasut dia dan carilah informasi sebanyak mungkin dari Countess itu, Adikku," perintah pangeran Yari.


Gadis itu mengangguk menuruti segala tugas yang diberikan untuknya, demi rasa cinta membakar yang ia tujukan pada lelaki berambut coklat muda di sampingnya.


Ternyata, belati cinta yang selama ini gadis itu genggam, kini telah melayang dan memutus tali persahabatan yang telah ia jalani selama bertahun-tahun tanpa bersisa.


Lelaki bersurai coklat muda yang berada di sampingnya kini tersenyum sembari menarik punggung tangan sang gadis dan menciumnya penuh kelembutan.


"Aku mengandalkanmu... Veronica."


...~•~...


"Aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Arlen."


Suasana langsung hening, bahkan seluruh suara yang terlayang langsung menghilang begitu saja meninggalkan kesunyian yang bersisa.


Cassandra pun ikut membisu dibuatnya, gadis itu tidak menyangka hal ini sebelumnya. Dapat ia lihat, hanya Arlen yang tidak terkejut dengan semua ini.


Itu berarti, lelaki itu telah mengetahui hal ini. Mengapa dirinya tak diberitahu sedikitpun tentang hal ini?


"Jangan berbicara hal yang tidak masuk akal, Anastasia Emerald!" Count Emerald menaikkan volume suaranya mendengar omong kosong dari putrinya.


Sebuah pertunangan serta pernikahan bukanlah permainan, dan putrinya itu tiba-tiba dan seenaknya saja mempermainkan hubungan kedua keluarga yang telah terjalin selama bertahun-tahun.


Countess Emerald hanya bisa terdiam dan mengamati tindakan putrinya yang di luar dugaan. Wanita berumur itu tidak menyangka bahwa Anastasia yang biasanya adalah gadis penurut, kini tiba-tiba saja melakukan tindakan nekat seperti ini.


Pasangan Duke dan Duchess Floniouse juga hanya bisa diam sembari menunggu penjelasan atas semua kejadian yang terjadi secara tiba-tiba ini.


Viscount la Devoline juga hanya bisa diam. Dirinya bahkan tak tahu apa yang membuat putri dari keluarga Emerald mengundangnya ke sini.


"Aku bersungguh-sungguh, Ayah. Aku tidak menginginkan pertunangan ini, begitupun dengan Arlen. Kami hanya sebatas teman masa kecil, tidak ada cinta yang terkait di antara kami," papar Anastasia tak gentar dengan nada bicara ayahnya yang terdengar sangat menyeramkan.


"Ana benar. Aku memang tidak menginginkan pertunangan ini sejak awal, karena aku telah memiliki perempuan lain di hatiku," lugas Arlen sembari menggenggam tangan milik Cassandra.


Gadis itu berusaha untuk melepaskan genggaman kekasihnya. Namun tak bisa dipungkiri, tenaga lekaki itu jauh lebih besar darinya.


"Cassandra la Devoline. Itulah nama gadis yang aku inginkan untuk mendampingi sepanjang hidupku." Lelaki beriris biru langit itu berkata tanpa keraguan.


Cassandra terhenyak akan perkataan dan kegigihan Anastasia. Gadis bersurai pirang itu berkata bahwa dia tidak menginginkan pertunangan dengan Arlen, padahal gadis bernetra hijau itu sangat mencintai kekasihnya.


Begitupun dengan Arlen, Cassandra merasa sangat bahagia ketika lelaki itu benar-benar memperjuangkan dirinya.


Duke dan Duchess Floniouse tidak terkejut dengan perkataan Arlen. Karena mereka telah mengetahui, putra mereka memang tidak mencintai Anastasia.


Sepertinya... memang sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan berjalan dengan baik.


"Duke dan Duchess Floniouse. Apa anda berdua ingat, empat tahun lalu hampir saja nyawa Arlen melayang karena sebuah racun?" tanya Anastasia.


Duke dan Duchess Floniouse mengangguk karena mereka masih mengingat kondisi putra mereka yang sekarat waktu itu.


Duke dan Duchess Floniouse sempat terperangah dan menatap sekilas Cassandra dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Cassandra, gadis itu hanya bisa tertunduk canggung.


"Lalu apa Ayah dan Ibu tahu? Sebenarnya, aku sempat berniat membunuh Daisy dan Cassandra dua hari yang lalu karena aku tak terima jika Arlen mencintai perempuan selain aku." Anastasia mengaku dengan air mata yang hampir terjatuh.


"Ana...." Countess Emerald berkata dengan lirih tak percaya. Apa yang baru saja dikatakan oleh putrinya itu?


"Namun saat Daisy berusaha menyelamatkan diri dan berusaha mendorongku, Cassandra justru malah menyelamatkanku. Dan kami pun terjatuh dari jurang." Anastasia ingin mengungkapkan segalanya, agar semua orang tahu bahwa dirinya tak sebaik yang mereka kira.


Semuanya terdiam, mendengarkan seluruh celotehan gadis berwajah boneka itu. 


"Saat kami tersesat, ada sekelompok bandit yang berusaha melecehkan kami. Kami berdua sembunyi, namun karena bandit itu hampir saja mengetahui keberadaan kami, Cassandra tak diam. Cassandra melawan semua bandit itu sendiri, sementara aku hanya bisa berdiam diri sembari ketakutan," lirih Anastasia mengepalkan kedua tangannya.


"Di saat itulah Arlen datang, dan melihat raut wajah Arlen yang sangat mengkhawatirkan Cassandra.... Saat itu aku tahu, bahwa aku tak bisa mendapatkan cinta yang Arlen berikan kepada Cassandra."


"Selama ini aku telah bersikap jahat kepada Cassandra, dan menjadi penghalang di antara cinta mereka. Akhirnya aku sadar... bahwa semua hal di dunia, tidak akan selalu bisa sesuai dengan keinginanku."


"Oleh karena itu, Ayah... Ibu... Aku benar-benar ingin membatalkan pertunangan ini, dan membiarkan mereka berdua berbahagia. Dan aku juga... ingin berbahagia dengan caraku sendiri."


"Duke Floniouse, Duchess Floniouse, Viscount la Devoline, Cassandra, dan Arlen. Kumohon... maafkan aku... hiks...."


Gadis bersurai emas itu tak kuasa lagi membendung air matanya yang telah menggenang. Sehingga dia menumpahkan segala tangis yang berusaha ia tahan sejak tadi.


Duke Floniouse menghembuskan nafas pasrah, sementara Duchess Floniouse tersenyum manis.


Count dan Countess Emerald masih bingung akan semuanya. Jika sudah seperti ini, apa yang akan mereka lakukan sekarang?


Anastasia juga selama ini tak pernah membangkang terhadap mereka, dan mereka juga tidak ingin jika putri semata wayang mereka tidak bahagia.


Lalu melihat putri mereka yang menangis tersedu-sedu seperti itu, hati orang tua mana yang tidak terkikis olehnya?


"Apa kau benar-benar tidak menyesali semua keputusanmu ini, Anastasia?" tanya Duke Floniouse bersuara.


"Ya, saya sangat yakin dengan keputusan saya," tegas Anastasia mengelap air matanya.


"Arlen. Apa kau benar-benar menyukai Lady la Devoline?" tanya Duke Floniouse kini bergiliran pada putranya.


"Aku mencintainya," lugas Arlen lantang.


"Dan kau, Lady la Devoline. Apa kau benar-benar mencintai putraku demi apapun?" Terakhir, Duke Floniouse bertanya pada Cassandra.


Cassandra merasa, hal itu sudah tak perlu ditanyakan. Dirinya bahkan melakukan semua ini demi kembali ke pelukan lelaki yang ia cintai. Semua yang ia lakukan, adalah untuk hidup bahagia bersama lelaki beriris biru yang telah menjadi setiap bagian dari hidupnya itu.


"Ya, jika harus memilih nyawa siapa yang akan dilayangkan di antara kami berdua, maka aku lebih memilih melayangkan nyawaku sendiri."


Duke Floniouse dapat melihat pancaran keyakinan yang amat besar di manik garnet gadis belia itu. Tanpa sadar, kini pria berumur itu melukis senyuman di wajahnya yang telah berkerut.


"Sepertinya, semuanya telah jelas," lontar Duke Floniouse. "Viscount la Devoline, senang bisa berkerabat denganmu."


Viscount Devoline atau ayah Cassandra tersenyum kikuk dan membalas jabatan tangan Duke Floniouse. "Suatu kehormatan bagi saya."


Seperti ada sebuah angin kebahagiaan yang menyeruak dan menyapu bersih kegelisahanmu, itulah yang saat ini dirasakan oleh Cassandra.


Duke Floniouse yang ada di ingatannya, sangatlah membenci dirinya. Namun sekarang? Ayah dari lelaki yang ia sukai itu kini mendukung hubungannya dengan Arlen.


Bahkan Anastasia... ketika di kehidupan sebelumnya gadis itu yang memutuskan dirinya dari Arlen, justru sekarang sahabatnya itulah yang menghubungkannya kembali dengan Arlen.


Anastasia tersenyum menyengir dengan bekas air matanya ketika Cassandra menatapnya dengan senyuman manis.


Tidak Cassandra sangka... bahwa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan dirinya setelah sekian lama.


"Count Emerald, Countess Emerald. Maaf, sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk berkerabat," ujar Duke Floniouse terkekeh disusul oleh pasangan Emerald itu.


"Ya, mau bagaimana lagi. Semua ini bukan kita yang menentukan. Pernikahan anak kita... bukanlah keputusan kita, melainkan anak-anak kita sendiri."


Count Emerald terkekeh, dan dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi gelak tawa.


Cassandra menoleh ke samping ketika Arlen merangkulnya dan membuat tubuhnya semakin mendekat ke lelaki itu.


Lelaki bersurai pirang itu tersenyum tipis, dan Cassandra pun membalasnya dengan senyuman manis dengan kelopak matanya yang tertutup bahagia.


Anastasia yang melihat interaksi kedua sahabatnya itu hanya tersenyum. Akhirnya, setelah sekian lama. Seluruh hal yang mengganjal di hatinya langsung menguap begitu saja melihat kebahagiaan ini.


Gadis bersurai emas itu pun berkata dalam hati. "Maaf jika aku sempat menjadi penghalang bagi kalian. Tapi dengan ini... semoga kebahagiaan menyertai kalian sekarang."


"Maaf, kuharap kehadiranku tidak merusak suasana bahagia di sini."


Seketika suasana senyap ketika kehadiran seseorang berstatus tinggi tiba-tiba muncul di ruangan itu dengan beberapa pengawal di sampingnya.


Lantas, semua manusia yang ada di ruangan itu menunduk dan membungkuk hormat.


"Suatu kehormatan mendapati kehadiran anda di sini, Yang Mulia," sapa Count Emerald.


Pangeran Darren tersenyum. Ya, kehadiran sosok pangeran itu membuat seluruh manusia yang ada di dalamnya terkejut.


"Jika saya berkenan bertanya, ada gerangan apa yang membuat anda berkunjung ke kediaman saya?" tanya Count Emerald sedikit bingung dengan kehadiran pangeran kedua kerajaan Erosphire itu secara tiba-tiba.


"Sebenarnya, saya ingin berbicara dengan putri anda, bisakah?" tanya Pangeran Darren seperti biasa dengan senyuman menawan yang menjadi khasnya.


Anastasia terperangah, pangeran Darren ingin berbicara dengannya? Ingin membicarakan apa secara tiba-tiba seperti ini?


"Uhm, baiklah kalau begitu, Yang Mulia. Kita mungkin bisa mencari tempat lain yang lebih mudah untuk berbicara," saran Anastasia sembari mendekati pangeran Darren.


"Tidak perlu, aku tidak akan berbicara banyak. Lagipula, semua orang di sini memang harus mendengarkan apa yang ingin kukatakan," balas pangeran Darren membuat Anastasia semakin bingung.


Seketika mereka menjadi diam. Namun setelah mendengar ucapan pangeran Darren selanjutnya, Anastasia seolah-olah merasa bermimpi.


Semua objek yang berada di dekatnya seolah-olah memudar dan yang tersisa hanyalah dirinya dan pangeran Darren.


Senyum menawan yang selalu lelaki itu layangkan, membuat jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya. Napasnya tercekat, seakan perasaan asing yang menekan perutnya kini naik dan menahan napasnya yang ingin keluar.


"Anastasia Emerald... menikahlah denganku."


...20.03.2021...