The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 33 : Dua Wilayah



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Cassandra Pov


Ah, melihat dia yang tengah tersenyum seperti itu padaku, membuatku merasakan kebahagiaan sekaligus kelegaan karena aku tepat waktu untuk menyelamatkannya.


Aku sungguh bangga padanya, aku sungguh salut padanya, aku sungguh mengkhawatirkannya.


Pikiranku yang sempat hilang terkendali dan hatiku yang sempat dikuasai oleh rasa takut dan cemas, kini tersingkirkan di kala senyum tulus itu terlayang dan tertuju hanya padaku.


Hingga bibir ini tak bisa kutahan untuk mengeluarkan sebuah kalimat yang mungkin bisa membuat semangatnya bangkit.


Kutarik seluruh udara yang berada di sekitarku, kuposisikan kedua telapak tanganku di samping sudut bibirku, dan mengeluarkan suara teriakan nyaring yang sempat tertimbun oleh rasa kegelisahan yang mencekikku.


"ARLEN!!!! SEMANGAAAT!!!!"


Dapat kulihat dia sedikit terkejut, dia sontak berbalik dan menatap kearahku.


Senyumnya semakin merekah sama seperti dia tertawa lepas waktu itu, membuatku terpesona dengan seluruh keunggulan yang ia miliki di dalam dirinya.


Kurasakan hatiku menghangat dan semakin lama kehangatan itu menyelimuti diriku.


Jantungku berdetak sangat kencang namun bukan karena ketakutan ataupun kegugupan yang melanda di saat kau akan berpidato di depan banyak orang asing.


Namun jantung ini berdetak kencang dikarenakan perasaan hangat yang asing dan membuncah ini tidak dapat aku bendung dan kendalikan.


Dengan sebilah pedang di tangan kanannya, dia menebas seluruh hal yang menghalangi pandangannya.


Dengan sebilah pedang, semua musuh seakan sirna.


Dengan sebilah pedang, dia terlihat sangat bersinar dan menyilaukan di pandanganku.


Tak lama dari itu, kini suara sorakan yang berasal dari bibir beribu-ribu prajurit terdengar memekakkan telinga sekaligus meledakkan sebuah kebahagiaan tiada tara yang dihasilkan dan ditahan oleh sebuah perjuangan dan pengorbanan yang tak terkira.


Kaki ini dengan tak sabaran langsung berlari untuk menemuinya. Dia pun melakukan hal yang sama, sehingga di bawah naungan butiran salju yang terus berturunan, kami pun kembali melempar senyum yang tak dapat disembunyikan.


"Kau menepati janjimu."


Itulah kata yang dihasilkan dari pergerakan bibir merah mudanya yang bagaikan buah persik yang manis.


Bahkan, kata-kata yang ia ucapkan padaku terasa lebih manis dari buah persik kesukaanku yang sering aku makan.


Netra biru langit cerahnya yang membuatku iri, menatapku dalam dengan tatapan teduh yang seolah-olah menggodaku untuk masuk ke dalam tatapan tulusnya yang menusuk hati.


"Ya, aku datang. Untuk menyelamatkanmu," balasku dengan mengukir senyum manis yang jarang aku tujukan untuk siapapun.


Namun kali ini, tidak ada keraguan atau paksaan untuk mengukir senyum ini.


Selang beberapa saat, aku sangat terkejut saat tangan kekarnya melingkupi tubuhku dan mengangkatku melayang keudara seraya memutar-mutarnya.


Sontak, aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya dan hak itu membuat diriku semakin dekat padanya.


Helai rambutku pun tak bisa diam untuk terus bergoyang-goyang diterpa dinginnya angin.


Gelak tawa tak dapat kami tahan. Kebahagiaan ini, cukup diwakilkan hanya dengan sebuah tawa.


Kini aksinya yang melayang dan memutar-mutar tubuhku berhenti dan dia kembali menatapku dalam.


Sebuah kalimat yang belum pernah aku balas bagi orang yang melontarkannya padaku, kini menusuk halus ke pendengaranku hingga merambat ke hatiku.


"Aku mencintaimu."


Kalimat yang awalnya aku kira hanyalah sebuah bualan belaka, kalimat yang awalnya hanya sedikit orang yang dapat mengatakannya dari lubuk hati mereka, kini terlayang dan tertuju untukku.


Sebuah kalimat yang mengandung banyak makna dibaliknya, sebuah kalimat yang hanya ditujukan pada belahan jiwa seseorang, dia melontarkan nya seraya menatapku dalam.


Jujur, aku sangat terkejut di saat aku mendengar itu. Namun, entah kenapa bibir dan hati ini tidak ragu untuk membalasnya.


"Aku juga mencintaimu."


Dia tampak terkejut sejenak, sama sepertiku yang awalnya juga bereaksi demikian.


Namun sedetik kemudian, aku merasa seluruh di sekitarmu mulai memudar.


Yang ada di pikiranku hanyalah dia, dia, dan dia. Bibirnya yang masih setia hangat di bawah lebatnya salju yang bertaburan, bertemu dengan milikku.


Pikiranku seakan kosong dan hanya dipenuhi oleh dirinya, seperti ada sesuatu yang meluap dan beterbangan di perutku.


Tak peduli banyaknya prajurit yang menyoraki aksi kami, kami tetap tak peduli.


Karena sekarang, hanya dengan sebuah kecupan ini, kami tengah menyampaikan perasaan mendalam yang kami berdua rasakan secara lembut.


...🥀...


Author Pov


"Seluruh pasukan di pertahanan utama habis tak bersisa?! Bagaimana bisa?! Apa kau tengah mempermainkanku saat ini, Pangeran?!" ujar seorang pria dengan nada tinggi tak percaya bercampur amarah.


"Tenanglah dulu, Pangeran Naelson. Aku juga tidak tahu bahwa Pangeran Darren akan membawa prajuritnya sendiri," balas pria yang menjadi lawan bicaranya.


"Apa itu karena mata-mata yang sempat kita lihat kemarin?" terka Pangeran Naelson.


"Sepertinya begitu."


"Apa kau sempat melihat wajahnya, Pangeran?"


"Tidak aku tidak sempat. Dia lari sangat kencang, bahkan ia pun mengenakan jubah tudung dan cadar yang menutupi wajah dan rambutnya."


"Kalau begitu, bagaimana kita bisa menangkapnya jika kita tidak mengetahui ciri-cirinya sedikitpun?"


"Sebenarnya, aku sempat sedikit melihat rambut panjangnya yang panjang. Namun sepertinya, sosok yang aku pikirkan ini sangat mustahil," gumam pria bersurai hitam itu.


"Kau bilang sesuatu, Pangeran?"


"Tidak bukan apa-apa. Intinya untuk sekarang, lebih baik kau tenang terlebih dahulu."


"Tenang? Aku kehilangan lebih dari seratus ribu prajurit terkuatku secara sia-sia! Dan kau masih bisa berkata untuk menyuruhku tenang?!"


"Aku akan mengganti seratus ribu prajurit itu dengan hasil tambang kerajaanku dalam jumlah yang lebih banyak, apa itu cukup?"


"Hah...." Pria bersurai coklat bernama Pangeran Naelson itu mendengus kasar. "Baiklah, jika terjadi hal yang tak diinginkan lagi, maka aku tak akan sungkan untuk langsung menghabisi negerimu, Pangeran," ucapnya penuh penekanan.


"Kau tenang saja, setelah ini tidak akan lagi terjadi hal seperti ini. Semua sudah tersusun sesuai rencana dan perkiraan ku."


"Kalau begitu aku harus mengirim berapa pasukan ke dua wilayah tidak terlindungmu itu?"


"Empat ratus ribu pasukan, apa itu berlebihan?" tawar pria bersurai hitam legam itu.


"Tidak, jumlah itu bahkan sangat sedikit untuk pasukan lemah dan tidak bergunaku."


"Bagus. Kalau begitu, sekitar satu jam lagi, kau suruhlah pasukanmu untuk menyerang wilayahku."


...🥀...


"Kita harus cepat-cepat pergi ke dua wilayah tak terlindung, karena musuh akan menyerang kesana!" teriak Pangeran Darren yang tengah duduk di atas permukaan kursi. "Duke, berapa jumlah prajuritnya sekarang?"


"Sepertinya prajuritku masih tersisa enam belas ribu, berkat bantuan dari prajurit Yang Mulia," jawab Arlen seraya menggengam kedua tangannya di atas permukaan meja.


"Kalau begitu, seharusnya jumlah tersebut pas untuk mengalahkan musuh," gumam Pangeran Darren.


Arlen tampak mengangkat tangannya bermaksud menyela perkataan Pangeran  Darren.


"Maaf jika saya menyela, tapi darimana Yang Mulia tahu bahwa musuh akan menyerang kedua wilayah tak terlindungi kita?"


"Aku tahu hal ini dari Duchess Floniouse."


"Duchess Floniouse?" tanyanya tampak tak percaya dan langsung menatap ke arahku.


Aku pun hanya bisa meringiskan senyum seraya menggaruk tulang rahangku dengan jari telunjukku.


"E-ehm, yah, apa yang dikatakan Yang Mulia benar. Ehe," kekehku garing.


"Apa kau tahu, Duke? Duchess hampir saja tertangkap oleh segerombolan prajurit jika aku tidak datang untuk menyelamatkannya," ungkap Pangeran sembari tertawa kecil membuatku seketika merasakan aura mengintimidasi tertuju kepadaku.


Apa kau harus menjelaskannya dengan detail seperti itu, Pangeran yang terhormat?


Suasana yang memang awalnya telah dingin dikarenakan salju yang masih saja setia mengguyuri bumi, kini bertambah dingin di kala sebuah tatapan menyalang terarah padaku membuat bulu kudukku seluruhnya berdiri.


Kuberanikan diriku untuk kembali membalas tatapan itu, dan di saat netraku terkunci oleh miliknya, seketika aku langsung memberontak untuk memalingkan wajahku untuk memutuskan tatapan kami.


Tatapan macam apa itu?! Kenapa seram sekali?! Matanya melotot disertai dengan aura hitam di sekitarnya, bagaimana tidak aku memalingkan wajahku saat dia menatapku seperti itu?!


Sebuah kekehan kecil pun terdengar berasal dari Pangean Darren setidaknya berhasil untuk membuat suasana mencekam ini sedikit memudar.


"Sudahlah, Duke. Duchess juga melakukan hal itu untuk membantumu, kau tidak perlu membuatnya sampai ketakutan seperti itu," kekehnya membuatku meringiskan senyum terpaksa.


Daripada terjebak dengan situasi ini terus menerus, lebih baik aku mengalihkan topik, seperti yang biasa aku lakukan.


"Oh iya, Yang Mulia. Bukankah anda tadi bilang bahwa kita harus cepat-cepat pergi untuk menyelamatkan dia wilayah tidak terlindung? Sebelum itu, bukankah sebaiknya kita membuat strategi terlebih dahulu?"


Bagus Cassandra, peralihan topik yang sangat mulus! Lanjutkan terus!


"Kau benar, Duchess. Sebaiknya kita juga harus memikirkan strategi sebelum menyerang pasukan itu begitu saja. Apa anda punya solusi?"


"Strategi, kah?" gumamku seraya berpikir-pikir dan melipat kedua tanganku di depan dada.


Ah, mungkin ini bisa dipertimbangkan.


"Bagaimana kalau kita panggil terlebih dahulu tiga ratus ribu pasukan yang melindungi tiga wilayah?"


"Memanggil?" ulang Pangeran.


"Ya, oleh karena itu kita harus cepat bergerak, agar kita tidak terlambat. Setelah itu--"


"Apa kau sangat yakin bahwa kita akan datang tepat waktu? Apa kau sangat yakin bahwa saat kita memanggil tiga ratus ribu pasukan, musuh belum menyerang wilayah kita?" ujar Arlen membuatku bungkam dan tak dapat melanjutkan perkataanku.


Meskipun perkataannya menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan pendapatku, tapi setelah itu aku mengerti mengapa dia berkata seperti itu.


Karena semua yang dikatakannya benar, untuk menggunakan rencana ini, resiko yang harus ditanggung sangat besar, dan setiap kemungkinan pasti akan selalu menyertai peperangan.


"K-kau benar. Kita sepertinya harus menggunakan cara yang lain," jawabku mengerti.


Setelah itu, aku kembali mencari sebuah ide dan mengutarakannya. Namun setiap kali aku melakukan itu, pria itu selalu menyelaku dan yang paling mengesalkan, bantahannya selalu terdengar masuk akal dan aku pun tak bisa kembali untuk membantah bantahannya.


"Kalau begitu, kita pakai strategi awal saja. Beberapa jumlah prajurit akan menjadi umpan, lalu para pemanah mencari waktunya yang tepat untuk menurunkan hujan panah, bagaimana?"


Inilah strategi terakhir yang dapat kupikirkan, otakku mungkin sudah berasap sekarang karena terlalu banyak bekerja.


"Menggunakan strategi yang sama? Apa kau pikir musuh terlalu bodoh untuk menyadarinya?"


Argh! Aku bisa gila karena bantahannya!


"Kalau begitu, silahkan Tuan Duke sendiri yang memikirkan strategi kali ini," ketusku kesal dan geram.


Sebuah gelak tawa kembali terlontar dari bibir Pangeran? Apa ini? Apa Pangeran mempunyai penyakit tak bisa berhenti tertawa?


Apa ada sesuatu yang lucu untuk mengundangnya tertawa?


"Sepertinya ada dendam yang terselubung di antara kalian. Jujur aku sangat menikmati perdebatan kalian, namun jika seperti ini terus, kita akan kehabisan waktu," nasihatnya masih setia dengan gelak tawa nyang mengiringinya.


Aku pun menjulurkan lidahku bermaksud meledeknya, dan dia membalasku hanya dengan sebuah wajah datar yang membuatku ingin menciu-- maksudku mencakar wajah tenangnya!


Tidak ada kalimat yang terlontar dari bibir kami setelah perdebatan tadi, hingga suara Pangeran pun memecah keheningan.


"Baiklah, begini saja. Lebih baik kita pergi saja terlebih dahulu ke dua wilayah itu, setelah kita memahami situasinya, barulah kita akan membuat sebuah strategi yang tepat. Daripada kita memakan waktu hanya dengan strategi yang tidak pasti. Bagaimana menurut kalian?" saran Pangeran dan dapat aku lihat anggukan setuju dari pria di hadapanku ini.


Daripada memulai perdebatan lagi, sebaiknya aku setuju saja dengan rencana kali ini.


Sepertinya Pangeran juga benar, daripada memikirkan hal yang tidak pasti, lebih baik kita menghadapinya secara langsung terlebih dahulu, barulah sisanya akan kita pikirkan.


...🥀...


Kembali dengan suara tapak kaki kuda. Saat ini beribu-ribu kuda tengah membawa manusia di punggungnya menuju tempat yang menjadi tujuan dari penunggang hewan tersebut.


Melewati beribu-ribu meter mereka berlari di tanah yang ditimbun oleh butiran-butiran halus yang dingin, beribu-ribu pasukan yang seperti tak mengenal lelah kembali berjuang untuk melewati perang yang belum sepenuhnya selesai.


Tangan kekar yang melingkar di perutku dan menahan tubuhku agar tidak terjatuh, membuatku merasa hangat dan nyaman di dinginnya kabur salju yang terus menerpa.


"Apa kau kedinginan?" tanya pria yang berada tepat di belakangku, yang bertugas menunggangi seekor kuda yang kamu naiki.


"Tidak terlalu," jawabku dan dia pun tidak lagi menjawab.


Aku melipat bibirku, sebenarnya aku bingung sedari tadi. Apa dia tengah marah padaku?


Karena dia sepertinya agak sedikit dingin setelah Pangeran bercerita tentang aku yang tengah berkejar-kejaran dengan segerombolan prajurit yang keras kepala dan seperti robot itu.


Aku ragu ingin menanyakannya, tapi rasa penasaran itu selalu memaksaku untuk bertanya padanya.


"Hei, apa kau marah?" bisikku lirih. Entah dia mendengarnya atau tidak karena angin kencang ini, aku tak tahu.


"Untuk sekarang, lebih baik kita fokus dengan apa yang harus kita hadapi," kilahnya dingin.


Dari situ pun aku tahu, bahwa dia memang marah padaku.


Aku pun hanya bisa menghembuskan nafasku pelan, dan bersiap menghadapi apa yang harus kami hadapi.


Seusai perjalanan jauh yang tak terkira, dan perjuangan kami yang melawan kencangnya kabur salju yang menerpa, akhirnya kamu pun sampai di tempat yang menajdi tujuan kami.


Namun bertepatan dengan itu, mataku terbelalak lebar, mulutku ternganga.


Aku sangat sangat tak dapat mempercayai dengan apa yang berada di hadapanku sekarang.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^09 Desember 2020^^^