
Previously....
"Kalau begitu, aku yang akan menjadi penggantimu."
Cassandra terkejut mendapati kehadiran sesosok gadis bersurai emas yang tiba-tiba muncul di ambang pintu sembari berkata dengan lantang.
"Ana?!"
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(42)...
"Aku yang akan menjadi penggantimu," lugas Anastasia mendadak muncul.
"Apa yang kau katakan? Lagipula, bagaimana bisa kau tahu tempat ini?" Cassandra sangat heran bagaimana bisa sahabatnya itu sampai ke sini.
"Darren memberitahukannya padaku," kata Anastasia lantas membuat Arlen dan Cassandra saling melempar pandangan.
Darren? Sejak kapan Anastasia begitu akrab dengan pangeran Darren sehingga hanya memanggil namanya tanpa embel-embel 'Yang Mulia'?
"Uhm... entah kenapa sepertinya kami melewatkan sesuatu," ucap Cassandra.
"Huh... apa dia belum mengatakannya pada kalian?" Anastasia menunjuk tepat ke arah pangeran Darren yang duduk santai di kursinya.
Tak lama dari itu, gadis bersurai emas tersebut mulai menatap pangeran di sampingnya mengisyaratkan akan sesuatu.
Pangeran Darren pun lantas tersenyum manis kemudian menegapkan kembali badannya. "Baiklah, baiklah. Sebenarnya, kami akan segera bertunangan."
Suasana sempat hening sejenak, namun tak lama dari itu sebuah suara terlontar. "Baguslah, dengan begitu kau tidak akan kesepian lagi," kata Arlen dengan nada mengejek.
"Apa maksudmu itu, ya?" kesal Anastasia.
"Jadi, kalian telah benar-benar telah resmi?" tanya Cassandra.
"Ya. Aku melamarnya kemarin, dan memintanya menjadi ratuku. Ya kan, Sayang?" goda pangeran Darren menatap jahil calon tunangan yang berada di sampingnya itu.
Rona merah di pipi Anastasia terlukis jelas, sehingga gadis itu langsung memukul pelan pundak kekasihnya.
"Ekhem! Oleh karena itu, lebih baik kita kembali ke permasalahan kita." Cassandra berucap.
"Aku ingin ikut dalam perang kali ini, Cassandra. Meskipun aku harus jadi pengganti, aku tidak masalah." Anastasia bersikeras.
"Namun perang tidak semudah yang kau kira, Ana. Kau mungkin akan terluka, dan kemungkinan terburuknya kau mungkin akan kehilangan nyawamu di tangan musuh sebelum kami sempat menyelamatkanmu," jelas Cassandra berusaha memperingatkan sahabatnya itu.
"Aku tahu itu. Itu sebabnya aku ingin ikut. Karena aku tidak bisa membiarkan kalian berjuang di luar sana sementara aku duduk dengan tenang di sini."
Anastasia masih saja keras kepala membuat Cassandra pusing dibuatnya. Apa ini perasaan Arlen ketika dirinya ingin memaksa ikut perang dengan lelaki itu pada kehidupan mereka sebelumnya?
Entah kenapa, Cassandra seperti mendapat karma.
"Jika kalian memang gagal dan tak bisa kembali, maka aku akan sendirian. Daripada hal itu terjadi, aku lebih memilih untuk mati di antara orang yang aku pedulikan," papar Anastasia.
Semua orang yang ada di ruangan itu mendengar seluruh celotehannya, dengan berbagai ekpresi yang dilayangkan masing-masing setiap orang.
Arlen yang menunjukkan raut datar seperti biasa, Cassandra yang menunjukkan raut kebimbangan, pangeran Darren yang menunjukkan senyum karena merasa bangga akan kegigihan serta keberanian gadisnya, dan Jeanne yang tak tahu apa-apa sama sekali.
"Lagipula, aku juga banyak memiliki hutang budi padamu, Cassandra. Dan sekarang, adalah saat yang tepat untuk membalasnya. Kau juga tidak punya orang lain selain aku bukan untuk menggantikanmu?" cecar Anastasia membuat Cassandra bungkam.
Itu benar, dirinya tak memiliki siapa-siapa lagi untuk dimintai pertolongan. Dan, perang akan dimulai tiga hari lagi sesuai dengan perintah Raja beberapa hari lepas.
Tapi ini menyangkut nyawa Anastasia, dia tak mungkin begitu saja menaruh nyawa sahabatnya dalam bahaya.
Haruskah ia menyingkirkan rasa gemasnya yang berlebihan sekarang?
"Hah... baiklah. Oleh karena itu, ketika Ana mungkin diculik oleh musuh, bisakah anda menyelamatkannya secara diam-diam, Yang Mulia?" Cassandra pasrah membuat Anastasia tersenyum manis.
Pangeran Darren tersenyum miring kemudian bersedekap. "Tentu saja, aku tidak mungkin membiarkan calon ratuku dalam bahaya."
"Seperti yang dari awal kita rencanakan. Saat kita memberi aba-aba palsu bahwa hujan panah akan segera diluncurkan, pasukan Cermony akan menyergap dan mengeluarkan bom asap sebanyak mungkin lalu membantu pasukan Arlen untuk menyerang musuh."
"Aku akan pergi ke tempat di mana Pangeran Yari berada, dan berusaha menyakinkannya kalau aku adalah penyihir yang asli. Setelah selesai dengan tugasku, aku akan membantu Arlen untuk menghabisi pasukan musuh."
"Sementara itu, ketika Ana mungkin diculik, Pangeran Darren akan segera menyelamatkannya secepat mungkin agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Arlen. Untuk besok, pergilah ke kerajaan Nephorine dan temui pangeran Naelson dalam bentuk penyamaranmu," terang Cassandra panjang lebar.
Semua orang yang hadir di pertemuan itu mengangguk mengerti, dan telah bersiap untuk melakukan seluruh taktik yang telah mereka susun.
"Dan Yang Mulia, anda tidak memberitahu apapun tentang rencana kita dengan putri Veronica, bukan?" tanya gadis berhelai coklat itu memastikan.
"Tenang saja, aku selalu mengikuti rencana kita. Aku tidak ingin membuat kesalahan sedikitpun," jawab Pangeran Darren jujur.
"Bagus. Karena kemungkinan besar, putri Veronica bukan di pihak kita, melainkan di pihak musuh," balas Cassandra.
Ya, gadis itu telah menyadarinya sejak lama. Belajar dari kesalahan, gadis itu tidak terlalu ingin mempercayai siapapun, sehingga dia selalu berwaspada ketika siapapun yang akan bersikap aneh kepadanya.
Putri Veronica, sahabatnya yang selama ini seakan selalu ingin mencari tahu tentang informasi pribadinya membuat Cassandra curiga dengan gadis itu. Gadis bernetra garnet tersebut tidak ingin dengan mudah menaruh begitu saja kepercayaan kepada siapapun.
"Putri Veronica kemungkinan besar berada di pihak musuh?" ulang Anastasia sedikit tak percaya.
"Ya, kuharap kau tidak terlalu mempercayainya saat ini, Ana," peringat Cassandra dengan tatapan tajam.
"Baiklah... aku mengerti," jawab Anastasia.
"Oleh karena itu, sudah diputuskan. Kita semua telah memiliki bagian masing-masing. Ini saatnya kita mengubah garis kehidupan kita," lontar Cassandra sembari mengulurkan tangannya ke tengah-tengah lingkaran yang mereka buat.
Lantas, semua yang ada di ruangan itu tersenyum kemudian menggabungkan tangan mereka. Mereka semua menarik nafas dalam, mempersiapkan raga dan jiwa mereka kepada bencana yang siap menerjang mereka kapan saja.
"Waktunya kita, mengubah takdir."
...~•~...
Akhirnya waktu di mana kedua kerajaan akan saling mengadu kemampuan telah tiba. Nyawa, sudah pasti adalah hal mutlak yang harus hilang ketika telah memasuki medan perang.
Semua manusia tak bisa menyangkal hal tersebut, sehingga mereka hanya bisa berharap dan berjuang sekuat tenaga tuk tidak melayangkan jiwa mereka.
Seluruh pasukan dan orang yang akan ikut ke medan perang, kini tengah dalam persiapan keberangkatan menuju markas kerajaan Erosphire yang ada di bagian utara.
Di sebuah ruangan, terdapat sepasang lelaki dan gadis yang tengah berbincang. Sang lelaki sedang sibuk memperbaiki tata letak armor yang akan melindungi kulitnya dari luka, sementara sang gadis telah selesai dengan perlengkapannya dan tengah duduk di atas meja sembari mengayunkan kedua kalinya.
"Kenapa, kau berubah pikiran? Kau takut? Tenang saja, aku akan selalu melindungimu," jawab lelaki yang memiliki rambut hitam malam itu.
Anastasia beralih menatap calon tunangannya yang telah berada tepat di hadapannya, sembari menyelami sentuhan lembut yang lelaki itu berikan di pipi halusnya. "Bukan begitu. Hanya saja, jika kita tidak berhasil, maka semua akan hancur berantakan, bukan?"
Pangeran Darren pun terbungkam mendengar pernyataan gadisnya. Namun tak lama, lelaki itu menarik tubuh calon tunangannya tersebut dan memeluknya erat. "Tenang saja. Yakinlah bahwa kita akan memenangkannya, dengan begitu kita pasti bisa mewujudkannya."
Gadis itu mengangguk, kemudian membalas dekapan kekasihnya dan menaruh dagunya di atas pundak kokoh tersebut.
"Dengan begitu, kita bisa mengubah negeri ini. Kita akan membawa negeri ini ke keadilan dan kebaikan, sehingga kita bisa membuat kerajaan ini adalah kerajaan yang paling makmur, dengan adanya cahaya kebenaran," papar Pangeran Darren seakan tak rela melepaskan kekasihnya.
Anastasia mengangguk lembut dan mengalungkan kedua tangannya pada punggung lelaki itu, hingga tak ada lagi ruang bagi udara di antara mereka.
"Setelah kita berhasil, Duke Floniouse dan Countess la Devoline akan mencapai kebahagiaan mereka," imbuh lelaki bergelar pangeran itu.
"Dari mana kau tahu akan hal itu?" tanya Anastasia sedikit penasaran.
"Entahlah, aku merasa... bahwa mereka telah mengalami hal yang sangat pahit dalam kehidupan mereka," ujar pangeran Darren sembari mengingat kejadian empat tahun lalu.
Anastasia juga kembali mengingat dalam diam ketika Cassandra menceritakan tentang perihal mereka yang telah terlahir kembali itu.
"Empat tahun lalu, mereka mengunjungiku untuk bekerja sama merebut takhta. Aku tak tahu apa tujuan mereka, namun yang kulihat... mereka hanya terlihat sangat ingin bersama, dan ada sesuatu yang menghalangi mereka," imbuh pangeran Darren.
Anastasia terdiam. Dia teringat akan perkataan Cassandra waktu itu.
"Di kehidupan yang lalu, aku juga melakukan hal yang sama. Aku membuatmu benci terhadapku."
Apa dirinya lah yang memisahkan Arlen dan Cassandra di kehidupan lalu? Meskipun dia tak tahu, entah kenapa gadis itu merasa demikian.
"Karena mereka telah berusaha keras membantumu, oleh karena itu kita juga harus melakukan hal yang sama untuk mereka. Tidakkah begitu?" ucap Anastasia mengangkat wajahnya kemudian menatap dalam manik calon tunangannya.
Pangeran Darren tersenyum manis. "Kau benar. Di saat kita telah membawa kemenangan, aku akan langsung mengumumkan pertunangan kita dan menjadikanmu ratuku di hadapan penduduk Erosphire."
Gadis bergerak hijau terang itu menampilkan lengkungan manis di bibirnya. Dirinya jadi teringat hari di mana calon tunangannya itu melamarnya dengan cara manis.
Flashback on
Beberapa hari yang lalu, Anastasia datang sesuai dengan hari dan waktu yang telah tertera di surat yang dikirim oleh pangeran Darren melalui Arlen untuknya.
Gadis itu sempat menunggu sejenak di tempat yang sering ia habiskan waktu bersama pangeran Darren. Hingga tak lama dari itu, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul.
Lelaki itu datang menuju ke arahnya, dan entah kenapa dapat Anastasia rasakan bahwa jantungnya tiba-tiba berdebar keras.
"Maaf, kau menunggu lama?" tanya pangeran Darren tampak tergesa-gesa.
Anastasia tersenyum. "Tidak, Yang Mulia. Saya juga baru sampai."
"Begitu. Sebenarnya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Saya juga, ingin bertanya sesuatu pada anda, Yang Mulia."
"Kalau begitu kau duluan," ujar pangeran Darren mempersilakan.
Anastasia menarik nafas dalam sejenak, kemudian dia pun memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang telah menyangkut di benaknya selama ini.
"Apa anda... benar-benar tulus ingin menikahi saya...?" tanya gadis itu sedikit gugup takut menyinggung.
Awalnya gadis itu mengira bahwa pangeran Darren akan kesal karena dia telah meragukan lelaki itu, namun perkiraannya selama ini salah.
Pangeran Darren... justru tertawa.
"Hahaha! Tentu saja aku tulus, aku benar-benar ingin menikahimu karena aku mencintaimu," aku pangeran Darren sembari tersenyum lebar.
"Tapi... kenapa? Bukankah masih banyak perempuan lain dan statusnya lebih tinggi daripada saya? Kenapa anda malah mencintai putri dari seorang Count seperti saya?" tanya Anastasia masih bingung dengan pemikiran pangeran itu.
"Memangnya cinta dihitung berdasarkan status seseorang?" Pangeran Darren justru bertanya balik dengan pandangan dingin.
Dapat Anastasia lihat bahwa pangeran Darren terlihat kesal.
"Kau seolah-olah menganggap bahwa dirimu benar-benar tidak berharga, Anastasia. Jika kau berkata seperti itu lagi, aku benar-benar akan marah," ketus pangeran Darren membuat Anastasia tersentak.
"M-maaf...! Hanya saja, saya masih tidak yakin dengan semuanya...."
"Begini saja. Kau bisa meminta apa saja agar bisa mempercayai bahwa aku benar-benar mencintaimu," usul Pangeran Darren.
Anastasia kebingungan dibuatnya. Jika sudah seperti ini, dia harus mengatakan apa?
"S-sumpah...." Tanpa sadar, Anastasia malah mengatakan itu dengan pandangan yang ia alihkan ke arah lain.
Pangeran Darren sempat terdiam sejenak, hingga tak lama dari itu ia menunduk di hadapan Anastasia.
"Aku, Darren Erosphire. Putra kedua dari Kerajaan Erosphire, bersumpah kepada Dewi Langit, untuk menyerahkan seluruh raga dan jiwaku untuk Anastasia Emerald dengan menikahinya. Jika aku melanggar sumpahku, maka aku akan menderita dalam keburukan selamanya."
Anastasia terbelalak dibuatnya. Ia mengira, pangeran Darren tidak akan mungkin sudi melakukan hal itu. Namun siapa sangka... hanya untuk dirinya, pangeran kedua kerajaan Erosphire itu melakukan sumpah tersebut.
"Anastasia Emerald. Dari awal kita bertemu waktu itu, aku telah mencintaimu dengan segenap jiwaku. Dan, aku ingin menjadikanmu pendampingku dan juga ratuku. Maukah kau dengan senang hati menerima permohonanku?"
Anastasia tak dapat menahan tangisnya, entah bagaimana dia merasa bahwa air matanya meronta-ronta ingin meluncur di pipinya.
Hatinya seakan berkata bahwa pangeran Darren adalah lelaki yang tepat. Lelaki yang ditakdirkan untuk dirinya. Hingga akhirnya gadis itu menjawab tanpa keraguan yang tersisa.
"Saya mohon, biarkan saya menerima kehormatan dengan menjadi ratumu, Yang Mulia Pangeran Darren."
Flashback off
"Hei, Anastasia. Aku ingin melakukan satu hal, sebelum aku menyesalinya setelah ini karena aku tak sempat melakukannya," ujar pangeran Darren sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan sang gadis.
Anastasia sedikit terperangah ketika wajah kekasihnya semakin mendekat dengannya.
Tangan kekasihnya yang secara lembut menggenggam tangan miliknya, sembari dengan tatapan dalam yang lelaki itu bayangkan, membuat gadis itu tanpa sadar menutup kelopak matanya.
Untuk pertama kalinya, Anastasia mendapat ciuman dari seorang lelaki yang ia cintai. Ternyata, hal sederhana ini mampu mengundang kebahagiaan dan kehangatan yang berjibun ke dalam hatinya.
"Ratuku, Anastasia. Aku mencintaimu."
"Rajaku, Darren. Aku juga mencintaimu."
...25.03.2021...