
"Kakak! Aku membawakan teh untuk kalian berdu--"
Ketika mendengar suara itu, dengan sudah payah aku memutar kepalaku untuk melihat siapa yang mengeluarkan suara tersebut.
Sial... kenapa bisa kebetulan seperti ini?
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter ...
...(7) ...
Tang!
"Lemah!"
Klang!
Pedangku terjatuh bersamaan dengan diriku ke tanah. Aku terduduk sembari dengan netraku yang menatap pedangku yang sempat terjatuh.
"Sudah kubilang untuk jangan terlalu terpaku dengan kekuatan. Kaki mu memang kuat, namun tanganmu sangatlah lemah," tuturnya.
Aku hanya bisa melipat bibirku dan kembali merogoh pedangku. Seperkian detik, aku kembali berdiri dan menyerangnya.
Sudah sangat lama sejak aku berlatih dengannya, tapi mengimbanginya sedikitpun aku tak bisa.
Dia sangat kuat. Tak hanya kuat, dia juga cepat dan pintar menangkis sekaligus mengelak.
Bagaimana bisa aku yang amatiran seperti ini mengalahkannya? Tapi aku tidak boleh menyerah.
Menyerah di tengah jalan bukanlah diriku.
Semua seranganku ditangkisnya, dan tak lama dari itu dia pun mulai menyerangku kembali.
Tenaganya bukan main-main! Aku mencoba menangkisnya, tapi tetap saja gagal sehingga pedangku terlepas dari genggamanku.
Pangkal pahaku kembali membentur tanah dengan pedang yang terjatuh di hadapanku.
Seketika aku mendongak ketika ujung pedangnya terarah ke leherku. Pertanda bahwa aku kalah telak.
"Aku kalah," ucapku kemudian dia menjauhkan pedangnya.
Lelaki ini mengulurkan tangannya padaku. Segera aku raih telapak tangannya dan dia pun membantuku berdiri.
Kutepuk celanaku agar debu yang menempel hilang. "Ternyata kau benar-benar ahlinya," pujiku menyeka peluh yang membasahi dahiku.
"Kau juga tidak buruk," balasnya. Apa dia barusan bersikap merendah untuk meroket?
"Tidak buruk apanya? Aku sangat buruk, selama hampir dua bulan kau mengajariku, aku sama sekali belum pernah bisa melukaimu sehelai rambutpun," cecarku menghela nafas.
"Mungkin kita harus mengubah cara bertarungmu."
Kuangkat sebelah alisku bingung. "Cara bertarungku?"
"Ya. Selama ini, aku selalu mengajarimu teknik bertarungku, bukan? Mungkin teknik bertarung kita berdua berbeda, oleh karena itulah kau tidak pernah bisa menandingiku," terangnya.
Benar juga. Bukankah semua manusia berbeda? Itu berarti, gaya bertarung kami mungkin saja akan berbeda.
"Memangnya bagaimana gaya bertarungmu selama ini?" tanyaku ingin tahu.
"Aku lebih banyak menggunakan kekuatanku," jawabnya.
Apa yang dikatakannya benar. Kekuatannya sangat besar, sehingga aku selalu tak sanggup menahan ayunan pedangnya.
Kakiku pun tergerak untuk mendekatinya yang tengah menegak seteguk demi seteguk air. "Jadi, gaya bertarung seperti apa yang kira-kira menurutmu cocok untukku?"
Dia tampak terdiam sejenak sembari memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Melihat tampangnya yang begitu serius, entah kenapa mengundang seukir senyum di wajahku.
Raut wajahnya senantiasa tenang, dan mata birunya langitnya selalu bergemerling ketika cahaya matahari memantul.
Diriku selalu tak puas memandang betapa mengagumkannya dia di mataku. Semua tentang dirinya, begitu bersinar sehingga membuatku tak henti-hentinya terpana.
"Hei."
"Ha?"
"Kau melamun?"
Seketika aku baru sadar bahwa sedari tadi aku sibuk memperhatikannya. Dia mungkin menganggap aku gila karena sejak daritadi senyum ini tak bisa kumusnahkan.
"Ah, uhm... maaf, kau barusan bilang apa?" ringisku sedikit malu.
"Aku bilang, mungkin kau bisa mencoba gaya bertarung menggunakan kecepatan," jelasnya.
"Kecepatan?"
"Ya. Karena kakimu cukup kuat dan larimu juga kencang, mungkin tipe menyerang secara cepat lebih cocok untukmu."
Begitu. Apa yang dikatakannya mungkin benar juga. Jika aku lebih banyak bergerak, musuh pasti akan bingung dengan pergerakanku. Dengan begitu, walaupun sayatan yang aku ciptakan tidak terlalu sakit, tapi jika musuh bingung, aku bisa menciptakan sayatan sebanyak yang aku sanggup sehingga musuh tumbang.
"Yang kau katakan ada benarnya. Tapi apa aku bisa melakukannya?"
Ya, itulah yang aku ragukan. Apa aku bisa melakukannya?
"Tentu saja. Aku percaya padamu," ucapnya singkat namun cukup membuat saraf di tubuhku berdesir.
"Kalau begitu, apa kau tidak keberatan jika aku memintamu menemaniku untuk belajar gaya bertarungku sendiri?" pintaku.
"Tentu saja. Karena sekarang, aku adalah pelatihmu," jawabnya lalu berdiri.
Segera aku menarik pedang yang terbaring di tanah kemudian menggenggamnya erat.
Kuserap seluruh udara yang berada di antaraku, kemudian menghembuskannya menjadi sebuah zat yang berbeda.
Lelaki itu telah siap bahkan sebelum aku mengacungkan pedangku. Dia diam tinggal menungguku bergerak menyerangnya saja.
"Ingat. Gunakan dengan baik kelebihanmu," peringatnya.
Ya. Jangan terlalu terpaku dengan kekuatan tangan, gunakan juga kekuatan kaki mu Cassandra!
Aku harus lebih banyak berlari, dan bergerak ke sana kemari untuk membhstnya bingung.
Sekali lagi, kutarik nafasku kemudian ku hembuskan. Dalam sekejap, aku langsung berlari dan hendak menyerangnya.
Tapi tetap saja, dia bisa menangkis serta menahannya. Aku tak akan goyah begitu saja. Aku harus menyerangnya lebih banyak dan lebih cepat lagi.
Ting!
"Ya, begitu! Serang aku lagi!"
Ada apa ini? Dia tiba-tiba kelihatan kesenangan begitu. Namun, jika itu permintaanmu, aku akan menepatinya dengan senang hati!
Tang!
Lagi-lagi, dia selalu bisa menangkisnya. Sial! Bagaimana bisa dia sangat cekatan seperti itu?
Dia selalu bisa menangkap sergapanku dan terus menahan laju pedangku.
"Hah... hah...." Nafasku mulai terburu-buru, dengan jantungku yang berdetak kencang memompa darah ke seluruh aliran tubuhku.
Aku sedikit membungkuk karena kelelahan, dengan pedang yang kugunakan sebagai penahan dan penampu berat tubuhku untuk berdiri.
"Ingin berhenti?" ujarnya. Namun di telingaku, itu lebih terdengar seperti sindiran.
Kuangkat kepalaku dan segera melihat ke arahnya. Dan benar saja! Dia memandangku dengan tatapan mengejek seperti itu!
Kepalanya ia miringkan, dengan kedua alisnya yang naik ke atas dan pedangnya ia letakkan di bahunya.
Apa dia berusaha memprovokasiku?
Tanpa sadar, sebuah senyum terulas di bibirku. Aku pun kembali mengelap wajahku yang penuh peluh dengan punggung tanganku.
"Tidak, sebelum aku bisa melukaimu," balasku.
Senyum menyeringai mendominasi wajahnya yang tampan. "Teruslah berusaha."
Tanpa berbicara panjang lagi, aku kembali melesat ke arahnya dan mencampakkan tebasan pedang dari tanganku.
Syut!
Sial! Dia kembali menghindar. Tapi tak apa, karena aku masih punya benda lain untuk menyerangnya.
Bugh!
Kena kau! Tendanganku berhasil mengenai perutnya, sekarang yang kuperlukan hanyalah menyerangnya yang lengah.
Saat aku melayangkan ayunan pedangku ke atas untuk menyerangnya, tiba-tiba saja gerakannya meningkat sangat cepat dan dia kembali menghindariku.
Gerakan macam apa itu?!
Dia kembali tersenyum. Gawat! Aku lengah! Pikiranku terlalu fokus dengan gerakannya barusan!
Tang! Klang!
Ternyata... aku memang masih amatiran. Pedangnya kini telah kembali berada di leherku.
Aku terduduk diam di tanah, pangkal pahaku kembali memukul tanah yang keras. Pedangku sudah terbang tak tahu ke mana.
Nafasku seperti mesin kepanasan, tak beraturan dan sangat laju. Rasanya seluruh udara habis karena aku menghirupnya amat rakus. Jantungku seakan menumbur kulit dadaku karena berdegup sangat kuat.
"Berdirilah."
Kutangkap telapak tangannya kemudian dia menarikku untuk berdiri. Dapat kurasakan pergelanganku terasa sangat sakit.
"Kerja bagus, muridku," kelakarnya mengundang kekehan kecil dari mulutku.
"Kau sangat hebat, guru," balasku kemudian merapikan dan menata helai rambutku yang sudah sangat urak-urakan.
Sebotol air minum tersodor untukku, aku pun tersenyum kemudian dengan segera menerimanya dan mulai menegak beberapa tegukan.
Saat tengah sibuk mengguyur tenggorokanku yang kering seperti tanah tandus, aku hampir saja tersedak dan air yang sempat mengalir di tenggorokanku hampir saja keluar dari lubang hidungku.
Apa yang sebenarnya dia lakukan?! Tiba-tiba saja dia mengangkat bajunya dan terlihatlah perutnya yang sudah pasti terbentuk dengan rapi dan semestinya.
"S-se-sedang apa kau?!" Dengan cepat aku menutup mataku dengan sepuluh jari yang aku punya.
Dia sinting, ya?!
"Kau sudah berkembang," ucapnya secara tiba-tiba.
"Berkembang? Apa maksudnya?" tanyaku enggan menyingkirkan telapak tanganku yang setia menutupi kelopak mataku.
"Kau telah melukaiku." Aku tak peduli apa yang dia katakan, aku hanya akan terus menutup mataku sampai dia kembali menutup perutnya.
'"Ck, sudahlah lihat saja dulu." Dia berdecak kemudian menarik tanganku dan akhinya mataku melihat perutnya yang terpampang jelas.
Aku sangat terkejut. Bukan karena dia dengan seenaknya memperlihatkan perutnya, tapi dengan bekas kemerahan yang terpatri di perutnya.
"Itu adalah bekas tendanganmu tadi. Kau sudah membuat sebuah kemajuan," katanya enteng.
"Kemajuan apa?! Bekasnya bahkan sampai memerah seperti ini! Maaf, aku benar-benar telah keterlaluan! Astaga bagaimana bisa sampai seperti ini!"
Mulutku tak bisa berhenti berceloteh. Aku benar-benar telah keterlaluan, bahkan bekas kemerahannya pun terlihat sangat sakit.
Bagaimana ini?! Apa aku akan dipenjara karena telah melukai seorang calon Duke terhormat di masa depan?!
Tamatlah riwayatku!
"Pfft!" Aku terperangah ketika dia tergelak halus seperti itu. Bagaimana bisa dia tertawa setelah mendapat luka? Apa dia seorang masokis?
"Berhentilah tertawa!" sergahku kesal. "Aish, bagaimana ini? Kelihatannya sangat sakit, apa kau baik-baik saja? Apa aku perlu membawamu ke tabib?" gerutuku.
"Tidak perlu. Justru aku berharap bahwa bekasnya akan tetap seperti itu. Dengan itu, aku selalu bisa melihat seluruh perkembanganmu di tubuhku," cecarnya.
Aku semakin tak mengerti bagaimana cara jalan pikirnya. Orang mana yang senang ketika mereka mendapat luka?
Tak sadar, hembusan nafas lelah tertarik dari paru-paruku. "Kau memang aneh," lontarku.
Dia hanya mengulas senyum yang aku tak tahu apa artinya. Tapi, satu hal yang aku lebih heran.
Setiap senyum yang ia ciptakan, aku selalu menyukainya.
"Kakak!"
Mendadak, kami berdua langsung mengalihkan pandangan ke gadis yang tengah berlari ke arah kami dengan suaranya yang nyaring.
"Kakak! Kenapa kau tidak bilang bahwa Kak Cassie akan datang!" gerutu Daisy dengan pipinya yang mengembung.
Astaga bagaimana bisa dia seimut itu?
"Kakak?" Tiba-tiba saja aku baru sadar ketika Daisy melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajahku.
"Ah, ya?"
"Apa kakak mau minum teh bersamaku?" tawar Daisy dengan senyuman mekar.
Jika dia sudah seperti itu, bagaimana bisa aku menolak?
"Dengan senang hati," jawabku.
Secara cepat, Daisy menarik tangan kami berdua dan memaksa untuk mengikutinya mau tak mau.
Sejak hari di mana Daisy memergoki kami dengan posisi yang tidak mengenakkan, gadis itu semakin dekat denganku.
Jika mengingat-ingat lagi, rasa malu yang menyerangku waktu itu masih bisa kurasakan.
Untung saja Daisy tidak berpikiran macam-macam, sehingga tidak menimbulkan masalah lain.
Bahkan setelah beberapa hari selanjutnya, aku justru malah tidak sengaja berpapasan dengan Duchess Floniouse waktu itu.
Beliau malah senang jika melihatku, atau mungkin Duchess memang suka dengan seorang gadis muda sepertiku.
Jika Duke Floniouse, dia kelihatan cuek padaku. Ya, setidaknya dia tidak memperlihatkan pandangan kebencian terhadapku.
...~•~...
"Kak Cassie, apa kakak sudah dengar bahwa Kerajaan akan mengadakan pertandingan berburu antara nona-nona bangsawan?! seru Daisy riang mengisi ruang di antara kami.
"Pertandingan berburu?" ulangku. Bukankah pertandingan berburu biasanya dilakukan oleh para pria?
"Ya, kakak diundang ke sana untuk menjadi panitianya," imbuh Daisy membuatku terusik.
"Benarkah?" tanyaku pada Arlen yang sibuk menyesap tehnya.
"Begitulah," jawabnya singkat dan datar.
"Kak Cassie seharusnya ikut juga!" kata Daisy menggenggam kedua tanganku.
"Eh? Aku?" tunjukku pada diri sendiri.
"Ya, Daisy benar. Kau harus ikut," sahut lelaki yang duduk di sebelahku ini.
"Kak Cassie kan sudah berlatih pedang bersama kakak dalam waktu lama. Mungkin saja kak Cassie bisa memenangkannya dan menjadi nona bangsawan terhormat tahun ini," jelas Daisy.
Nona bangsawan terhormat? Mungkin inilah yang selama ini kuperlukan. Tapi seingatku dulu tidak pernah ada pertandingan seperti ini.
Apa hanya aku saja yang tidak ingat? Aish, terserahlah. Jika itu bisa membuatku menjadi nona terhormat, kenapa aku tidak mencoba saja?
"Baiklah... sepertinya aku akan ikut," ucapku.
"Kya! Itu bagus, Kak! Kalau begitu, aku akan ikut ke sana untuk menyemangati kakak!" seru Daisy kegirangan.
Ternyata dia orang yang periang, sangat berbeda dengan kakaknya yang satu ini.
Saat aku terkekeh kecil, sempat kutolehkan kepalaku ke arahnya. Dapat kulihat senyum tipis menghiasi wajahnya. Namun saat dia menyadari aku melihatnya, dia langsung mengalihkan pandangannya.
Kernyitan langsung tercetak di alisku, ada apa dengannya?
Aneh.
...~•~ ...
Setelah perbincangan cukup menyenangkan tadi, tentu saja aku kembali ke rumah ini.
Langkah gontai selalu menyertai jalanku, dengan lesu aku mengepalkan tanganku dan mengetuk pintu masuk utama rumah ini.
Tak butuh waktu lama, seperti biasa seorang pelayan membukakan pintu. Namun kali ini sepertinya agak berbeda, raut pelayan di rumah ini seluruhnya seperti tengah ketakutan.
Apa yang terjadi?
"S-selamat datang kembali, Nona. Apa a-anda ingin saya menyiapkan anda air mandi?" tawar pelayan yang berada di sebelahku.
Bahkan irama bicaranya gagu seperti itu, sudah pasti terjadi sesuatu.
"Di mana ayahku?" tanyaku tanpa basa-basi.
Pelayan ini tampak tersentak, membuatku semakin penasaran sebenarnya apa yang tengah terjadi di kediaman ini.
"T-tuan... Tuan Vi-viscount ada di ruang makan, N-nona," kata pelayan ini.
Aku sebenarnya ingin bertanya lebih, tapi sepertinya melihat secara langsung adalah hal yang bagus saat ini.
Kakiku berlari kecil menggapai ruang dapur, dan tak lama dari itu mataku membulat seketika.
Bercak darah berada di mana-mana. Sebuah tongkat berlumuran darah. Luka memar tercipta di suatu kulit.
Suasana sangat dingin, seperti tengah musim dingin saja. Padahal ini baru saja memasuki musim panas.
Seluruh pelayan hanya bisa diam dan berusaha untuk tidak peduli, padahal sudah tercetak jelas bahwa raut mereka seperti tengah menatap kematian yang telah berada tepat di hadapan.
Wajar saja semua pelayan terlihat ketakutan, sebenarnya aku pun juga sangat ketakutan.
Tapi rasa iba saat ini lebih mendominasi diriku. Sehingga aku dengan cepat menghampiri ayah.
...15.01.2021...