The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 41 : Maafkan kami, Bos!



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Beberapa minggu kemudian....


"Nyonya, apa yang sebenarnya terjadi dengan anda dan Tuan Duke? Bukankah kalian sempat dekat? Lalu kenapa sekarang kembali menjauh?" papar Elise membuat Cassandra jengah.


"Sudah beberapa kali kubilang bahwa tidak ada apa-apa di antara kami," jawab Cassandra menghembuskan nafas.


Elise langsung berdiri dari duduknya. "Tapi ini sudah hampir satu bulan kalian tidak berbicara, Nyonya! Pasti ada yang terjadi! Kumohon, Nyonya... jangan menyembunyikan semuanya sendiri," bujuk Elise dengan air muka yang mulai melemah.


Cassandra tampak melipat bibirnya sejenak, namun tak lama dari itu senyuman kembali menghiasinya.


"Elise... aku tak menyembunyikan apa-apa. Memangnya apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tengah menyembunyikan sesuatu?"


"Saya sudah lama mengenal anda, Nyonya. Di saat anda selalu menunjukkan senyum seperti itu, saya tahu bahwa anda pasti tengah menyembunyikan sesuatu," ucap Elise dengan kerutan yang tercipta di antara alisnya.


"Kau tak perlu mengkhawatirkan diriku. Karena aku memang benar-benar tidak menyembunyikan apapun," balas Cassandra kekeuh.


Helaan nafas kasar kembali terlepas dari Elise, karena jengah dengan majikannya yang tetap tak ingin jujur.


"Baiklah, Nyonya. Saya tidak akan bertanya lagi," pasrahnya.


Senyum lirih tercetak di wajah cantik wanita bersurai coklat itu. Dia memang suka menyembunyikan perasaannya, daripada memberitahukannya dan merengek kepada orang lain.


Dia ingin memecahkan masalahnya sendiri, dan dia tidak ingin membagikan kesedihan ynag menimpanya pada orang lain.


"Aih, aku sangat bosan. Apa yang harus kulakukan?" gumamnya seraya menatap langit biru yang terhampar.


Entah kenapa warna biru langit menjadi warna favoritnya ketika dia telah sampai di dunia ini.


Cassandra mengadahkan kepalanya, dan berpikir apa yang harus ia lakukan untuk membuang rasa bosan.


Rasa sakit itu masih ada, hinggap dan menggerogoti hatinya. Namun ia tidak ingin terlalu memikirkannya.


Dan juga, dengan dirinya yang sudah hampir satu bulan tidak berpapasan atau berbicara dengan pria itu, membuat jarak mereka kembali jauh.


"Elise, apa kau tahu tempat yang menyenangkan?" tanya Cassandra menoleh ke arah wanita tua itu.


Elise tampak berpikir-pikir. "Tempat menyenangkan...?" gumamnya bertopang dagu.


"Sebenarnya ini bukan tempat menyenangkan, tapi setidaknya bisa untuk menghabiskan waktu."


"Tempat apa?"


"Pasar, Nyonya."


"Kau pikir pasar adalah tempat yang menyenangkan?" tanya Cassandra tak percaya.


"Tentu saja, Nyonya. Di pasar kita bisa membeli makanan  yang kita sukai beserta dengan perhiasan atau aksesoris," ungkap Elise berbinar-binar.


Cassandra tampak memasang air muka malas. Lain dengan Elise yang sangat bersemangat.


"Dan juga, pasar merupakan tempat di mana saya dan suami saya bertemu, kya!!"


Wanita berumur itu tampak mengeluarkan rona merah dari pipinya. Dengan kedua telapak tangan yang menagkup pipi sendiri dikarenakan malu yang melanda.


"Haha...," tawa Cassandra hambar. Sungguh dia tidak tertarik dengan pasar yang dipenuhi oleh ramai orang.


"Entah kenapa sepertinya sekarang aku merasa lelah, aku akan ke kamarku dul--"


"Ayo kita ke pasar, Nyonya!" ajak Elise sembari menarik lengan Cassandra dan tak ingin melepaskannya.


"Ehm... aku lelah, aku mau istira--"


"Ayolah Nyonya! Bukankah anda tadi bilang bahwa anda bosan? Saya jamin, anda tidak akan bosan jika ke pasar. Saya akan mentraktir anda!" serunya tak terbantahkan.


"Memang ada pelayan yang mentraktir majikannya?" batin Cassandra.


"Baiklah-- astaga sabarlah, Elise!"


Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Elise langsung menyeretnya tak sabaran.


Cassandra menggerutu, namun Elise tak gentar. Wanita tua itu bagaikan seorang ibu yang memaksa anak gadisnya untuk membeli perhiasan dan gaun yang indah guna mempercantik diri.


Jarang-jarang hubungan antara majikan dan pelayan sangat akrab seperti mereka.


...🥀...


Suasana yang riuh. Suara pedagang yang lantang dan melengking mengundang para pembeli untuk memberi barang dagangan mereka.


Para pria maupun wanita berkumpul di tempat yang sama. Bahkan ada seseorang yang membuat pertunjukan hiburan yang dibayar dengan satu koin perunggu.


Berjuta-juta bekas jejak kaki telah tercipta di tempat itu, walaupun tidak terlihat sama sekali.


"Jadi, kau mau membawaku kemana?" tanya Cassandra karena Elise terus membawanya berjalan-jalan mengitari tempat ini, tapi tak tahu pastinya ingin kemana.


"Bagaimana kalau kita pergi ke sana, Nyonya?" tunjuk Elise ke arah toko roti.


Cassandra tampak menimang-nimang sejenak, matanya sibuk berkelana ke sana kemari.


Selang beberapa saat, netranya terkunci pada satu toko yang menarik perhatian dan minatnya.


"Lebih baik kita kesana," ujarnya dan Elise mengikuti arah telunjuk wanita bersurai coklat itu.


"Toko buah? Bukankah kita mempunyai banyak buah--"


Tanpa berbasa-basi, Cassandra menarik lengan Elise membawanya menuju tempat yang wanita itu inginkan.


Cassandra menaruh telunjuknya tepat di dagunya berpikir-pikir buah apa yang harus ia beli.


Terdapat banyak buah-buahan segar terpatri di hadapannya, namun dari sekian banyak buah itu, hanya satu buahlah yang selalu menjadi favoritnya.


"Bagaimana kalau kita membeli buah stroberi saja, Nyonya? Stroberi tengah menjadi buah yang terkenal saat ini," cecar Elise.


"Tidak usah. Aku hanya akan membeli jeruk ini," balasnya kemudian mengambil jeruk-jeruk itu.


Mata Elise tak bisa untuk tidak membola melihat majikannya yang banyak sekali memborong buah jeruk.


"Nyonya... apa seharusnya kita membeli buah-buah lainnya...?" tanya Elise ragu melihat Cassandra yang tak henti-hentinya mengambil satu persatu jeruk itu lalu melemparkannya ke keranjang yang wanita itu gantungkan di keempat jarinya.


"Jika kau ingin yang lainnya, silahkan saja. Aku hanya akan memakan buah ini," terang Cassandra seraya menyerahkan beberapa koin perunggu pada sang penjual.


Elise tak bisa berkata-kata dibuatnya. Sepertinya majikannya satu itu maniak buah jeruk.


"Ini, ambillah sebanyak yang kau mau," tawar Cassandra menyodorkan keranjangnya.


"Terimakasih, Nyonya." Elise hanya bisa menerima setelah itu berterimakasih.


Mereka pun kembali berjalan-jalan mengitari pasar. Cassandra tampak asik mengupas sekaligus memakan buah berwarna oranye itu dengan mata yang terus berlari kesana kemari.


Namun yang anehnya, wanita itu sama sekali tidak membuang kulit buah itu yang dianggap sebagai sampah.


Elise pun keheranan dibuatnya. "Kenapa anda tidak membuang kulitnya, Nyonya?"


"Daripada dibuang, lebih baik aku gunakan saat aku mandi," ungkapnya.


Elise tampak menghela nafas, kebiasaan majikannya yang satu ini benar-benar aneh dan membuat geleng-geleng kepala.


Cukup lama mereka berkeliling, melihat-lihat, serta membeli barang yang ingin diinginkan.


"Nyonya, hari semakin dingin dan gelap, sudah seharusnya kah kita pulang?" tanya Elise dibalas anggukan oleh sang lawan bicara.


Mereka pun melangkah hendak pulang kerumah, karena jarak yang terpaut antara rumah mereka dan pasar ini tidak jauh, jadi mereka pulang hanya bermodalkan langkah saja.


Namun sungguh tak disangka, ternyata ada seseorang tercela yang menarik tas berisikan milik seorang wanita tua yang tengah membawa belanjaannya.


Sosok itu sangat cepat berlari, sehingga membuat wanita tersebut sontak berteriak. "Pencuri!!"


Lantas, kedua wanita yang berstatuskan majikan-pelayan ini menoleh dan terkaget.


Tak hanya mereka berdua, namun beberapa orang yang di sana pun sama kagetnya.


"Elise, kau tunggu di sini. Jaga buah jeruk ku," titah Cassandra secara cepat menaruh keranjang buahnya di genggaman Elise.


"Tunggu, memangnya anda mau kemana, Nyonya?!" sela Elise heran.


"Melakukan suatu kebaikan." Bagaikan angin, wanita itu melesat berlari dengan kaki kurusnya mengejar pencuri yang sempat diteriakkan.


"Nyonya!! Nyonya!! Astaga!!"


...🥀...


Cassandra Pov


Aku berlari secepat yang kubisa, mengejar manusia tidak bermoral yang tahunya hanya bisa mencuri seperti orang yang tengah kukejar ini!


Dia menghadap belakang, sepertinya dia menyadari keberadaanku yang mengejarnya.


Namun aku tak peduli, aku sangat membenci orang sepertinya, aku harus menangkapnya!


Dan tiba-tiba saja dia menghilang, aku kebingungan dibuatnya. Kemana dia?


Tempat ini juga gelap, dan hawa dingin menusuk-nusuk kulit. Hingga aku belum sempat berbalik badan, sebuah belati tertodong di leherku.


"Kukira siapa yang mengejar adikku, ternyata hanyalah seorang wanita," ejek sosok di belakangku ini.


Di saat ia semakin menipiskan jarak antara tajamnya belati itu dengan leherku, terpaksa aku mengadahkan kepalaku.


Dan muncullah satu sosok lagi yang ternyata seseorang yang tengah kukejar tadi seraya memutar-mutar tas wanita tua yang dirampasnya.


"Sungguh melelahkanku saja, apa yang harus kita lakukan pada dia, Kak?"


"Dua lawan satu? Dasar pengecut," ejek ku sembari berdecih.


"Jangan berlagak kuat, dasar wanita lemah!" sergahnya.


Oh, apa dia sudah emosi?


"Berlagak kuat? Bukankah kalian yang banyak berbicara namun mengalahkan satu wanita harus berdua  melambangkan bahwa kalian hanya berlagak kuat?" pancingku padanya seraya tersenyum meremehkan.


"Sialan!" Dia akhirnya terpancing emosi lalu membalikkan badanku dan berniat menamparku.


Aku menutup kedua mataku erat ketika layangan tangan itu berniat memukul pipiku.


"Cih, wanita yang hanya bisa berlagak sombong membuatku sangat muak!" Dia mulai mencengkeram kuat wajahku seraya menatapku.


"Hm... jika dilihat-lihat, ternyata kau sangat cantik, ingin bersenang-senang bersama kami?"


Sudah kuduga kalimat itu akan terlontar dari pria brengsek seperti kalian. Ini waktunya melancarkan aksiku!


"Peter! Tutup mulut!"


"Baik!" Pria yang merampas tas wanita tua tadi menutup mulutnya.


"Bukan mulutmu yang ditutup, bodoh!" teriak pria yang satu lagi.


Astaga, bodohnya. Aku ingin tertawa namun aku berusaha menahannya untuk kelancaran aksiku.


"K-kumohon... lepaskan aku...," lirihku dengan air mata yang mulai mengalir dengan tanganku yang mulai merayap ke saku gaunku secara perlahan-lahan dan diam-diam.


"Heh! Sekalinya wanita tetaplah wanita! Lemah!" Dia semakin mendekatkan wajahnya padaku, dan ternyata timing nya pas sekali.


Senyum licik langsung terlukis begitu saja di wajahku. "Bodoh."


"Ap-- argh! Mataku!"


Sebelum pergi bersama Elise dan mengejar pria ini, aku telah mempersiapkan satu botol yang diisi air campuran dengan lada dan bubuk cabai.


Ayolah, aku tidak mungkin sebodoh itu mengejarnya tanpa mempersiapkan perlindungan terlebih dahulu.


Saat dia sibuk mengerang kesakitan, dengan cepat aku menendang masa depannya dengan dengkulku yang mempunyai kekuatan yang bisa dibilang cukup kuat.


Tanganku memang lemah, namun kaki ku tidak. Ingatkah kalian bahwa aku adalah mantan pemenang lari estafet semasa aku sekolah?


Saat itu juga dia tumbang, seraya memegangi masa depannya. Kuambil belati yang sempat berada di genggamannya, lalu menatap remeh pria satu lagi.


"Ingin bernasib sama?" ancamku memutar-mutar belati itu di tanganku ini.


"Ma...."


Dia hendak mengatakan sesuatu, dan dengan senang hati aku menunggunya.


"Maafkan kami, Bos!!" teriaknya seraya bersujud padaku.


Tunggu tunggu, apa maksudnya ini? Bos?  Bukankah seharusnya membalas perbuatanku kepada temannya?


"Kami hanyalah rakyat jelata yang kekurangan, kami mencuri karena ingin memberi makan adik-adik kami, maafkan kami Bos!"


Aku kaget, bahkan sangat-sangat kaget, ini sungguh di luar dugaanku.


Bahkan pria yang sempat aku tendang masa depannya itupun juga bersujud padaku.


"Kumohon jangan laporkan kami. Kami akan menuruti kehendakmu, kau sangat kuat dan bijaksana, Bos!"


Entah kenapa aku menjadi tidak tega, namun aku tidak boleh lengah begitu saja.


"Kalau begitu, serahkan semua senjatamu dan tas itu," titahku.


Tanpa keraguan, mereka mengeluarkan semuanya membuatku kembali terkejut.


Belati, tas, dan barang-barang lainnya kini tergeletak di tanah.


Aku hanya mengambil belati dan tas milik wanita tua tadi. Kemudian aku berjongkok di hadapan mereka yang masih bersujud padaku, dan menaruh dua keping emas tepat di hadapan mereka.


Mereka tampak mengadahkan kepalanya dan terkejut melihat kepingan emas itu.


"Apa ini cukup untuk memberi makan adik-adik kalian?" tanyaku lembut. Senyuman tak lupa kulukis dan kulayangkan pada mereka.


Mata mereka berkaca-kaca karena haru, membuat hatiku menghangat dapat menolong orang yang tengah kesusahan.


Aku pikir mereka manusia egois yang bisa merampas dan tak memikirkan nasib orang lain, namun ternyata mereka terpaksa melakukannya, hanya untuk memberi makan adik-adik mereka.


"Terimakasih... terimkasih banyak, Bos...!" Mereka beberapa kali mengangguk-anggukan kepala mereka sebagai tanda berterimakasih.


"Sudah, berdirilah! Kalian tidak perlu terus bersujud seperti itu padaku," sela ku.


"Maafkan kami awalnya berniat mencelakakan anda, Bos! Mulai sekarang, kami akan menuruti segala perintah anda!" serunya.


"Aish! Sudah kubilang berdirilah!" Karena geram, kutarik lengan mereka berdua hingga mereka berdiri.


"Kalian tidak perlu berterimakasih, karena sudah menjadi tugasku menolong orang lain," ungkapku.


"Bos...! Huwa bos kau sangat baik hati!" rengek mereka seraya memeluk satu sama lain.


"Oh wahai adikku, Peter. Apakah sosok yang berdiri di hadapan kita ini adalah Bidadari?" ujarnya dramatis membuatku menahan tawaku.


"Oh wahai kakakku, Patrick. Sebenarnya begitu, sungguh beruntungnya nasib kita bisa bertemu dengan Dewi seperti Bos!"


"Bos adalah bidadari!" sela Patrick.


"Tidak, Bos adalah Dewi!" balas Peter tak mau kalah.


"Kau menentangku, ayo sini lawan aku!"


"Hei, siapa takut!"


"Adududuh!" gaduh mereka kesakitan karena aku menarik kedua telinga mereka agar bisa diam.


"Sudah cukup! Aku bukanlah Bidadari maupun Dewi, aku hanyalah manusia seperti kalian! Mengerti?!" lerai ku semakin menarik kuat kedua telinga mereka.


"Aw aw aw aw, iya Bos kami mengerti!"


Aku pun langsung melepas telinga mereka lalu melipat kedua tanganku. "Jadi, kalian bilang kalian akan menuruti semua permintaanku, bukan?"


"Ya, Bos! Kami akan memenuhi permintaan Bos, apa saja!" seru mereka.


"Lalu apa kalian bisa mengantarkanku kembali ke tempat tadi?"


"Tentu saja. Bos ingin naik apa? Kami gendong, atau kereta sapi kami?"


"Hei tidak mungkin aku meminta kalian untuk menggendongku! Itu--" Aku baru sadar dengan kalimatnya yang selanjutnya. "Tunggu, kau bilang tadi kereta apa?" tanyaku memastikan.


"Kereta sapi milik kami, Bos. Itu!" tunjuknya ke arah belakangku dan aku langsung menoleh.


Aku baru sadar ternyata ada kereta sapi di belakangku.


"Baiklah, kalian antar aku," perintahku.


"Siap, kalau begitu ayo naiklah, Bos!' serunya mengajakku.


Namun aku sempat diam karena ada hal yang menganggu ku.


"Ada apa, Bos? Bukankah anda ingin pulang?" tanya Peter bingung terhadapku.


"Itu...," raguku. "Kalian tidak akan menculikku, bukan?" tanyaku memastikan.


Karena bahaya jika dia menculikku di tempat yang asing, bisa-bisa aku tersesat nantinya.


Mereka tergelak memegangi perut mereka. "Hahaha! Astaga, Bos! Kau telah membantu kami, kami tidak mungkin mencelakaimu!" ujarnya membuatku tersenyum tak enak.


"Meskipun kami pencuri, kami tetaplah manusia. Kami mempunyai hati, Bos."


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^17 Desember 2020^^^