
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Pasukan Nephorine menyerang wilayah bagian barat kita?" tanya seorang pria yang berjulukan sebagai putra mahkota, pangeran pertama, Pangeran Yari.
"Ya, mata-mata kita yang berada di wilayah barat habis tak tersisa," jawab sang pemimpin kerajaan Erosphire, Raja Hamilton Erosphire.
"Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak ada masalah dengan Kerajaan mereka?" sahut sang pangeran kedua, pangeran Darren.
"Aku juga tak tahu, tapi ini tak bisa di biarkan, pasukan mereka lebih dari 800.000 orang, kita kalah jumlah."
"800.000 orang?!" Semua yang ada di ruangan itu terperangah, tapi tidak untuk pria bersurai pirang ini.
"Tapi, pasukan kita hanya 300.000 orang, Yang Mulia!" sela Marquess Houbatten.
Raja Hamilton mendengus kasar. "Bagaimana pendapatmu, Duke Floniouse? Sebagai pahlawan yang membawa kemenangan pada perang tahun lalu, apa kau punya solusi?"
Arlen melirik sejenak. "Menurut saya sebaiknya kita jangan bertindak gegabah terlebih dahulu. Kita harus mengetahui kelemahan mereka terlebih dahulu agar bisa mengalahkan 800.000 pasukan itu. Untuk sekarang, lebih baik kita memikirkan solusi yang paling tepat," papar nya.
"Namun bagaimana solusinya? Kita hanya memiliki 300.000 pasukan, sedangkan mereka 800.000 pasukan, pasukan mereka hampir tiga kali jauh lebih banyak. Mengetahui kelemahan mereka juga tidak ada gunanya jika kita kalau jumlah," protes Pangeran Darren.
Mendengar pernyataan Pangeran Darren, semua bangsawan-bangsawan yang ada di ruangan itu langsung bergumam dan saling berbisik.
"Tentu hal itu bisa," tegas Arlen. "Apa kau pernah mendengar bahwa semut bisa mengalahkan seekor gajah?"
"Apa maksudmu sebenarnya, Duke Floniouse?" tanya Pangeran Yari yang tampak tenang sedari tadi.
Pria bersurai pirang ini memasang tampang tegas. "Sebelum saya menjawab, saya ingin bertanya pada semua yang ada di dalam ruangan ini. Menurut kalian bagaimana semut dapat mengalahkan gajah yang memiliki badan besar dan kulit yang keras?"
Seluruh umat manusia yang ada di dalam ruangan itu tampak kembali riuh dan saling berdiskusi.
Namun, tak ada satu pun yang dapat menemukan jawabannya.
"Cepat katakan saja apa yang ingin anda sampaikan, Duke Floniouse," ucap Pangeran Darren dengan penekanan.
Arlen mengulas senyum miring. "Ada apa dengan mu, Pangeran Kedua? Sepertinya kau telah menyerah sebelum mencoba di peperangan kali ini," sindir pria itu mengundang decak kesal yang dilontarkan oleh Pangeran Darren.
"Lalu, apa jawabannya, Duke Floniouse?"
tanya sang Raja masih tenang dan berwibawa.
"Saya rasa saya tahu jawabannya, Yang Mulia," sahut Pangeran Yari. "Semut itu akan menyerang bagian dalam gajah yang lembut, seperti bagian dalam dari belalai nya yang panjang, apakah itu benar, Duke Floniouse?"
"Ya, tepat sekali, Yang Mulia. Oleh karena itu, sedikit apa pun pasukan kita, asal kita menemukan titik lemah mereka, mereka tak bisa berkutik."
Suasana kembali di isi dengan bisikan-bisikan, hingga akhirnya suara dari pemimpin mereka mengakhiri gumaman-gumaman tersebut.
"Pendapatmu cukup masuk akal, Duke Floniouse. Namun untuk sekarang, seperti yang kau bilang, lebih baik kita jangan bertindak gegabah terlebih dahulu. Jika kondisi memang sudah mendesak, baru lah kita akan mengambil langkah selanjutnya."
Pernyataan sang Raja menjadi keputusan akhir yang membubarkan rapat tersebut pada hari itu.
...🥀...
Hari telah berganti demi hari, hingga tak terasa hampir dua bulan terlewat sejak Cassandra berada di tempat ini.
Untuk sekarang, setidaknya keadaan wanita bersurai coklat itu tidak seburuk dan semiris saat beberapa hari sejak kejadian yang berhasil mengguncang jiwanya waktu itu.
Saat ini, diri nya sudah tidak terlalu takut jika berhadapan dengan seorang pria. Sambil berbaring, dia pun menceritakan bagaimana ciri-ciri yang ia alami waktu itu setelah meminum Wine pemberian Anastasia.
Namun dirinya tidak memberitahu bahwa Wine yang membuat dirinya seperti ini adalah Wine pemberian Anastasia, karena dia ingin membalas perbuatan wanita ular itu dengan caranya sendiri.
Lagipula, dirinya tidak mempunyai bukti untuk mengatakan bahwa Anastasia lah dalang di balik ini.
Karena di dunia ini belum ada yang namanya kamera pengawas atau bisa di sebut CCTV.
Jadi, jika dirinya menuduh Anastasia tanpa bukti yang kuat, sudah pasti siapa pun tidak percaya, karena semua orang tertipu oleh penampilan imut dan lugu wanita itu.
"Apa yang kau rasakan setelah meminum Wine itu?" tanya tabib yang Arlen panggil untuk memeriksa keadaan Cassandra.
Sambil menyenderkan punggungnya di kepala dipan, Cassandra menarik nafas menghembuskan nya pelan.
"Santai saja, ceritakan apa yang ingin kau ingat saja. Jika kau paksakan, mungkin mentalmu akan terguncang lagi," ucap tabib itu lembut dan Cassandra pun mengangguk pelan.
"Setelah saat saya meminum Wine itu, saya mulai merasa pandangan saya terasa kabur, wajah saya pun memerah persis seperti orang yang baru saja mabuk."
Arlen yang tengah berdiri seraya bersandar di dinding, menyilangkan kedua tangannya lalu fokus menyimak setiap kalimat yang terlontar dari bibir wanita itu.
"Apa hanya gejala tersebut yang kau alami?"
Cassandra tampak mengingat-ingat. "Saya juga merasakan seluruh badan saya mati rasa. Saya tidak bisa merasakan apa-apa waktu itu, dan saya pun tak bisa mengeluarkan tenaga saya," jelas Cassandra sambil tertunduk membuat tabib itu tampak berpikir.
"Jadi, apa penyebab semua ini?" tanya Arlen yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.
"Sepertinya, ini adalah efek dari tanaman Kanna, Tuan," ujar tabib itu membuat Arlen mengernyit bingung.
"Kanna, tanaman apa itu?"
"Kanna adalah sejenis tanaman yang dapat membuat orang merasa tenang dan mengantuk, Tuan. Tapi, jika digunakan secara berlebihan, tanaman itu dapat membuat penggunanya berhalusinasi sampai badan mereka mati rasa," jelas tabib itu.
"Jadi kemungkinan, orang yang menaruh tanaman itu bukanlah orang biasa, karena tanaman Kanna bukanlah tanaman yang mudah di dapatkan," lanjutnya mengutarakan opininya.
"Bukan orang biasa?" gumam Arlen.
Tak lama dari itu, suasana menjadi hening. Namun dengan cepat, Cassandra memecah keheningan tersebut.
"Kalau begitu, apa saya bisa mengalami halusinasi itu lagi?" tanyanya seraya meremas selimut yang membalut hingga dari kaki hingga pinggangnya.
Terdapat keresahan dan ketakutan di balik iris coklat gelap yang membaur dengan pupil nya.
Tabib itu mengulas senyum di wajah nya yang mulai berkerut. "Tenang saja, jika kau tidak mengkonsumsi nya lagi, kau tidak akan berhalusinasi lagi," jawabnya berusaha menenangkan.
Wanita bersurai coklat tua bergelombang itu tampak menghembuskan nafas pelan, kemudian mencoba tersenyum. "Baiklah, terimakasih," ucapnya tersenyum lemah.
Tabib itu kembali tersenyum, kemudian bangkit berdiri dan hormat secara sopan pada Arlen.
"Kalau begitu, hamba pamit undur diri, Tuan. Nyonya pasti akan baik-baik saja, usahakan untuk tidak melakukan sesuatu yang mengundang trauma nya, atau Nyonya akan kembali tertekan." Nasihat tabib itu, kemudian pergi.
Kini tinggal mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu, awalnya mereka hanya diam saja, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Namun tak lama dari itu, Arlen pun mulai melangkah kan kaki jenjang nya untuk pergi dari kamar itu. Lantas, Cassandra dengan sigap memanggilnya hingga langkah pria itu terhenti.
"Uhm... bisa kau kemari sebentar?" tanya wanita yang tengah duduk di atas permukaan dipan itu ragu-ragu.
Arlen dengan segera melangkahkan kaki nya mendekat ke arah wanita itu sesuai dengan permintaannya.
Sambil menunggu wanita itu bicara, dirinya hanya diam dengan raut wajahnya yang datar.
"I-itu... aku hanya ingin... b-berterimakasih padamu telah menyadarkan ku waktu itu," ucap wanita itu tergagap.
"Asal kau tahu, aku tak akan puas hanya dengan rasa terimakasih," sela nya seraya memalingkan wajah.
"Lalu apa yang kau inginkan? Aku mungkin bisa mengabulkan nya."
"Yang kuinginkan, hm?" Pria itu mulai menundukkan kepalanya mendekati Cassandra lalu berbisik. "Entahlah, aku perlu memikirkannya."
Cassandra merasakan rasa panas menjalar ketika pria itu menghembuskan nafasnya di daun telinganya.
Aneh, entah kenapa dia tidak takut ataupun terganggu sama sekali.
Dengan perlahan tapi pasti, Cassandra menjauhkan tubuh pria itu yang terlalu dekatnya.
"Kalau begitu, ketika kau sudah memikirkannya, kau bisa mencariku."
Cassandra kembali memasang wajah tenang seraya mengambil sebuah buku yang berada di sebelahnya.
"Buku apa itu?" tanya Arlen terusik sekaligus sedikit penasaran.
"Hei, menjauhlah!" sergah nya tapi tak berhasil membuat Arlen tak bergeming.
"Apa yang sedang kau baca?" tanyanya kembali.
Cassandra mendengus pasrah. "Hanya novel romantis biasa," jawabnya lalu netra nya pun kembali fokus pada setiap huruf yang tertulis rapi di buku yang lumayan usang tersebut.
Entah bagaimana mereka berdua malah menjadi membaca secara berjamaah, karena Arlen yang ikut-ikutan membaca novel yang biasanya di baca oleh para kaum hawa.
Tak lama kemudian, raut jijik terpatri di wajah tampan pria bersurai pirang itu di karenakan kata-kata romantis yang ada di dalam novel itu.
"Apa ini? Pemeran pria nya sangat berlebihan, bahkan menggunakan kata-kata romantis murahan yang menjijikkan seperti itu," celoteh nya membuat Cassandra hanya memutarkan bola matanya jengah.
"Itu tidaklah menjijikkan, itu romantis," protes wanita itu tak terima.
Tak lama dari itu, Cassandra terkesiap karena buku nya di tutup begitu saja. Netranya menyalang tajam menatap sang pelaku.
"Daripada kau membaca buku membosankan seperti ini, lebih baik kau ikut denganku," ujar pria itu bangkit dari duduknya.
"Ikut denganmu? Kemana?" tanya Cassandra ingin tahu.
"Ke sebuah desa kecil, akan ada festival di sana."
"Festival?!" Seketika bola mata wanita itu berpendar-pendar. "Aku ikut denganmu!"
"Persiapkanlah dirimu, kita akan pergi saat petang nanti," ujar pria itu lalu pergi.
Seusai Arlen pergi, entah kenapa Cassandra kembali bersemangat, dengan cepat dia berdiri untuk membersihkan dirinya sambil menjerit memanggil pelayan setianya.
"Elise! Cepat kemari dan bantu majikanmu yang cantik ini berpakaian!"
...🥀...
"Kau sudah selesai?"
Cassandra mengangguk, lalu Arlen pun melangkah dan dirinya pun mengikuti langkah pria itu.
Tapi, suara dari belakang menginterupsi niat mereka.
"Arlen, Cassandra, kalian mau kemana?" Suara imut dan menggemaskan itu menusuk-nusuk pendengaran Cassandra membuat empu nya mendengus pelan.
"Desa Priviillage," jawab Arlen singkat.
"Desa yang mengadakan festival perang tomat itu?! Apa aku boleh ikut dengan kalian?" tanya Anastasia ber antusias.
Cassandra berusaha tersenyum untuk menutupi kekesalannya, padahal dia ingin bersenang-senang, namun wanita ular itu malah menggangu nya.
Pria bersurai pirang yang berada di sebelahnya melirik dirinya sejenak.
Seakan tahu bahwa istri pertamanya tersebut merasa tak senang, dia pun membuka suara.
"Aku dan Cassandra bukan pergi untuk menghadiri festival itu, kami hanya ingin menemui tabib di sana."
Cassandra langsung mengedarkan pandangan nya untuk melirik pria itu, tapi dengan cepat ia kembali mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu, aku akan ikut--"
"Selagi kami pergi, bisakah kau menetap di sini untuk berjaga?" potong Arlen sebelum Anastasia menyelesaikan perkataannya.
Diam-diam, wanita itu mengepalkan telapak tangannya di belakang rok gaunnya yang mengembang.
"Baiklah, kalau begitu kalian pergilah. Aku akan menetap di sini," ucapnya sambil tersenyum manis.
Setelah itu, mereka berdua pun menaikkan kereta yang akan mengantarkan mereka menuju desa yang menjadi tujuan mereka.
Cassandra Pov
"Kenapa kau tak mengajak Anastasia?" tanyaku sedikit ketus, yah walaupun aku senang bahwa wanita itu tidak ikut dengan kami.
"Karena ada yang cemburu, jadi aku tidak mengajaknya," ucapnya santai sambil melipat kedua tangannya.
"Aku tidak cemburu!" sergah ku dengan cepat.
Lagipula siapa yang cemburu pada pria meyebalkan sepertinya?!
"Apa aku bilang bahwa itu kau?"
Skakmat!
Ujarnya membuat bungkam sekaligus merutuki diriku sendiri karena malu.
Stupid Cassandra!
"Ekhem!" Aku pun berdehem seperti orang berwibawa untuk menutupi rasa malu yang menghampiri ku.
Ku kepalkan tanganku dan ku posisi kan di depan bibirku lalu duduk dengan tegap berusaha untuk menghindari tatapannya.
Tak lama dari kami menempuh perjalanan, akhirnya kami pun sampai.
Terdapat banyak warna merah dan tomat berserakan di mana-mana, bahkan banyak orang saling melempar tomat dari sama lain.
Kurasakan ada sesuatu yang hangat dan besar menggengam telapak tanganku, sontak aku pun langsung melihat apa itu.
"Ayo." Ajak pria bersurai pirang yang ternyata pelaku yang menggenggam telapak tanganku.
Di duniaku dulu, aku sangat membenci pria yang secara lancang menyentuh bagian tubuhku. Kecuali untuk pekerjaan.
Namun, berbeda dengan sekarang. Justru aku malah merasa nyaman. Apa ini bawaan dari tubuh Cassandra la Devoline?
Entahlah, aku tak akan pernah mengetahuinya.
Untuk sekarang, diri ku hanya ingin mengikuti kemana dirinya akan pergi membawa ku.
Beberapa langkah kami berjalan, kini terdapat sebuah toko yang menjual banyak buah tomat.
Kami pun langsung menghampiri nya, dan Arlen membelinya dalam jumlah yang tak sedikit.
Sultan mah bebas.
Dia memberi ku setengah dari yang dia beli, dan dengan senang hati aku menerimanya.
Ceprak!
Belum sampai satu menit, kini ada sebuh tomat yang terlempar hingga pecah mengenai bagian belakang kepalanya.
Dia menunjukkan ekspresi terkejut seperti anak kecil yang baru saja menjatuhkan es krimnya sambil memegang kepalanya, dan aku benar-benar tak bisa menahan tawa ku melihat wajahnya.
"Hahaha!" Aku mengusap secercah air yang mengalir dari pelupuk mataku karena perutku yang sakit karena tertawa.
"Selucu itu kah menurutmu?" Dia bertanya sambil memandangku dengan wajah merajuk nya.
Tapi tak lama, kini malah aku yang menunjukkan raut wajah terkejut karena dia melempar tomat yang ada di genggamannya persis di wajahku.
Aku mengembangkan pipi ku kesal. "Sini kau!" teriak ku ingin membalas perbuatannya, tetapi dia malah melarikan diri sehingga kami berkejar-kejaran seperti kucing dan anjing.
Saat kami sibuk melempar tomat satu sama lain, tawa lepas menghiasi wajah tampannya yang biasanya di hiasi raut dingin dan datar.
Sudut bibirnya terangkat, lesung pipinya tercetak jelas, alisnya mengernyit dengan kelopak matanya yang tertutup saat dia berhasil melempar tomat tepat ke wajahku untuk kedua kalinya.
Aku... sangat menyukai tawa tulus itu.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^17 November 2020^^^