The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Ratu?!



Previously....


Seharusnya tak seperti ini. Padahal yang merasa tersakiti bukanlah aku, melainkan dia.


Tapi malah justru aku yang menangis meraung-raung seperti ini.


Kau benar Cassandra, semua yang kau katakan itu benar.


Aku... egois.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(38) ...


"Pergelangan kakinya patah, apa Countess baru saja mengalami kecelakaan yang cukup parah?" tanya tabib yang baru saja dipanggil oleh Arlen untuk datang memeriksa kondisi kekasihnya yang tengah terluka tersebut.


Anastasia melipat bibir, tak lama dari itu dia pun menghela nafas dan mulai berbicara. "Ya, itu benar. Cassandra baru terjatuh dari jurang," jawabnya.


"Begitu. Untuk sementara, lebih baik Countess jangan banyak bergerak terlebih dahulu. Saya akan memberikan obat, dan pastikan Countess memakannya secara rutin sesuai resep yang sudah saya berikan." Tabib itu kemudian mengemas barang-barangnya.


"Baiklah, terima kasih, Tabib." Anastasia berujar dan dibalas tundukan hormat oleh tabib tadi.


"Itu sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu, saya pamit undur diri, My Lord, My Lady," pamit tabib itu kemudian berjalan keluar dari ruangan Cassandra.


Selepas kejadian yang cukup mencekam tadi, mereka pun akhirnya pulang ke kediaman Cassandra dengan kereta yang Arlen bawa.


Kamar itu terasa sangat sunyi, karena pemiliknya saat ini tengah terbaring lemah dengan peluh yang membanjiri dahinya, menandakan bahwa gadis berhelai coklat itu tengah menahan sakit dalam tidurnya.


Anastasia pun tertunduk sembari memainkan kuku jarinya. Tak jarang sesekali ia melirik lelaki yang ada di sampingnya yang tengah menatap Cassandra dengan raut khawatirnya yang samar.


Dirinya ingin mengucapkan sesuatu, namun lagi-lagi keraguan menghalanginya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Arlen membuat Anastasia terkesiap.


Apa lelaki ini bisa membaca pikirannya?


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ingin mengatakan sesuatu?" tanya Anastasia ingin tahu.


"Gerak-gerikmu yang mengatakannya. Kau selalu memainkan kukumu ketika ingin berbicara sesuatu yang tak bisa kau sampaikan," jelas Arlen.


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?"


"Tentu saja karena kau adalah sahabatku sejak lama."


Anastasia tersenyum. Dia kira, setelah mengenal Cassandra, Arlen akan langsung melupakan segalanya tentang dirinya. Namun, ternyata lelaki itu masih mengingat dirinya sebagai sahabatnya.


Bahkan Arlen pun mengetahui kebiasaannya, entah kenapa hal itu membuatnya sedikit senang. Walaupun Anastasia harus meneguk kenyataan pahit, jika lelaki itu menaruh perasaan pada Cassandra.


Tapi hal itu sudah tak lagi mengganggunya, karena dia juga tidak boleh egois dengan merebut kembali Arlen dari Cassandra seperti yang sahabatnya itu ceritakan.


Dan entah kenapa, ternyata melepaskan Arlen untuk Cassandra tidak se-sakit dan se-susah yang Anastasia bayangkan. Justru ia merasa sedikit lega, bahwa gadis seperti Cassandra lah yang mendapatkan cinta dari Arlen.


"Hei, Arlen. Apa benar kau dan Cassandra... telah mengalami kematian sebelumnya?" tanya Anastasia sedikit ragu. Karena gadis itu takut menyinggung privasi Arlen.


Lelaki bersurai pirang itu nampak sedikit terkejut. Namun tak lama dari itu, terdengar helaan napas halus terdorong dari pernapasannya. "Dia memberitahumu tentang hal itu?"


"Begitulah. Lalu Cassandra mengatakan, bahwa dia dituduh membunuh Yang Mulia Raja Yari. Setelah itu... dia terlahir kembali."


"Ya, itu semua benar."


Mendengar itu, Anastasia kembali bertanya dengan hati-hati. Karena dia sangat penasaran bagaimana nasib Arlen setelah ditinggalkan oleh Cassandra.


"Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu terlahir kembali?" tanya Anastasia berharap sahabat masa kecilnya itu tidak marah.


Arlen terdiam sejenak dengan ia menahan mata yang tak terlepas dari Cassandra sedikitpun. Kemudian lelaki itu berkata. "Aku dieksekusi."


Anastasia membelalakkan matanya. Dieksekusi? Dia tidak bisa membayangkan bahwa Arlen melewati hal itu.


"D-di-dieksekusi? Bagaimana bisa...?" tanya gadis itu terbata-bata.


"Orang yaang menuduh Cassandra membunuh Yang Mulia adalah Pangeran Darren. Oleh karena itu, aku menyimpan dendam padanya," papar Arlen.


Lagi-lagi, Anastasia tak bisa berhenti dari keterkejutan yang menyerang dirinya. "P-pangeran Darren...? Bagaimana bisa dia melakukan hal sekejam itu...?"


"Karena kesal dan sakit hati karena Cassandra meninggalkanku, aku pun memenggal kepalanya seperti yang Pangeran Darren lakukan terhadap Cassandra setelah dia menjadi raja selanjutnya."


Sekarang Anastasia mengerti. Ternyata... Arlen benar-benar mencintai Cassandra. Dan dirinya, sudah tak memiliki sepeser pun kesempatan yang tersisa.


"Kau... begitu mencintai Cassandra, ya?" lirih Anastasia lebih menjerumus ke pernyataan dibanding pertanyaan.


"Tentu saja. Jika perlu, aku akan memberikan seluruh kehidupan yang kupunya untuknya." Arlen berkata lugas tanpa ragu.


Anastasia lagi-lagi tersenyum getir. Oleh karena itu, dirinya harus segera melupakan Arlen agar ia tidak lagi menjadi penghalang di antara hubungan kedua sahabatnya tersebut.


"Kalau begitu, jagalah Cassandra. Kumohon, jadilah perisai yang selalu siaga melindunginya. Jadilah pedang yang bisa menjadi senjata yang suatu saat dia perlukan, Arlen," pinta Anastasia dengan tatapan tulus dan senyuman lemah yang manis.


Gadis bernetra hijau itu berkata melalui hatinya yang murni, dia sudah benar-benar tidak ingin lagi memicu konflik yang akan menghancurkan hubungan mereka bertiga seperti dulu.


"Tentu saja, aku janji kepadamu akan hal itu," tegas lelaki beriris aquamarine terang itu.


"Kalau begitu, bisakah aku mendapat pelukan sebagai sahabat?" kelakar Anastasia sembari terkekeh kecil.


Namun tak disangka, ternyata Arlen benar-benar memeluknya. Gadis itu melebarkan kelopak matanya sejenak, namun tak lama dari itu dia menutup matanya.


Merasakan seluruh kehangatan yang menyebar ke seluruh denyut nadinya, dan kenyamanan yang mengisi seluruh lubang kekosongan dalam hatinya.


Ini... sudah cukup. Bagi Anastasia sekarang, mempunyai Arlen sebagai sahabat... sudah lebih dari cukup.


"Arlen, aku ingin bertanya satu hal lagi. Bagaimana nasibku di kehidupan sebelumnya?" tanya Anastasia melepas pelukan persahabatan itu.


"Kau ingin jawaban jujur?" Arlen berbalik tanya untuk memastikan.


"Kau menjadi ratu."


Gadis berambut emas itu tercengang dan ternganga. "A-aku...?! Ratu?!!" teriaknya tertahan mengingat Cassandra yang tengah terlelap dalam istirahatnya.


"Ya."


"B-bagaimana bisa aku menjadi ratu?" Anastasia masih tak percaya akan hal itu. Dirinya bahkan tak pernah membayangkan akan menjadi seorang ratu.


"Kau mengandung anak Pangeran Darren, tentu saja kau harus menjadi ratu ketika dia menjadi raja," jawab Arlen jujur.


Anastasia dapat merasakan pipinya memerah. Mengandung anak Pangeran Darren? Bagaimana bisa dirinya berbuat seperti itu? Membayangkannya saja langsung membuat dirinya tercebur ke dalam kolam yang dipenuhi rasa malu.


"T-tapi, bagaimana bisa aku sampai berhubungan dengan pangeran Darren? Tidak mungkin seorang pangeran menawan sepertinya menyukai perempuan sepertiku. Seharusnya dia menyukai perempuan yang anggun, dan lebih cantik dariku," papar Anastasia merendah.


Arlen sedikit tak suka ketika sahabatnya itu terdengar merendahkan dirinya sendiri. "Kau bisa menanyakan hal itu padanya. Kebetulan, dia ingin aku memberikanmu ini," ujarnya memberikan sepucuk surat yang dititipkan oleh pangeran Darren padanya.


Alis milik Anastasia menukik, kemudian tangannya pun meraih dan mengklaim surat itu. Ketika membaca tulisan demi tulisan yang tercetak di atas permukaan kertas kekuningan itu, Anastasia pun langsung menyembunyikannya dalam saku gaunnya dan bersikap seolah-olah tidak ada yang aneh.


Arlen mengetahui ada yang aneh dengan sahabatnya itu, karena manik mata milik Anastasia sedari tadi tak bisa diam.


"K-kalau begitu, karena sudah malam. Sebaiknya kau pulang. Ayah dan ibu pasti mengkhawatirkanku saat ini," kata Anastasia kemudian merapikan rambutnya dan menepuk rok gaunnya yang sedikit lusuh.


"Aku akan mengantarmu," tawar Arlen.


"Ah, tidak usah. Aku bisa sendiri, aku hanya akan meminjam keretamu. Kau jaga saja Cassandra, kasihan dia sendirian," potong gadis bersurai emas itu tampak beralasan.


"Baiklah jika kau berkata begitu."


Anastasia tersenyum atas pengertian Arlen, kemudian dia pun berjalan menuju pintu kamar Cassandra dan berniat keluar. Namun sebelum itu, dia berpamitan dengan lelaki yang menjadi sahabat masa kecilnya tersebut. "Kalau begitu, aku duluan. Jaga Cassandra untukku. Selamat malam, Arlen!"


Suara pintu yang tertutup, menjadi penutup. Seketika suasana berubah sunyi, namun tak lama dari itu lelaki bersurai pirang yang ada di ruangan itu berbicara.


"Berhentilah berpura-pura tidur," perintahnya sembari mendekati gadis yang tengah berbaring di atas permukaan kasur yang empuk.


Seperkian detik, gadis itu terkekeh dan mulai membuka kelopak matanya lalu berusaha duduk sembari bersandar di kepala dipan.


"Jangan memaksakan diri untuk duduk," peringat Arlen menaruh bantal di belakang pinggang Cassandra agar gadis itu merasa nyaman.


"Tidak apa. Lagipula yang sakit hanyalah pergelangan kakiku," jawab gadis itu dengan wajahnya yang cukup pucat.


"Kau ingin makan sesuatu? Kau sangat pucat," kata lelaki bersurai pirang tersebut sembari mengusap pelipis hingga pipi milik kekasihnya.


Cassandra tersenyum atas perlakuan manis kekasihnya tersebut. "Tidak perlu. Aku tidak lapar," balasnya.


"Baiklah. Jika kau tidak ingin makan, maka kau harus menjawab pertanyaanku. Apa yang membuatmu nekat jatuh dari jurang bersama Ana, Cassandra la Devoline?"


Arlen tersenyum manis dengan kelopak matanya yang tertutup. Namun, Cassandra tahu bahwa lelaki itu saat ini pasti sangat-sangat marah padanya.


"Hm? Kenapa anda tidak menjawab, Nona Cassandra?" tanya lelaki itu masih setia dengan senyum manis mematikannya.


Arlen pun duduk di kursi yang berada tepat di samping pinggiran kasur Cassandra, kemudian duduk dengan kaki bersila.


Awalnya, Cassandra ingin beralasan. Namun sepertinya tak bisa jika kekasihnya tersebut telah menunjukkan senyum mematikan seperti itu, hingga gadis itu akhirnya mengela napas pasrah. "Baiklah-baiklah, aku menyerah. Kumohon hapus senyum mengerikanmu itu dulu."


Arlen kemudian memasang raut wajah yang datar dan tenang seperti biasa sembari bersedekap. Menunggu penjelasan yang akan terlayang dari bibir sang gadis.


"Aku sengaja menjatuhkan diriku, agar aku terlihat seperti menyelamatkan Anastasia. Lalu--"


"Aku tahu itu. Yang aku tanya adalah, apa yang membuatmu berbuat nekat seperti itu. Bukankah aku sudah melarangmu? Kau bahkan membohongiku," potong Arlen secara cepat.


Cassandra kembali menarik napas dalam sembari berkata dalam hati. "Sabar, Cassandra. Lagipula, dia marah karena ulahmu. Kau harus menenangkannya kembali," batinnya.


"Aku benar-benar minta maaf akan hal itu, namun aku melakukan semua itu agar Ana tak lagi membenciku. Aku tidak ingin dia menjadi seperti dulu lagi, Arlen. Kau mengerti, bukan?"


Kerutan yang awalnya terbentuk di antara kedua alis milik lelaki beriris biru langit itu, kini menghilang dengan helaan napas pasrah yang terhembus.


"Ya, aku mengerti. Tapi bagaimana jika tadi kau terjatuh dari jurang yang tinggi, dan bagaimana jika kau kehilangan nyawamu? Apa kau tak pernah berpikir tentang hal itu?" papar Arlen dengan nada melemah.


Cassandra tersenyum. "Kau tenang saja, sebelum aku memutuskan untuk jatuh dari jurang itu, aku sudah mengecek terlebih dahulu apakah jurangnya dalam atau tidak," jedanya.


"Saat aku menahan Anastasia yang hampir terjatuh ke jurang itu, aku sempat melihat ke bawah dan ternyata jurangnya tidak terlalu dalam. Oleh karena itu aku nekat untuk jatuh berdua dengan Anastasia," sambung gadis berhelai coklat itu.


Arlen masih setia mendengarkan penjelasan sang gadis, dia hanya diam mencermati dan meresapi segala penjelasannya.


"Jadi kau tak perlu khawatir. Aku juga memedulikan keselamatanku, karena aku tak ingin kau menderita lagi. Dan, aku juga tak ada niatan untuk meninggalkanmu lagi untuk kedua kalinya, Arlen."


Cassandra tersenyum manis sembari menahan sakit yang menjalar di pergelangan kakinya.


Secara mendadak, kini Arlen menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu dan memeluk pinggang ramping milik Cassandra. "Terima kasih. Aku tak tahu harus bagaimana jika kau kembali meninggalkanku," curah lelaki itu terdengar bergumam.


Tapi Cassandra bisa mendengarnya dengan jelas. Jari-jemari lentiknya pun kini memainkan helai demi helai rambut berwarna pirang milik lelakinya dan mengusap dengan lembut kepalanya.


"Apa kau juga akan menghadiri rapat yang diadakan lusa?" tanya Arlen masih setia menenggelamkan wajahnya di pangkuan Cassandra.


"Tentu saja. Aku tidak akan mengacaukan rencana yang telah aku susun sejak lama hanya karena sakit yang tak seberapa ini," jawab gadis itu.


"Kau keras kepala. Bagaimana bisa aku menghentikanmu, selain hanya menerima segala keputusanmu?"


Cassandra terkekeh mendengar curhatan pasrah dari kekasihnya, tak lama dari itu Arlen kembali berkata.


"Aku ingin menanyakan hal ini sejak lama. Bisakah kau menjawabnya secara jujur?" tanya lekaki itu mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah cantik milik kekasihnya.


"Apa?" tanya Cassandra mendengar nada bicara Arlen yang terdengar sangat serius.


Lelaki beriris biru itu sempat menatap dalam manik mata coklat milik sang gadis. Hingga tak lama dari itu, sebuah pertanyaan yang terlayang dari bibirnya cukup untuk membuat Cassandra tertegun.


"Ketika kita pergi ke festival, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku mungkin akan tersedak dan mati konyol sepertimu?"


...16.03.2021...