
Previously....
"Tunggu. Apa kau melihat Cassandra? Aku tak melihatnya sepanjang hari ini," kata pria itu.
"Saya tidak terlalu tahu, Tuan. Tapi saya sempat lihat, Nona sempat berganti pakaian kemudian pergi dengan seorang lelaki muda," terang pelayan itu.
"Lelaki? Apa itu putra dari Count Beronald?"
"Sepertinya bukan, Tuan. Karena lelaki itu memiliki rambut berwarna pirang."
"Begitu." Pria itu bergumam, sejak kapan putrinya dekat dengan lelaki selain anak dari Count Beronald sahabatnya?
"Kau boleh pergi," titahnya.
Pria itu kemudian menatap ke luar jendela, entah apa yang dipikirkannya. Yang dia lakukan hanyalah berdiam diri dan sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(6)...
Fyuh~
Akhirnya selesai. Ternyata berlatih pedang tidak semudah yang aku pikirkan selama ini.
Sebelum itu kau harus memperkuat fisikmu dulu, mempelajari teknik-teknik rumit, dan masih banyak lainnya.
Sungguh melelahkan. Setelah ini, lebih baik aku langsung tidur saja.
Kuketuk pintu rumah ini lalu menunggu beberapa saat hingga ada seorang pelayan yang akan membukakannya.
"Selamat datang, Nona. Apa anda ingin saya menyiapkan air mandi untuk anda?"
"Tidak perlu, aku akan langsung ke kamarku," ucapku kemudia berjalan menuju kamarku.
"Nona!"
Namun sebelum itu, pelayan tadi kini memanggilku hingga aku berhenti dari langkahku.
"Uhm... Tuan Viscount menyuruh anda untuk menghadapi beliau di ruang kerjanya," ujarnya.
Seketika aku mendengus kasar. Aku benar-benar lelah saat ini.
"Baiklah, terimakasih."
Secepatnya aku pergi menuju ruang kerja ayah. Aku hanya ingin ini cepat berakhir, dan semoga saja dia tidak menambah koleksi luka lagi di tubuhku.
.
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Jika sudah terdengar suara dari dalam, segera aku masuk dan tak lupa menyapa serta membungkuk hormat.
"Selamat malam, Ayah. Apa Ayah memanggilku?" tanyaku dengan kepala tertunduk.
Dapat kurasakan ayah mendekat ke arahku, saat ini aku hanya bisa berdoa agar luka tak lagi menghampiriku.
"Ayah tidak melihatmu seharian ini. Darimana kau?"
Sudah kuduga. Dia hanya akan membicarakan hal yang menurutnya penting. Sudah beratus-ratus kali kata sapaan aku ucapkan, namun sekalipun tak pernah dibalasnya.
Dari dulu aku selalu penasaran. Apa aku benar-benar anak kandung ayah? Karena sikap ayah menunjukkan seolah-olah aku hanyalah budak yang dipungut yang akan selalu dia gunakan untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri.
Ah, sudahlah. Aku tidak ingin kembali memikirkan hal ini dan tersesat dalam kesedihan lagi.
"Aku baru saja pergi berlatih pedang, Ayah."
"Berlatih pedang? Untuk apa kau melakukan itu? Sudah seharusnya perempuan duduk manis seraya mempercantik diri agar ada pria kaya yang ingin menikahinya. Kenapa kau selalu saja membuat ayah kesal?" cecar ayah.
Biarkan saja dia berbicara sepuas hati. Nanti juga dia akan lelah sendiri.
"Ayah sudah tak sanggup lagi menampungmu di dunia ini. Kau harus segera mencari pria untuk dinikahi dan biarkan pria itu yang akan menafkahi kehidupanmu selanjutnya."
Sontak aku mendongakkan wajahku tak percaya. Apa dia baru saja mengusirku? Apa dia baru saja bilang bahwa dia tidak ingin lagi menghidupiku? Putrinya sendiri?
"Kau akan menikah dengan siapa, ayah tidak peduli. Intinya kau harus menikahi bangsawan yang lebih tinggi darimu. Ayah sudah lelah mencarikanmu pasangan, karena kau selalu menolaknya. Ayah sudah muak dengan segala kelakuanmu yang selalu mempermalukan ayah."
Kucengkram sekuat tenaga ujung gaunku upaya menahan airmata yang berusaha mengalir. Aku berusaha diam dengan seluruh usahaku agar emosi ini tidak meledak begitu saja.
Hatiku berdenyut, dadaku sesak, tenggorokanku tercekik.
Seumur hidupku aku tak pernah mendapatkan rasa terimakasih dari ayah.
Seumur hidupku aku tak pernah mendapat kasih sayang dari ayah.
Seumur hidupku aku tak pernah mendapat pujian dari ayah.
Seumur hidupku aku tak pernah mendapatkan senyuman ayah.
Apa aku... benar-benar manusia di mata ayah? Apa aku benar-benar putrinya di matanya?
"Jika kau tak segera mendapatkan pasanganmu, maka kau akan kesusahan sendiri. Karena ayah sudah tak bisa lagi menampungmu di rumah ini. Jadi...."
Ayah berjalan pelan mendekat ke arahku kemudian mengatakan beberapa patah kata yang membuat diriku merasa hancur begitu saja.
Dia mengatakan hal yang sangat tak ingin kudengar dari dirinya.
"... enyahlah dari kehidupanku."
Blam!
Suara pintu menjadi penutup, aku hanya bisa diam berdiri mematung.
Aneh, aku hanya bisa diam. Tak ada satu kata pun yang keluar. Tidak ada satu aliran airmata yang terjatuh.
Ada apa denganku?
...~•~...
Lelaki yang tengah diam daritadi ketika pertemuan antara keluarga ini langsung melesat ketika pertemuan itu selesai.
Sahabat masa kecilnya yang memiliki wajah cantik dan imut tersebut sedikit kebingungan melihat lelaki itu.
"Kau terlihat buru-buru, mau kemana?" tanya gadis yang bernama Anastasia itu.
"Hanya pergi berlatih seperti biasa," jawab lelaki tersebut.
"Bohong." Gadis itu memiringkan kepalanya seraya menatap lelaki itu dengan jahil. "Tidak mungkin hanya ingin latihan kau sampai terburu-buru seperti ini."
Lelaki itu sempat berdecak sangat pelan lalu membuka rompi yang menyesakkan sehingga yang tersisa hanyalah baju berlengan panjang berwarna abu-abu.
"Terserah kau saja," balas Arlen lalu berjalan meninggalkan Anastasia di belakangnya.
Anastasia sempat terdiam sejenak bingung. Jarang sekali sahabatnya tersebut terburu-buru seperti ini.
"Kau lebih baik jujur denganku! Karena sebentar lagi kau akan menjadi tunanganku!" seru gadis itu dari belakang Arlen seraya terkekeh.
Namun anehnya, lelaki itu hanya diam dan terus berjalan.
Anastasia yang ada di belakangnya hanya bisa tersenyum lihat kepergian sahabat sekaligus calon tunangannya tersebut.
...~•~...
Sudah jam segini, di mana dia? Bukankah dia bilang jam delapan akan segera kembali latihan?
Ini sudah hampir setengah sepuluh, namun dia tak kunjung menunjukkan helai rambutnya yang lurus itu.
Langitnya mendung... sepertinya akan turun hujan. Bagaimana ini? Aku tidak membawa payung, karena aku benar-benar tidak akan menyangka akan turun hujan di musim panas.
Yah... semoga saja awan mendungnya tersingkirkan oleh cahaya matahari yang tak pasti akan menyinari.
Tik... Tik...
Seperti yang aku takutkan. Air mulai menetes dari langit, dan semakin lama semakin deras.
Tapi anehnya, aku tidak segera beranjak untuk berteduh. Aku hanya diam menikmati air yang mengguyur mulai dari kepala hingga kaki ku.
Perasaanku kali ini sama seperti hujan yang turun saat ini. Kacau balau. Tidak seimbang, dan tidak berarah.
Jujur, kejadian kemarin masih membuatku sesak. Walaupun aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya lagi, tapi memoriku terus mengulangnya.
Sedih? Tentu saja aku sedih. Anak mana yang tidak sedih ketika ayah kandung mereka sendiri berkata bahwa ayah mereka tidak menginginkan diri mereka?
Seperti itulah aku.
Andai saja... ada seseorang yang akan memelukku saat ini, dan berkata. Bahwa semua akan baik-baik saja.
Saat itu juga, aku merasakan kehadiran seseorang di belakangku. Aku juga merasakan air hujan tidak lagi menghujam kepalaku.
Sontak aku mendongak, akhirnya dia datang juga. Dia menggunakan rompinya untuk melindungiku dari tetesan air hujan yang menimpa.
"Apa yang kau lakukan? Kau bisa demam," ujarnya.
"Maaf. Ada sesuatu yang mendadak, aku tidak bisa tepat waktu."
Kuanggukkan kepalaku, kemudian kembali menatap ke tanah.
"Ada apa denganmu? Kau ada masalah?"
Apa sejelas itu?
"Begitulah, tapi itu bukan sesuatu yang terlalu penting," jawabku tersenyum getir.
Dia sempat terdiam menatapku beberapa saat, namun siapa sangka dia malah duduk di sampingku dan memiringkan kepalanya untuk menatapku.
"Aku bisa menjadi tempat penampung keluh kesah," ucapnya membuat darahku berdesir.
Apa aku bisa mempercayainya? Aku tidak tahu, tapi aku benar-benar butuh sandaran saat ini.
Perasaanku... kacau.
"Tentang ayahku. Dia bilang jika aku tidak segera menemukan pria yang bisa menafkahi kehidupanku, dia akan mengusirku," jelasku.
Dia diam mendengarkan, ternyata dia tahu betul bagaimana membuat orang untuk mempercayai dirinya.
"Dia secara tidak langsung tidak menginginkanku. Jujur... aku sedikit merasa sakit ketika dia mengatakan hal itu. Ayolah, siapa yang tidak sedih mendengar hal itu dari ayah mereka?"
Aku mulai tertawa hambar, dan kembali berceloteh sementara dia diam dan memperhatikan seluruh keluh kesahku.
"Aku tidak tahu... kenapa ayah begitu membenciku. Aku tidak tahu... kenapa ayah begitu tidak menginginkanku. Aku tidak tahu... apa yang bisa membuat ayah menganggapku sebagai putrinya."
Sejauh ini, tidak ada kata yang terlontar dari bibirnya. Hanya saja... terdapat banyak hal yang tersembunyi di balik pandangan iris biru langitnya.
"Cerita yang menyedihkan bukan?" tanyaku.
"Jika kau sedih, bagaimana kau masih bisa tersenyum. Itulah yang kupikirkan setelah mendengar ceritamu."
Kini giliranku yang hanya bisa diam mendengarkan perkataannya.
"Setiap manusia memiliki kesengsaraan masing-masing, jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menerima dan menghadapinya sebaik mungkin."
Sebaik mungkin, aku mencerna seluruh perkataannya. Aku menggali makna dari kalimatnya.
"Aku akan bertanya padamu sekarang. Apa yang akan kau lakukan sekarang untuk menghadapi rasa sedihmu?"
Dadaku kembali sesak. Hatiku terasa sangat sakit. Dengan tambahan... mataku mulai memanas. Dan seperkian detik, airmataku terjatuh.
Kenapa denganku? Tiba-tiba saja dengan lancang menangis di hadapannya, kenapa aku selemah ini?
Tapi... aku benar-benar tak bisa menahannya hingga sebuah isakan keluar dari bibirku.
"Jawabanmu, sudah kudapatkan."
Dia berkata kemudian menarik kepalaku dan menyenderkanya di bahu kanannya.
Yang kulakukan hanyalah menangis sepuasnya, menikmati secercah kehangatan dari telapak tangannya yang terus setia berada di pucuk kepalaku.
Terus menangis tanpa guna... seperti orang bodoh.
...~•~...
"Itu tadi sangat memalukan. Terimakasih, sudah meminjamkanku bahumu," ucapku sembari mengeringkan rambutku dengan selembar handuk kecil.
Canggung! Canggung! Canggung!
Kenapa situasinya jadi seperti ini, sih?! Berakhir dengan mengeringkan tubuh di kamar lelaki, ya lelaki.
Saat ini aku tengah duduk di sebuah sofa yang berada di kamarnya sambil mengeringkan rambutku dan menahan segala perasaan yang berkalut.
"Aku tidak ingin orangtuaku mengetahui keberadaanmu, karena bisa saja mereka memberitahukannya pada ayahmu," jelasnya.
Aku mengerti niat baikmu. Tapi tetap saja aku gugup. Kami seperti sepasang kekasih yang diam-diam bertemu tanpa se pengetahuan orang tua kami.
"Ya, tidak apa. Aku mengerti," jawabku berusaha untuk tidak menatapnya secara langsung.
Dia sedari tadi sibuk menghidupkan beberapa lilin untuk menerangi ruangan ini yang cukup gelap karena langit di luar masih setia diiringi hujan.
"Aku akan mencarikanmu baju ganti, tunggulah," ucapnya.
Anggukanlah yang bisa aku keluarkan, karena aku masih merasa malu atas kejadian tadi.
Bagaimana tidak? Aku sempat melihat bajunya tadi terkena ingusku cukup banyak, tapi memang dia tidak berkata apa-apa tentang itu.
Mungkin dia memang sengaja tidak mengungkitnya agar aku tidak malu, tapi tetap saja aku merasa demikian.
Cukup lama aku menunggu, akhirnya dia telah kembali dengan setelan baju yang terlipat rapi di tangannya.
"Pakailah. Sepertinya ukuran badanmu tidak jauh beda dari adikku."
"Baiklah, terimakasih. Maaf sudah merepotkanmu," lontarku.
Eits! Tunggu dulu... barusan dia bilang adikku... bukan? Astaga! Aku bahkan melupakan hal itu!
Dulu, aku cukup mengenal adiknya dengan baik. Daisy, itulah nama adiknya.
Daisy sangat cantik sama seperti namanya. Dia bahkan sangat baik denganku dulu, aku merindukannya.
Tapi karena ulah Anastasia, dia harus mengalami nasib tragis seperti itu. Sebenarnya... itu bukan salah Anastasia sepenuhnya, itu juga merupakan kesalahanku.
Tapi ya sudahlah... aku tidak ingin mengungkitnya lagi. Untuk sekarang... aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan Daisy.
Aku pun mengambil pakaian yang dia ambilkan untukku, kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar ini.
Cukup mengganti pakaian saja, aku tidak akan mandi. Karena tidak mungkin juga aku akan mandi di rumah seorang lelaki yang belum cukup dekat denganku.
Untuk saat ini.
Setelah siap, aku pun segera keluar. Ternyata, pakaian Daisy cukup pas di tubuhku.
Dia duduk di sofa sembari menatap ke jendela. Dengan raut serius dan tenangnya, dia terlihat sangat tampan. Meskipun aku benci mengakuinya.
"Kau sudah selesai?"
Seketika aku terbuyar dari lamunanku, dan segera menanggapi perkataan. "A-ah ya! Aku sudah selesai. Terimakasih, sudah meminjamkan pakaian ini padaku."
"Ya," jawabnya singkat.
Aku melipat bibirku karena canggung. Dengan kikuk, aku pun berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Uhm... apa kau menyukai hujan?" tanyaku berbasa-basi. Berupaya sedikit menghilangkan kecanggungan.
"Ya. Karena itu menenangkanku," jawabnya.
"Begitu."
Hening. Beberapa saat tidak ada di antara kami yang mengeluarkan suara. Aku hanya bisa menatapnya yang tengah sibuk memandangi ke arah luar melalui jendela kamar ini.
Di saat dia melihat ke arahku, aku langsung menarik iris dan pupilku untuk menatap hal lain.
"Bagaimana denganmu?"
"Hm?"
"Apa kau menyukai hujan?" tanyanya membuatku berpikir. Sebenarnya, aku tidak terlalu menyukai hujan.
"Sebenarnya tidak terlalu. Karena jika hujan turun, entah kenapa, aku merasa sangat kesepiaan," paparku.
"Jika kau merasa sedih dan butuh sandaran, kau bisa datang kepadaku," ujarnya tiba-tiba membuatku sedikit terkejut.
Detak jantungku kembli berpacu dengan cepat, bahkan wajahku terasa panas. Padahal cuaca sangat dingin, kenapa wajahku malah terasa panas seperti ini?
Kuggelengkan kepalaku ke sana ke mari untuk menepis dan menghilangkan rasa panas itu. Dan ternyata berhasil, setidaknya tidak terlalu panas seperti tadi.
"Ada apa?"
"Eh? Ah, tidak apa-apa," bohongku dengan senyuman. Jari telunjukku tak bisa diam untuk tidak menggaruk rahangku.
Ya, itu adalah kebiasaanku ketika berbohong. Semoga saja dia tidak menyadarinya.
Sebuah benang yang cukup tebal yang menyangkut di rambutnya membuatku menarik perhatianku.
Aku pun sedikit mencondongkan badanku dan menggunakan tangan kiriku untuk menahan bobot badanku.
"Permisi sebentar," kataku masih fokus pada benang tersebut. Kuulurkan tangan kananku untuk menggapainya.
Setelah dapat, tiba-tiba saja aku kehilangan keseimbangan dan tak bisa lagi menahan tubuhku.
Brugh!
Si... situasi macam apa ini?!
Astaga kenapa pula aku bisa terjatuh! Dan yang lebih parahnya, posisiku saat ini tengah menindihnya!
Dia membulatkan matanya begitu juga aku, ini semua berada di luar dugaanku! Kecelakaan laknat ini sungguh membuatku kesal!
"Kakak! Aku membawakan teh untuk kalian berdu--"
Ketika mendengar suara itu, dengan sudah payah aku memutar kepalaku untuk melihat siapa yang mengeluarkan suara tersebut.
Sial... kenapa bisa kebetulan seperti ini?
...13.01.2021...