The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Charlina Krystilian



"Bekerja sama? Aku bahkan tidak mengenalmu, aku bahkan tidak mengetahui wajahmu. Bagaimana bisa aku bisa setuju bekerja sama denganmu?" telisik gadis itu.


"Kau bisa memikirkannya baik-baik terlebih dahulu. Aku akan selalu datang agar kau bisa setuju untuk bekerja sama denganku."


Dalam sekejap, sosok itu langsung menghilang tidak menyisakan apapun. Gadis itu sedikit takut, namun dia lebih penasaran tentang maksud sosok itu.


Gadis itu langsung terburu-buru masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke kamarnya.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(10) ...


"Baiklah. Kalau begitu bagaimana caranya?" tanyaku sembari memandangnya.


Air hujan tak henti-hentinya menitik tanah di luar, membuat suhu semakin menurun dan mendingin.


Saat dia akan membuka mulutnya mengeluarkan suara, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan di pintu kamarku.


Namun anehnya tidak ada suara yang memanggilku seperti biasanya, siapa yang mengetuk?


"Siapa?" tanyaku sedikit keras agar terdengar dari luar.


"Ayah ingin bicara."


"Oh ya silahkan masuk-- t-tunggu, Ayah?!" Seketika aku langsung terkaget dan menatap lelaki di hadapanku ini penuh kejut.


Apa yang Ayah lakukan di sini?! Bisa bahaya jika dia melihat seorang lelaki berada di kamarku!


"T-tunggu, Ayah! Aku tengah mengganti pakaianku, tunggu sebentar!" bohongku dengan jantung yang berpacu laju.


Dengan menggunakan bahasa isyarat, aku pun menggerakan tanganku beserta ekspresi wajahku untuk menyuruhnya bersembunyi.


Bukannya mengerti dan menuruti ekspresiku, dia malah tersenyum miring beserta dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah.


"Cepatlah bersembunyi!" bisikku mendorong tubuhnya dengan kasar.


"Tidak akan," jawabnya membuatku tambah kesal dan menjadi seperti ikan kekurangan air.


"Kau gila?! Kau akan ketahuan dan kita berdua akan tamat!"


"Kecuali kau menuruti satu permintaanku," lanjutnya.


"Ya, ya. Aku akan menurutinya, oleh karena itu sembunyilah!" sebalku.


Akhirnya setelah kompromi yang cukup panjang, dia pun bergerak dan mulai merangkak bersembunyi ke bawah dipan.


Kutarik udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan detak jantungku, kemudian berjalan menghampiri pintu dan membukanya.


Terpampang ayah yang tengah berdiri tepat di hadapanku dengan ekpresi dingin dan menyeramkannya seperti biasa.


"Selamat sore, Ayah," sapaku seperti biasa sedikit membungkuk dan menarik kedua ujung rok gaunku. 


Sedikit lama aku berada di posisi ini dengan kakiku yang mulai pegal karena tertekuk. Tapi sebuah jawaban asing dari ayah membuatku sangat terkejut kali ini.


Ini adalah kaki pertamanya dia berkata seperti itu padaku.


"Ya, selamat sore. Ayah ingin bicara dengamu, apa kau ada waktu?" ujar ayah lugas membuatku sedikit tidak fokus.


Tapi seketika aku sadar, dan langsung mempersilakan dia masuk. "Tentu, Ayah."


Kuserongkan tubuhku untuk memberinya celah masuk ke kamarku, dan ayah langsung duduk di kursi meja belajarku.


Iris matanya tampak berputar mengawasi setiap sudut kamarku. Sepertinya ini baru pertama kali ayah memasuki kamarku.


Apa yang membuatnya tiba-tiba datang dan mengunjungiku kemari? Tidak mungkin cuma hanya ingin sekedar berbincang, ayah tidak mungkin akan merepotkan dirinya masuk ke kamar putrinya hanya untuk berbicara denganku.


Pasti ada hal yang sangat-sangat penting untuk dia bahas untukku. Atau mungkin dia akan kembali memarahiku seperti biasa karena aku telah membuat kesalahan.


Namun seingatku aku tidak melakukan apa-apa belakangan ini. Tidak ada alasan baginya untuk memarahiku kembali.


"C-cuaca sangat dingin. A-apa Ayah ingin secangkir teh? Aku akan membuatkannya untuk Ayah," tawarku gagu.


Aku berusaha untuk membuka percakapan, agar tidak terlalu canggung.


"Tidak perlu," jawab ayah cepat dan singkat.


Aku hanya terdiam dalam kecanggungan hingga akhirnya sedikit lama ayah kembali membuka suara.


"Ayah dengar sepertinya tadi kau tengah berbicara. Dengan siapa?"


Gawat!


"T-tidak ada, Ayah. Aku tadi hanya berbicara dengan diriku sendiri di cermin. A-aku sering melakukannya, haha," tawaku hambar.


Tidak kusangka ternyata berbicara dengan ayah secara santai bisa menjadi secanggung ini!


"Kikuk sekali. Seperti ibumu."


Mataku terbelalak ketika melihat sebuah lekukan di bibir ayah. Apa itu senyuman? Atau aku hanya salah lihat? Karena itu terlihat sangat samar. Mungkin hanya imajinasiku saja.


Aku juga sempat mendengar ayah menggumamkan sesuatu. Seperti ibuku? Apa ayah benar-benar mengatakan itu tadi?


"Apa kau telah menyadari kesalahanmu?" Bibirku hampir saja meloloskan sebuah senyum kecut.


Kesalahan? Aku bahkan tidak merasa telah membuat kesalahan. Dan tentu saja, aku tidak akan diam lagi dan menurut seperti diriku dulu.


"Aku tidak membuat kesalahan, Ayah," tegasku sembari menatapnya.


Sudah cukup kau selalu mengekangku, Ayah. Aku ingin menjalani hidupku sendiri. Karena aku tidak ingin lagi menjadi lemah.


"Begitu?"


Aku menelan salivaku mendengar perkataan ayah yang singkat dan terdengar mematikan.


Saat dia mendekat, entah kenapa kepalaku yang awalnya terangkat kini kembali tertunduk.


Ayolah, angkat kepalamu!


"Ayah mendengar ada sebuah pertandingan berburu minggu depan. Ikutlah pertandingan itu, dan buatlah dirimu menjadi nona bangsawan yang terpandang."


"Baiklah Ayah, aku akan melaksanakan...," barusan dia bilang apa?


Aku tidak salah dengar kan?


"Ayah...."


"Jangan membuat malu, Ayah. Menangkan pertandingan itu, dan berlatihlah segiat mungkin. Ayah tidak ingin melihat kekalahan menyertaimu," cecar Ayah.


Aku tidak menyangka ini akan terjadi. Apa yang membuat ayah tiba-tiba berubah?


Apa ini hanyalah sebuah permainannya untuk membuatku terkecoh untuk rencananya selanjutnya?


Tapi, hatiku benar-benar seperti tengah dihujami kegembiraan saat ini. Sehingga tanpa sadar, bibir ini berkata.


"Baiklah, Ayah."


Tak lama dari itu, ayah pun bangkit kemudian melangkah menuju keluar kamarku. Tapi sebelum itu dia sempat menjatuhkan beberapa patah kata.


"Ayah menantikan kemenanganmu."


Selepas itu dia kembali melangkahkan kakinya, namun sebuah suara memaksanya berhenti hingga membuatnya berbalik dan menatap ke arahku.


"HASHU!"


Aku melototkan mataku ketika mendengar suara itu dari seseorang yang tengah kusembunyikan keberadaannya saat ini.


Saat ayah menatapku dan ingin berbicara lagi, aku dengan cepat memotongnya.


"Ha-hachi!" Aku berpura-pura bersin kemudian menggosok hidungku. "M-maaf, Ayah. Karena cuaca sedikit dingin, hidungku menjadi gatal," bohongku dengan ringisan senyum dan jari telunjuk yang tak bisa diam menggaruk tulang rahangku.


Ayah sempat menatapku dalam di dengan tatapan yang tak kuketahui sama sekali maksudnya.


"Ya," ucapnya singkat kemudian berjalan keluar dan menutup pintu kamarku. Ketika langkah kaki ayah benar-benar tidak terdengar, aku akhirnya bisa mendorong nafas lega.


Hampir saja!


Terdengar suara berisik hingga akhirnya barang hidung lelaku yang sempat bersembunyi di bawah dipanku.


Aku menujukan tatapan tajam sosok tersebut. "Apa kau tak bisa menahan bersinmu itu?"


Dia mengacak-acak rambutnya yang dipenuhi debu kemudian menjawab malas perkataanku. "Menahan bersin itu penyakit."


Kurotasikan bola mataku dengan disertai dengan decakan yang tercipta dari lidahku. Ya, aku memang tidak bisa menyangkal hal itu.


"Jadi, kau diizinkan ikut," celetuknya.


Entah karena angin apa, aku merasa lega sekarang.


"Kalau begitu, besok kita akan latihan  seperti biasa," ucapnya kemudian mengambil pakaiannya yang setengah kering.


Seperkian detik, dia membuka jendelaku dan memanjatnya.


"Tunggu, mau kemana kau?! Di luar masih hujan!" teriakku memanggilnya.


"Hujan sudah berhenti, Nona," balasnya kemudian langsung terjun ke bawah. Sontak, aku langsung mendekati jendela dan melihat ke arah bawah.


Tiba-tiba saja dia sudah berada di bawah sana sembari menatapku. Kemudian dia pun berjalan santai pergi meninggalkanku.


Dia benar-benar aneh.


...~•~...


Seorang pria baru saja menutup pintu dengan menarik gagangnya. Setelah tertutup sempurna, dia pun diam berdiri.


Pria itu tertunduk, terlihat tengah memikirkan sesuatu. Dapat dilihat dari sorot matanya yang terlihat kosong.


Flashback on


Beberapa saat yang lalu....


Langkah kaki dari sepatu seorang pria tampak menggema secara halus di lorong itu.


Entah apa yang tiba-tiba mendorongnya, lelaki itu ingin mengunjungi putrinya yang tengah berdiam diri di kamarnya selama belakangan ini.


Mungkin karena dia sempat mengenang wanita yang telah menghancurkan hidupnya, dan tanpa sadar sebuah perasaan yang dirinya sangat benci kembali muncul dan mengambang dalam dirinya.


Ketika jejaknya telah sampai tepat di depan pintu putrinya itu, pria itu terdiam sejenak.


Telapak tangannya telah terkepal dan memanjat udara untuk mengetuk pintu kayu itu, namun sebuah suara percakapan terdengar sangat pelan dari dalam.


"Pertandingan berburu. Apa kau benar-benar ingin mengikutinya?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu sampai kapan ayah akan mengurungku seperti ini. Aku tidak akan mampu mengikuti pertandingan itu dengan hanya hasil latihan selama dua bulan."


Entah kenapa tiba-tiba saja dia enggan untuk mengetuk pintu yang menjadi perantara tersebut.


Lagi-lagi, pria itu terdiam. Segala pemikiran menghinggap di otaknya. Tidak ada satu pun orang yang tahu apa yang tengah ia sembunyikan.


Hingga akhirnya setelah bergemelut dalam keheningan, pria itu memutuskan untuk mengetuk pintu itu dan berbincang dengan putrinya.


Flashback off


Beberapa detik kemudian, suara kembali terdengar dari dalam. Pria itu memasang telinganya dengan baik untuk mendengar gelombang volume yang terpancar langsung.


"Ya, begitulah. Aku bahkan hampir bernafas melalui telingaku tadi ketika mendengar ayah berkata seperti itu."


Sebuah tawa terdengar menenangkan di pendengarannya, pria itu tetap diam. Tidak berniat mengeluarkan sedikit gelombang volume sedikitpun.


Jarang sekali dia mendengar suara tawa itu. Tidak pernah dia mendengar tawa itu tertuju padanya.


Tetapi, saat itu juga dia menyadari. Bahwa dia lah penyebab tawa itu sangat jarang terdengar, dan dia sendirilah penyebab tawa itu tidak pernah tertuju padanya.


Sebagai penutup, pria itu kembali melangkah menuju ruang kerjanya tempat dia menghabiskan waktu.


...~•~...


Hari yang cerah. Sangat cocok untuk beraktivitas di luar atap yang melindungi.


Cahaya matahari seperti biasa menyapa sekaligus menyertai setiap ribuan detik manusia yang menghabiskan waktu di bawah naungannya.


Tampaklah dua manusia yang kembali pada rutinitas mereka dengan pedang kayu yang berada di genggaman masing-masing.


Setitik demi setitik peluh mengguyuri wajah mereka, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak upaya menghilangkan rasa penat yang menggerayangi.


Seteguk air akhirnya menyirami tenggorokan mereka yang kering, kemudian sebuah percakapan kembali menghampiri.


"Kau gugup? Pertandingan akan dimulai besok," ucap lelaki yang tengah menyisiri helai rambutnya menggunakan jarinya tersebut.


"Tentu saja. Tapi aku juga tidak berniat kalah. Karena akulah nona bangsawan yang terhormat selanjutnya," balas sang gadis dengan kekehan kecil.


Senyum tipis nyaris tak terlihat terlukis di wajah tampan lelaki itu. Tangannya pun terulur untuk mengusap lembut pucuk kepala gadis di sebelahnya.


"Semangat."


Satu kata, namun memiliki banyak makna tak tersampaikan. Gadis itu pun kembali tertawa, kemudian bibirnya juga ikutan mengukir senyum manis yang menenangkan.


"Pasti."


.


.


.


.


Tanggal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, hampir seluruh nona-nona bangsawan dari negeri kerajaan Erosphire menghadiri pertandingan berburu yang saat ini membuat heboh.


Mulai dari bangsawan tingkat terendah yaitu Baron, Viscount, Earl, Count, Marquess, maupun Duke.


Lokasinya berada di dekat hutan, karena para nona bangsawan tersebut diharuskan untuk membawa binatang buruan.


Semakin besar dan susah binatang buruan yang didapat, semakin besar peluang kemenangan yang akan menyertai.


Semua nona berhak menentukan senjata yang akan digunakan untuk memburu, mulai dari pedang, panah, belati, dan banyak macam lainnya.


Ya, di sinilah aku. Berdiri dalam diam mengamati sekitar. Banyak sekali gadis yang berkumpul seperti geng gosip di arah kiri sana. Entah tujuan mereka ke sini itu untuk berburu atau menggogipi orang-orang, aku tidak peduli dan tidak mau tahu.


Oh iya, apa Daisy akan ikut ke sini juga ya? Aku sedikit kesepian.


Arlen sedari tadi telah duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, ya dia memang berperan penting dalam pertandingan ini karena dia calon Duke selanjutnya.


Saat iris dan pupilku sibuk berkelana ke sana kemari, tiba-tiba aku merasa ada sepasang mata yang menatapku tajam. Secara cepat aku mencari siapa itu dan tak lama aku akhirnya menemukannya.


Rambutnya coklat kemerahan dan warna matanya hijau, siapa dia? Aku tidak mengenalnya.


Tapi kenapa dia menatapku seperti itu? Lebih baik aku mengawasinya saja sebelum dia berbuat yang aneh-aneh terhadapku.


Aku pun berjalan pelan menghampiri perempuan yang menatapku sedari tadi, lalu berpura-pura mengajaknya berbincang.


"Salam. Nama saya Cassandra," sapaku seraya menunduk sedikit. "Maaf jika saya lancang, tapi sepertinya saya rasa anda terus menatap tidak suka ke arah saya," ucapku dan dia hanya diam.


"Oh, maaf! Saya benar-benar lancang. Bagaimana bisa saya berkata tidak sopan seperti itu terhadap anda, maafkan saya," imbuhku.


"Tapi... melihat anda yang hanya diam saja menatap saya dengan tajam, sepertinya saya benar. Sebenarnya apa maksudnya, ya? Apa anda mempunyai sesuatu yang terselubung terhadap saya?" pancingku dengan nada suara lembut. 


Dapat kulihat dia mati-matian menahan emosinya, namun dia lebih memilih pergi meninggalkanku.


Sebenarnya ada apa dengannya? Lagipula siapa dia itu? Jika aku menanyakan siapa dia, percuma saja. Karena dia selalu diam daritadi.


Saat aku tenggelam dalam pikiranku, tiba-tiba saja aku merasakan tepukan pelan pada pundakku. Sontak, aku memutar kepalaku untuk melihat siapa pelakunya.


"Kak Cassie!"


"Daisy? Ternyata kau datang," ujarku dengan senyuman.


Deretan gigi putih miliknya terpampang ketika dia menunjukkan senyum lebar yang sangat manis.


"Tentu saja! Aku datang untuk menyemangati Kak Cassie!" serunya.


"Kau tidak ikut pertandingannya?" tanyaku.


"Tidak. Karena aku tidak suka bermain dengan senjata tajam. Aku lebih suka memasak, agar aku bisa memasak banyak makanan untuk suamiku di masa depan nanti!" gelaknya mengundang tawaku.


Ternyata dia ini perempuan yang mempunyai imajinasi tinggi.


"Oh iya, Daisy. Apa kau mengenal nona itu?" tunjukku pada nona yang menatapku tajam barusan.


"Ya. Dia adalah nona Charlina Krystilian, putri dari Baron Krystilian. Nona Charlina memang sedikit dingin dan jarang berbicara, sehingga dia tidak mempunyai teman," terang Daisy.


Aku sama sekali tidak mengenalnya. Sebaiknya aku waspada saja dan selalu melihat sekitar untuk mengetahui jika ada hal yang mencurigakan.


"Kak! Pertandingannya sebentar lagi akan dimulai, lebih baik kakak bersiap-siap!"


Perkataan Daisy membuatku terbuyar dari lamunanku. Senyum kulayangkan untuk Daisy, kemudian mengikutinya yang saat ini tengah menarik-narik lenganku.


Aku harus memenangkan pertandingan ini.


...20.01.2021...