
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Anastasia! Tunggu!" teriak seorang gadis tengah mengejar sahabat yang lebih muda darinya seraya meneriaki nama sahabatnya itu.
Namun gadis bersurai pirang itu tetap mengabaikan dan tak menghiraukan panggilan tersebut. Yang ia lakukan hanyalah berlari sekencang mungkin seraya meneteskan airmatanya yang menjadi lambang dan perwakilan nyeri tak tertahankan menimpa hati kecilnya.
Selepas kejadian yang tak dapat dipercaya itu, semuanya seakan berantakan dan menyakitkan. Seluruh dunia gadis itu seakan hancur.
Laki-laki yang telah ia sukai hampir sepuluh tahun lamanya itu menghancurkan harapannya hanya dalam beberapa detik saja.
Seluruh bayangannya saat dia akan menjadi tunaangan laki-laki itu kelak selama ini hancur berkeping-keping bak puzzle yang terurai dan berserakan di mana-mana.
Gadis itu kini telah sampai di taman belakang rumahnya. Terdapat sebuah bangku taman di sana, tanpa berbasa-basi, gadis itu pun duduk di atasnya.
Sembari memperhatikan sekitarnya, gadis itu kini kembali termenung mengingat kejadian menyakitkan itu kembali.
"Aku menolak. Karena aku telah mempunyai seseorang yang aku sukai, dan orang yang aku sukai adalah dia."
"Cassandra la Devoline."
"Kenapa...? Kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah kita telah mengenal sejak lama? Lalu kenapa...?" lirihnya seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ia tak dapat menahan airmata yang terus mengalir deras dari pelupuk matanya, bahkan bulu matanya pun mengkilap dikarenakan airmata yang membasuhnya hingga lengas.
Tak lama dari itu, kini ia kembali mendengar suara yang tadinya sempat menghilang beberapa saat.
Suara yang tengah memanggil namanya secara lantang kini kembali terdengar dan semakin dekat.
"Anastasia!" Sosok itu akhirnya mendapati seseorang yang tengah ia cari sedari tadi. Dengan terburu-buru, ia pun mendekati gadis bersurai pirang tersebut kemudian ikut duduk di sebelahnya.
"Anastasia, aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku benar-benar tak menyangka Tuan Arlen akan mengatakan hal itu...," ucap gadis bersurai coklat itu nampak merasa bersalah.
"Namun percayalah padaku, Anastasia. Aku, pasti akan membuatmu kembali bersama Tuan Arlen," tegas gadis itu membuat sosok bernetra hijau di sebelahnya mulai menatap ke arahnya.
"Benarkah? Tapi jika Arlen memang menyukaimu, aku juga tidak ingin memaksanya...," ujarnya dengan nada yang hampir tenggelam.
Senyum lirih terlukis di wajah sayu gadis bersurai coklat yang berstatus sebagai sahabat dari gadis bersurai pirang itu. "Arlen pasti akan menyukaimu. Kau cantik, kau baik, bahkan kau pun sangat anggun, apalagi yang kurang darimu?"
Akhirnya sebuah kekehan berhasil lolos dari wajah yang dibanjiri oleh airmata itu. "Kau berlebihan. Aku tidaklah sesempurna itu," kekehnya.
"Nah begitu, tertawalah. Kau lebih cantik saat tertawa daripada menangis," bujuk sahabatnya ini membuat sang empu kembali menunjukkan kekehannya.
Kini kedua sahabat itu saling melempar senyum dan kekehan masing-masing. Sang gadis yang awalnya dibasahi dan diguyuri oleh rasa kesedihan, hingga akhirnya dikeringkan dengan kekehan yang sederhana.
...🥀...
Keesokannya, gadis bernetra hijau berkilau itu terbangun di atas permukaan ranjangnya yang empuk seperti biasa. Matahari yang menyinari wajahnya seakan menyuruhnya bangun dari alam mimpinya dan segera bersiap untuk memulai hari baru lagi.
Dengan segera, gadis itu tak ingin berlama-lama dan ia pun segera pergi membersihkan tubuhnya.
Seusai dirinya berpakaian dibantu oleh pelayan-pelayannya, gadis itu melangkahkan kakinya untuk menemui sang ayah dan ibu.
Tak lama, dirinya akhirnya sampai di ruang makan yang telah diisi oleh keberadaan kedua orangtuanya.
"Selamat pagi, Ayah. Selamat pagi, Ibu," sapanya sopan dan lembut seperti biasanya.
"Selamat pagi juga, Sayang. Ayo duduk dan makan bersama kami," ajak sang ibu dan gadis itu langsung mematuhinya.
Dengan pelan, gadis itu mendaratkan pangkal pahanya di kursi yang terletak di sebelah ayahnya berada.
Karena perutnya juga tergolong lapar, ia dengan segera mengambil sendok dan garpu yang telah tersedia lalu mulai memakan sarapan menggunakan alat tersebut.
"Ana, apa ada terjadi sesuatu antaramu dan Arlen?" tanya sang ayah dan gadis itu langsung tersentak. Tentu saja dia tahu kemana ayahnya tersebut akan membawa maksud perkataannya.
"Tidak ada sesuatu yang terjadi antara kami, Ayah. Semuanya biasa saja, sama seperti sebelumnya," jawab gadis itu. Seingatnya memang tidak terjadi apa-apa antara mereka, namun ia tak tahu apa yang membuat laki-laki yang kerap berstatus sebagai calon tunangannya itu tiba-tiba bertindak di luar bayangan.
"Begitu. Kalau begitu, nikmatilah kembali sarapanmu," ucapnya dan gadis itu pun menurutinya dengan senang hati kemudian melanjutkan makannya.
"Apa kau menyukai Arlen, Sayang? Jika tidak, maka kami juga tidak akan memaksamu." Sang Ibu bimbang.
"Tentu saja, Ibu. Jika tidak, mana mungkin aku akan menerima perjodohan ini," jawabnya terdengar santai dari luar. Namun tentu tidak di dalam hatinya.
Hatinya resah, hatinya takut, hatinya sakit. Hatinya saat ini tengah menampung semua rasa itu. Dan sebuah tampang baik-baik saja sanggup menyembunyikan semua rasa yang menyatu dan menggumpal itu.
"Oh iya, Ayah, Ibu. Apa yang terjadi setelah aku meninggalkan makan malam kemarin? Maaf jika aku pergi tiba-tiba pergi, aku butuh waktu untuk sendiri," tanya gadis itu seraya ragu.
Ayah dan ibu dari gadis itu sempat saling melempar pandangan, kemudian mereka berdua pun tersenyum tulus ke arah putri semata wayang mereka. "Kami mengerti perasaanmu. Tadi malam setelah kepergianmu, Viscount Devoline, Duke dan Duchess Floniouse hanya bingung dan terkejut saja. Setelah itu kami berbincang, dan perbincangan itu akan berlanjut lagi di lain waktu," jelas ayahnya membuat gadis itu merasa tidak enak.
"Aku pasti mempermalukan kalian karena tidak sopan seperti itu. Maafkan aku, Ayah, Ibu," sesalnya sembari menundukkan kepala.
"Kau tidak mempermalukan kami. Kau adalah kebanggaan kami. Lagipula kami mengerti apa yang kau rasakan, jadi tidak perlu merasa bersalah, ya? Dimana putri Ibu yang periang itu?" canda sang ibunya membuat anaknya terkekeh dan kembali menunjukkan senyum khasnya.
Suasana di pagi itu sungguh hangat, karena diisi oleh candaan, senyuman, dan tawaan. Matahari yang menyinari seakan ikut senang, dan pelayan yang ada tak jauh dari mereka pun kini terkena percikan kehangatan yang diciptakan oleh mereka.
Sungguh keluarga yang harmonis, mampu membuat siapa saja iri.
...🥀...
Hari demi hari pun berlalu, kini terdapat seorang gadis bersurai pirang lurus berkilau disertai netra hijau Emerald nya yang mempesona tengah dalam percakapan serius bersama sahabatnya.
Raut dingin dan tenang seperti biasa menghiasi wajah tampannya. Angin berhembus kencang membuat rambut pirang laki-laki itu bergoyang-goyang seakan menari. Netra biru langit cerah dan jernihnya yang dingin dapat membuat siapa saja terpesona.
Gadis itu hanya menatap dalam diam laki-laki yang berada tepat di sampingnya, bahkan dia pun terpesona akan aura yang dikeluarkan oleh laki-laki yang telah lama menjadi sahabatnya itu.
Perasaan menggelitik yang merayap kehatinya, tak bisa ia kendalikan. Yang bisa ia lakukan hanyalah menutupi dan berpura-pura tak tahu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya gadis itu berusaha setenang dan sebiasa mungkin.
"Tentang pertunangan kita," jawaban yang terlayang dari bibir laki-laki itu mampu membuat sang gadis tersentak dan sedikit gugup.
"Aku akan jujur kali ini, Ana."
Nada rendah yang menyertai kalimat laki-laki itu semakin membuat sang gadis bertambah gugup. Gugup akan rasa senang atau rasa sakit yang akan menyerangnya kelak.
"Aku menyukaimu, Ana."
Bagaikan ada berjibun bunga yang bermekaran di hatinya, gadis itu tak dapat menampung rasa kebahagiaan yang menyerang dirinya secara bertubi-tubi.
Senyum yang merekah bagai bunga teratai kini tak dapat lagi disembunyikan, rona merah tak dapat dikendalikan.
"Lalu kenapa kau kemarin bilang bahwa kau menolak pertunangan ini?! Kenapa kau bilang bahwa kau--"
Deg!
Tertusuk ribuan panah tak sebanding dengan rasa sakit yang tengah gadis itu rasakan. Bunga yang awalnya seakan bermekaran dalam hatinya, dalam hitungan detik menjadi kering dan layu begitu saja.
Senyum yang merekah mengatup begitu saja, seakan tak sanggup lagi menunjukkan kecantikannya.
Airmata kembali lolos di pipi yang mengkilap, perasaannya seakan berkalut dan bergelung dengan kesedihan yang tak terkira.
"Kenapa...? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! Kenapa, Arlen?!" jeritnya histeris. Sudah cukup ia menahannya sejak tadi malam, sudah cukup ia memendam semuanya, dirinya sudah tidak tahan lagi.
Perasaan kesal dan sedih yang mendidih sedari tadi, kini langsung meluap begitu saja.
"Apa kau tahu betapa aku mengharapkan pertunangan ini?! Apa kau tahu betapa aku menyukaimu?! APA KAU TAHU?!?!" jeritnya memilukan.
Raut sesal terpatri di wajahnya yang masih memasang tenang, hanya saja kernyitan di alisnya menjadi pembeda tampangnya yang tadi dengan yang sekarang.
"Aku tahu aku salah, Ana. Tapi, aku baru memberitahumu sekarang karena aku tahu tak ingin persahabatan kita hancur begitu saja," ungkapnya seraya menatap dalam gadis itu berlinang airmata.
"Kau berharga bagiku, Ana," lanjutnya menghasilkan isakan tangis dari sahabatnya.
Entah gadis itu harus senang atau sedih di saat laki-laki itu menganggap bahwa dirinya berharga.
Kenyataan ini terlalu pahit untuk dirasakan.
Rasa sakit ini terlalu susah untuk dihilangkan.
Kekesalan ini terlalu susah untuk dikubur.
Di saat hati ingin mengubur kekesalan itu, kekesalan tersebut membantah dan malah menjadi-jadi hingga timbullah benih dendam yang akan tumbuh semakin besar seiringnya waktu.
...🥀...
Kebohongan.
Kepalsuan.
Kemunafikan.
Ketiga hal yang menempel di diri sahabatnya itu membuat gadis bersurai pirang ini jijik. Ia muak, ia benci, ia terkhianati.
Melihat keberadaan gadis itu yang berada di hadapannya sembari tersenyum bahagia itu membuat dirinya seakan ingin menghancurkannya saat itu juga.
Telapak tangannya terkepal sempurna, matanya menyalang tajam, giginya bergemeretakan menahan emosi yang perlahan-lahan mulai berusaha menggapai batasnya dan akhirnya mengendalikannya.
Dua sahabatnya mengkhianatinya secara bersamaan, membuatnya merasakan sakit yang berlipat-lipat ganda.
Seusai ia berkalut dengan emosinya yang hampir tak terkendalikan, gadis itu melangkah menjauh dari sosok yang membuat emosi negatifnya muncul.
Gadis itu duduk menyendiri di bawah rindangnya pohon yang melindunginya dari sinar matahari. Diiringi kencangnya angin yang menerpa, setidaknya suasana ini membuat dirinya sedikit tenang.
Kedua sosok itu kembali membuatnya kesal, ia berkutat dengan pikirannya yang terhubung dengan hatinya yang terluka.
Bagaikan tengah berjalan sendirian di sebuah tempat yang asing, gadis itu kebingungan dengan sekitarnya yang seakan semuanya sama.
Gelap, ketakutan, kebingungan.
Karena perasaan itu yang menggerogotinya, dia bahkan hampir kehilangan jati dirinya. Tanpa sadar, kakinya terlangkah begitu saja menuju kegelapan tak terkira yang tengah setia menunggunya untuk menapakkan langkahnya.
Sesuatu tak kasat mata setia mendukungnya dan menghasutnya masuk ke tempat gelap yang asing itu.
Berbekal kebingungan, gadis mulai melangkah semakin jauh ke dalam tempat asing nan gelap itu.
Dan tanpa sadar, dirinya telah tersesat dan terjerat dalam kegelapan itu.
Rasa menyakitkan yang bercampur amarah memicu benih dendam di hatinya semakin cepat bertumbuh dan mulai menunjukan kuncupnya.
Kuncup bunga itu, akhirnya telah mencapai batasnya. Bunga itu menghasilkan percikan dendam yang mendalam dan bersarang di hati kecilnya yang terluka.
Semakin ia ingin melarikan diri, semakin kegelapan itu menahannya dan menjerat keinginannya.
Dan tanpa sadar, ia tak bisa kembali. Dirinya sudah terjerumus terlalu dalam, tak ada jalan untuk keluar.
Ia menjerit penuh pilu meminta pertolongan, namun sosok yang diharapkannya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa sosok itu akan hadir.
Tak lama ia sendirian di kegelapan, kini ada sosok yang ternyata menemukannya. Sosok itu berusaha menariknya keluar dari kegelapan itu.
Di saat gadis malang itu terselamatkan, ia tertipu oleh sosok palsu yang menjadi pahlawannya tersebut dan malah termakan kebohongannya yang murni.
Gadis itu mengira bahwa sosok itu dapat membebaskannya secara sempurna, namun siapa sangka sosok itu ternyata malah membuatnya terjerumus ke hutan dendam yang bahkan lebih buruk daripada tempat sebelumnya.
Sosok asing itu berkata mau membantunya untuk mendapatkan kembali cinta sosok yang diharapkannya. Dan dengan bodohnya, gadis itu justru malah memperburuk situasi yang awalnya sudah buruk.
Dia malah menambahkan alkohol ke dalam luka yang terkoyak lebar, sehingga ia semakin merasakan sakit tiada tara dari luka itu.
Tidak ada lagi kehangatan yang tersisa di dalam hatinya, karena bunga yang berisi dendam itu telah melayukan semua kebaikannya selama ini, sehingga ia menjadi sosok berdarah dingin dan tak lagi memiliki kelembutan di dalam dirinya.
Di saat dia yang telah membuat semuanya kacau, dirinya tak sanggup menanggung hal itu, sehingga dirinya melempar kesalahan itu pada orang lain.
Dia merasa bahwa dialah korban satu-satunya dari situasi yang telah ia perburuk dengan kedua tangannya sendiri.
Dia merasa bahwa dialah sosok yang paling menderita dari semua ini.
Dan ia kekeuh, pelaku yang menurutnya salah itu adalah dalang dari semuanya. Pelaku tersebut adalah perebut segala kebahagiaan yang ia miliki, pikirnya.
Dendam itu semakin membesar dan membesar hingga mencapai batasnya. Rasa dendam itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang sangat tidak manusiawi.
Gadis malang yang tak mempunyai empati yang tersisa di dalam dirinya itu ingin melenyapkan sosok pelaku yang ia pikir adalah perebut segala kebahagiaannya.
Hingga pada akhirnya, gadis itu memang benar-benar telah tersesat di dalam hutan penuh dendam dan kebencian.
Hanya secercah cahaya kebaikan yang dapat menuntun gadis itu kembali ke jalannya.
Hanya saja, secercah cahaya itu sangat sulit ditemukan.
Cahaya itu hanya akan bisa didapatkan, jika gadis itu menyadari seluruh kesalahannya yang telah menuntunnya masuk kedalam hutan itu.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^05 Desember 2020^^^