The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Pembatas



Previously....


Gadis itu tersenyum ketika melihat seluruh usahanya berhasil. Banyak penduduk yang beramai-ramai melakukan pekerjaan secara bersama-sama.


Namun tak lama dari itu, dia pun terperangah ketika sebuah pakaian terlempar padanya. Sontak dia menangkap pakaian itu dan melihat sang pelaku.


Lelaki bersurai pirang yang menjadi pelaku tersebut melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagunya yang terangkat angkuh.


"Cuci pakaianku."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(22) ...


"Sialan!!"


"Nona, tolong tenanglah... nanti tanganmu terluka."


"Bagaimana bisa aku tenang?! Dia sudah seenaknya bersikap padaku!" kesalku sambil mengucek pakaiannya yang sempat tertimpa air mataku.


Memang benar aku yang mengatakan bahwa aku akan mencucinya, tapi bisakah dia bersikap sedikit lebih baik saat memberikan pakaiannya?! Tidak pakai cara melempar dan memerintah seperti itu, dia pikir aku pelayannya?!


Huft... sudahlah Cassandra. Ingat, saat ini dia masih dalam usia remaja, sudah pasti lelaki itu masih labil dan belum sepenuhnya matang. Sekaligus menyebalkan.


"Nona Cassandra, anda telah banyak membantu kami. Lebih baik saya yang mencuci pakaiannya," tawar salah satu perempuan yang memang sempat dekat denganku beberapa saat yang lalu.


Lantas aku langsung melambaikan-lambaikan tanganku disusul dengan tolakan halus. "Ah, tidak perlu. Aku bisa sendiri, lagipula aku tidak bisa menyuruhmu begitu saja."


Dia tampak bimbang, namun tak lama dari itu dia menghela nafas pasrah. "Baiklah, jika anda berubah pikiran, saya akan melakukannya."


Aku tersenyum menanggapinya, tak lama dari itu dia pun mulai menjauh dan membantu penduduk-penduduk lainnya melakukan proses penjernihan air yang memakan waktu sangat banyak.


Tentu saja, kegiatan itu tidak akan berakhir hari ini. Karena masih banyak air sungai yang tersisa, sudah pasti ini akan memakan waktu lebih dari satu bulan kalau para penduduk benar-benar taat mengikuti gaya baru mereka.


Ya, semoga saja. Agar mereka bisa kembali mengkonsumsi air yang belum tercemar dan teracuni.


Tapi untuk saat ini yang paling mengesalkan adalah, lelaki yang tengah duduk santai di arah sana itu.


Tampangnya menunjukkan seolah-olah tidak ada masalah dan rasa bersalah di hidupnya, membuatku seakan ingin merobek pakaiannya yang tengah ku cuci saat ini juga.


Ya meskipun dia sudah banyak membantu penduduk hingga peluh membanjiri pelipisnya, tetap saja aku kesal.


Sepertinya jika terus memikirkannya, hal itu tidak akan pernah selesai. Lebih baik aku menyelesaikan semua ini terlebih dahulu.


.


.


.


.


.


Akhirnya selesai! Astaga sudah berapa lama kau tidak mencuci? Tanganku rasanya lecet semua.


Ternyata mencuci pakaian bangsawan lebih susah dari mencuci pakaian biasa, hal tersebut lebih melelahkan dan menguras tenaga. Sebaiknya aku berterima kasih pada Reina ketika aku pulang karena jasanya yang selama ini telah mencuci pakaian-pakaianku.


"Selesai?"


Tiba-tiba saja ada kehadiran sosok lelaki di belakangku, tentu saja aku tahu siapa. "Ya, setelah diperlakukan seperti pelayan akhirnya penderitaan itu selesai," kataku menyindir.


"Aku tidak menganggapmu seperti pelayan," jawabnya.


"Ya, ya. Seorang calon Duke di masa depan tidak pernah salah," balasku.


Dapat kudengar kekehan kecil yang amat singkat dari arah belakangku. Sudah pasti dia tengah mengejekku, jangan hiraukan Cassandra.


Sontak aku mengangkat ember kecil berisi pakaiannya dan air kemudian hendak memindahkannya.


"Hei, sudahlah jangan hiraukan hal itu," ujarnya secara tiba-tiba.


"Kenapa? Bukankah kau yang menyuruhku mencucinya?"


"Sudahlah, lupakan," imbuhnya kemudian mengambil ember di tanganku dan meletakkannya asal.


"Kali ini kau bersikap baik, tadi kau bersikap menyebalkan. Aku sama sekali tidak mengerti kau," ucapku melipat kedua tangan di depan dada.


"Kau imut saat marah."


"Tentu saja aku imut, karena aku memang pada dasarnya imu--"


Kelopak mataku terbuka lebar ketika mendengar hal yang barusan ia katakan, apa maksudnya? Lagipula, kenapa tiba-tiba wajahku berubah jadi panas?


Sudah pasti itu semua karena cuacanya. Ya, wajahku memanas karena cuaca yang memang gerah.


Entah kenapa aku dengan bodohnya mengatakan hal tersebut padahal sekarang adalah musim dingin.


Sial! Kenapa aku jadi salah tingkah seperti ini?!


"Kau kena demam? Wajahmu memerah," lontarnya sembari menatapku.


Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku dan berbalik, entah karena alasan apa aku melakukannya.


"Tidak, aku tidak demam," jawabku berusaha fokus dengan hal lain.


"Oh ya, aku punya sesuatu yang ingin aku katakan padamu."


Ketika dia berbicara seperti itu, tentu akan sangat tidak sopan untuk tidak menghadapnya dan merespon apa yang ingin dia katakan.


Sehingga secara terpaksa, aku kembali memutar tubuhku untuk memandangnya. "Apa?"


"Masih dengan air, bagaimana jika kita membagi sungainya menjadi dua?" usulnya.


"Membagi sungainya menjadi dua? Maksudmu kita membuat batasan di pertengahannya?" tanyaku.


"Ya," jawabnya singkat.


Usulannya terngiang-ngiang di pikiranku, apa yang membuatnya mengusulkan hal tersebut? Memangnya apa hubungannya sungai dibagi menjadi dua dengan penjernihan--


Seketika aku menyadari apa maksud dan tujuan dari perkataannya. "Apa maksudmu kita bisa mempercepat proses penjernihan dengan cara tersebut?"


"Benar. Jika kita membagi sungai menjadi dua, air yang sudah dijernihkan tidak perlu tercampur dengan air sungai yang keruh."


"Tapi untuk melakukan itu bukankah kita memerlukan wadah untuk menampung air yang sudah dijernihkan? Jika kita menampung semua air sungai, itu semua tidak mungkin. Di mana kita harus menampungnya?" tanyaku.


Dia memang mengusulkan ide bagus, tapi jika kami tidak memiliki wadah untuk menampung airnya, sudah pasti semuanya sia-sia.


"Hei, justru itulah tujuanku membagi sungainya menjadi dua. Kau pikir penduduk di wilayah ini sedikit? Tentu saja mereka bisa menampung setengah air sungai dengan bak-bak yang ada di rumah mereka."


Arlen kembali menjelaskan membuatku berpikir-pikir. Benar juga apa yang dikatakannya.


"Ketika setengah air sungai pertama jernih, kita akan mengembalikan air yang jernih itu ke bagian yang terpisah dengan air keruh. Lalu--"


"Lalu dengan seperti itu, kita akan melakukan hal yang sama dengan air yang keruh dan proses penjernihan akan lebih cepat, bukan?" potongku.


Tak lama, aku melihat dia pun tersenyum miring dan remeh. "Akhirnya kau mengerti maksudku."


"Tapi, bukankah akan lebih efektif jika kita lebih banyak membuat pembatas?"


"Ya, terserahmu. Bukankah sekarang kau lah yang mengatur semuanya?"


Aku tersenyum. Bahkan dia sampai membantuku seperti ini, bagaimana caraku berterima kasih padanya?


"Bagaimana caranya kita membuat batas? Bukankah itu perlu pekerja yang banyak dan uang yang tidak sedikit?" tanyaku.


Ya, masalahnya ini adalah wilayah Marquess Thrones. Untuk mendapatkan izinnya menjernihkan air saja susah seperti terbang menuju ke langit, apalagi meminta biaya? 


"Pasal biaya kau tak perlu khawatir. Semua ada di bawah kendaliku," katanya.


"Apa kau akan menggunakan uangmu? Jika iya, maka aku tidak akan menggunakan cara ini," balasku. 


"Tentu saja tidak. Kau pikir aku bodoh? Kenapa aku harus rugi untuk wilayah orang lain? Kau pikir aku sukarelawan?"


Dia bertanya bertubi-tubi. Dalam sekejap aku benar-benar mengakui bahwa dia sangat layak menjadi penerus ayahnya dan menjadi Duke Floniouse. Ditambah dengan kemampuannya dalam berperang, dia seperti manusia yang sempurna.


"Lalu bagaimana caranya kau mendapatkannya dari Marquess Thrones?"


"Percaya saja padaku."


Lelaki ini berkata dengan sangat yakin. Baiklah, sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Lantas, kami pun berpamitan pada  penduduk lain dan menuju ke penginapan.


Semuanya akan kami lanjutkan di hari esok, sekaligus menerapkan rencana baru kami. Sepertinya beberapa hari ke depan akan menjadi hari tersibuk.


...~•~...


Setelah aku bersiap-siap, dengan cepat aku bergegas turun ke bawah. Di ruang makan bersama, aku kembali melihatnya sudah duduk dengan rapi di sebuah meja makan.


Aku jadi curiga, karena tadi malam dia juga sempat keluar sebelum aku tidur. Dan saat aku bangun, dia tidak ada di kamar kami. Sebenarnya apa yang dilakukannya?


Pikiranku terus berkelana hingga tanpa sadar aku sudah berada di hadapannya. Dia sudah duduk rapi dengan secangkir teh hangat yang selalu menemani.


Apa dia sangat menyukai teh?


"Apa kau menyukai teh?" tanyaku membuka percakapan.


"Ya," jawabnya seadanya.


"Baiklah. Setelah aku memakan sarapan ku, kita akan kembali pada tugas kita. Setuju?"


"Aku ada urusan sebentar. Kau pergi saja sendiri, nanti aku akan menyusulmu di sana," katanya.


"Apa kau ingin berdiskusi dengan Marquess Thrones tentang pembatas yang kita bahas kemarin?"


Senyum menyeringai yang menyeramkan tiba-tiba tercetak jelas di wajah tampannya yang terkadang datar dan mengerikan.


"Lebih tepatnya memaksa," imbuhnya.


Memaksa? Apa dia akan menyiksa Marquess Thrones untuk memaksa pria tua itu? Aish itu tidak mungkin!


"A-ah, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu," jawabku.


Dia menganggukkan kepalanya pelan. Tak lama dari itu, aku memakan sarapanku. Dapat kulihat dia beberapa kali menguap dan kantung matanya makin menghitam.


"Apa kau kurang tidur akhir-akhir ini?" Bibirku gatal untuk bertanya.


"Tidak," jawabnya cepat.


Setelah itu, tidak ada lagi percakapan di antara kami. Sampai aku berpamitan pergi dengannya.


...~•~...


"Ah, aku sudah menunggumu daritadi! Kau lama sekali."


Pernyataan terlayang dan tertuju pada lelaki yang baru saja sampai di hadapannya itu. Namun lekaki itu hanya diam dan tidak menanggapi.


Lantas gadis tersebut menghela nafas mendapati respon datar dari lelaki berhidung mancung itu.


"Bagaimana? Apa semuanya lancar? Apa Marquess setuju?" tanya gadis itu.


"Ya. Dia setuju, dan bersedia membayar berapapun," jawab lelaki tersebut.


"Benarkah? Bagaimana caramu membujuknya? Coba ceritakan padaku."


Cassandra berantusias. Melihat itu, Arlen hanya bisa diam sembari mengingat kejadian yang baru saja terjadi. 


Dan bagaimana caranya dia membuat Marquess Thrones setuju untuk membayar seluruh biaya.


Flashback on


Sebuah ruangan kerja yang sunyi. Terdapat seorang pria yang tengah duduk di kursi kerjanya sembari memeriksa kertas dokumen dan menuliskan hal-hal penting lainnya.


Keheningan selalu setia menemaninya daritadi, hingga akhirnya hancur ketika suara ketukan terdengar.


"Masuk saja," titahnya dengan pandangan yang tidak berpindah.


Lantas, sesosok pun muncul di ambang pintu dan mulai berjalan mendekati pria yang tengah sibuk dengan pekerjaannya tersebut.


"Maaf atas kehadiranku yang secara tiba-tiba, Marquess," kata lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu lebih hormat.


Seketika Marquess itu langsng terperangah, dan dengan cepat dia langsung berdiri menyambut kehadiran sosok lelaki bersurai pirang dengan iris birunya.


"Ah, Lord Arlen. Tidak perlu sungkan, ada gerangan apa anda kemari?" sambut Marquess tersebut diiringi dengan senyuman.


"Aku kemari ingin berbicara hal yang penting dengan anda, bisakah?"


"Tentu bisa. Mari, silakan duduk," ajak pria berumur tersebut.


Kemudian mereka pun duduk di sofa yang berhadapan di ruangan itu, dengan masing-masing cangkir teh di hadapan mereka.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Marquess Thrones.


"Untuk pertama, apa kau tidak ingin bertanya tentang proses penjernihan yang telah susah payah kami lakukan?"


Sontak Marquess itu tersentak, namun dia langsung bersikap tenang dan membalas. "Benar, maafkan atas kelancangan saya. Bagaimana prosesnya, My Lord? Saya harap semuanya berjalan seperti yang diinginkan," ucapnya.


"Semuanya berjalan lancar, tapi kami memiliki kendala,"  jawab Arlen.


"K-kendala?"


"Ya. Kami ingin mempercepat proses penjernihan, dan hal itu membutuhkan biaya."


"Untuk pertama--"


"Tentu hal itu tidak jadi masalah, bukan? Marquess Thrones?" potong lelaki bernetra biru itu dengan cepat. "Setelah anda memperlakukan Lady la Devoline dengan tidak pantas."


"T-tidak pantas? Apa maksud dari semua ini, My Lor--"


"Kau pikir aku bodoh? Kau memberi nona bangsawan sebuah penginapan kumuh dan tidak ada pelayan yang melayani. Kau pikir itu semua pantas?"


Setelah beberapa sindiran menusuk dari calon Duke itu, Marquess Thrones membolakan matanya. Dia tidak menyangka bahwa Arlen akan mengetahui semua itu.


Secara gagap, dia pun mulai mencoba merangkai kata-kata yang bisa digunakan sebagai bantahan.


"B-bukan itu maksud saya. S-saya t-tidak ada maksud untuk memperlakukan Lady dengan tidak pan--"


"Lalu sebelum aku datang, kau sebenarnya menolak usaha Lady, bukan?"


Lagi-lagi Marquess itu terdiam, dia hanya membisu. Karena tidak bantahan yang terlintas pikirannya. 


"Oleh karena itu, tentu saja Marquess akan membiayai proses penjernihan ini, bukan? Hitung-hitung sebagai kompensasi atas penghinaan terhadap Lady."


Karena tak bisa menolak dan protes, Marquess itu diam-diam mendengus nafas kasar dan hanya bisa menerima semuanya dengan terpaksa.


"Baiklah, saya akan membiayai proses penjernihannya," ujar Marquess itu. "Sebanyak apapun," tekannya.


Sebuah lekukan senyum licik dan kemenangan tercetak jelas di wajah tampan lelaki berhelai pirang itu dengan tangan yang bersedekap.


Flashback off


"Hei!"


Sontak Arlen mengerjapkan matanya ketika terkeluar dari lamunannya, dan dia pun kembali mengedarkan pandangannya untuk menatap gadis dihadapannya tersebut.


"Kenapa kau malah melamun? Apa kau mengalami kesulitan saat membujuknya?" tanya gadis itu sedikit khawatir.


"Tidak."


"Lalu bagaimana kau membujuknya? Aku sudah lelah menanyakan hal tersebut berulang-ulang kali," cecar Cassandra.


"Aku hanya bilang bahwa kita membutuhkan biaya untuk proses penjernihan. Dan dia bersedia membiayainya," bohong Arlen.


"Benarkah? Tidak kusangka ternyata Marquess orang yang baik juga. Karena seingatku, dia orang yang sangat tidak sopan dan kasar," gumam gadis itu.


"Baiklah, kalau begitu mari kita kembali kerja," ajak gadis itu kemudian berbalik dan berniat melangkah untuk kembali bekerja.


Namun niatnya terurung ketika ada sebuah cekalan di pergelangan tangannya yang membuatnya langsung terhenti.


Pandangannya berpindah dari cekalan tersebut ke sorot mata biru langit itu dengan kernyitan di alisnya yang menandakan bahwa gadis itu bingung.


Saat ia ingin membuka suara, secara cepat lelaki itu langsung memotongnya dan tak membiarkannya mengeluarkan separah kata.


"Festival tahun baru," ujar lelaki itu.


Sontak gadis itu tambah bingung, karena tidak ada petir maupun badai lelaki di hadapannya membahas tentang festival itu.


"Ikutlah ke festival itu denganku."


...10.02.2021...