The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Terkhianati



Previously....


"Ya, semua sudah saya siapkan, Yang Mulia."


"Kalau begitu, bersiap-siaplah. Karena besok, seluruh kerajaan Erosphire akan heboh," kata Pangeran Darren.


Lantas, mereka bertiga pun tersenyum penuh arti. Rencana yang telah lama disusun dan disiapkan, sudah saatnya untuk dilancarkan.


"Saya sudah siap sejak lama, Yang Mulia."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(33)...


"Bagaimana denganmu, Duke? Apa kau sudah melancarkan bagianmu?" tanya Pangeran Darren pada lelaki beriris biru yang berada di belakang Cassandra.


Arlen bersedekap, sembari mengingat aksinya yang sudah ia lancarkan kemarin.


Flashback on


Di sebuah pulau kecil yang rindang dan terpencil, terdapat sebuah penduduk desa yang tengah sibuk membangun rumah yang layak untuk mereka tinggal.


Bahkan ada yang tengah berburu untuk mencari bahan makanan, ada yang memasak, dan banyak lainnya.


Seorang lelaki beriris biru aquamarine pun akhirnya telah sampai ke tujuannya setelah menempuh beberapa jam perjalanan menggunakan kapal dari wilayahnya.


Dengan wibawa yang selalu menyertainya, lelaki itu pun melangkahkan kakinya di pulau yang lebih berdominasikan pasir putih tersebut.


Namun, seketika banyak penduduk yang langsung berlari ke arahnya dan mengunci pergerakannya.


Dia tidak terkejut, karena dia sudah mengetahui semua hal ini dari kekasihnya. Penduduk-penduduk ini adalah orang yang memiliki rasa curiga dan waspada yang tinggi, sehingga tak heran orang asing sepertinya akan langsung ditangkap untuk diinterogasi.


"Siapa kau? Apa yang membawamu kemari?" tanya sesosok pria berbadan besar pada Arlen.


"Duke Arlen de Floniouse, datang ingin membuat kesepakatan dengan pemimpin kalian atas perintah dari Countess Cassandra la Devoline," cecar lelaki bersurai pirang itu tenang.


Seketika beberapa orang penduduk itu langsung saling bertatapan, tak lama salah satu dari mereka pun berlari untuk mencari pemimpin mereka.


Beberapa saat berlalu, hingga akhirnya muncul sesosok wanita berhelai panjang


yang langsung berlari terbirit-birit menghampiri Arlen.


Wanita bernama Jeanne itu langsung menyadari siapa sosok lelaki dengan pandangan menelisik tersebut.


Beberapa hari lagi, akan ada seorang pria berambut pirang dan matanya berwarna biru seperti langit. Dia adalah Duke Arlen de Floniouse, dia akan membahas tentang kerjasama yang akan terjalin di antara kita.


Jeanne teringat akan surat yang ia terima dari Countess baik hati tersebut. Sontak, dia pun langsung menyuruh penduduknya untuk melepaskan lelaki berhelai pirang tersebut.


"Lepaskan dia, dan berikan hormat kepadanya," titah wanita berambut panjang itu pada penduduknya. Tak lama dari itu, dia pun membungkuk hormat. "Maafkan atas kelancangan saya dan penduduk saya, My Lord."


Lantas, para penduduk lain pun langsung menuruti perkataan pemimpin mereka dan mulai membungkuk hormat pada Arlen.


"Saya dengar dari Countess, bahwa anda akan datang untuk membahas tentang kerjasama yang akan kalian tawarkan kepada kami," ujar Jeanne.


"Ya, itu benar," jawab Arlen seadanya.


"Baiklah, kalau begitu silahkan ikuti saya. Kita akan bicara di tempat lain."


Lelaki bersurai pirang itu pun hanya mengangguk dan mengikuti kemana wanita di depannya ini akan membawanya.


.


.


.


.


.


"Jadi, sebenarnya kerjasama apa yang akan anda dan Lady Countess tawarkan kepada kami, My Lord?" tanya Jeanne.


Arlen pun tak ingin berbasa-basi, sehingga dia membuka suara untuk memberitahukan alasannya kemari.


"Cassan-- maksudku Lady Countess, ingin kau dan pendudukmu menyamar menjadi penyihir."


Jeanne pun langsung tersedak teh yang tengah ia teguk, kemudian wanita itu langsung terbatuk-batuk sembari meraih kain yang ada di pangkuannya. "M-maaf?" katanya masih bingung.


"Seperti yang kubilang. Kau dan pendudukmu akan menyamar menjadi penyihir, dan memulai aksi pemberontakan terhadap pangeran Yari," cecar lelaki itu masih dengan nada biasa.


Berbeda dengan Jeanne yang sangat-sangat kebingungan di sini. "Maaf sebelumnya, tetapi apa tujuan anda dengan meminta kami melakukan hal itu?"


Lelaki itu kembali bersedekap. "Tentu saja kami ingin pangeran Yari turun dari kandidat raja selanjutnya. Kau dan pendudukmu juga menginginkan hal yang sama, bukan?"


Jeanne tersentak. Yang dikatakan Duke ini benar, dia dan penduduknya juga tidak ingin pangeran yang telah membuat hidup mereka menderita menjadi kandidat raja selanjutnya.


"Kau tentu tidak ingin pangeran yang telah membuat hidup kalian menderita, menjadi raja selanjutnya," imbuh lelaki berhelai pirang lurus itu.


Wanita berambut panjang tersebut meremas rok panjang yang tengah ia pakai dengan kuat sembari menunduk.


Itu benar. Tentu saja mereka tidak ingin pangeran terkutuk itu menjadi raja selanjutnya dari negeri ini.


Dalam sekejap, Jeanne pun kembali mendongakkan kepalanya dan membuat keputusan akhir. "Baiklah. Karena Lady Countess telah sangat berbaik hati pada kami, maka kami akan melaksanakan keinginannya dengan senang hati."


Arlen hanya menganggukkan kepala.


Namun, tak lama dari itu Jeanne mengungkapkan rasa bingungnya dengan bertanya. "Maaf, tapi saya masih bingung. Anda bilang bahwa anda ingin kami menyamar menjadi penyihir. Bagaimana caranya?"


Lelaki itu sempat tersenyum miring sejenak ketika mengingat seluruh rencana yang terlontar dari bibir apel kekasihnya.


Rencana yang dibuat oleh gadis tersebut, sangat terperinci dan bijak. Membuat dirinya semakin mencintai kekasihnya tersebut.


Flashback off


"Hei," panggil Cassandra pada Arlen karena lelaki itu malah melamun ketika pangeran Darren bertanya padanya.


"Ya, saya sudah melaksanakannya," jawab lelaki bernetra biru itu.


"Bagus," balas pangeran bersurai hitam itu tersenyum. "Baiklah, silakan lanjutkan kegiatan kalian, aku tidak ingin mengganggu lebih lama," godanya kemudian melangkah pergi dari tempat itu.


Malu, adalah hal yang tengah Cassandra rasakan saat ini. Tentu saja dia sangat malu ketika tertangkap oleh seorang pangeran ketika melakukan hal tersebut.


Berbeda dengan Arlen, lelaki itu malah tersenyum penuh arti sembari merangkul kekasihnya tersebut dari samping.


"Haruskah kita melanjutkan hal tadi, Cintaku?" Lelaki bersurai pirang itu malah semakin gencar menggoda kekasihnya.


"Tidak. Kau tidak boleh melakukan hal itu lagi," larang gadis bermanik coklat itu melepaskan rangkulan sang kekasih.


"Kenapa? Bukankah kita sudah menikah sebelumnya? Kau bahkan menjerit di bawahku ketika kita pertama kali melakukanny--"


"Aghh diam! Jangan mengingatkanku akan hal itu lagi!" Dengan sigap Cassandra langsung membungkam bibir lelaki itu dengan kedua telapak tangannya.


Pipinya terasa sangat panas sekarang, dan sudah pasti sangat memerah. Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan hal se-vulgar itu?!


Cassandra merasakan darahnya berdesir ketika bibir hangat lelaki itu menyapu telapak tangannya.


Tak lama, mereka kembali berhadapan dengan jarak yang semakin terkikis. Wajah lelaki beriris biru langit menghanyutkan itu kembali mendekat padanya.


Tangan Arlen telah sampai di pipinya, mengusapnya pelan dengan ibu jari lelaki itu yang telah sampai di bibirnya.


Tatapan teduh dan berkabut itu seakan memohon kepadanya. Membuat Cassandra menggigit bibir bawahnya karena bimbang. Haruskah ia mengabulkannya?


Saat bibir mereka baru saja bersentuhan, tiba-tiba sebuah suara kembali menginterupsi.


"My Lady!!"


Cassandra langsung mendorong tubuh lelaki yang sempat ada di hadapannya dan langsung mengubah ekspresinya.


"Ada apa, France?" tanya gadis itu dengan raut wajah netral.


Tanpa ia sadari, ada seseorang yang tengah menggeram kesal dalam diam karena sedari tadi selalu terganggu ketika ingin melepaskan jeratan rindu terhadap kekasihnya.


"Apa pergelangan tangan anda baik-baik saja, apa saya mencekal anda terlalu kuat tadi?" tanya France khawatir.


Ya, pria yang sempat mengganggu Cassandra di pesta tadi adalah pelayannya sendiri, yaitu France.


Sudah dibilang, bukan? Semuanya adalah sandiwara semata.


"Oh... aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," jawab gadis itu. "Apa pipimu terasa sakit?" ringisnya ketika melihat sebuah lebam terpatri di pipi France.


"Ah, ini bukan apa-apa, My Lady."


Seketika, suasana menjadi hening. Tidak ada lagi yang bersuara. France bisa merasakan hawa tidak enak yang sedari tadi datang dari sesosok lelaki yang berada di samping majikannya, sehingga dia pun langsung ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.


"B-baiklah, kalau begitu. Saya tidak ingin menganggu. Saya pamit undur diri, My Lady," pamitnya kemudian langsung pergi dengan cepat dari tempat yang suasananya mencekam itu.


Cassandra menghela nafas kasar, hampir saja dia tertangkap basah untuk kedua kalinya. Jika dia tertangkap sedang melakukan hal itu oleh bawahannya sendiri, mau ditaruh mana wajahnya?


"Hei, sebaiknya kita pulang. Sebelum ada orang lain yang datang kem--"


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja tubuhnya ditarik oleh lelaki di depannya tersebut ke balik pohon besar.


Tanpa aba-aba, lelaki beriris biru ini menyergap bibirnya dan seakan tak ingin melepaskannya begitu mudah.


Awalnya Cassandra terkejut, namun tak lama dari itu dia terkekeh di dalam hati.


Kekasihnya ini... diam-diam tengah kesal.


...~•~...


Anastasia frustrasi ketika tidak kunjung menemukan sesosok yang tengah ia cari saat ini.


Perasaannya berkecamuk dan berkalut, seluruh emosi menyatu dan menggumpal di dalam hatinya.


Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana. Setelah menyaksikan kejadian tadi, apa yang harus dirinya lakukan?


Kenapa, dia merasakan rasa bersalah yang menggores sangat dalam di hatinya? Apa ini semua terjadi karenanya?


Apa ini semua adalah salahnya?


Lagi-lagi pikirannya hanya bisa bertanya namun tak bisa menjawab. Gadis berhelai emas itu kini berakhir terbaring telungkup di atas kasur yang terletak di kamarnya.


Dirinya tak peduli dengan pesta perayaan ulang tahunnya yang sedang berlangsung, yang dia inginkan saat ini hanyalah menenangkan perasannya.


Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Anastasia ingin menghirup udara segar. Gadis itu pun mengusap air matanya dan mulai berjalan ke balkon yang menyatu dengan kamarnya.


Angin malam yang menerpa, setidaknya bisa menyejukkan sedikit hatinya. Sampai sekarang, dia bahkan tidak berjumpa dengan sosok yang ingin dia temui sedari tadi.


Apa sosok itu telah pulang terlebih dahulu? Atau memang dirinya yang tak becus mencari keberadaan sosok itu?


Untuk saat ini, Anastasia tidak ingin berpikir hal-hal berat. Karena dirinya pasti akan gila jika terus-menerus memikirkan hal yang bisa membuat dirinya mengalami frustrasi yang menyesakkan.


Cukup lama dia berdiri sembari mengamati jutaan pijar bintang yang berkabung, hingga akhirnya kehadiran sosok yang akhir-akhir sempat menghilang kini kembali hadir.


"Sepertinya kau ada masalah," ujar sosok berjubah itu kembali mengusiknya.


"Pergilah! Aku tidak ingin diganggu saat ini," hardik gadis itu secara cepat.


Sosok tersebut hanya diam, dia tidak bergerak atau berbicara. Berdiri diam dalam keheningan, adalah hal yang tengah ia lakukan sekarang.


Anastasia berdecak kesal dibuatnya. "Bukankah sudah kubilang untuk pergi?"


"Asal kau tahu, kau bisa bercerita tentang masalah yang kau hadapi padaku," ujar sosok itu.


"Atas dasar apa aku harus berbagi cerita denganmu? Kau bukanlah siapa-siapa selain orang asing yang selalu mengusikku tiap malam."


"Tidak masalah. Hanya saja, aku hanya ingin kau mengetahui bahwa aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu."


Anastasia terdiam. Saat ini, dia benar-benar ingin berbagi masalah yang terpendam di hatinya.


Lagipula, selama ini dia juga sering mencurahkan hatinya pada sosok berjubah yang bahkan ia tak tahu siapa.


Dan selama ini juga, sosok itu selalu memberikan solusi yang bisa membuat beban di pikirannya seolah-olah menguap begitu saja.


Tidak salah bukan jika kali ini dia juga mencurahkan isi hatinya untuk mendapatkan sedikit ketenangan?


"Bagaimana reaksimu ketika kau melihat kedua sahabatmu saling menangis... mengungkapkan bahwa mereka tak bisa bersama karena dirimu? Terlebih lagi jika salah satu dari mereka adalah seseorang yang kau cintai," tanya gadis itu sembari menatap lurus ke depan.


"Tentu saja merasa sangat bersalah," ujar sosok itu membuat Anastasia menoleh.


Ternyata tidak dia sendiri yang merasakan hal tersebut.


"Tapi jika mereka telah mengetahui perasaanku terlebih dahulu, maka aku akan sangat marah. Karena itu sama saja mereka mengkhianatiku," imbuh sosok berjuang hitam itu membuat Anastasia tersentak.


"Berkhianat?" beo Anastasia.


"Ya. Jika mereka berdua telah mengetahui perasaanku dan tetap saja berhubungan tanpa sepengetahuanku, tentu saja aku merasa terkhianati. Terlebih lagi jika mereka telah berhubungan sejak lama di belakangku."


Anastasia terdiam sembari mencengkram pagar balkon kamarnya secara kuat. Dia kembali teringat akan percakapan kedua sahabatnya itu.


"Hei... kumohon berhentilah. Aku lelah diam-diam memiliki hubungan denganmu selama ini.... Aku... tidak ingin menyakiti Anastasia lebih dari ini, kumohon...."


Itu benar. Seharusnya dia merasa marah, karena dialah yang terkhianati di sini. Dirinya tidak berhak merasa bersalah, justru mereka yang seharusnya merasakan ini semua.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk pengkhianatan yang telah kau terima?" tanya Anastasia pada sosok itu.


Sosok itu terdiam sejenak, kemudian kembali berkata. "Aku akan balas dendam. Aku akan membuat rasa terkhianati ini menghilang dengan rasa puas akibat balas dendamku yang telah berhasil."


Gadis bernetra emerald itu sudah sepenuhnya terpengaruh, dia telah dikuasai oleh emosi yang menggebu dalam dirinya. "Bisakah kau memberi contoh aksi balas dendam yang kau maksud?" tanyanya.


Sosok itu tersenyum miring dalam diam, ternyata membodohi gadis yang masih labil akan perasaannya sendiri, sangatlah menyenangkan.


"Aku akan mencoba... membuat mereka kehilangan sosok yang mereka kasihi."


...04.03.2021...