The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 37 : Kejengkelan



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Elise, dimana Arlen? Perasaanku aku tidak melihatnya dua hari ini," tanyaku seraya mencabuti satu persatu kelopak bunga di tanganku.


Entah sejak kapan mencabuti satu persatu kelopak bunga menjadi hobiku ketika hadir di dunia ini.


"Astaga, Nyonya! Bunga itu untuk dipandang keindahannya, bukan untuk dirusak seperti itu!" omel Elise padaku.


Diriku dulu sangat suka dengan bunga, namun tidak untuk sekarang.


Karena ketika aku melihat bunga, aku jadi teringat dengan seorang wanita yang hanya memiliki kecantikan, namun sangat lemah ketika disakiti.


Sama halnya dengan bunga, keindahan mereka mampu membuat sang empu yang melihatnya terpana, namun sangat rapuh ketika dipetik seperti ini.


Mereka dengan bodohnya selalu setia menampakkan kecantikan mereka, namun selalu tidak perduli ketika mereka jatuh pada tangan orang yang salah dan berakhir secara naas.


"Nyonya!"


Aku tersadar dari lamunanku, karena di sini cukup membosankan, pikiranku selalu terlayang kemana-mana.


"Ada apa, Elise?"


Elise tampak menghembuskan nafas. "Sebenarnya apa yang terjadi pada anda, Nyonya? Anda terlihat selalu melamun, memang sih anda memang terlihat selalu terlarut dalam pikiran sendiri, namun bukankah anda akhir-akhir dekat dengan Tuan Duke? Seharusnya kalian sudah baikan sekarang, bukan?" cerocosnya panjang lebar.


"Cukup jawab saja pertanyaanku, Elise," potongku seraya mengangkat tanganku ke udara.


"Saya sudah menjawab, tapi anda yang tidak mendengarkan daritadi," tutur Elise.


"Kalau begitu, katakan sekali lagi," pintaku masih fokus dengan sebatang bunga yang kelopaknya telah habis sebagian.


Tampak Elise sedikit kesal denganku, dan rasanya aku ingin terkekeh kecil melihatnya kesal seraya berkacak pinggang seperti itu.


"Tuan Duke sedari pagi tidak keluar dari ruang kerjanya, Nyonya. Mungkin Tuan Duke tengah banyak urusan tentang wilayahnya," jelas Elise membuatku mengangguk-anggukkan kepala.


"Begitu," jawabku asal. Aku sangat bosan, aku tak tahu lagi harus melakukan apa.


Dan aku merasa sedikit kesepian ketika kehadirannya tidak ada di sampingku.


Jika ingin berkuda dan berjalan-jalan di tengah hutan menikmati udara yang masih jernih, aku tak bisa berkuda.


Jika ingin pergi ke pasar dan menghabiskan uang, aku tidak tahu jalan dan bagaimana jika aku tersesat?


Bisa runyam nantinya.


"Kalau begitu, Elise. Kau kembalilah masuk dan bekerja, aku akan kembali ke kamarku terlebih dahulu, di luar sangat dingin," ujarku kemudian berdiri dan melangkah pelan menuju kamarku.


Kueratkan jubah tebal yang melilit tubuhku, lalu berjalan pelan masuk ke mansion.


Sebenarnya bisa saja aku masuk ke ruang kerjanya dan menganggunya, namun aku juga tidak ingin egois.


Jadi yang kulakukan hanyalah kembali ke kamarku, dan mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk memakan dan membuat waktu berlalu.


Entah kenapa, hari ini aku sangat tidak bersemangat, ketika dia tidak berada di dekatku.


Bahkan untuk menarik kedua sudut bibir pun, rasanya enggan.


...🥀...


Saat aku tengah dalam perjalanan menuju kamarku yang jaraknya lumayan jauh dari taman belakang yang baru dan aku kunjungi, tak sengaja aku berpapasan dengan sosok yang membuatku tambah malas.


Dengan perasaan jengkel, aku pun berjalan cepat agar dia tidak melihatku atau menyadari keberadaanku, namun sepertinya hal itu sia-sia.


Karena saat aku baru saja melewatinya beberapa inchi, sosok itu telah memanggil namaku dengan suara imut mematikannya.


"Cassandra!"


Sontak, aku langsung berhenti. Kubalikkan badanku untuk menghadapnya sembari mengeluarkan senyum palsu yang terpaksa.


"Ada apa Anastasia?" tanyaku. Kumohon cepatlah berbicara supaya aku bisa kembali ke kamarku.


"Uhm, aku hanya ingin memanggilmu saja. Karena menurutku, kita sepertinya jarang berbicara walaupun kita tinggal di atap yang sama," cecarnya membuatku mati-matian berusaha untuk tidak memutar kedua bola mataku.


Itu bukan menurutmu saja, itu memang kenyataan. Aku terlalu malas untuk berhadapan dengan mahluk penuh kepalsuan sepertimu.


"Ya, mungkin karena jarak kamar kita berjauhan sekaligus karena sibuk dengan urusan masing-masing, kita jadi jarang berbicara," jawabku sambil tersenyum manis.


"Kau benar. Oleh karena itu, maukah kau mengobrol sebentar denganku sambil minum teh di ruang tamu di depan perapian yang hangat?" tawarnya.


Jujur, aku hanya ingin kembali ke kamarku saat ini juga. Namun, sepertinya tawarannya saat ini boleh juga diterima.


Karena aku penasaran, hal apa saja yang akan dia bicarakan padaku.


.


.


.


.


.


Matahari pun sudah mulai menurun menandakan hari sudah mulai senja. Hamparan sinar matahari berwarna yang tertimbun kini telah menyatu dengan indahnya awan berwarna abu-abu di langit.


Segelas teh pun telah terpatri di jari-jemariku yang panjang dan putih, seraya menyesapnya pelan, aku pun berusaha sabar menunggu wanita yang berada di hadapanku ini membuka mulutnya untuk berbicara denganku.


Jangan lupa dengan aku yang bersikap sok anggun.


"Cassandra, sebenarnya aku bukan hanya ingin berbasa-basi seperti biasa denganmu. Sebenarnya, aku ingin minta maaf," paparnya seraya menunduk dan meremas rok gaunnya.


Astaga sandiwaramu sungguh hebat sekali!


"Minta maaf? Minta maaf tentang apa, Anastasia?" tanyaku dengan alis mengernyitit, seolah-olah bingung.


Sebenarnya aku memang bingung, namun bingung dengan rencana apa yang akan dilancarkan wanita ini selanjutnya.


"A-aku...," paraunya mulai meneteskan airmata.


Jika kau tidak jahat, mungkin aku akan menjadi pengagum bakatmu itu.


"Aku minta maaf, Cassandra.... Karena a-aku telah menjadi penghalang di antara hubunganmu dan Arlen. Aku baru sadar... bahwa Arlen memang tidak pernah mencintaiku walaupun aku memaksanya untuk menikahiku," paparnya membuatku sedikit terkejut.


Jadi ini alasan pria itu menikahi Anastasia dan mengkhianati Cassandra? Karena paksaan? Astaga wanita ini benar-benar!


Aku berdiri dari duduk ku kemudian mendekati wanita ini dan menggenggam tangannya lembut. "Kau tidak perlu meminta maaf, Anastasia," jawabku penuh kelembutan, tak lupa dengan raut wajahku yang sangat berbeda dengan perasaanku saat ini.


"Kau dari awal tidak salah. Lagipula aku sudah memaafkanmu, karena mau bagaimanapun kau tetaplah sahabatku."


Hoek!


Ingin rasanya aku muntah ketika mendengar perkataanku sendiri, sebenarnya aku juga memang wanita yang penuh kepalsuan.


Namun di dalam lubuk hatiku, aku tidak pernah berniat berbuat jahat pada orang lain kecuali mereka memang telah benar-benar membuatku kesal.


"Benarkah? Kau benar-benar memaafkanku?" tanyanya seperti anak kecil yang menangis habis dimarahi oleh orangtuanya.


"Ya, tentu saja," jawabku seraya tersenyum manis, yang mana mengundang raut wajah senang di wajahnya yang sudah pasti palsu.


"Terimakasih, Cassandra! Aku juga sudah bicara pada Arlen, bahwa sekarang kami sudah menganggap diri kami sebagai sahabat seperti dulu."


Arlen? Apa dia benar-benar mempercayai wanita penuh kepalsuan ini?


Memang Anastasia adalah sahabat kecilnya sama seperti yang tertera di awal novel, namun aku tidak menyangka ternyata dia masih bisa termakan kepalsuan Anastasia.


Namun... ya sudahlah. Aku juga tidak ada kewajiban ataupun hal untuk melarangnya.


"Jadi kau tak perlu khawatir, karena aku pun telah seluruhnya menghilangkan perasaanku terhadap Arlen! Oleh karena itu, pria menyebalkan itu akan menjadi milikmu sepenuhnya!" serunya seraya terkekeh.


Heh? Benarkah seperti itu? Semudah itu? Bukannya kau sangat terobsesi pada pria itu?


Mau bagaimana pun kau berbicara ataupun berbohong, aku juga tidak akan pernah mempercayaimu.


Mau semanis apa pun kata-kata yang terlontar dari bibirmu, aku tak akan termakan dengan mudah begitu saja.


...🥀...


Seraya menyenandungkan lagu kesukaanku yang memiliki arti yang pedih, aku pun menatap ke luar jendela yang masih saja diguyuri salju yang tebal.


Sejak kapan aku menjadi melankolis seperti ini? Hatiku saat ini bergelung dengan kesepian yang terus berkepanjangan.


Padahal hanya dua hari aku tidak bertemu dengannya, namun kenapa aku seakan seperti orang gila seperti ini?


Apa se menyakitkan ini ketika kau merindukan sosok yang kau sayangi? Padahal kau berada di dekatnya, namun dia tidak berada di sampingmu.


Kupeluk kedua lututku seraya memikirkan bagaimana nasibku kedepannya di dunia ini.


Dan sebenarnya bagaimana aku bisa sampai kesini? Sebenarnya kemana jiwa Cassandra la Devoline yang sesungguhnya?


Apa Cassandra la Devoline benar-benar telah tiada sehingga tubuhnya kosong dan aku pun secara tak sengaja mengisi tubuhnya?


Kemudian, bagaimana jika aku kehilangan nyawaku di dunia ini?


Apa tubuh ini akan diisi oleh jiwa yang baru? Lalu, apa dia akan jatuh ke pelukan nyawa yang lainnya?


Bagaimana dengan tubuhku yang berada di dunia asalku?


Apa aku bisa kembali ke dunia asalku?


Semua pertanyaan mulai memenuhi dan membuat kepalaku seakan kelebihan muatan.


Hatiku pun dibuat nyeri ketika rasa ketidakrelaan ini meraja lela.


Hingga aku tak sadar ternyata ada sebuah kalungan tangan yang mengelungiku tubuhku.


Sebuah kepala dapat kurasakan mendarat di bahuku, dan sebuah terpaan nafas hangat menyentuh kulit leherku.


Kenyamanan ini, adalah milik sosok yang tengah kutunggu.


Kubangan perasaan hangat ini, telah berjam-jam tertahan oleh raaa kesepian yang membendung. Seakan aku tak ingin melepasnya walaupun hanya untuk sedetik saja.


"Aku sangat bosan berkutat berkas-berkas yang menumpuk di mejaku. Dan kau ada sedikit niatpun untuk mengunjungiku?"


"A-aku takut aku akan mengganggumu," jawabku tergagap dikarenakan degup jantung yang mulai berpacu laju.


Kedekatannya dengan tubuhku membuatku meremang. Dan juga hangat.


"Kau tak akan pernah menggangguku. Karena kau adalah sumber kebahagiaan ku," balasnya membuat bibir bawahku tak tahan untuk kugigit.


Kenapa dia bisa seromantis itu?


"Begitu," ujarku asal.


"Aku barusan mendengarmu menyanyikan lagu bahasa asing. Bahasa apa itu?" tanyanya membuatku langsung menoleh ke arahnya.


"Oh, sebenarnya itu adalah lagu bahasa asing yang aku juga tak tahu artinya," ringisku dengan senyuman.


Dia menaikkan alisnya sebelah. "Kau bisa menyanyikannya tapi tak tahu artinya?"


Tawa hambarku menyebar di udara. Entah kenapa nada suaranya terdengar seperti merendahkanku. Itu pasti perasaanku saja. "Haha... yah, begitulah."


"Sebenarnya, ada hal yang mengangguku akhir-akhir ini," ungkapnya.


"Apa kau mau bercerita?" Raut wajah khawatir tak dapat kutahan untuk muncul di wajah ku. Tanganku kini mengenggam tangan miliknya pelan.


Arlen menggelengkan kepala pelan. "Tidak, sebenarnya bukan masalah besar. Tapi, aku memerlukan bantuanmu."


"Katakan saja."


"Jika kau bisa melantunkan bahasa asing, adakah kemungkinan kau bisa berbahasa Yunani?"


Kedua alisku terangkat. "Bahasa Yunani? Ya, aku bisa sedikit-sedikit."


Karena di saat aku masih berlimpah harta dulu, aku jadi sering ke luar negeri, dan aku pun belajar tentang bahasa asing sedikit-sedikit.


Dia tampak terkejut atas pernyataanku, apa ada yang aneh dengan hal itu?


Pria ini merogoh sakunya lalu menarik sebuah buku catatan kecil lalu menyodorkan nya padaku.


Sebuah tulisan dapat aku lihat tertera di atas permukaan kertas jaman dulu itu yang sedikit berwarna kekuningan.


"Apa kau tahu arti dari tulisan ini?"


Kuperhatikan secara teliti tulisan itu. "Tulisan ini bertuliskan Megalos...," gumamku bertopang dagu. "Artinya adalah hebat."


"Megalos?" Dia bertanya dan aku pun mengangguk sebagai pertanda benar.


"Memangnya kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang hal ini?" tanyaku penasaran.


Dia tampak berpikir sejenak, namun bukan jawaban atas pertanyaanku yang terlontar di bibirnya.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu," kilahnya membuatku sedikit kesal.


"Aku harus kembali kerja, lebih baik kau istirahat." Dia pun dengan cepat melangkah menjauh dariku.


Aku jadi semakin bingung dengan semua sikapnya. Seperti ada yang disembunyikan, namun dia terlalu takut untuk memberitahukan itu padaku.


Dan, Megalos?


Entah kenapa sepertinya aku pernah mendengar kata-kata itu.


...🥀...


Saat ini Elise tengah membantuku memakai pakaian yang akan aku kenakan untuk pergi ke pesta di istana.


Gaun berwarna biru langit yang cerah, di sertai dengan pita besar bernada seirama yang menyangkut di surai coklat bergelombangku panjang.


Kalung yang mencekik leher namun cantik ini pun terpasang sempurna di leherku dengan sedikit hiasan renda berbentuk bunga mawar sebagai pemanis.


Setelah dirasa selesai, Elise pun berkata-kata untuk memujiku.


"Warna baju yang lembut ini sangat cocok dengan kepribadian anda, Nyonya," pujinya membuatku melayangkan senyum bangga.


"Tentu saja, aku saat ini terlihat sangat cantik, bukan?"


Dapat kulihat Elise meringiskan senyumnya. "Entah kenapa saya jadi menyesal memuji anda," gumamnya membuatku terkekeh.


"Terimakasih, Elise. Telah membantuku memakai baju yang sangat merepotkan untuk dipasang ini," ucapku masih setia melihat refleksi diriku di cermin.


Sebuah topeng yang menutup setengah wajah pun kupakai karena itu merupakan konsep dari pesta ini.


Kini hanya hidung, bibir, dan bolamataku yang terlihat ketika topeng ini terpasang sempurna di wajahku.


"Tidak perlu, Nyonya. Itu sudah menjadi tugas saya."


Di saat aku masih asyik bercermin, dapat kurasakan lenganku ditarik. "Nyonya, berhentilah bercermin terus! Cepatlah temui Tuan Duke, dia pasti sedang menunggu anda!" tutur Elise membuatku sedikit gugup.


Akankah dia akan senang melihat penampilanku?


Karena tak ingin berlama-lama menunggu, aku pun menuruti apa yang dikatakan oleh Elise.


Aku pun berjalan menuruni tangga dengan langkah kecilku, dan saat langkahku telah sampai di lantai bawah, aku pun melihat sosok itu.


Senyum yang merekah secara perlahan-lahan memudar.


Aku lupa bahwa bukan aku saja yang berstatus sebagai Duchess Floniouse di sini.


Sehingga kejengkelan ini mau tidak mau harus kutelan. Ketidaksukaan ini harus aku terima.


Awalnya aku ingin berduaan, namun nyatanya, masih saja ada pihak ketiga yang menganggu kesenanganku.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^13 Desember 2020^^^