The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 15 : Sisi tak Terduga



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Author Pov


Saat ini, mansion kediaman Duke Floniouose tengah di landa kesibukan. Ya, persis dengan apa yang di pinta oleh Anastasia.


Wanita bersurai pirang lurus itu ingin pesta ulang tahunnya di rayakan di mansion mereka.


Dan saat ini semua pelayan-pelayan tengah mempersiapkan dekorasi, jamuan, dan hal-hal lain yang di perlukan agar pesta ini menjadi mewah.


Yang menjadi bintang di pesta ini pun sekarang tengah sibuk untuk mempersiapkan dirinya.


Tapi berbeda dengan wanita bersurai coklat tua bergelombang ini.


Cassandra saat ini tengah sibuk memetik satu-persatu kelopak bunga yang ada di tangannya sambil memikirkan sesuatu. 


Lebih tepatnya sebuah rencana untuk membalas perbuatan Anastasia, karena dirinya masih tak terima pasal ayam goreng kemarin.


Sambil duduk di pinggiran air mancur yang terdapat ukiran-ukiran indah, wanita itu termenung menatap kosong kelopak bunga yang bertebaran bekas petikan nya.


"Bagaimana tepatnya aku harus membalas perbuatan wanita itu?" batinnya.


Jari-jari lentik dan putihnya dan henti-henti menarik kelopak bunga itu, hingga akhirnya wanita itu merasa bosan sendiri lalu melempar bunga itu.


"Bosannn!" gerutunya lalu mengadahkan kepalanya untuk menatap birunya langit yang di hiasi kapas putih indah yang dapat menurunkan air hujan yang indah.


"Andaikan di sini ada internet, aku pasti akan sangat bahagia di sini."


"Internet? Apa itu?"


Cassandra terperanjat kaget dengan kehadiran seseorang secara tiba-tiba. "Whoa!"


Wanita itu lalu melirik seseorang tersebut yang telah mengagetkan dirinya. 


"Ternyata kau. Berhentilah mengagetkan ku seperti itu," ucapnya seraya menghembuskan nafas pelan.


"Yang barusan kau katakan, apa itu artinya?" tanya Arlen.


Cassandra menautkan kedua alisnya. "Memang apa yang barusan ku katakan?" ucapnya berbalik tanya.


"Internet. Apa itu?"


Wanita bersurai coklat itu sedikit terkejut, tapi kemudian dia berusaha mencari jawaban yang lain.


Karena ia tahu, pria itu pasti tidak mengerti apa itu internet.


"Ehm... internet itu semacam...." Cassandra tampak ber pikir-pikir. "Makanan! Ya, internet itu semacam makanan!" kilahnya secara cepat.


Pria ber iris biru langit hanya diam saja, tak ada anggukan atau pun sepatah kata yang terlontar dari bibirnya.


"Lagipula untuk apa kau kemari? Bukankah seharusnya kau menemani Anastasia?" tanya Cassandra mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Arlen tampak menunjukkan pandangan tak suka atas pertanyaan Cassandra. "Memang nya kenapa jika aku berada di sini? Apa kau berusaha mengusir ku?"


"Bukan seperti itu maksudku!" pekik Cassandra, "Astaga, pikirannya sungguh negatif!" sambungnya dalam hati.


"Ya, aku hanya bosan. Jadi aku kemari," ujar pria itu.


"Apa kau tak punya pekerjaan? Seperti membantu Yang Mulia Raja, misalnya."


"Tentu saja ada. Tapi karena aku jenius, aku dengan cepat telah lama menyelesaikannya."


Cassandra memutar bola matanya jengah. Apa pria itu baru saja memuji dirinya sendiri di hadapannya?


Arlen kemudian mendaratkan pangkal paha nya dan duduk di samping wanita itu. "Kapan kau akan memenuhi kewajibanmu?"


"Kewajiban? Memang nya apa kewajibanku?"


"Menjadi milik ku seutuhnya," bisik nya sensual di dekat telinga Cassandra sehingga membuat wanita itu merasakan  seru nafas yang hangat menerpa daun telinganya.


Wanita itu sontak langsung berdiri dari duduknya. " U-uhm, aku baru ingat bahwa aku mempunyai urusan. Aku pergi dulu!"


Tapi rencananya itu gagal total, di kala Arlen menahan pergelangan tangannya hingga tubuhnya sontak terhenti.


Cassandra membelalakkan bola matamu di kala wajah mereka yang sangat berdekatan.


Tangan kekar pria itu pun melingkari pinggangnya agar dirinya tak bisa melarikan diri.


Netra biru langit pria itu menatapnya dalam sehingga ia merasa sedikit tidak nyaman kemudian memalingkan wajahnya.


"A-apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," perintahnya tapi hanya senyuman miring yang ia dapat sebagai balasannya.


"Kenapa? Bukankah kau waktu itu berjanji padaku jika luka mu telah sembuh, maka kau akan seutuhnya menjadi milik ku?" tutur Arlen membuat Cassandra terbungkam.


Kali ini alasan apa yang harus ia katakan? Cassandra memutar balikkan pikirannya untuk mencari alasan yang tepat untuk mengelak, tapi pikirannya seakan tak ingin berkompromi dengannya.


Otaknya tak bisa memikirkan alasan apa pun saat ini.


"Lepaskan, banyak orang di sekitar sini. Apa kau tak malu?"


"Banyak orang? Kau lihat lah sekitarmu."


Cassandra langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka.


Sunyi. Tidak ada seorang pun di sekitar mereka. Perasaannya tadi banyak orang, tapi kemana mereka semua pergi?


Tak lama dari itu, kini ada jeritan yang membuat mereka menoleh ke sumber suara.


"Tuan, Nyonya! Awas!"


Entah dari arah mana, tiba-tiba di belakang Cassandra terdapat sebuah tangga yang akan jatuh menimpanya.


Secara cepat, Arlen memutar posisi mereka. Cassandra yang merasa bahwa tubuhnya yang di putar dengan mudahnya seperti itu sedikit kaget dengan perlakuan Arlen yang tiba-tiba.


Pria itu pun mendekap Cassandra, lalu tangga yang terbuat dari kayu itu terjatuh tepat mengenai punggungnya.


Bugh!


Cassandra terbelalak di sertai dengan mulutnya yang ternganga. Entah kenapa akhir-akhir ini musibah tak henti-henti nya menimpa mereka.


Dan selalu saja Arlen yang banyak terluka. Pria itu meringis lirih di dekat indra pendengaran Cassandra.


Dengan tergopoh-gopoh, para pelayan pun mulai mendekati mereka, dan ratu wajah ketakutan dan cemas terpatri jelas di wajah mereka.


Mereka sudah siap dengan makian dan bentakan dari pria yang menjadi majikan mereka.


Tapi, ekspektasi tak sesuai dengan realita. Bukannya makian atau bentakan yang terdengar, justru ungkapan kekhawatiran yang terlontar dari bibir pria bersurai pirang itu.


"Kau tak apa-apa?" tanya Arlen pada Cassandra.


Dan wanita itu pun hanya mengangguk kikuk. Tak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Lain kali berhati-hati lah," perintah pria itu dengan tenang, tidak ada nada tinggi sedikit pun di setiap kata yang dia ucapkan.


Pelayan-pelayan itu pun terpelongo tak percaya, tapi setidak nya mereka semua bisa bernafas lega.


"Uhm... apa punggung anda terasa sakit, Tuan? Kami bisa membawa obat untuk anda," tawar salah satu pelayan tersebut.


Tapi Arlen hanya menggeleng dan mengangkat telapak tangannya ke udara sebagai tanda untuk menyuruh pelayan-pelayan itu pergi.


Tak lama dari itu, pelayan-pelayan itu pun langsung melengos pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa kau benar-benar baik-baik saja? Bunyi tangga itu saat menimpa mu benar-benar keras, dan aku dengar kau pun tadi sempat meringis," ungkap Cassandra sambil menatap pria itu.


Arlen tersenyum miring. "Mungkin dengan kau menjadi milikku malam ini, rasa sakitku akan menghilang," goda pria itu membuat tulang pipi Cassandra di hiasi dengan rona merah yang datang secara tiba-tiba dan tak dapat ia sembunyikan.


Dari kejauhan, terdapat seorang wanita yang menggeram kesal sembari dengan netra hijaunya yang menyalang dan kuku jari nya yang panjang ia gigit karena kesal.


"Lihatlah apa yang akan terjadi padamu nanti malam, Cassandra! Arlen pasti akan sangat-sangat membencimu!"


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^11 November 2020^^^