The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Sosok Berjubah



Keesokan harinya, lelaki itu kembali duduk di tempat yang sama seperti kemarin.


Berharap sosok yang ia tunggu akan muncul di hadapannya dan menampilkan senyum manis sekaligus membahagiakan tertuju kepadanya.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(9) ...


"Bagaimana kau tahu bahwa ayahku sekarang tengah mengurungku?" tanyaku Cassandra dengan kernyitan di alisnya.


"Apa maksudmu?" Alih-alih menjawab, justru sahabatnya tersebut malah bertanya kembali.


"Bagaimana kau tahu bahwa ayahku mengurungku? Bukankah aku tidak pernah mengatakannya padamu?"


Ruangan tersebut diam tanpa ada suara karena dua manusia di dalamnya tidak melakukan sesuatu yang mengundang bunyi.


Mereka hanya diam, menatap satu sama lain dalam keheningan yang menyergap. Namun, akhirnya kesunyian kembali terbuyar ketika terdengar gelombang volume dari bibir lelaki.


"Darimana aku tahu? Tentu saja aku mengetahui itu dari ayahmu. Memangnya kenapa?" kata Frost menarik sebelah alisnya ke atas.


Cassandra tampak terdiam. Entah apa yang tengah mengendap di pikiran gadis itu.


Tak lama dari itu, sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya. Kedua telapak tangannya terkatup seraya dengan wajahnya yang cantik tengah tersenyum.


"Begitu." Sebuah balasan lolos dari mulutnya, kemudian dia kembali berdiri. "Kalau begitu, aku akan mengambilkan teh untukmu. Kau tunggulah di sini," ujar gadis itu.


Kemudian kaki rampingnya melangkah dan telapak tangan halusnya meraih gagang pintu lalu keluar dari kamarnya.


...~•~...


"Ibu!"


Seorang wanita paruh baya menggerakkan kepalanya ke belakang, guna untuk memandang sosok yang memanggilnya.


"Ana," ucap wanita itu dengan senyuman kemudian menghampiri anak semata wayangnya. "Ada apa?"


Gadis yang mempunyai iris hijau berkilau itu tersenyum hingga deretan gigi putihnya terpampang. 


"Ana hanya ingin memanggil Ibu saja, karena kelihatannya Ibu sangat sibuk belakangan ini," terang gadis yang kerap dipanggil nama Ana itu.


"Ternyata putri Ibu ini sangat perhatian, Ibu jadi terharu," canda wanita itu pada putrinya yang terkekeh kecil. "Oh iya, Ibu lihat akhir-akhir ini, Arlen jarang terlihat bersamamu. Kemana dia?"


Ana menghela nafas berat dengan wajahnya yang tertekuk. "Ana juga tidak tahu, Arlen sepertinya sangat sibuk belakangan ini. Sebenarnya Ana ingin bertemu dengannya, tapi Ana tidak ingin menganggunya," papar gadis itu menatap lantai yang berada di bawahnya.


"Kenapa harus terganggu? Bukankah Ana adalah sahabatnya? Tentu saja Arlen tidak akan terganggu. Lagipula, bukankah kalian telah lama bersahabat?" bujuk wanita itu.


Sebuah keraguan mulai terlihat di mimik wajah bak boneka milik gadis itu. Bibirnya terlipat menandakan ia tengah bimbang akan sesuatu.


Tak lama, gadis itu kembali tersenyum manis. "Kalau begitu, Ana akan menemuinya."


...~•~...


Saat aku tengah membawa sepiring nampan dan dua cangkir teh di atasnya, tak sengaja aku melewati pintu kamar ayah.


Ketika mengingat kembali aksi yang dia perbuat tadi malam, sedikit membuat tubuhku bergetar.


Jujur, aku sangat takut ketika melihat keaadan Reina dalam kondisi yang berlumuran darah seperti itu. Tapi aku mencoba untuk tenang, agar aku terbiasa.


Karena pertumpahan darah akan menjadi bagian dari hidupku laju atau pelan.


"Nona?"


"Wanita ular!" Aku terjingkrak kaget. Tiba-tiba saja ada seorang pelayan yang berbicara kepadaku. Nasib baik teh di nampan yang aku genggam tidak terbang di udara.


"Maaf, Nona. Apa anda mencari Tuan Viscount?" tanyanya.


"Ya, begitulah. Aku hanya kebetulan lewat saja," jawabku.


"Baiklah, Nona. Sebenarnya, Tuan Viscount pagi ini langsung pergi untuk menghadiri sebuah pertemuan di wilayah barat. Jadi hari ini, sepertinya beliau mungkin tidak akan berada di rumah," jelasnya panjang lebar.


Ayah tengah berada di luar kota?


"Ya. Terimakasih telah memberitahuku," imbuhku.


"Sama-sama, Nona. Kalau begitu, saya pamit undur diri," pamit pelayan tadi kemudian berlalu meninggalkanku.


Ya, tidak heran juga jika ayah pergi ke luar kota karena dia adalah seorang Viscount.


Ah sudahlah lebih baik aku antarkan saja teh ini sebelum dingin.


...~•~...


Beberapa hari kemudian, cuaca masih senantiasa mendung. Air hujan telah siaga akan turun dari kepalan awan yang menggumpal.


Suhu yang rendah, membuat tubuh menjadi sangat malas untuk digerakkan. Bahkan bisa membuat perasaan menjadi sedikit tenang.


Seperti binatang liar yang dikurung secara paksa, gadis yang memiliki helai rambut coklat gelapnya itu selalu berusaha untuk menyelinap.


Namun seluruh penjaga mengawasi kediaman itu secara ketat, sehingga tidak mempunyai celah untuk melarikan diri.


Hembusan nafas hangat tertarik dari pernafasan gadis itu, dengan telapak tangan yang setia menopang dagu.


Karena merasa kedinginan, gadis tersebut memutuskan untuk mengambil secangkir teh upaya menghangatkan tubuhnya.


Langkahnya selalu memberikan jejak di anak tangga dan lantai, sehingga tak lama dari itu dirinya telah sampai di dapur.


Sebenarnya para pelayan bisa saja membuatkan teh untuknya, tapi gadis itu selalu bersikeras untuk membuat tehnya sendiri.


Dia berpikir, ketika menikmati sesuatu hasil kerja keras sendiri merupakan perasaan terbaik yang pernah ia alami.


Tak lama, telinganya menangkap sebuah suara yang cukup keras. Karena tak bisa menahan rasa ingin tahunya, ia pun mencari asal suara tersebut dengan hati-hati.


Matanya langsung membelalak kaget, ketika mendapati seorang lelaki yang tengah terbaring di tanah yang basah karena air telah mengguyuri.


"Hei! Kau baik-baik saja?!" serunya sembari membantu mengangkat lelaki itu dengan berusaha memapahnya.


"Tidak perlu," tolak lelaki itu kemudian membangkitkan dirinya.


Surainya lengas dikarenakan air yang membasahi, bajunya kotor ketika tanah yang cair menyiprat.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Bisa bahaya jika ayahku melihatmu!" bisik gadis itu memarahi sang lelaki.


"Memangnya kenapa? Bukankah suatu kehormatan untuknya bisa bertemu denganku?" balas lelaki itu tak mau kalah.


Gadis itu berdecak kesal. "Dengkulmu sebuah kehormatan! Kau tidak mengerti, ayahku itu bukan tipe bangsawan yang sering kau temui!"


Seketika gadis itu tersadar atas perkataannya barusan, dia langsung membungkam mulutnya dengan mata yang melotot.


"Barusan kau bilang apa?"


"Eh! Uhm... tidak ada! Aku hanya bilang, kenapa kau bisa menjadi basah kuyup seperti ini, Tuan Duke di masa depan," gugup gadis itu seraya menyapu sisa-sisa air yang menempel di tubuh sosok yang ada di hadapannya.


Lelaki itu tampak terdiam memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.


Flashback on


Suasana mendung tidak menjadi penghalang seorang lelaki yang ingin menemui sosok yang selama ini selalu hinggap di pikirannya hingga membuatnya terus merasakan perasaan janggal jauh di bagian terdalam tubuhnya.


Beberkal seekor kuda, lelaki itu menembus dan menebas angin yang bergemelut di udara.


Setelah sampai di tempat tujuan, ternyata banyak penjaga yang berdiri mengawasi di depan gerbang kediaman gadis itu.


Bahkan sampai di bagian terbelakang pun masih ada lagi penjaga masih setia berdiri.


Karena tak ingin ketahuan, ia memberhentikan kudanya sedikit jauh dari kediaman gadis itu kemudian berjalan seperti kucing untuk menyelinap agar tidak tertangkap.


Cukup lama dia berusaha masuk, akhirnya dia berada di area kediaman gadis itu sekarang tanpa diketahui keberadaannya.


Terpaksa dia harus mencari jalan lain. Saat dia mencari-cari hal tersebut, sebuah jendela kamar gadis itu menarik perhatiannya.


Tanpa menunggu aba-aba, dia pun segera melompat dan memanjat melewati atap licin sebab hujan mengguyuri.


Saat dia menengok ke dalam melalui jendela itu, ternyata orang yang ia cari tengah tidak ada.


Tiba-tiba saja, dia kehilangan keseimbangan dan tergelincir hingga terjatuh dari lantai dua.


Air yang tergenang terpental ketika tubuhnya tergantung ke tanah. Untung saja tidak sepasang mata melihat.


Jika iya, maka di mana dia akan menaruh wajahnya?


Flashback off


"Hei! Kenapa kau malah melamun?" kesal Cassandra menatapnya.


"Tidak ada. Jadi, apa kau tidak akan membiarkanku mendapatkan sebuah baju ganti?"


Gadis itu mencibir tanpa suara, tapi tak lama dari itu dia pun menghela nafas. "Baiklah, tapi untuk pertama. Kau ikut denganku, bisa bahaya jika ada pelayan yang melihatmu kemudian melaporkannya pada ayah," cecarnya kemudian secara cepat menarik lengan lelaki itu.


Sesampainya mereka di lorong, untung saja tidak ada satupun pelayan yang muncul. Secara mengendap-endap dan celingukan sana-sini, mereka pun berusaha mencapai kamar gadis itu.


Tapi nasib berkata lain, tiba-tiba saja ada pelayan yang muncul sehingga membuat gadis itu memaksa sang lelaki untuk bersembunyi di belakang roknya.


"Nona?"


"A-ada apa?" tanya Cassandra berusaha untuk tidak terlihat gugup. Gadis itu merasa seperti tengah menyembunyikan sebuah kriminal.


"Tidak ada, Nona. Hanya saja, tadi saya sempat mendengar ada suara yang keras berasal dari luar. Apa anda tahu sesuatu tentang suara itu?"


"A-apa yang kau katakan? Suara? Aku tidak mendengarnya sama sekali. Mungkin hanya halusinasimu saja," kilah gadis itu dengan irisnya yang tak bisa diam di tempat.


"Benarkah? Tapi para pelayan lain katanya juga mendengar suara tersebut."


Cassandra merasa geram ketika situasi ini tidak kunjung berakhir juga. "Mungkin itu hanya suara burung jatuh yang menimpa atap atau kucing yang terjatuh."


Pelayan itu tampak berpikir, Cassandra merasakan keringat dingin bercucuran di dahinya, karena dia takut ketahuan tengah menyelundupkan seorang lelaki ke kamarnya.


"Begitu. Baiklah, Nona. Maaf telah mengganggu anda," ucap pelayan itu. Namun pandangan matanya mulai tertuju ke majikannya ketika gadis itu terus menarik ujung rok gaunnya sehingga lebar.


"Nona--"


"Oh iya, aku baru ingat. Apa kau bisa membuatkanku dua cangkir teh? Karena cuaca sangat dingin, aku ingin menghangatkan tubuhku," potong Cassandra secara cepat.


Pelayan itu menggangguk seraya menunduk. "Baiklah, Nona. Kalau begitu saya akan segera membuatkannya," pamit pelayan itu kemudian berlalu.


Selepas mematikan bahwa pelayan itu benar-benar pergi, Cassandra segera mendorong nafasnya yang tertahan rasa gugup dan menggumpal di paru-parunya.


"Fuuh... itu tadi hampir saja," leganya memegangi dadanya.


Arlen pun segera berdiri ketika dipaksa berjongkok dan bersembunyi di belakang rok gadis itu seperti anak ayam.


"Apa seperti ini caramu memperlakukan orang yang statusnya lebih tinggi darimu?" sindir lelaki itu.


Cassandra berdecih kemudian berkata dengan tidak ikhlas. "Saya minta maaf atas ketidaksopanan saya, Tuan," ucapnya malas.


Lelaki yang memiliki helai pirang itu hanya tersenyum tipis.


.


.


.


.


"Jadi. Sebenarnya apa yang membuatku repot-repot datang kemari? Aku serius bertanya," kata Cassandra dengan raut ingin tahu.


Lelaki yang ada di hadapannya ini tampak berpikir sebelum menjawab.


Cangkir teh yang telah disiapkan untuk mereka telah terpatri rapi dan siap untuk diteguk.


Sebuah pakaian biasa menempel di tubuh Arlen. Cassandra sempat meminjam baju dari pelayan pria yang ada di rumahnya untuk menjadi baju ganti lelaki tersebut.


Suara hujan, membuat suasana tenang dan sedikit dingin mampu membuat siapa saja ingin menutup kelopak mata memiliki mimpi indah.


"Aku hanya ingin tahu, apa penyebabmu tiba-tiba saja menghilang. Itu saja," jawab Arlen kemudian mengambil secangkir teh untuk diminum.


"Begitu," balas Cassandra singkat. Entah apa yang dipikirkannya, tapi tiba-tiba saja gadis itu terlihat murung.


Dapat dilihat ketika gadis itu menunduk menatap tangannya yang ia letakkan di pangkuannya.


"Pertandingan berburu. Apa kau benar-benar ingin mengikutinya?"


Cassandra mengangkat wajahnya. Raut wajah lelah terpatri dan senantiasa menyertainya. "Entahlah. Aku juga tidak tahu sampai kapan ayah akan mengurungku seperti ini. Aku tidak akan mampu mengikuti pertandingan itu dengan hanya hasil latihan selama dua bulan," jelasnya panjang lebar diikuti dengan helaan nafas.


Arlen hanya diam. Lagi-lagi, lelaki itu sangat enggan untuk berbagi tentang apa yang tengah ia pikirkan.


"Sebenarnya aku juga telah dari kemarin mencoba menyelinap, namun penjagaan di sini terlalu ketat," imbuh gadis itu. "Semua ini membuatku lelah, sepertinya aku tidak akan bisa mengikutinya--"


"Jika kau mau, aku bisa membuatmu ikut dalam pertandingan itu."


Belum sempat Cassandra melanjutkan perkataannya, Arlen dengan cepat memotong.


"Aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Sudah cukup aku merepotkanmu dengan memintamu mengajariku berpedang--"


"Aku tidak merasa direpotkan," potong lelaki itu kembali. "Lagipula, aku hanya membantu temanku. Apa ada yang salah dengan itu?"


Cassandra terdiam. Gadis itu membalas pandangan yang Arlen layangkan padanya. Tak lama dari itu, senyum simpul menghiasi wajahnya.


"Baiklah. Kalau begitu bagaimana caranya?"


...~•~...


Seorang gadis tengah duduk di bangku taman yang berada di kediamannya yang luas dan besar.


Sembari menatap bunga-bunga dan tanaman yang terpatri menghiasi taman belakangnya, gadis itu tampak berpikir akan sesuatu.


"Sebenarnya kemana dia belakangan ini...," gumamnya menatap langit dengan wajah tertekuk.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya, pertanda bahwa ia tengah dalam suasana hati yang kurang baik.


Tiba-tiba saja, dia terkaget ketika ada sesosok berjubah duduk di sebelahnya.


"Dasar lancang. Siapa kau?" kesalnya ketika sosok itu terlihat semena-mena dengannya yang mempunyai status tinggi.


"Apa kau ingin tahu kemana dia belakangan ini pergi?" Sosok itu berkata yang mampu menarik perhatian sangat gadis.


"Apa maksudmu?" Dengan alis terangkat dan wajah angkuh, gadis itu bertanya secara was-was.


"Kau sangat menyukainya, bukan?"


"Sudah kubilang apa maksudmu?!" Gadis itu mulai kehilangan kesabaran.


Sosok itu diam-diam tersenyum menyeringai di balik jubah yang menutupi setengah wajahnya.


"Aku akan memberitahunya padamu, jika kau mau bekerja sama denganku."


"Bekerja sama? Aku bahkan tidak mengenalmu, aku bahkan tidak mengetahui wajahmu. Bagaimana bisa aku bisa setuju bekerja sama denganmu?" telisik gadis itu.


"Kau bisa memikirkannya baik-baik terlebih dahulu. Aku akan selalu datang agar kau bisa setuju untuk bekerja sama denganku."


Dalam sekejap, sosok itu langsung menghilang tidak menyisakan apapun. Gadis itu sedikit takut, namun dia lebih penasaran tentang maksud sosok itu.


Gadis itu langsung terburu-buru masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke kamarnya.


...18.01.2021...