The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Sapu Tangan



Previously....


Merasa tidak sanggup lagi, Anastasia langsung berlari dari sana. Gadis itu tidak sanggup lagi, dia tidak bisa menahannya sendirian.


Hanya satu orang yang ada di pikirannya saat ini. Dia ingin berbagi segala perasaannya dengan orang itu.


Sesosok lelaki... dengan surai hitam malamnya.


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(32)...


Semilir angin malam berhembus kencang, menerpa dan berusaha mengeringkan bulir airmata mereka yang telah banyak terkuras.


Hamparan tanaman dan bunga bergoyang membuat irama yang menenangkan, dan sinar bulan menawan menerangi mereka.


Masih dengan dekapan erat, mereka berpelukan di bawah lautan bintang yang bertabur dan mengambang.


Namun tak lama dari itu, gelak tawa dari bibir sang gadis menjadi pemecah keheningan dan suasana.


"Pfft! Ahahahaha!!"


Cassandra pun menjauhkan tubuhnya agar dekapan di antara mereka terlepas, kemudian mengusap air matanya hingga bersih.


"Apa kau tahu? Aku sedari tadi berusaha menahan tawaku, hahaha!" gelaknya dengan kelopak mata yang tertutup.


Arlen tersenyum kemudian mulutnya pun gatal ingin mengeluarkan tawa sama seperti gadis di hadapannya tersebut. Lantas, mereka pun saling tergelak menertawakan aksi yang baru saja mereka lakukan.


"Tidak kusangka, ternyata kau juga bisa menangis," ucap Cassandra masih terkekeh.


"Kau pikir aku patung? Aku manusia, tentu saja aku bisa menangis," jawab Arlen.


"Ya, tetap saja. Sangat langka bisa melihatmu menangis." Gadis bernetra coklat itu masih terkekeh, sudah lama dia tidak tertawa lepas seperti ini.


Ya, ini semua hanyalah sandiwara semata, yang diperankan oleh Cassandra dan Arlen untuk memperngaruhi Anastasia.


Apa kalian bingung?


Jika ya, sebaiknya kita kembali saja ke empat tahun yang lalu. Di mana mereka memulai segalanya.


Flashback on


Cassandra tampak melipat bibirnya ketika menatap Arlen di hadapannya, kemudian dia menarik napas.


Bibirnya bergetar, dengan matanya yang mulai berair. Kemudian dia berkata dengan nada tenggelam namun masih bisa didengar jelas oleh Anastasia.


Bahkan gadis berhelai emas itu bisa mendengar jelas nada suara getar Cassandra dan airmata yang mulai menggenang di bola matanya.


"Saya mohon, mulai sekarang tolong menjauhlah dari saya, My Lord."


Dari kejauhan, Anastasia hanya bisa mengepalkan tangan. Tak tahu bagaimana jelasnya apa yang tengah ia rasakan saat ini.


Lantas, gadis bersurai emas itu langsung melarikan dari sana. Padahal dia yang meminta Cassandra melakukan hal itu.


Namun... ketika melihat ekspresi Cassandra yang tampak tak rela dan terpaksa, menyentil hatinya untuk jatuh ke lubang kegelisahan.


Ketika Anastasia telah pergi, Arlen pun tiba-tiba membuka suara. "Tidak akan," jawabnya membuat Cassandra terperangah.


"Apa maksudmu...?" bisiknya tak percaya beserta bingung.


Arlen tak menjawab, lelaki hanya diam sembari merogoh sakunya. Seketika, Cassandra terpelotot terkejut.


Tidak, gadis itu benar-benar terkejut dengan kenyataan yang menghantamnya ketika dia melihat benda yang lelaki di hadapannya ini keluarkan.


Itu adalah sapu tangan bermotif jeruk yang gadis itu buat sendiri. Namun dia tidak sempat memberikannya, karena peristiwa tragis di mana mereka menemui akhir kematian setelah beberapa hari kemudian.


Sontak, kedua tangan Cassandra menutupi mulutnya yang ternganga. Tanpa sadar, ia melangkah mundur sembari menatap wajah Arlen.


Air matanya lansung mengalir deras tanpa seizinnya, dengan rasa bahagia yang menyeruak dalam dirinya.


Jadi selama ini... Arlen mengingat semuanya? Semua tentang kebersamaan yang telah mereka lalui? Tragedi yang telah mereka lalui? Lelaki itu mengingat semuanya...?


"Tidak mungkin...! Kau...." Cassandra tak bisa berkata apa-apa. Ia ingin mengatakan banyak hal, namun anehnya semua kata itu tidak ada satu pun yang tersampaikan.


Hanya tangisanlah yang mewakilkan semuanya.


"Kau... mengingat semuanya...?" tanya gadis itu kembali memastikan.


"Tentu saja. Bukankah aku adalah 'buah jerukmu'?" balas lelaki itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab semuanya.


Selepas itu, Arlen pun merentangkan kedua tangannya, sebagai tanda untuk mempersilakan gadis itu untuk menghamburkan pelukan.


Tanpa aba-aba, Cassandra langsung berlari dan menjatuhkan tubuhnya pada pelukan lelaki itu dan membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.


"Kenapa...? Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal kalau kau mengingat semuanya...?" tanya gadis itu sesegukan akibat tangisnya.


"Maaf... aku hanya berpikir, waktunya belum tepat," jawab Arlen sembari mengusap pucuk kepala gadisnya.


"Apa kau tahu...? Betapa takutnya aku jika kita kembali menemui akhir yang sama...? Seperti saat itu...?" lirih Cassandra menumpahkan segalanya.


Dia sudah putus asa menahan itu semua, gadis itu ingin berbagi semuanya dengan pemilik jiwanya.


"Ya... maafkan aku," balas lelaki bersurai pirang itu semakin mengeratkan dekapannya. Seakan tak ingin terlepas dan ada celah sedikit saja.


"Lalu apa kau tahu...? Keputusasaanku ketika menghadapi Anastasia? Aku ingin dia tidak membenciku, agar semuanya bisa berubah. Agar kita bisa bersama tanpa mengkhawatirkan apa pun," cecar gadis bernetra coklat itu.


"Kau tenang saja. Semuanya sudah berubah, dan di sini aku akan membantumu. Agar kita bisa bersama," balas Arlen dibalas anggukan oleh Cassandra.


Mereka terdiam sejenak, tapi seperkian detik Cassandra langsung tersadar dengan lokasi mereka saat ini.


Gadis itu langsung melepaskan dekapannya dan melihat ke arah di mana Anastasia tadi berada.


Dia tahu bahwa sedari tadi Anastasia mengikutinya, oleh karena itu dia sengaja mengatakan bahwa dia ingin menjauh dari Arlen secara terang-terangan.


Agar Anastasia meyakini bahwa dirinya tak mungkin berkhianat pada gadis itu.


"Anastasia...!"


"Tenang saja, dia telah pergi sejak tadi," balas Arlen. Lelaki itu juga mengetahui bahwa ada keberadaan Anastasia di antara mereka.


Cassandra pun menghembuskan nafas lega ketika mendapati Anastasia tidak ada lagi di posisi awalnya.


"Besok," ujar lelaki beriris biru membuat Cassandra memandangnya.


"Kenapa?" tanya gadis itu.


"Kau ingat perang antara Uraby dan Erosphire?" kata Arlen.


Cassandra mengerti maksud lelaki itu. Itu adalah perang pertama yang dipartisipasi oleh Arlen. Selepasnya, lelaki itu pun menyandang gelar Duke setelah berhasil memenangkan peperangan.


"Ah... ternyata perang itu telah tiba," lontar Cassandra teringat.


Mereka pun terdiam membisu sejenak, membiarkan suara jangkrik mengisi kekosongan.


"Sebelum itu, ada sesuatu yang harus kita lakukan," ujar gadis itu mengundang kebingungan pada Arlen. Namun lelaki itu memilih diam sampai Cassandra sendiri yang menjelaskan.


"Kita harus pergi menemui pangeran Darren," kata Cassandra lugas.


Gadis itu harus merombak seluruh rencana awalnya. Dan sekarang, dia telah terpikirkan rencana yang lebih bagus.


.


.


.


.


Seperti yang Cassandra minta, mereka pun akhirnya telah berada di ruang kerja milik Pangeran Darren.


Arlen telah mengirimkan surat pada Pangeran Darren tepat setelah Cassandra menjelaskan seluruh rencananya padanya.


Mereka bertiga pun duduk di sebuah sofa yang berhadapan dengan meja di tengah, dan suasana hening melanda sejenak.


"Maaf atas kelancangan kami mengganggu anda di waktu seperti ini, Yang Mulia," ujar Cassandra menundukkan kepala.


"Ya, tidak apa. Jadi... ada apa kalian berdua datang kemari tengah malam seperti ini? Untungnya saja, aku belum tidur. Bahkan ingin bertemu denganku secara diam-diam," balas Pangeran Darren dengan senyuman seperti biasa.


Cassandra dan Arlen pun saling bertukar pandangan sejenak, tak lama anggukan pun terlempar satu sama lain di antara mereka.


"Kami ingin bekerja sama dengan Yang Mulia," ucap gadis itu lantang dan lugas. Tak lupa dengan pandangan penuh keyakinan yang tercipta di manik matanya.


Sedangkan Arlen hanya diam, membiarkan Cassandra yang mengambil kendali atas semuanya. Dirinya cukup hanya sebagai dukungan yang kuat.


"Ya. Yang Mulia Pangeran Yari dan Yang Mulia Pangeran Darren sudah sejak lama memperebutkan tahta, oleh karena itu saya ingin membantu anda dalam mencapai tahta tersebut," papar Cassandra.


"Membantuku? Atas dasar apa kau ingin membantuku merebut tahta? Seingatku, kita bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya," jawab Pangeran Darren waspada.


Cassandra terdiam sejenak sembari merekam sebuah adegan kampai di benaknya.


"Aku melakukan ini, demi kebaikan negeri ini, Duchess."


Perkataan Pangeran Darren waktu itu terngiang-ngiang di kepalanya. Setelah memikirkannya sejak lama, akhirnya gadis itu mengerti maksud pangeran itu.


Pangeran Darren membunuh Pangeran Yari karena tak setuju dengan cara memerintah Pangeran Yari.


Pangeran Yari bahkan rela membahayakan rakyatnya demi kekuatan, kekuasaan, dan tahta agar kerajaannya tidak dianggap remeh.


Pangeran Darren sangat membenci cara pola pikir seperti itu, sehingga dia membunuh Pangeran Yari dan menuduh dirinya menjadi pelaku. Agar Pangeran Darren bisa memerintah kerajaan Erosphire dan menjadi raja yang adil dan peduli terhadap rakyat-rakyatnya.


"Itu karena... saya percaya dengan Yang Mulia" lontar Cassandra teguh. "Saya percaya pada Yang Mulia karena saya tahu bahwa anda adalah Pangeran yang bijaksana. Anda adalah Pangeran yang peduli terhadap rakyat anda," paparnya.


"Apa yang bisa membuatku yakin terhadap niat baikmu itu?" tanya Pangeran Darren masih waspada. Dia tentu tidak bisa menerima tawaran mencurigakan seperti ini begitu saja.


"Nyawa saya," jawab gadis itu tegas dan lantang, membuat Arlen yang tengah duduk di sebelahnya terkejut dengan alis mengernyit tak suka.


"Kau terlalu berlebihan!" sergah lelaki itu menatap sang gadis.


Cassandra tersenyum getir. "Jika dengan cara seperti ini kita bisa selalu bersama, bahkan aku rela memberikan nyawaku pada iblis," paparnya membuat lelaki itu lagi-lagi tak percaya.


Arlen masih tak suka dengan cara gadis itu yang dengan mudahnya memberikan nyawanya pada orang lain. Namun... gadis itu juga melakukan itu demi dirinya. Maka dari itu, dia juga akan melakukan hal yang sama.


"Baiklah. Oleh karena itu, saya juga mempertaruhkan nyawa saya," lugas lekaki bersurai pirang itu dengan keyakinan yang terpancar dari iris biru langitnya. "Jika kami berkhianat, maka anda bisa memenggal kepala kami saat itu juga."


Cassandra merasakan kehangatan dan rasa hati yang menyeruak masuk ke dalam hati mendengar kata penuh keyakinan dari lelaki di sampingnya ini.


"Arlen...."


Tanpa sadar, tangannya pun terulur untuk menggenggam tangan Arlen. Lelaki itu juga membalas genggaman sang gadis.


"Baiklah. Kalau begitu, apa imbalan yang kalian inginkan dengan membantuku?" tanya Pangeran Darren dengan kakinya yang bersila.


"Buatlah Anastasia mencintai anda," jawab Cassandra membuat Pangeran Darren terkejut.


"Apa?"


"Dengan Anastasia mencintai anda, dan dengan anda yang menjadi Raja, itu sudah lebih dari cukup bagi kami," jelas Cassandra dengan tatapan lurus pada Pangeran Darren.


Lantas, lelaki bersurai hitam yang memiliki gelar pangeran itu terdiam sembari berpikir. Sejak tadi, dia terus mengamati pergerakan dan mimik wajah kedua manusia di hadapannya ini.


Yang anehnya, dia tidak menemukan satu pun kebohongan di antaranya. Mereka berdua terlihat sangat mencintai satu sama lain, sehingga rela berbuat apa saja demi bisa bersama.


Orang-orang seperti mereka berdua... mana mungkin dia sia-siakan?


Suasana sangat hening beberapa saat, hingga akhirnya kekehan kecil terlayang dari bibir Pangeran Darren. "Baiklah."


Tak lama dari itu, Pangeran Darren kembali tersenyum dan berkata sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Aku akan bekerja sama dengan kalian."


Flashback off


"Bagaimana keadaanmu di luar sana? Walaupun kau memang selalu mengirimiku surat, tetap saja aku masih khawatir," papar Cassandra menggenggam tangan lelaki yang ia sangat cintai itu.


Pandangannya meneduh, mengingat dirinya yang selalu berdoa akan keselamatan lelaki bersurai pirang yang ada di hadapannya ini. Betapa ia sangat merindukan lelaki itu selama empat tahun lepas.


"Justru aku yang seharusnya berkata seperti itu," balas Arlen kemudian menarik kedua sarung tangan putih yang melapisi kedua tangan gadisnya.


Kedua tangan yang dipenuhi bekas luka itu terpampang, membuat Cassandra merasa malu untuk menunjukkan tangan buruk rupanya secara terang-terangan.


Gadis itu pun menarik kedua tangannya dan berusaha menyembunyikannya. Namun Arlen tak gentar, dia justru kembali menarik kedua tangan itu dan mengecupnya dengan lembut.


"Membuat tanganmu terluka seperti ini, itulah alasanku tidak ingin meninggalkanmu sendirian. Karena kau terlalu nekat," cecar Arlen kemudian bergantian mencium telapak tangan sang gadis.


"Ini bukan apa-apa. Lagipula usahaku juga telah terbayarkan," balas Cassandra.


Manik mata Arlen pun akhirnya berlabuh di manik coklat milik gadisnya, kemudian dia pun mengusap pipi mulus milik gadis itu penuh kasih sayang.


"Kau telah berusaha keras. Aku sangat bangga padamu," ujar lelaki itu menatap dalam manik garnet milik kekasihnya.


"Terima kasih. Kau juga, aku bangga padamu bisa selamat dari perang yang berlangsung selama empat tahun," balas Cassandra tersenyum lembut dengan pandangan teduhnya.


Tak lama, tiba-tiba saja suasana berubah di sekitar mereka. Arlen pun semakin mendekatkan wajahnya pada Cassandra, hingga tanpa sadar bibir mereka telah terkait.


Merasa tak cukup, lelaki beriris biru itu pun mengalungkan tangan kanannya pada pinggang ramping milik gadisnya dan mendekatkan gadis berhelai coklat itu dengan dirinya.


Sedangkan tangan kirinya menelusup di leher putih Cassandra dan menekan tengkuknya. 


Karena kerinduan yang selama ini selalu tertahan, lelaki itu pun seperti merasa tak akan pernah cukup dengan gadis yang menjadi pemilik jiwanya itu.


Arlen pun menyelipkan lidahnya di antara pagutan mereka dan mulai menjelajahi mulut sang gadis.


Cassandra sadar akan perlakuan Arlen yang tak terkendali, sehingga dia pun mencoba mendorong lelaki itu menjauh dan berusaha mengisyaratkannya untuk tenang.


Arlen menurut, ia kemudian menatap sang gadis yang tengah bernapas terengah-engah menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Jika kau tidak membiarkanku mengambil napas, aku bisa mati karena wujud ungkapan kasih sayangmu, tahu," gerutu Cassandra menyembunyikan bibirnya dengan punggung tangannya.


Wajah gadis bersurai coklat itu memerah sempurna, membuat lelaki di hadapannya tak dapat menyembunyikan kekehan halusnya.


Seusai beberapa saat, Cassandra kembali menatap Arlen dan tatapannya beralih ke bibir milik lelaki itu.


Apa ini? Kenapa dia terlihat sangat tampan dari biasanya? batinnya bertanya bingung dengan matanya yang tak dapat teralihkan dari bibir persik yang ada tak jauh dari hadapannya.


Arlen menaikkan alis melihat sang gadis menatap bibir miliknya dengan lekat. Lelaki itu kini menampilkan senyum samar, dan mendekat sembari melayangkan bisikan halus.


"Kau hanya perlu meminta jika kau sangat menginginkan ini," bisiknya sembari menyentuh bibir bawahnya dengan jari telunjuknya.


Cassandra membeliak malu, kemudian memalingkan wajah. Arlen terkekeh singkat, lalu mendekap sang gadis karena gemas.


Di dalam dekapan itu, Cassansdra merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya kini kembali.


Dekapan ini ... sudah berapa lama dia rindukan?


Kehangatan ini ... dirinya sanggup melakukan apa saja untuk senantiasa merasakannya.


Waktu berlalu, hingga dekapan itu akhirnya lepas. Entahlah, seketika mereka berakhir dengan saling bersetatap. Cassansdra menatap lekat manik biru langit itu, dan dalam sekejap dirinya menjinjit serta mengalungkan tangannya pada leher kekasihnya.


Kepalanya memiring, dan bibirnya kini telah sampai pada bibir lelaki di hadapannya.


Arlen kini membalas perlakuan kekasihnya dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggang gadis itu. Tangan kirinya ia letakkan di punggung sang gadis untuk merasakan kelembutan tubuhnya.


"Apa kalian sudah selesai memainkan sandiwara kalian-- oh...."


Pangeran Darren yang baru saja sampai langsung menutup kelopak matanya dan berbalik untuk tidak melihat adegan legendaris yang tengah dilakukan oleh kedua manusia yang berada tak jauh dari hadapannya.


Sontak pasangan yang tengah memadu kasih itu langsung terkejut dan sontak berhenti dari aksi mereka ketika mendengar suara yang sangat tidak asing.


"Y-yang Mulia!" ujar Cassandra langsung berbalik dan menundukkan kepala.


Hal tersebut berupa wujud penghormatan sekaligus aksi yang dilakukan untuk menyembunyikan wajahnya yang merah padam.


Arlen pun juga menunduk sejenak kemudian kembali mengangkat kepala dan hanya memasang tampang tenangnya, seolah-olah tak ada yang terjadi.


"Sebelumnya, maaf atas kehadiranku yang menggangu aktivitas kalian. Namun aku hanya ingin memeriksa apa rencana kalian berhasil atau tidak," papar Pangeran yang berpakaian hitam itu.


Cassandra berusaha untuk tidak malu dan gugup, sehingga dia pun menarik nafas dalam. "S-semuanya berjalan dengan baik, Yang Mulia. Anda tenang saja."


"Baguslah kalau begitu," balas Pangeran Darren kemudian menatap Arlen yang berada di belakang Cassandra. "Karena Duke Floniouse sudah kembali, bukankah sudah saatnya untuk kita melanjutkan aksi yang sebenarnya?"


Seketika Cassandra tersenyum miring. "Tentu saja, Yang Mulia. Kita sudah menunggu hal ini sejak lama."


Pangeran Darren terkekeh. "Kau benar juga, apa kau sudah menyiapkan segalanya, Countess?"


"Ya, semua sudah saya siapkan, Yang Mulia."


"Kalau begitu, bersiap-siaplah. Karena besok, seluruh kerajaan Erosphire akan heboh," kata Pangeran Darren.


Lantas, mereka bertiga pun tersenyum penuh arti. Rencana yang telah lama disusun dan disiapkan, sudah saatnya untuk dilancarkan.


"Saya sudah siap sejak lama, Yang Mulia."


...02.03.2021...