
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Aku lupa bahwa Dewi Fortuna tidak terlalu menyukaiku.
Kututup kedua kelopak mataku pertanda aku menyerah, aku tak bisa melarikan diri.
Aku sudah tertangkap basah, tidak ada kesempatan dan alasan untuk bisa lari.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk tetap di kamar?"
Tunggu dulu, sepertinya aku tahu suara berat ini.
Secara perlahan-lahan, aku membuka kelopak mataku dan mendongakkan kepalaku.
Ternyata benar itu adalah dia!
Fyuh, setidaknya aku bisa menghembuskan nafas lega.
"Yah, karena kau sudah tidak ada saat aku bangun, jadi aku berbuat mencarimu. Siapa tahu kau tersesat dan kau tak tahu jalan kembali," jawabku masih dengan posisi telungkup.
Apa dia tidak ada niatan untuk membantuku berdiri? Benar-benar!
"Seharusnya kau katakan itu padamu sendiri, bagaimana jika kau tak tahu jalan kembali?" tanyanya balik membuatku hanya bisa mencebik kesal.
"Apa di dalam dirimu itu tidak ada niatan sama sekali untuk membantuku berdiri?" sindir ku dan dia malah melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ternyata kau memang tidak punya rasa kasihan!" kesalku karena dia bersikap seolah-olah tidak tahu dan tidak mendengarkanku.
Aku merasa seperti kulit kuaci yang di abaikan sekarang.
Namun tak lama dari itu, dia pun mengulurkan tangannya untuk membantuku.
Apakah dia harus kuhina terlebih dahulu agar mau menolongku?
Dia benar-benar aneh.
Aku menepis tangannya kemudian mulai membangkitkan tubuhku hingga berdiri sempurna.
"Tidak perlu," ketusku dan dia hanya menampilkan senyum miringnya.
Astaga demi apapun pria ini benar-benar menyebalkan!!
"Duke?"
Belum sempat aku melihat siapa yang mengeluarkan suara itu, kini tubuhku telah berada di dalam dekapannya sembari dengan jubahnya yang menutupi kepala hingga kaki ku tanpa celah sedikitpun.
"Ada apa, Marquess Houbatten?" tanya pria itu.
Di balik jubah nya ini sangat gelap, aku bahkan tak bisa melihat apapun!
Aku merasa seperti anak ayam yang tengah dierami oleh induknya saat ini!
"Tidak, aku hanya bingung. Apa yang kau sembunyikan di balik jubahmu itu?" tanya pria yang namanya Marquess Houbatten itu.
"Ah ini. Hanyalah seseorang yang tersesat di sekitar sini," kilahnya sambil merangkulku bertambah dekat dengan tubuhnya membuatku menggigit bibir bawahku karena gugup.
Bagaimana jika ada orang lain yang mengetahui bahwa aku diam-diam menyelinap dalam perang kali ini?
"Tapi, kenapa anda harus menyembunyikannya seperti itu?"
Oh ayolah, apa kau seorang penginterogasi? Sampai harus bertanya sedalam itu.
"Karena dia merupakan orang yang sangat malu, jadi dia tidak ingin wajahnya di lihat oleh siapapun."
Oi, oi. Bagaimana kau bisa mengatakan alasan aneh dengan nada tenang seperti itu?
"Berarti anda cukup mengenalnya?" Marquess Houbatten kembali bertanya.
"Ya, dia adalah rekanku."
"Benarkah? Kalau saya boleh tahu, siapa namanya?"
Aish kenapa dia tidak berhenti bertanya, sih?!
"Namanya Carla," ujar Arlen malah melenceng.
Aku semakin gemas dan geram karena situasi ini, apa kita tidak bisa melewatkan sesi tanya jawab ini terlebih dahulu?!
Aku sangat gugup sampai tubuhku mungkin telah pucat pasi seperti baru keluar dan selesai dari berendam di bank yang berisi pemutih pakaian.
"Carla? Apa dia perempuan?"
Astaga berhentilah bertanya!! Demi menjijikannya paha ayam!!
"Tidak, dia laki-laki," jawab Arlen masih tenang.
Sepertinya pria ini tidak terlalu cepat emosi, sangat berbanding balik dengan diriku.
"Baiklah, kalau begitu. Saya masih ada sesuatu yang harus saya lakukan, saya pamit undur diri," pamitnya membuatku bersorak sorai dalam diam.
Akhirnya sosok banyak tanya itu pergi juga!
Aku mencoba melepaskan diriku dari dekapannya dan mencoba keluar dari jubahnya.
Tapi aku tak bisa, karena pria ini malah menahanku untuk melakukan semua itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku," ujarku sambil masih berusaha lepas dari kungkungannya.
"Melepaskanmu? Lalu bagaimana jika ada orang lain yang akan melihatmu di sini? Aku yang akan kena imbasnya," tolak pria ini.
"Lalu, apa aku harus tetap seperti ini sampai kita sampai ke kamar?"
"Ya, tentu saja," ujarnya membuatku terpolongo tak percaya.
"Tidak! Pokoknya lepaskan aku! Aku akan berjalan sendiri! Asal kau tahu, badanmu itu bau!" kesalku tapi dia seakan kebal dengan semua rutukan yang kulontarkan padanya.
"Kalau badanku yang telah bersih ini bau, lalu bagaimana denganmu yang belum mandi?"
Skakmat lagi!
Dia selalu dapat membuatku bungkam dengan memutarbalikkan perkataanku.
Hah... sepertinya aku tak akan dapat menang melawannya.
"Baiklah... baiklah, terserahmu saja," pasrahku. Karena jika aku marah-marah terus, aku bisa cepat tua nantinya.
Aku tak mau tua sebelum waktunya! Hell to the no! Hell no!
Dan entah kenapa, aku bisa merasakan bahwa dia tersenyum miring di balik jubah yang menjadi penghalang kami.
...🥀...
Tiga hari kemudian....
"100.000 ribu musuh menyerang bagian barat kita?" tanya Arlen saat mendengar informasi tersebut.
"Ya, Tuan. Dan kabar baiknya, pasukan kita yang berjumlah 100.000 ribu di wilayah itu bisa memenangkan pertandingan mereka dengan jumlah korban yang cukup sedikit."
"Jumlahnya tidak mencapai 100.000 prajurit, Tuan."
"Tidak sampai 100.000 prajurit?! Bukankah itu tidak mungkin?! Setahuku, Prajurit Kerajaan Nephorine cukup kuat, bagaimana Prajurit kita bisa mengalahkan mereka dengan jumlah korban jiwa yang sangat sedikit itu?" sahut Marquess Houbatten.
"Bukankah itu malah bagus? Walaupun terdengar mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Prajurit kita dapat mengalahkan Prajurit mereka. Bukankah dengan ini, peluang untuk kita menang cukup besar?" papar Duke Hornwall menanggapi.
"Itu benar. Dengan ini, mungkin saja kita bisa memenangkan peperangan kali ini," celetuk Pangeran Yari.
"Ya, misalkan pasukan kita dapat mengalahkan mereka dengan jumlah korban jiwa sedikit itu, maka peperangan kali ini cukup mudah untuk dilewati." Pangeran Darren menambahkan.
"Tidak kusangka ternyata pasukan Nephorine ternyata selemah itu," ucap Duke Hornwall terdengar meremehkan.
Di saat para bangsawan yang ada di dalam ruangan itu tampak senang karena berita yang cukup memuaskan bagi mereka, Arlen malah sibuk berkutat dengan pikirannya.
Pria itu merasa ada yang janggal dari semua ini. Bukan bermaksud meremehkan, tapi pria itu berpikir bagaimana bisa pasukan Erosphire yang tergolong tidak terlalu kuat dapat mengalahkan pasukan Nephorine yang bisa dibilang bukan pasukan yang lemah.
Bahkan di saat perang tahun lalu, 200.000 pasukan Erosphire hampir semuanya gugur karena serangan musuh yang hanya berjumlah kan 180.000 pasukan.
Dan jika tidak ada dirinya yang mati-matian membantai musuh hampir 2.000 orang dengan hanya sebilah pedang, mungkin kerajaan Erosphire akan mendapatkan kekalahan di perang tahun lalu.
"Saya rasa ini semua adalah taktik musuh," ujar Marquess Houbatten membuat seluruh pandangan menuju kearahnya.
"Apa maksudmu, Marquess?" tanya Pangeran Yari.
"Tidakkah ini aneh, Pangeran? Musuh kalah begitu saja, mereka seperti tidak ada perlawanan. Mungkin mereka ingin kita lengah dan mereka akan menyerang kita dengan celah yang kita berikan kepada mereka," jelas Marquess Houbatten mengutarakan pendapat nya.
"Apa kau tak mempercayai kemampuan pasukan kita, Marquess?" cela Duke Hornwall.
"Apa saya mengatakan bahwa saya tak mempercayai kemampuan pasukan kita? Saya hanya berantisipasi dan berhati-hati dengan segala taktik musuh, itu saja," jawab Marquess membela dirinya.
"Yang dikatakan Marquess Houbatten ada benarnya. Setiap kemungkinan selalu menyertai perang. Dan kita tidak boleh meremehkan musuh, dan kita harus tetap berantisipasi dan berusaha agar kita tidak lengah. Anda juga pasti setuju dengan itu bukan, Pangeran?"
Pandangan Arlen langsung tertuju ke arah Pangeran Yari.
"Ya, kau ada benarnya juga, Duke Floniouse. Kita harus berhati-hati," jawabnya.
"Dan sepertinya musuh juga belum mengetahui tentang wilayah kita yang tidak terlindungi. Selagi mereka belum mengetahui hal itu, kita harus maju untuk mendesak mereka," ujar Pangeran Darren membuat seluruh ruangan itu hening.
Semua bangsawan tampak fokus dan sibuk pada pikiran masing-masing.
"Oleh karena itu, Duke Floniouse," panggil Pangeran Yari membuat Arlen langsung mengarahkan pandangannya pada sang pemanggil.
"Kau dengan 20.000 Prajurit yang ikut denganmu, akan menerobos dan meruntuhkan pertahanan utama Nephorine."
"T-tunggu! Bukankah itu terlalu nekat?!" batin Cassandra berteriak tak percaya.
Ya, sedari tadi wanita itu hanya diam berdiri tepat di samping Arlen.
Karena pria itu berkata, dirinya diam saja dan tak usah ikut campur, jadi wanita itu diam saja.
Semua bangsawan yang berada di ruangan itu sama kagetnya dengan pernyataan dan perintah yang di lontarkan oleh Pangeran Yari.
"T-tapi, Pangeran! Bukankah itu terlalu nekat?!" sergah Marquess Houbatten tak terima.
"Duke Floniouse adalah pahlawan yang membawa kemenangan pada negeri kita tahun lalu. Tidak cukup kau meragukan kemampuan Prajurit kita, apa sekarang kau juga meragukan kemampuan Duke Floniouse?" ketus Pangeran Darren membuat Marquess hanya bisa membungkam mulutnya.
Suasana kembali hening dibuatnya. Arlen, pria itu masih dengan tatapan datar dan dingin nya yang tenang.
"Seperti yang aku bilang, Duke Floniouse akan memimpin 20.000 pasukan untuk menerobos pertahanan utama Nephorine. Aku, Pangeran Darren, dan Duke Hornwall akan kembali menjadi pemimpin 100.000 pasukan yang melindungi tiga wilayah itu. Sementara Marquess Houbatten bersama Jendral Mountarren bertugas menjadi pengamat kondisi dua wilayah yang tidak dilindungi. Sampai di sini ada yang keberatan atau belum jelas?" jelasnya panjang lebar dan para bangsawan yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa diam dan menyetujui segala tugas yang diberikan pada mereka.
"Bukannya saya ingin menyerah sebelum mencoba, tapi bagaimana jika saya gagal menerobos pertahanan musuh?" tanya Arlen.
Gumaman mulai terdengar di ruangan itu, di kala Arlen melontarkan pertanyaannya.
"Maka rencana kita semua akan gagal," ucap Pangeran Yari dan mereka semua yang ada di ruangan itu terperangah, kecuali Arlen yang masih tenang.
"Jika Duke Floniouse gagal menerobos pertahanan musuh, maka cepat atau lambat musuh akan mengetahui dua wilayah yang tidak terlindungi. Dan bayangkan saja. Jika itu terjadi, maka musuh akan menerobos wilayah kita, dan kita tidak memiliki kesempatan lagi untuk menyerang karena kita kalah jumlah," papar Pangeran Yari tak henti-henti membuat semua yang ada di ruangan itu terperangah.
Decakan kini terdengar dari mulut Arlen, sambil menggigit kuku jarinya dan alisnya yang mengernyit tajam, rahang pria itu mulai tercetak jelas karena perintah yang terdengar mustahil di pendengarannya.
"Apa anda sungguh mempercayai dan memaksa saya untuk menerobos pertahanan utama Nephorine yang mungkin saja terdapat lebih dari seratus ribu lebih pasukan di dalamnya dengan dua puluh ribu prajurit? Apa saya di suruh untuk mengantar nyawa dalam peperangan kali ini?" tanya Arlen membuat suasana semakin mencekam.
"Terkadang di dalam peperangan diperlukan resiko dan nyawa, apa kau masih ingin mempertanyakan hal itu?" Pangeran Yari menatap tajam Arlen.
Namun tak lama dari itu, tercetak senyum remeh di wajahnya. "Atau, mungkinkah kau takut kehilangan nyawa di peperangan kali ini, Duke Floniouse?" hinanya secara halus tetapi menusuk.
"Hei, apa kau pikir nyawa adalah semacam mainan yang tak berharga?! Bagaimana kau bisa menghinanya tentang hal itu?!" batin Cassandra geram.
"Tentu saja saya takut, Yang Mulia. Karena saya masih mempunyai seseorang yang saya cintai, dan saya tak ingin meninggalkannya," ujar Arlen membuat Cassandra tersentak dan hatinya seakan tertusuk oleh ribuan panah.
"Apa perkataanmu itu adalah maksud dari senyum mu waktu itu?" batin Cassandra bimbang sekaligus merasa sedikit sedih di saat mendengarnya.
...🥀...
"Hei, apa kau benar-benar akan menerobos pertahanan Nephorine hanya dengan 20.000 prajurit?!" tanya Cassandra tak tenang sekaligus tak percaya.
"Tentu saja. Apa aku punya pilihan lain?" Arlen berbalik tanya membuat Cassandra mengerutkan alisnya seraya dengan mulutnya yang ternganga.
"Jangan gila! Kau pikir kau adalah manusia super yang bisa mengalahkan musuh sebanyak itu?!"
"Jadi apa yang harus aku lakukan? Melarikan diri? Hal itu bahkan lebih buruk dari kematianku," ketus pria itu.
"Kau gila...," lirihnya sambil menundukkan kepalanya hingga surai coklat tua panjangnya menutupi wajahnya.
Wanita itu tidak terima dengan keputusan nekat dan tidak masuk akal pria itu, dia seakan tidak rela.
Bukan karena ia khawatir karena dirinya tak bisa kembali ke dunianya jika pria itu kehilangan nyawanya, tapi dia memang mengkhawatirkan pria itu.
Entah sejak kapan dia merasa seperti ini, dirinya sendiri tidak tahu.
Namun, jika pria itu terluka, perasaan janggal sekaligus rasa nyeri mulai menyerang hatinya.
Arlen mulai mengulurkan telapak tangannya untuk menangkup rahang wanita itu lalu mendongakkan wajahnya.
Netta biru langitnya yang meneduh menatap dalam wanita itu yang tengah mengerutkan alisnya yang berwarna seirama dengan surai coklatnya.
Tampak genangan air mata mulai bermunculan melapisi iris coklat tua nya yang membalas tatapannya.
"Pfft! Apa kau menangis? Kau seperti anak kecil saja," kekeh Arlen seraya menampilkan senyum manis di wajah tampannya yang diiringi lesung pipi yang tercetak jelas.
"Aku tidak menangis! Aku hanya kelilipan!" kilah wanita itu sambil mengusap airmatanya dengan jari telunjuknya.
Arlen kemudian menggenggam telapak tangan wanita itu kemudian merengkuh tubuh rampingnya masuk ke dalam dekapan nya.
Cassandra sedikit membulatkan matanya di kala pria itu melakukan aksi yang jarang dilakukannya.
Dia hanya bisa diam tak berkutik di kala pria itu semakin mendekapnya erat hingga tak ada jarak di antara mereka.
Arlen mengulas senyum tipis di balik tubuh wanita itu seraya berkata. "Rasa khawatirmu, sudah lebih cukup untuk menjadi penyemangatku."
^^^I Become Wife of the Atroicous Duke^^^
^^^02 Desember 2020^^^