The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 56 : Pesta Lagi?



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Masuk."


Sebuah nampan dengan secangkir teh di atasnya tergenggam di tanganku. Ketika mendengar suara dari dalam, aku membuka pintu dengan pelan dan masuk ke dalam.


Kuletakkan dengan pelan nampan yang aku bawa di permukaan mejanya yang kosong.


"Terima kasih," ucapnya dan aku mengangguk.


Terdapat pria yang duduk di kursi kerjanya. Dia tampak fokus dengan kertas di jarinya seraya bertopang dagu. Netranya berlari kesana-kemari mengikuti bait tulisan yang tertera.


"Apa kau masih sibuk?" tanyaku. Karena belakangan ini dia tampak selalu berada di ruang kerjanya, dan aku sedikit merindukannya.


"Tidak terlalu. Kenapa?"


"Ah, uhm... tidak ada. Hanya bertanya saja, karena kau terlihat sangat sibuk belakangan ini," jawabku.


"Bilang saja kau merindukanku," ucapnya mendongakkan wajahnya menatapku.


"Kalau begitu, memangnya kenapa?"


"Tidak apa, hal tersebut bagus. Karena aku juga merindukanmu."


Aku pun tersenyum malu memukul pelan lengannya dan dia tertawa kecil. Tak lama dari itu, dia menepuk pahanya mengintruksiku duduk di pangkuannya.


Kujatuhkan tubuhku di pangkuannya, kemudian tangannya memegangi punggungku dan sebelahnya lagi masih sibuk memegangi selembar kertas tadi.


Walaupun posisi ini cukup memalukan, namun terasa sangat nyaman.


Aku sedikit membungkukkan badanku dan menyandarkan kepalaku di dada bidangnya, yang mana membuatku merasa hangat dan terlindungi.


"Apa aku berat?" tanyaku.


"Kau terasa seperti udara," jawabnya membuatku terkikik.


"Jangan bohong, kau pasti tengah keberatan sekarang."


"Dan apa yang harus kulakukan untuk membuktikan padamu bahwa aku tidak?"


Karena gemas, aku menarik pipinya dengan jariku sembari terkekeh.


"Sakit," ujarnya.


"Benarkah?" tanyaku pura-pura tak tahu dan semakin mengencangkan tarikanku di pipinya.


Tiba-tiba saja tanganku ditarik dan digenggam olehnya. Dan sedetik kemudian dia menggigit jariku sontak membuatku teriak.


"Aw! Sakit!" gaduhku mengamati jariku yang berbekas gigitan giginya. "Apa kau vampir?! Gigimu sangat tajam!" kesalku.


Dia hanya mengangkat kedua alisnya membuatku sebal.


Matanya yang sempat sibuk dengan tulisan di hadapannya, kini tergerak menatapku.


Diraihnya jariku yang sempat digigitnya kemudian menciumnya. Aku sedikit terkaget dan rasa panas samar-samar melingkupi wajahku.


"Masih sakit?" tanyanya dan aku hanya bisa tertunduk malu.


"T-tidak," jawabku.


Dia tersenyum tipis kemudian menurunkan kepalaku dengan telapak tangannya yang besar dan menyandarkan pipinya di atas kepalaku.


Aku hanya bisa diam dengan perlakuan manisnya. Hingga tanpa sadar senyum terlukis di wajahku kemudian kelopak mataku tertutup.


Semua perlakuan manis ini sungguh membuatku tenang, sehingga rasanya aku ingin selalu berada di posisi ini selamanya.


Namun rasa penasaranku ingin bertanya dengannya tak dapat kutahan, hingga akhirnya kupisahkan kedua bibirku yang awalnya terkatup.


"Hei, bagaimana dengan keadaan Anastasia?" tanyaku pelan.


Hening sempat menghampiri, namun tak lama dari itu kembali pergi ketika dia mengeluarkan suara.


"Entahlah. Mungkin tengah bersama kedua orang tuanya," jawabnya cepat.


Aku hanya mengangguk, tak berani bertanya lebih jauh. Karena tak ingin merusak suasana hatinya.


Karena sudah lama kejadian sejak Anastasia pergi dari rumah ini, dan wanita itu seakan tak terlihat lagi.


Bahkan musim pun telah kembali berganti, salju telah turun tanda musim dingin telah menyapa.


"Hei-- uhm!"


Tiba-tiba saja dia menyergap bibirku kemudian bergerak cukup dalam. Gerakannya semakin lama membuatku tak bisa mengimbanginya.


Dia semakin mendominasi, dengan tangannya yang mulai bergerak menyapu kulit leherku sehingga dapat kurasakan hangat menerpa.


Entah sejak kapan kini lidahnya telah menyusup ke dalam rongga mulutku dengan tangannya yang semakin menekan tengkukku.


Aku hanya bisa menerima dan meremas rompi yang ia pakai seraya dengan mataku yang tertutup dan alis yang mengernyit.


Karena kekurangan pasokan nafas, aku segera mendorong bahunya dan mulai menarik wajahku menjauh darinya.


Dia menatapku dengan matanya yang setengah terbuka dan bernafas melalui kedua bibirnya yang terpisah serta lengas.


Astaga kenapa dia telihat sangat menggoda dengan ekpresi seperti itu?!


Secara cepat aku memalingkan wajahku yang terasa panas, karena tak tahu apa sebenarnya telah terjadi padaku.


Saat aku kembali memutar kepalaku secara perlahan untuk menatapnya, dia menyisir rambutnya ke belakang sehingga beberapa helai nya terjatuh serta dengan lidahnya yang menjilat bibir bawahnya.


Aku sungguh terkejut ketika dia melakukan itu, apa dia berusaha menggodaku?


"Tergoda?"


"Tidak!" sergahku dengan cepat.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan mencari wanita lain saja yang akan tergoda."


Kulayangkan tatapan tajam padanya yang tengah tersenyum jahil. "Silakan saja, aku tak peduli," kesalku.


Dia kembali tersenyum seraya menarik tubuhku semakin dekat dan mencium dahiku. "Sepertinya tidak. Karena wanita yang kucinta sudah ada persis di hadapanku," godanya membuatku tak bisa menahan senyumku.


"Bagaimana ciri-ciri wanita yang kau sukai?" tanyaku.


Dia tampak berpikir-pikir, terlihat dari irisnya yang bergerak ke atas.


"Semua ciri-ciri yang ada di dirimu adalah ciri-ciri wanita kesukaanku."


"Kalau begitu, bagaimana ciri-ciri ku menurutmu?"


"Kau sempurna."


Rasa panas tak henti-hentinya menyerangku. "Tidak ada wanita yang sempurna," sela ku.


"Bagimu, tapi bagiku ada," balasnya.


"Sudahlah, tidak akan ada habisnya jika berdebat seperti ini. Lalu, apa ciri-ciri wanita yang tidak kau sukai?"


"Wanita yang suka menuntut dan mengontrol diriku, wanita yang gila harta, dan wanita yang egois."


Aku terdiam karena dia menjawab secara cepat. Apa dia benar-benar membenci wanita dengan ciri-ciri sperti itu?


"Oh begitu, kelihatannya kau terlihat sangat membenci wanita seperti itu," ujarku meringiskan senyum.


Dia kembali fokus pada pekerjaannya, dengan aku yang hanya diam menatapnya di pangkuannya.


Wajah seriusnya entah kenapa mampu membuatku tak bisa mengalihkan pandangan.


Rahangnya yang tegas terlihat jelas, hidungnya mancung dan bulu matanya sangat panjang dan lentik.


Bagaimana bisa manusia dilahirkan sangat tampan dan sempurna sepertinya?


Bibirnya terus bergerak dengan gumaman kecil yang terjatuh, membuatku ingin kembali merasakannya.


Tunggu! Apa yang baru saja kau pikirkan, Cassandra?! Kau gila?!


"Hei."


"Ha?" Seketika aku baru sadar dari lamunanku ketika dia memanggilku.


"Apa yang kau lamunkan?"


"Kau."


"Tidak ada," jawabku.


Dia terus menatapku hingga aku salah tingkah dan berakhir menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang telinga.


Tak lama, dia tersenyum sekilas. Lebih tepatnya, senyum miring?


"Kau memang kikuk."


Aku hanya tertawa hambar, bingung bagaimana meresponnya.


"Nanti malam akan ada pesta di istana," ucapnya.


"Istana? Pesta apa lagi?" tanyaku menaikkan sebelah alisku.


"Seperti tahun kemarin. Merayakan kemenagan saat perang."


"Bukankah perang sudah berlalu dua bulan lebih? Lalu kenapa baru sekarang?"


"Entah. Karena ini perintah dari Raja kita hanya bisa menurutinya." 


Aku menganggukkan kepala. Padahal ini hanya pesta, tapi kenapa aku merasa gelisah seperti ini?


Seperti ada sesuatu yang terasa janggal.


...🥀...


"Kau benar-benar akan membunuhnya?" tanya seorang wanita dengan surai pirangnya.


"Ya, aku sudah tidak tahan lagi. Rakyat menderita karenanya, aku tak bisa diam saja. "


"Sungguh Pangeran yang dermawan," balas sang wanita yang terdengar seperti ejekan.


Namun pria bersurai hitam itu tidak menggubris, dia hanya melayangkan senyuman.


"Terima kasih. Kau sungguh baik hati, Sayang."


Wanita itu memutar bola matanya malas. Kemudian kembali memainkan kuku-kuku jarinya yang panjang dan bersih.


"Tenang saja. Kita akan hidup bahagia bersama anak kita. Setelah aku membunuh dia," ucap pria itu mengelus surai pirang panjang milik wanita.


"Dengan senang hati, apa permintaanmu?"


Wanita cantik itu mendekatkan bibirnya ke telinga sang pria, kemudian membisikkan beberapa kata.


Senyum yang awalnya menghiasi wajah tampan pria itu, memudar ketika raut wajahnya mulai serius.


"Kau yakin? Kau tidak akan menyesal?" Pria itu memastikan.


"Ya, aku sangat yakin. Aku tidak akan bisa bahagia sebelum aku belum bisa melihatnya berhenti bernafas di depan mataku sendiri," cecar wanita itu menggigit kukunya.


"Sebenarnya apa salahnya padamu? Hingga kau begitu membencinya seperti ini," celetuk pria itu.


"Apa salahnya?!" Wanita itu mulai meninggikan suaranya. "Dia telah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku! Dan aku tidak bisa membiarkannya bahagia di atas penderitaanku!" teriaknya.


"Kau harus belajar mengikhlaskan, Sayang. Tidak semua hal di dunia ini bisa kau dapatkan dan menjadi milikmu," sela pria bersurai hitam itu membuat sang wanita tersenyum remeh.


"Oh. Apa sekarang Yang Mulia pun bahkan menyukainya?" sindirnya.


"Aku tidak menyukainya. Aku hanya ingin menyadarkanmu, Anastasia."


"Cih. Menyadarkan? Terserah apa katamu. Jika kau tidak mau ya sudah, jangan harap dapat menemuiku lagi, Yang Mulia," ucap wanita penuh penekanan di akhir dan terdengar mengancam.


Ia berbuat berjanjak dari duduknya dan meninggalkan pria itu, tapi pergelangan nya langsung dicekal.


"Baiklah. Apapun permintaanmu, aku akan menurutinya."


Wanita itu tersenyum kemenangan. Sangat menyenangkan mengancam dan mempermainkan seseorang yang sangat mencintai dirimu.


...🥀...


"Hubungan anda akhir-akhir ini dengan Tuan sepertinya sangat baik, Nyonya. Bahkan anda pun tampak sering tersenyum sekarang," celetuk Elise.


"Benarkah?" tanyaku.


Apa aku benar-benar terlihat seperti itu?  Aku tidak menyadarinya sama sekali.


"Sudah, Nyonya," ujar Elise membuatku mijat ke cermin besar yang berada di hadapanku.


Baiklah seperti biasa. Gaun mengembang yang mewah berwarna hijau daun, dengan pita besar yang menyangkut di helai rambutku.


Segera, aku punya turun ke bawah untuk menemui pria itu. Tak lama, aku akhirnya melihatnya berdiri dengan tegap menungguku.


"Kau siap?" tanyanya dan aku mengangguk.


Kami pun berjalan menaiki kereta kuda yang akan mengantar kami ke istana tempat tujuan kami.


.


.


.


.


"Tidak seramai pesta penobatan kemarin," ujarku melihat ke sekitar.


"Ya, karena tidak seluruh orang datang kemari, hanya para bangsawan saja," sahutnya.


"Oh, salam Duke Floniouse."


Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan aku sedikit terkejut mendengar orang yang menghasilkan suara tadi.


"Frost?!" pekikku dan mendapatkan tatapan dari pria yang tengah aku gandengi lengannya.


"Eh, uhm maksudku... salam, Count Beronald," ucapku kikuk seraya berpura-pura menyapa.


"Kalian berdua saling mengenal?" tanya Arlen.


"Ya, Duchess dan saya merupakan sahabat masa kecil," sahut Frost.


"Begitu."


Krik krik


Entah kenapa aku bisa mendengar suara jangkrik. Ini terlalu sunyi dan canggung!


"K-kalau begitu, kalian berdua berbincanglah. Aku akan pergi ke sana terlebih dahulu," ucapku.


Jika aku tidak bisa menghilangkan kecanggungan ini, setidaknya aku bisa lari darinya.


"Nikmati waktu kalian." Tanpa aba-aba aku langsung berjalan menjauh dari mereka berdua.


Fyuh~ setidaknya aku bisa bernafas lega dari kecanggungan yang menyekikku tadi.


Aku pun berdiri jauh dari mereka sertaan melihat ke sekelilingku.


Oh iya dimana Veronica? Biasanya dia akan datang padaku tanpa aku sadari.


Di saat aku kembali celingukan, aku melihat ada sesosok yang membuat pandanganku terkunci padanya.


Bukankah itu Pangeran Darren?


Kenapa dia terlihat mencurigakan seperti itu?


Apa sebaiknya aku ikuti? Sepertinya lebih baik tidak usah bertindak gegabah.


Tapi...


Aku penasaran!


Kalau begitu aku ikuti sajalah!


Tapi tak lama dari itu, niatku terbatal dikarenakan ada seseorang yang menepuk bahuku dan memanggil namaku.


"Cassandra!"


"Ah, Yang Mulia. Salam," sapaku seraya bercanda.


"Apa-apaan itu! Tidak usah formal padaku, aku tak suka!" gerutunya membuatku terkekeh.


"Baiklah, Yang Mulia."


"Cassandra!"


Aku tergelak, ternyata sahabatku yang satu ini lucu juga.


"Aku hanya bercanda, Veronica."


"Ya, ya."


Sebuah kekehan terkeluar dari mulutku, sepertinya dia merajuk.


"Oh iya, Cassandra. Aku dengar suamimu baru saja mengusir Anastasia, apa itu benar?"


Apa hal itu telah menyebar di antara bangsawan-bangsawan?


"Y-ya, begitulah," jawabku sedikit ragu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Uhm... itu...,"


Aku harus jawab apa?!


"Ah, aku tahu. Tidak apa jika kau tidak ingin memberitahuku, aku tidak akan memaksa," imbuh Veronica membuatku tersenyum tidak enak.


"Kalau begitu, mari ikut aku. Kita akan menikmati pesta ini berdua," ajak Veronica dengan tangan yang terulur.


Aku melayangkan senyuman. "Baiklah."


...🥀...


Di mana dia?


Aku telah berlari cukup jauh mengikuti pangeran Darren sejak tadi. Awalnya aku masih bisa mengikutinya, namun sekarang jejaknya menghilang begitu saja.


Lagipula, di mana ini? Apa ini bagian belakang dari istana?


Tempat ini terlihat seperti hutan. Gelap, banyak pepohonan, dan juga sangat dingin.


Kulangkahkan kembali kakiku menyusuri tempat ini, dengan perasaan takut dan juga was-was.


Saat aku telah berjalan cukup lama, aku sangat terkejut melihat pemandangan di depanku.


Itu adalah Raja Yari!


Bukan hanya kehadiran Raja itu saja yang membuatku terkejut. Namun sebilah pedang panjang yang menembus tubuhnya, beserta darah yang berceceran di mana-mana.


Saat itu aku baru saja menyaksikan, Raja Kerajaan Erosphire tewas terbunuh.


A-aku harus bagaimana? Apa aku harus menjerit meminta pertolongan?


Badanku membeku layaknya patung, mataku membola besar, dengan sekujur tubuhku yang mulai dibasahi keringat dingin.


A-apa aku harus memberitahu Arlen terlebih dahulu? Ya, aku harus memberitahunya. Dengan langkah bergetar aku mencoba melangkah, dan mencoba untuk menghilangkan berbagai emosi yang menghampiriku.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan itu membuatku langsung membuatku terlonjak dan mengarahkan pandanganku.


Jauh dari diriku, terlihat sesosok pria tengah berdiri dengan telapak tangannya yang bertepuk dan senyum remeh di wajahnya.


"P... pangeran... Darren...?" lirihku hampir tenggelam.


Dia kemudian berhenti bertepuk tangan dan mulai berjalan mendekatiku. Lagi-lagi aku hanya bisa diam, tak tahu apa yang harus kulakukan.


Apa aku harus lari? Itu tidak berguna. Karena aku pasti akan tertangkap.


Hingga akhirnya pria ini benar-benar telah berada di hadapanku.


Seketika aku mendongak ketika dia mulai menodongkan belati yang mengkilap dan hampir mengiris kulit leherku.


Dia menatapku nyalang dengan tatapan mematikannya. Kemudian dia berkata dengan halus namun menusuk.


"Apa... aku harus membunuhmu sekarang, Duchess?"


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^30 Desember 2020^^^