
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Cassandra Pov
Oke, waktunya beraksi.
Saat ini aku tengah berada di dalam tumpukan karung gandum yang tengah dibawa oleh kereta menuju ke kerajaan Nephorine.
Jujur, aku sangat sangat tidak nyaman! Bahkan untuk bernafas pun rasanya susah!Ā
Aish, tapi tak apalah. Ini juga sudah menjadi keputusanku, ehe.
Aku berasa menjadi mata-mata betulan sekarang.
Jika kalian bertanya bagaimana aku bisa dalam posisi ini, maka jawabannya sangat mudah.
Marilah kita kembali ke beberapa jam yang lalu....
Flashback
"Berhati-hatilah."
Dia berkata seraya dengan raut wajahnya yang sedikit meneduh. Apa saat ini dia tengah mengkhawatirkanku?
Aku tidak terlalu tahu, tapi jika memang kenyataannya seperti itu, entah kenapa hal tersebut membuat hatiku menghangat dan seakan melemah.
Inikah rasanya ketika ada seseorang yang secara tulus mengkhawatirkan tentang dirimu?
Jika iya, maka aku sangat beruntung. Bisa merasakan perasaan hangat ini walaupun hanya sejenak.
Tanpa sadar, aku mengulas senyum tulus yang berasal dari lubuk hatiku dan melemparkannya pada sosok yang berada di hadapanku saat ini.
"Pasti." Yakinku padanya. Dengan perlahan tapi pasti, aku pun memutar tubuhku kemudian melangkah untuk pergi menjalankan misi yang aku rencanakan.
"Tunggu."
Dapat kurasakan sebuah telapak tangan yang besar dan hangat mencekal pergelangan tanganku upaya mencegahku. Sontak, aku kembali berbalik.
"Ada apa?" tanyaku seraya dengan alisku yang terangkat sebelah.
"Kau ingin menyusup ke wilayah Kerajaan Nephorine, bukan? Aku tahu cara yang mudah," ucapnya membuatku tambah penasaran.
"Bagaimana?"
Dia tampak mengulas senyum miring di wajahnya. "Ikutlah denganku."
.
.
.
.
.
Suara serangga bernama jangkrik selalu setia menemani kami dengan suara berisiknya.
Mengendap-endap, adalah hal yang saat ini tengah kami lakukan. Cukup jauh perjalanan kami dari markas menuju wilayah ini.
Berbekal seekor kuda yang mengangkut bobot tubuh kami di punggungnya, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan.
Arlen segera melompat turun dari punggung kuda yang lumayan cukup tinggi, setelah itu dia pun mengulurkan tangannya untuk membantuku turun.
Dengan senang hati aku menerimanya yang sedang membantuku saat ini.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru tempat ini, banyak kereta kuda di sekitar sini.
"Apa yang akan kita lakukan disini?" tanyaku seraya meliriknya yang tengah menatap datar lurus ke depan.
"Bukan kita, tapi kau," ucapnya sontak membuatku langsung menunjuk diriku sendiri dengan wajah yang sedikit kaget.
"Aku?"
"Ya, kau akan menyusup ke dalam kereta itu," tunjuknya.
Netraku kini beralih ke arah kemana jarinya telunjuknya.
Sebuah kereta dengan tumpukan gandum?
"Apa kau menyuruhku untuk menumpang di kereta kuda itu?" tanyaku dan dia terlihat melukis senyum jahil.
Aku jadi merasa tidak enak.
"Lebih tepatnya bersembunyi di bawah tumpukan gandum-gandum itu," katanya.
"Hah? Apa kau pikir gandum itu ringan seperti kapas? Bagaimana bisa aku bersembunyi di bawahnya?!" protesku.
"Oh? Kalau begitu, silahkan pikir sendiri cara menyusup ke wilayah Nephorine," selanya membuatku sebal.
Namun tak lama dari itu, kini aku hanya bisa mengehembuskan nafas pasrah.
"Apa aku tak bisa menumpang secara biasa?" bujukku dan dengan cepat ia menolaknya.
"Tidak. Kau harus menyembunyikan wajahmu sebisa mungkin. Karena bisa saja ada orang di sana yang mengenalimu," tegasnya membuatku tak dapat lagi membantah.
"Baiklah, kalau begitu alihkanlah terlebih dahulu perhatian pria yang menjadi kusir dari kereta itu supaya aku bisa menyelinap masuk," perintahku.
Senyum miringnya kini berubah menjadi senyum remeh. "Hal yang sangat mudah."
"Cih, songong sekali," cibirku.
Dia pun mengeluarkan beberapa lembar kertas uang dari sakunya, dan dengan cepat aku pun mencegat lalu merampas yang itu dari tangannya.
"Eits! Bagaimana kalau jangan memakai uang? Gunakan caramu sendiri untuk mengalihkan perhatiannya," tantangku dengan senyum menyeringai.
Sepertinya dia sedikit tersindir dan merasa diremehkan, terlihat dari raut wajahnya.
"Baiklah," yakinnya.
Dia pun melangkahkan kaki jenjangnya dengan lebar mendekati pria yang menjabat menjadi kusir itu kemudian mulai berbincang-bincang padanya.
Walaupun bagi orang asing mungkin raut wajahnya hanya mempunyai satu ekpresi, namun tidak bagiku.
Dari kejauhan, aku bisa melihat perubahan ekspresinya yang beragam, walaupun memang ekspresi tersebut sangat samar.
Sehingga secara tak sadar karena keasikan mengamati ekspresinya, kusir tersebut tampak sudah terlarut ke dalam pengalihan pria itu.
Baiklah, waktunya aku beraksi.
Dengan langkah seperti langkah kucing yang tak bersuara, aku menyelinap masuk ke dalam tumpukan gandum itu.
Sebelum itu, dia sempat melirikku dan pandangan kami pun bertemu.
Aku melayangkan senyum dengan jari telunjuk dan jempolku kubentuk menjadi lingkaran.
Tampak dia membalas senyumku secara singkat, dan entah kenapa dapat kurasakan semangat di dalam diriku membara.
Aku merangsek paksa untuk masuk ke bawah tumpukan gandum itu.
Flashback off
Dan seperti itulah, caranya aku bisa berasa di posisi sekarang.
Dapat kurasakan kereta yang aku tumpangi-- ralat, lebih tepatnya yang aku tebeng secara diam-diam ini berhenti sejenak.
Apa ini? Apa keretanya habis bensin? Namun tidak mungkin juga, masa iya kereta kuda pakai bensin.
Kereta ini bergoyang sedikit karena ada sesuatu yang sedikit berat menuruninya. Tak lama dari itu kini aku seperti mendengar sebuah percakapan dibalik tumpukan karung gandum yang tengah menimpa seluruh tubuhku.
"Turunkan semua barang bawaan di keretamu, kami akan memeriksanya," titah seseorang yang dari suaranya sepertinya seorang pengawal.
Tunggu, apa dia bilang tadi? Turunkan semua barang bawaan?
Heh....
Hm....
Bukankah itu bahaya?! Hei hei! Kalau begini aku pasti ketahuan!
Seketika aku langsung kalang kabut dalam diam di balik tumpukan gandum ini.
Di dalam otakku bagaikan ada beberapa pegawai yang mendapat tugas yang mendadak dari bos mereka yang kejam.
Ayo Cassandra, berpikir... berpikir!!
"Baiklah kalau begitu periksa saja."
Tak lama dari itu, kurasakan satu persatu karung gandum yang menimpaku di angkat.
Sial! Aku harus bagaimana sekarang?! Bagaimana aku bisa bersembunyi?!
Aku bukanlah doraemon yang mempunyai pintu kemana saja dan barang-barang ajaib lainnya.
Saat satu karung yang tersisa bertugas menyembunyikan tubuhku belum diangkat, di saat itu juga aku rasakan jantungku seakan ingin lompat di atas trampolin yang elastis.
"Please! Jangan sampai ketahuan!" batinku berteriak histeris.
Srek!
Ah, tamat sudah. Aku pasti ketahuan, tinggal sedikit celah lagi. Wajah cantikku ini pasti akan terekpos.
Kututup kedua mataku rapat-rapat bersiap menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Penyusup!!"
Aku melebarkan kedua mataku di kala jeritan yang bervolume keras itu menusuk pendengaranku.
Kuposisikan telapak tanganmu di depan dada kiriku upaya menenangkan jantungku.
Dan tak lama dari itu, prajurit yang hampir saja memergokiku itu langsung bergegas berlari menuju ke asal suara nyaring tadi.
Kalau tidak salah, tadi ada yang bilang penyusup, kan? Jika bukan aku yang mereka bicarakan, berarti ada penyusup lain di wilayah ini?
Sepertinya begitu. Berarti, jangan sampai aku juga ketahuan, aku harus ekstra berhati-hati.
Siapa tahu aku bisa menjadi mata-mata yang terkenal di kehidupan ini, hahaha!
...š„...
Saat ini aku tengah berada di suatu lorong panjang yang tak berpenghuni.
Dari arah kanan sana, sepertinya banyak prajurit yang berjaga-jaga. Jadi pilihanku adalah, pergi ke arah kiri.
Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dengan hati-hati, kulangkahkan kakiku secara cepat melintas ke arah kiri agar prajurit yang di arah kanan itu tidak melihatku.
Fyuh~
Nice, tidak ketahuan.
Aku kembali berjalan seraya celingukan kesana kemari waspada.
Kubenarkan kembali cadar yang menutupi wajahku ini yang sempat turun, lalu tak lama dari itu kini aku mendengar suara langkah kaki.
Gawat! Ada orang!
Secara cepat kutolehkan kepalaku mencari sebuah ruangan atau apapun yang dapat menyembunyikan diriku.
Bingo! Ada ruangan di situ! Aku berlari tanpa suara menuju pintu itu.
Semoga tidak terkunci!
Kuraih gagang pintu itu dan kuputar guna untuk membukanya.
Ceklek!
Yes! Aku bersorak ria dalam hati, sepertinya Dewi Fortuna mulai menyukaiku yang cantik ini sekarang.
Tanpa basa-basi aku masuk ke dalam ruangan ini dan bersembunyi di balik gorden yang panjangnya mencapai lantai itu.
"Apa kau bercanda?"
"Apa kau pikir aku adalah tipe orang yang suka bercanda?"
"Tentu tidak, tapi tetap saja perkataanmu itu tidak dapat dipercaya!"
Pangeran? Pangeran siapa?
Aku jadi bingung. Namun anehnya, aku merasa bahwa salah satu dari dua suara itu terasa tidak asing.
Agh, Cassandra! Kenapa kau pikun sekali, sih?!
Ya, aku mengenal suara itu. Namun aku tak tahu siapa pemiliknya.
Hah... semoga saja mereka tidak menyadari kehadiranku, jika tidak tamatlah sudah riwayatku.
"Kau mengirim pahlawan mu itu untuk menembus pertahanan utama kami? Apa kau berniat membunuh kartu As kerajaan kalian?"
Menembus pertahanan?! Bukankah itu adalah tugas yang harus dilaksanakan oleh Arlen?!
Dan apa yang mereka maksud 'kartu as' itu adalah Arlen?!
Sebenarnya siapa mereka?!
"Karena dia bisa saja mengacaukan rencanaku, dan aku tak ingin mengambil risiko."
"Namun, bukankah dengan begitu kau malah menyia-nyiakan sosok yang sangat berharga di kerajaanmu?"
"Sosok yang sangat berharga? Dia tidaklah lebih hanyalah sebuah pion yang kapan saja bisa dibuang saat tidakĀ berguna lagi."
"Pfft! Kalau memang seperti itu, maka kami tidak akan ragu lagi untuk melenyapkannya."
Membunuh?! Apa mereka akan membunuh pria itu?! Jika seperti itu, aku harus menghentikan mereka!
Aku tidak bisa berhenti terkejut ketika mendengar perkataan dua orang asing yang tak bisa kulihat wajahnya ini.
"Namun, tetaplah pada rencana awal kita. Seusai kau menghabisinya, maka suruhlah pasukanmu untuk menyerang dua wilayah tak terlindung kami."
"Kau tenang saja, aku adalah orang penepat janji. Aku akan merelakan pasukan tidak bergunaku itu untuk menjadi batu loncatanmu."
Dua wilayah tidak terlindung? Ternyata ada pengkhianat di antara kami!
Andaikan aku bisa melihat wajahnya sekarang, aku pasti akan langsung melempar pengkhianat itu ke kubangan kotoran komodo.
Tapi aku tak bisa melakukannya, karena jika ketahuan, maka aku pasti tidak akan selamat.
"Heh. Ternyata kau adalah orang berhati dingin, Pangeran Naelson."
Pangeran Naelson? Apa itu pangeran dari Kerajaan Nephorine?
"Ini demi kebaikan Kerajaanku sendiri. Rakyat tidak berguna yang bisanya hanya memakan tempat itu lebih baik kulenyapkan saja semua."
"Kalau begitu kuharap kau menepati janjimu, Pangeran Naelson."
"Kau juga."
Jika yang mereka katakan itu benar, berarti nyawa Arlen dalam bahaya.
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku bahkan tak sanggup memikirkan bagaimana jadinya jika pria itu sampai kehilangan nyawanya.
Pokoknya aku harus segera bergegas untuk menolong pria itu! Aku harus sempat! Aku harus bisa!
Klang!
Aku langsung membulatkan kedua bola mataku. Vas yang berada di atas permukaan meja yang berada di dekat siku ku, tak sengaja kusenggol sehingga jatuh ke lantai.
"Siapa itu?!"
Sialan! Aku ketahuan! Kenapa bisa tersenggol, sih?! Baru saja aku berkata bahwa Dewi Fortuna mulai menyukaiku, namun kemalangan masih tetap menghalangiku!
Agh intinya aku tidak tahu!
Aku harus mengandalkan jurusku yang lain!
Larii!!!!!
"Sialan, ada penyusup! Kejar dia!!!"
Aku berlari menggunakan seluruh kekuatan dan tenaga yang tersisa di tubuhku!
Untung saja semasa sekolah dahulu aku selalu menjadi pemenang lomba lari estafet, jadi aku dengan mudah membawa tubuhku yang ringan ini lari.
Dapat kudengar suara menggelegar yang meneriakkiku. Kutolehkan kepalaku sejenak ke belakang untuk mengecek kondisi di belakangku.
Oh sialan! Demi kuota internet yang habis di tengah jalan! Ternyata banyak prajurit yang mengejarku!
Memang benar kalau aku lebih unggul dalam berlari, namun aku tidak unggul menyangkut tata letak tempat ini.
Aku bahkan tak tahu dimana pintu jalan keluar, jadi yang kulakukan hanyalah berlari dan berlari.
Namun jika seperti ini terus, aku yang akan dirugikan. Aku akan kehabisan tenaga karena berlari jika aku tidak kunjung menemukan jalan keluar.
Berusahalah berpikir Cassandra sambil berlari Cassandra! Kau pasti bisa melakukannya!
Sayangnya, sebuah ide tetap tidak ada satupun yang muncul di otakku.
Jadi yang kulakukan hanyalah berlari, berharap aku tidak tertangkap dan berharap bahwa akan ada sebuah keajaiban yang terjadi.
Agh! Aku sudah tidak kuat! Aku sudah mencapai batasku, tenagaku telah banyak terkuras, kumohon jangan sampai aku tertangkap di sini.
Untuk terakhir kalinya, aku kembali memutar kepalaku upaya mengecek keadaan di belakangku.
Ternyata para prajurit masih saja mengejarku! Dan mereka juga tampak tidak kelelahan sama sekali!
Astaga jika seperti ini terus, aku akan benar-benar tertangkap!
Di saat aku hampir menyerah, ada sebuah tangan yang menarik lengan kanan secara kuat dan tiba-tiba sehingga badanku pun ikut tertarik karenanya.
Sosok itu membungkam mulutku seraya menempelkan jari telunjuknya di bibirnya menyuruhku untuk diam.
Nafasku terburu-buru, paru-paruku secara serakah menghirup udara yang berada di sekitarku.
Sosok itu memakai syal yang menutupi mulut hingga lehernya. Apa dialah penyusup yang aku dengar tadi?
Aku tak tahu sama sekali.
Dan tak lama dari itu, kini suara gaduh tak lagi memenuhi pendengaranku. Sepertinya prajurit-prajurit itu telah pergi dan kehilangan jejakku.
Aku akhirnya bisa bernafas secara tenang, dan dia pun mulai menyingkirkan tangannya yang awalnya membekapku.
"Si... siapa kau...?" tanyaku bingung seraya menatapnya.
Dia pun mulai menurunkan syal yang menutupi setengah wajahnya sama sepertiku. Dan di kala itu, aku langsung membelalakkan kelopak mataku saking terkejutnya.
Sosok itu menampilkan senyumnya.
Aku sangat tidak menyangka bahwa dia akan berada di sini.
^^^I Become Wife of the Atrociouse Duke^^^
^^^06 Desember 2020^^^