The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 11 : Sayatan



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


"Aku menyuruhmu untuk menculik Cassandra, bukannya malah melukai Arlen!" teriak wanita bersurai pirang dengan netra hijau berkilau nya penuh kekesalan seraya membelakangi pria yang berada di hadapannya.


"Anak buahku tak bisa menculiknya, Sayang. Arlen kesayanganmu itu mati-matian melindungi wanita itu sehingga anak buahku tak bisa mendekatinya," ujar pria itu sambil mengelus lengan wanita yang di sayangi nya itu berusaha menenangkannya.


"Tapi seharusnya anak buahmu itu tidak perlu melukai Arlen sampai separah itu!" balas wanita itu tetap tak mau kalah. "Yang aku inginkan adalah cuma membuat Cassandra jauh dari Arlen, bukannya malah membuat Arlen terluka!"


"Sebenarnya, setelah Arlen tak berdaya, masih ada dua anak buahku yang lolos," ucap pria itu tampak berpikir-pikir.


"Lalu kenapa mereka tidak langsung menculik Cassandra?!" teriak wanita itu masih tersulut emosi.


"Dengarkan dulu penjelasanku. Jadi, salah satu dari mereka telah berniat menyerang Cassandra, tapi malah berakhir dengan terluka."


Wanita itu menampilkan raut terkejut di wajahnya. "Terluka? Bagaimana itu bisa terjadi? Apa ada orang lain yang diam-diam melindungi wanita itu?" terka nya.


Pria itu menggelengkan kepala. "Bukan, yang melukai anak buahku bukanlah orang lain, tapi melainkan Cassandra sendiri yang membuatnya terluka."


Wanita itu masih setia dengan keterkejutannya. "Tidak mungkin wanita lemah itu bisa melukai orang lain. Cassandra itu wanita yang bodoh dan lemah, jadi itu semua mustahil!"


"Anak buahku tidak mungkin berbohong, Sayang. Awalnya pun aku juga terkejut, tapi memang itu lah kenyataannya."


Wanita itu menggigit kuku jarinya yang panjang tampak berpikir-pikir. Ia masih tidak percaya bahwa Cassandra yang ia ketahui lemah itu bisa melukai orang lain.


Ini semua mustahil! Tidak mungkin hanya karena kehilangan ingatan, wanita itu tiba-tiba menjadi wanita yang kuat!


Dan juga, bukannya wanita itu baru saja jatuh ke jurang yang lumayan dalam, lalu bagaimana wanita itu bisa selamat?


Pertanyaan itu, sudah ada sejak awal di pikirannya ketika dia mendengar bahwa Cassandra selamat.


Pria bersurai hitam itu tampak menghela nafas melihat wanita yang ia sayangi masih keras kepala. "Sudahlah, Sayang. Untuk apa kau masih mempertahankan pria itu, bukankah dia selama ini tidak pernah memperdulikanmu?"


Wanita itu hanya diam, membuat pria itu kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku bisa memberikan segalanya padamu. Tahta, berlian, pakaian yang bagus, cinta, posisi yang layak, aku akan memberikan apa pun padamu."


"Jadi, berhentilah untuk terus mengharapkan pria itu, cobalah untuk mencintaiku. Dia bahkan belum menyentuhmu sama sekali bukan sejak kalian menikah empat tahun lalu?" lanjutnya.


"Dia tidak akan pernah melirikmu. Karena hatinya hanya dia berikan untuk Cassandra. Tidak akan ada ruang di hatinya untukmu, Anastasia."


Papar pria itu panjang lebar membuat wanita pirang ini langsung menundukkan kepala, emosi nya kembali memuncak karena semua kalimat yang di lontarkan pria itu seluruhnya benar. "Diam! Kau tak akan mengerti, apa yang kurasakan... di saat wanita jal*ng itu merebutnya dariku...!"


"Di saat dia tidak berbuat apa-apa, tapi dia bisa mendapatkan cinta dari Arlen. Sedangkan aku?! Aku yang berusaha mati-matian tetap tidak bisa mendapat cinta Arlen sedikit pun!" pekiknya mengeluarkan seluruh kekesalan yang terus tumbuh di hatinya.


Wanita itu kembali mengepalkan kedua telapak tangannya, pria yang di hadapannya langsung membekapnya erat lalu mengecup bibirnya mesra.


Tak lama, kini sang pria menjauhkan wajahnya dari wajah cantik bak boneka wanita itu, lalu menatapnya dalam. "Lupakanlah dia untuk sementara ini. Cukup pikirkan aku saja."


Lalu pria itu kembali mengecup bibir milik sang wanita nya. Kali ini cukup terburu-buru dan kasar karena gairah telah menguasai seluruh tubuhnya untuk memiliki sang wanita.


Ranjang yang berada di dekat mereka menjadi tujuan untuk menyalurkan gairah dari mereka yang tak dapat di tahan.


Hingga akhirnya mereka melakukan hal yang tabu untuk di lakukan sebelum mereka sah menjadi suami istri.


"Cepat buka pintunya!" ujar Arlen sedikit membentak pada pelayan yang kebetulan berada di depan pintu kamar Cassandra.


Dengan langkah terburu-buru ia pun membaringkan Cassandra yang awalnya berada dalam gendongannya ke ranjang wanita itu secara perlahan-lahan.


Ia kemudian memandang wajah wanita itu yang masih di guyuri dengan keringat seraya dengan alisnya yang berkerut.


Rasa panas menjalar di telapak tangannya di kala ia menyentuh dahi wanita itu,


Arlen pun bertanya pada Elise yang sudah berada di sampingnya mengkhawatirkan Cassandra. "Sebenarnya apa yang terjadi padanya?"


"S-saya tidak tahu, Tuan. Nyonya tidak mengatakan apa pun tentang kondisinya pada saya," jawab Elise membuat Arlen mendengus kesal.


Sebenarnya apa yang membuat kondisi wanita itu sampai seperti ini?


Elise tampak mengingat-ingat kelakuan aneh Cassandra sejak tadi malam. "T-tuan, saya merasa bahwa Nyonya Cassandra telah bersikap aneh sejak tadi malam," ujar Elise dan Arlen langsung menatap wanita itu dengan alis yang terangkat.


"Bertingkah aneh? Apa maksudmu?"


"Saat saya ingin membantu Nyonya berpakaian, Nyonya selalu menolak. Saat saya menanyakan kondisinya, Nyonya selalu berkata bahwa dirinya baik-baik saja dengan wajah yang seperti menahan sesuatu. Dan, saya merasa bahwa Nyonya selalu memegangi punggungnya," ungkap Elise.


Arlen tampak berpikir. "Punggung dan demam?" gumamnya.


Tak lama saat itu, ia langsung menyadari sesuatu. Ia langsung membuat posisi wanita itu yang awalnya terbaring menjadi duduk, kemudian menarik resleting gaun wanita itu hingga punggungnya terpampang jelas.


Baik Arlen maupun Elise sama-sama terkejut. Elise menutup mulutnya tak percaya. "Astaga! Bagaimana Nyonya bisa mendapatkan luka sebesar itu?!" teriaknya histeris.


Netra biru Arlen menyalang ketika melihat luka sayatan yang lebar terpatri di punggung wanita itu yang di hiasi dengan banyak bekas luka yang belum kunjung menghilang.


"Apa yang kau tunggu?! Cepat ambilkan aku obat!" hardiknya. Dengan segera, Elise langsung mematuhinya dan pergi untuk mengambil obat.


Wajah tampannya kini berubah dengan tampang yang tak tertebak, tapi siapa saja yang melihatnya, pasti akan ketakutan.


Pria itu berdecak kesal karena tak berhasil melindungi wanita yang berada di dekatnya. 


Bagaimana wanita itu bisa terluka? Bukankah dirinya sudah berhasil mengalahkan semua bandit-bandit itu?


Ternyata benar apa yang di katakan oleh wanita itu, diri nya tidak akan bisa mengalahkan semua bandit itu sendirian.


Dan dengan tidak tahu diri, ia sempat berpikiran untuk mendapat rasa terimakasih dari wanita itu.


Beberapa helai surai coklat tua wanita itu ia selipkan di belakang daun telinganya, lalu ia kembali memandangi wanita itu dalam.


Ia bertekad, siapa saja yang membuat wanitanya terluka, akan mendapat balasan yang berkali-kali lipat di bandingkan dengan rasa sakit yang di rasakan oleh wanitanya.


Tak ada yang boleh menyentuh wanitanya, kecuali dirinya sendiri.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^6 November 2020^^^