The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Special Episode 1 : Gadis yang Terkekang (1)



KARYA INI HANYALAH FIKSI. NAMA, TOKOH, TEMPAT, MERUPAKAN KHAYALAN SEMATA. HARAP BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Pyar!


Ah, berisik sekali.


Suara apa itu? Pagi-pagi buta seperti ini, apa aku tak bisa mendapat ketenangan untuk satu hari saja?


Terpaksa aku membuka kelopak mataku yang disambut oleh langit-langit kamar dengan desain membosankan.


Tidak ada keindahan di dalam kamarku. Hanya ruangan biasa yang dipenuhi oleh kehampaan.


Masih dengan baju tidurku yang kusut dan rambut acak-acakan, kulangkahkan kaki ke arah ruang kerja ayah yang merupakan tempat suara cangkir pecah tersebut terdengar.


Ketika telah sampai di depan pintu coklat tua yang tertutup, aku berniat mengetuk pintu.


"Permisi, Ayah. Apa semuanya baik-baik sa—"


"MANUSIA RENDAHAN TAK PUNYA HARGA! BAGAIMANA JIKA HAL MENJIJIKAN YANG KAU BAWA ITU MENGENAI PEKERJAANKU?!"


Pasti para pelayan dungu itu berulah lagi. Astaga, jika mereka memang tak bisa berbuat sesuatu dengan benar, kenapa mereka harus sok berusaha?


Membuatku lelah saja.


Jika begini aku tak akan bisa lanjut tidur. Yah, setidaknya aku akan membantu mereka.


Meskipun pelayan-pelayan itu tak bisa melakukan hal dengan benar, setidaknya mereka mempunyai keinginan untuk berubah.


Tidak seperti aku.


Gadis pesimis yang tak memiliki usaha untuk berubah.


Jadi setidaknya, aku bisa berbuat sesuatu yang berguna dalam hidupku untuk memberikan sedikit bantuan pada mereka.


"Permisi, Ayah," potongku mendorong pintu ruang kerja ayah dan menapaki kakiku dalam kubangan keheningan yang kental.


Terlihat ayahku yang memegang tongkat kayunya dan hendak memukul pelayan yang diteriakinya menggunakan benda tersebut.


Untung saja tongkat itu belum melayang ke kepala pelayan tersebut.


"Sepertinya aku mendengar ada keributan," ujarku mendekat dan menengahi ayah beserta pelayan itu.


"Apa kau tak bisa mendidik pelayan-pelayan sampah ini dengan benar?! Bukannya bergerak, kau malah sibuk berdiam diri di kamar!"


Itu karena ini baru jam enam pagi, tahu. Kau saja membuatku mengerjakan berkas-berkas sialan itu sampai jam tiga pagi, tua bangka.


"Maaf, Ayah," tundukku. "Aku akui ini memang murni kesalahanku dan kelalaianku. Oleh karena itu, aku memohon belas kasihan Ayah dalam hal ini."


Suasana hening sempat menyergap sejenak, tetapi setelah itu suara tamparan keras menggema di seluruh sudut ruangan.


Plak!!


Para pelayan lain yang berada di ruangan itu terkejut bukan main. Kelopak mata mereka semunya terangkat, dan mereka menutup mulut mereka karena keterkejutan yang tak dapat disembunyikan.


Tentu saja, karena korban dari tamparan itu adalah aku.


"Harus berapa kali aku memberikan kesempatan padamu untuk menjadi lebih baik? Berkas yang aku suruh kau untuk periksa kemarin masih banyak kesalahan di dalamnya. Pertunangan yang kurencanakan untukmu selalu gagal! Kau pikir selama ini aku tak berbelas kasihan padamu?!"


Tongkat kayu yang keras itu akhirnya mendarat juga di tulang keringku, membuat keseimbangan yang kupertahankan langsung terombang-ambing.


Tanpa kusadari, aku terjatuh ke belakang sehingga pangkal pahaku membentur lantai.


"Lady!" Para pelayan kini mengerubungiku membantuku untuk berlari. Namun, aku enggan menerima bantuan mereka.


Aku sudah berbaik hati membantu mereka, dan aku tak berniat menerima balasan apapun dari hal itu.


Kutepis tangan mereka yang hendak membantuku berdiri. "Kalian pergilah," sinisku.


"Tapi, Lady...!"


"Sudahlah, cepat. Sebelum kalian menyesalinya," hardikku jengkel karena mereka tak mengerti-mengerti.


Meskipun awalnya ragu, akhirnya mereka tergopoh-gopoh pergi keluar ruangan sehingga yang tersisa hanyalah aku dan ayah.


Hah ... kelihatannya, hariku akan dipenuhi dengan pelajaran dari ayah lagi.


🥀


Kutatap wajahku di cermin yang memantulkan refleksiku. Tanpa sadar, tanganku bergerak sendiri menyentuh wajahku yang memerah.


Bahkan setelah membasuh tubuh dan wajahku dengan waktu yang cukup lama, bekasnya tak menghilang.


Rasanya percuma saja aku melakukan perawatan jika wajah cantikku terus dinodai bekas menjijikan seperti ini.


"My Lady, apa benar Anda terkena pukulan dari Tuan Viscount karena melindungi pelayan baru di sini? Saya mendengar gosip itu sudah tersebar di kediaman ini," kata Reina di belakangku seraya merapikan rambutku.


"Yah, begitulah. Mereka memang bodoh, merepotkan, dan naif, karena mereka pikir usaha mereka akan membuat ayah senang," ucapku memutar bola mata.


Namun setelah itu, entah kenapa aku malah memikirkan niat dari tindakan mereka.


"Tapi, mereka tidak salah karena ingin berubah. Lagipula, kita juga tidak tahu kapan kesalahan akan mengunjungi kita, 'kan?" lanjutku.


Kini aku pun memasang kalung milikku yang awalnya tergeletak di atas meja rias. "Oleh karena itu, aku hanya ingin sedikit membantu mereka agar mereka bisa menjadi lebih baik dan menjadi apa yang mereka harapkan," ocehku panjang lebar.


Reina awalnya hanya diam seperti biasa mencermati cecaranku. Tapi tak lama dari itu, dia menjawab.


"My Lady, saya merasa sangat beruntung memiliki majikan seperti Anda," katanya.


Aku tergelak. "Beruntung? Kenapa kau harus beruntung mendapat majikan yang sering menghina orang lain dari belakang sepertiku?"


"Anda mungkin tidak menyadarinya. Tapi, My Lady. Anda adalah seorang nona yang sangat baik hati. Hati Anda seakan-akan merupakan serpihan dari hati malaikat."


Lagi-lagi aku tak bisa berhenti tertawa mendengarnya berkata hal yang berlebihan seperti itu. "Berhenti berbicara menjijikan seperti itu, Reina. Rasanya aku ingin muntah."


Reina hanya tersenyum manis sembari melanjutkan tugasnya. Lama-kelamaan, tawaku kian reda.


Pikiranku terus mengulang perkataannya barusan. Hatiku merupakan serpihan dari hati malaikat?


Malaikat maut lebih tepatnya.


Tentu aku sadar. Aku, bukanlah orang baik, tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang.


Aku tak pernah melakukan sesuatu dengan kerelaan. Aku selalu mengharapkan imbalan dari apa yang telah aku kerjakan.


Diriku tak pernah bisa menyuarakan isi pikiranku, diriku tak pernah bisa mengutarakan perasaanku. Diriku penuh dengan kepalsuan.


Benar, aku hanyalah orang munafik.


Maaf, Reina. Namun seluruh perkataanmu salah.


Alasan aku membantu mereka hanya karena aku ingin menjadi seperti mereka. Tetapi yang menjadi permasalahan, aku tak bisa melakukannya.


Seseorang yang optimis yang haus akan harapan. Seseorang yang berani berusaha untuk mengubah kehidupannya. Seseorang yang berani bertindak demi kebaikan dirinya sendiri tanpa dikekang maupun dikendalikan oleh orang lain.


Ingin sekali aku menjadi orang yang seperti itu.


Namun, semua itu hanya mimpi belaka. Ada satu hal yang tidak ada dalam diriku, namun ada di dalam diri orang lain.


Keberanian.


Sayangnya aku tak memiliki hal itu. Makanya selama aku hidup, aku tak pernah bahagia. Karena aku tak berani mengambil tindakan yang bisa membuatku bahagia.


Itulah mengapa.


Hal yang bisa kulakan hanyalah diam, melampiaskan perasaanku dengan cara yang salah, dan juga menjadi pengecut yang tak berani berubah.


"My Lady? Anda mendengar saya? Lady? Lady!" panggil Reina seketika membuatku tersadar dari lamunan.


"Apa, Reina?" tanyaku kini mulai berdiri menghampiri meja belajarku untuk mengerjakan berkas-berkas yang masih tersisa.


Penampilanku telah rapi, oleh karena itu aku harus mulai bekerja lagi.


"Apa Anda belum mendengar kabar dari Viscount?" Reina berbalik tanya.


"Kabar? Kabar tentang apa?" ujarku mulai mencelupkan ujung penaku dalam genangan tinta.


"Rencana pertunangan Anda."


Seketika aku langsung menoleh ke belakang dengan jantungku yang rasanya baru saja dipukul keras oleh keterkejutan.


"Apa maksudmu, Reina?" kataku mendelik ke pelayan di belakangku.


"Tuan Viscount menyatakan bahwa Anda akan ditunangkan dengan Earl Yersey. Rencananya, malam ini akan diadakan pesta pertunagan untuk Anda dan Earl tersebut."


Brak!!


Kugebrak mejaku dengan keras hingga sebotol tinta tumpah ke pangkuanku.


Ternyata, ayah sialan itu benar-benar keras kepala.


Aku berdiri dari tempatku, kemudian keluar kamar. Sebelum itu, kututup pintu kamarku dengan keras karena tak bisa menahan emosiku.


Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang akan meledak dalam dadaku.


🥀


"Aku mendengar gosip yang sudah beredar. Katanya Ayah merencanakan pertunangan antara aku dan Earl Yersey?" singgungku tak berani menatapnya.


Aku tak boleh mengatakan bahwa Reina yang memberitahuku. Jika memang aku tidak diberitahu sejak awal, maka Ayah memang berniat merahasiakan ini dariku.


Ayah terdiam sejenak seraya menghentikan pergerakan tangannya pada kertas yang ia tulis.


Ia masih enggan membuka mulutnya, sampai akhirnya dia meletakkan penanya dan dapat kurasakan dia menatapku tajam.


"Benar. Sebaiknya, kau bersiaplah malam ini untuk menghadiri pesta penyambutan Earl Yersey—"


"Tapi ini terlalu terburu-buru!" sergahku. "Para pelayan tidak mungkin bisa menyiapkan pesta penyambutan dalam sehari. Dan sudah kubilang berulang kali, aku ingin menikah dengan lelaki pilihanku."


"Sekarang kau sudah berani memotong perkataanku?" hardik ayah membuatku bungkam.


Ah, hanya karena gertakan seperti itu, diriku langsung terdiam tak berkutik.


Benar-benar tidak ada harapan.


"Ayah sudah mengetahui watakmu. Jika Ayah sudah bersusah payah mencari calon yang pas untukmu, dan ketika Ayah memberitahumu, kau selalu menolak," cecarnya dengan nada berat.


"Itu karena—" ujarku berusaha menjawab namun langsung disela.


Brak!!


"Berhentilah merengek! Ayah sudah muak denganmu. Kali ini, jangan pernah berpikir untuk melarikan diri lagi! Jika tidak, kau akan menanggung konsekuensinya."


Hah ... kenapa pula aku gemetaran?


Tanganku rasanya kesemutan, suaraku tercekat, kepalaku tak bisa kuangkat. Ternyata aku memang benar-benar pengecut.


Kupikir aku bisa mempunyai sedikit keberanian melalui amarah yang kurasakan. Kukira aku bisa mengutarakan perasaanku melalui keputusasaan yang melilit hatiku.


Tapi, alih-alih mengutarakan isi hatiku, aku justru semakin menguburnya dalam-dalam.


Membuat dadaku sesak seakan kelebihan muatan akan seluruh perasaan yang selalu kupendam.


"Aku tidak bisa menjamin," ucapku dengan pelan namun tetap bisa terdengar.


Terdengar getaran yang sangat kental dalam kalimatku, tanda akan perasaanku yang tertahan oleh ketakutan yang sudah menjadi jati diriku.


"Mungkin akan ada hal tak diinginkan terjadi malam ini, Ayah," lanjutku. "Kalau begitu, aku permisi."


Dalam perjalananku menuju kembali ke kamarku, entah kenapa airmataku terjatuh begitu saja.


Secara kasar aku menghapus air mata sia-sia ini. Awalnya aku kebingungan kenapa aku bereaksi seperti ini.


Kukira aku dilanda kesedihan dikarenakan tak bisa menjalani kehidupan penuh kebahagiaan.


Tapi akhirnya aku sadar.


Ini bukanlah air mata kesedihan.


Ini adalah air mata penuh kekecewaan. Aku kecewa ... karena diriku tak cukup berani untuk meraih keinginanku.


🥀


"Sudah selesai, My Lady."


Seusai Reina membantuku mempersiapkan diri untuk hadir dalam pesta pertunanganku, kutatap wajahku yang sama sekali tak bahagia.


"Kalau begitu, saya undur diri ingin membantu pelayan lain, My Lady. Jika Anda perlu hal lain, silahkan panggil saya," pamit Reina kemudian pergi.


Pelayan setiaku itu kini telah menghilang di ambang pintu. Yang tersisa hanyalah diriku seorang.


Rambut yang dikepang dan ditata rapi, aksesoris permata berwarna biru yang terletak pada tempatnya, dan juga gaun satin halus yang memiliki desain yang rumit namun indah.


Untuk apa semua ini?


Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dalam pikiranku. Kehampaan tak membantuku sama sekali untuk menghilangkan kekalutan di dalam benakku.


Angin menelusup masuk melalui jendela kamarku yang berlapis gorden terbuka. Kini aku berjalan ke arah balkon kamarku.


Sudah banyak tamu berdatangan. Tentu hal itu membuatku semakin gelisah.


Apa aku harus melarikan diri saja sekarang untuk menghindari pertunangan sialan ini?


Namun jika itu kulakukan, langkah apa yang akan kuterapkan selanjutnya?


Aku tak memiliki apapun. Aku benci mengakuinya. Tapi aku akui, semua harta yang selama ini cukup kunikmati adalah milik ayahku.


Jika aku melarikan diri begitu saja, maka bagaimana kelangsungan hidupku selanjutnya?


Ah, daripada memikirkan ini terus, lebih aku segera beranjak.


Tidak perlu banyak bicara lagi. Ayo kita pergi menghadiri pesta merepotkan dan tak berguna ini.


🥀


Pada saat aku menuruni tangga satu persatu, pada saat itu jugalah semua mata terkunci padaku.


Ada yang menatapku dengan biasa saja, ada yang berbisik-bisik seraya melayangkan tatapan dengki, dan tak sedikit yang melayangkan binar mata kagum terhadapku.


Siapa peduli dengan semua itu. Yang aku inginkan cuma satu, yaitu agar tunangan ku itu mengalami kecelakaan dalam perjalanannya kemari sehingga pertunangan ini dibatalkan.


Tapi, harapan itu pupus dalam sekejap mata ketika seorang lelaki dengan tampang menjengkelkan berjalan ke arahku.


Ia menunduk kemudian meraih dan mencium punggung tanganku.


Kata 'narsis' seakan menjadi pakaian yang membalut lelaki di hadapanku ini.


Gelagatnya seperti raja yang congkak dan tolol, tampangnya seperti baru saja diberi perawatan alami yang gagal, dan caranya tersenyum persis seperti lumba-lumba.


Sontak aku menarik tanganku dengan cepat dari genggaman berkeringatnya.


"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Lady. Parasmu seperti bunga, yang siap dipetik olehku," ujarnya menggelikan.


Dia ini sinting, ya?


Dia pikir aku akan terpesona kemudian tergila-gila padanya ketika dia mengatakan hal yang menjijikan seperti itu?


"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Earl Yersey," sapaku datar lalu menunduk sejenak dengan enggan.


Andai saja ayah tidak mengawasiku seperti sekarang, aku sudah pasti pergi dari hadapan lelaki tak jelas ini.


"Kalau begitu Lady, bagaimana jika kita berdansa? Dengan begitu, kita juga bisa saling membagi cinta dan mengenal satu sama lain lebih dalam."


Errgh!


Aku hanya mengulas senyum tipis terpaksa.


Tangannya kini meraih pinggangku, dan kami mulai berdansa.


Musik mengalun dengan lembut dan ceria, namun tidak dengan suasana hatiku.


Semakin lama, Earl Yersey ini semakin aneh dan mengerikan. Dia tak bisa berhenti tersenyum miring sehingga sisa makanan yang menyangkut di giginya terpampang jelas.


Saat dia berbisik dan mengucapkan kata-kata menggelikan, aku ingin muntah karena bau napasnya.


Maka dari itu, aku menginjak kakinya agar bajingan ini bisa berhenti bicara untuk sejenak.


"Argh!" erangnya kesakitan ketika tumit sepatuku memijak jari-jari kakinya.


"Ah, betapa lalainya aku! Maafkan saya, My Lord. Itu tadi murni ketidaksengajaanku," seruku.


Aku kira dia mungkin akan menyerah untuk berdansa denganku, tapi dalam suatu pergerakan cepat dia segera meraih pinggangku dan tangannya mulai merambat naik ke tubuh bagian atasku.


Sontak aku menepis tangannya dan melepaskan tubuhku darinya. Dengan segera aku beralasan.


"Maafkan saya, My Lord. Tapi, entah kenapa perut saya mendadak sakit. Untuk itu, saya perlu ke kamar mandi sejenak," bohongku berusaha menutupi kekesalanku dengan senyum paksa.


Bajingan ini lagi-lagi tersenyum miring. "Baiklah, Lady. Jika itu maumu," jawabnya.


"Kalau begitu, saya permisi, My Lord."


Secara cepat aku menunduk dan berjalan laju menjauh dari lelaki itu.


Pria tua bangka itu benar-benar gila. Bagaimana bisa dia kepikiran untuk menikahkanku dengan lelaki bejad seperti tadi?


Karena aku ingin menjernihkan pikiranku, aku segera pergi ke kamarku dan meninggalkan pesta menyesakkan ini tanpa menoleh ke belakang lagi.


Pada saat aku telah sampai di depan pintu kamarku, aku hendak membukanya. Tapi sebelum itu, sebuah suara mengagetkanku dan membuatku gemetar.


"Ternyata Anda bukan orang yang suka berbasa-basi, My Lady."


Earl Yersey. Sejak kapan bajingan ini mengikutiku?!


Mendadak rasa panik menyerangku, hawa di sekitar menjadi sangat tidak enak.


Terlebih lagi senyum mengerikan lelaki itu yang membuatku merasa ngeri.


"Kalau begitu, Lady. Ayo kita bersenang-senang di kamarmu."


🥀


Tidak ada jalan keluar.


Kamarku terletak di ujung lorong sehingga hanya ada jalan buntu di samping kananku.


Sedangkan di samping kiri, yang merupakan satu-satunya jalan keluar, telah dihalangi oleh bajingan mesum ini.


Karena itu, jalan keluar lain yang terpikirkan olehku hanyalah satu.


Segera aku membuka pintu kamarku dan menguncinya. Aku hendak menarik meja riasku untuk menahan pintu itu.


Namun, belum sempat meja rias ini sampai, pintu kamarku telah didobrak dengan keras sehingga terbuka lebar.


Sontak aku memundurkan langkah, menjaga jarak sejauh yang aku bisa ketika dia mulai berjalan mendekat.


Earl Jersey itu membentangkan tangannya. "Anda cukup agresif juga, ya, Lady. Langsung membawa saya ke kamar Anda, sungguh saya tak menyangka bahwa Anda tipe wanita seperti ini."


Aku terus melangkah mundur, sedangkan dia terus maju menyudutkanku.


Kini tulang pinggangku bagian belakangku telah menyentuh pagar balkon kamarku.


Angin berhembus kencang membuat bulu kudukku berdiri tegak. Tidak hanya karena dingin yang menyerangku, namun juga ketakutan.


"Ayo cepat masuk, Lady. Di luar dingin, mari kita menghangatkan diri kita di atas ranjangmu yang empuk," ujarnya.


Pikiranku kalut. Bagaimana caranya aku keluar dari situasi ini? Bagaimana caranya aku bisa melewati bajingan ini dan lari dari hadapannya?


Aku sudah tersudut, tak ada lagi jalan keluar—


Seketika aku sadar akan sesuatu. Tidak, masih ada jalan keluar yang tersisa. Untuk melakukan itu, aku bahkan tak perlu memikirkan rencana yang rumit.


Saat tubuhnya mendekat dengan tangannya yang hendak menggapaiku, pada saat itu juga aku tak berpikir panjang lagi.


Kunaikkan kedua kakiku secara bergantian ke atas pagar balkonku. Tanpa berlama-lama lagi, segera kuempaskan tubuhku ke udara dari lantai tiga.


Gravitasi langsung menarikku menuju pusat bumi dengan cepat, sehingga suara bangsawan menjijikan itu yang tengah memanggilku terdengar sangat samar.


Tubuhku yang awalnya dalam posisi telungkup, kini kuubah menjadi terlentang.


Setidaknya ketika aku mati, aku tak ingin wajah cantikku yang telah kurawat dengan sepenuh hati hancur tak berbentuk ketika menghantam tanah.


Jika posisiku terlentang, maka kepala bagian belakangku akan terhantam duluan sehingga aku bisa mati dalam sekejap.


Dengan begitu, rasa sakit yang akan kurasakan nantinya tak akan berlangsung lama ketika nyawaku langsung meregang.


Ketika mataku menangkap perawakan bulan yang bersinar terang untuk terakhir kalinya, pada saat itu juga aku telah menyerah akan hidupku dan bersiap akan rasa sakit yang akan menghancurkan tubuhku.


Namun, ternyata dugaanku salah.


Alih-alih merasakan tulangku hancur berhamburan, aku justru merasakan genggaman tangan yang kuat mencegahku dari kematian.


Nyawaku telah terselamatkan oleh kedua genggaman tangan yang hangat.


Mataku terbeliak sempurna, ketika mendapati tubuhku dalam gendongan seorang lelaki yang sangat asing bagiku.


Kumiringkan kepalaku untuk melihat perawakannya.


Detik itu juga, tatapan mata biru langit cerah yang tertuju tepat ke jiwaku menarikku dari kekacauan yang terjadi di pikiranku.


Ah, ribuan helai pirang yang terlihat sangat halus itu, betapa aku ingin menyentuhnya dan merasakannya di sela-sela jariku.


"Lady, apa ... Anda baru saja jatuh dari atas sana?"


Kini ia mendongak melihat dari mana asalku. Sungguh disayangkan, pandangan itu tak lagi mengarah padaku.


Pada akhirnya, bibirku tak bergerak sama sekali untuk menjawab pertanyaannya.


Kesadaranku dikuasai penuh oleh kekagumanku akan kehadirannya.


Sungguh mahluk yang rupawan.


"Karena Anda sepertinya tak bisa menjawab pertanyaan saya, maka bisakah setidaknya Anda memberitahukan nama Anda, My Lady?" tanyanya dengan halus.


Masih dalam posisi yang sama, kami sama sekali tak menggerakkan tubuh kami.


Mungkin ... karena aku tak pernah bertemu dengan lelaki yang semenarik dirinya, maka dari itu aku tak bisa mengendalikan pikiranku sendiri.


Tanpa kusadari, beberapa patah terlempar begitu saja dari bibirku yang awalnya terkatup rapat.


"Cassandra ... la Devoline."


...25.04.2022...