
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
Setelah beberapa hari sejak telapak tanganku mendarat mulus di wajahnya, kami tak pernah lagi berbicara walaupun kami tinggal dalam satu atap yang sama.
Namun, tamparan itu ternyata ada manfaatnya juga. Pria kejam itu pun tak jadi memenggal pak kusir yang malang itu. Dia hanya memecat pak kusir itu dan menyuruhnya jangan pernah menampakkan wajahnya di hadapan pria itu.
Setidaknya hal itu lebih baik daripada pria itu membunuh pak tua itu, bukan?
Rasa sedikit perih sekaligus dingin dapat kurasakan di luka punggungku yang tengah di oleskan salep oleh Elise.
Hah... kenapa aku tak henti-hentinya mendapat luka semenjak aku hadir di sini?
"Saya selalu penasaran, Nyonya. Bagaimana anda bisa mendapatkan luka sayatan sebesar ini?" tanya Elise sambil fokus mengobati punggungku.
Aku pun menatap datar ke arah depanku, sambil mengingat-ingat kembali bagaimana aku bisa mendapat luka ini.
Flashback
Kepala yang di tumbuhi surai pirangnya ku letakkan di atas pangkuanku. Alis yang berkerut, nafas yang tidak beraturan, dan bercak cipratan darah menghiasi wajah tampan mulusnya.
Keringat sudah pasti membanjiri pelipisnya, bahkan surai nya pun ikut basah karena peluh nya.
Iris biru langit yang sangat aku sukai, kini tidak terlihat karena kelopak mata yang di percantik dengan helai bulu mata yang panjang dan lentik menutupi dan menyembunyikannya.
Tak lama dari aku yang sibuk menatap wajahnya, kini mata ku langsung membelalak di sertai dengan ringisan yang tak dapat aku tahan keluar dari bibirku.
Secara perlahan, aku pun memutar kepalaku melihat siapa yang telah menciptakan rasa perih yang menjalar di punggungku.
Ada seseorang yang tubuhnya di balut jubah dan wajahnya yang di balut masker menyayat kulit beserta pakaianku hingga terbuka.
Apa dia adalah bandit yang belum sempat Arlen bunuh? Kalau begitu aku harus bagaimana sekarang? Aku tak bisa melindungi diriku sendiri di saat dia mempunyai pedang di genggamannya.
Tunggu, pedang?
Iris dan pupil coklat ku melirik sejenak ke arah belakangku. Bukankah pedang dari pemilik yang tak berdaya ini masih bisa di gunakan?
"Kau ikut dengan kami," ujar bandit itu sambil menodongkan ujung pedangnya di bawah dagu ku yang kudongakkan.
Awalnya aku ragu dan tidak yakin untuk melakukan hal ini, tapi aku terpaksa melakukannya. Ku raih pedang yang berlumuran darah di belakang ku dengan perlahan, setelah itu langsung menangkis pedangnya yang berada tepat di depan leherku.
Aku pun bangkit sambil menodongkan pedang yang kugenggam dengan dua tangan di hadapanku.
Kutarik nafasku dan kuhembuskan perlahan-lahan sambil menetralkan jantungku yang berdegup kencang.
Tenanglah Cassandra... kau pasti bisa melakukannya. Kau dulu pernah syuting adegan berpedang seperti ini, kan? Oleh karena itu anggaplah kalau ini hanyalah syuting semata. Tapi, jangan sampai kau terkena pedangnya.
Ucapku menyemangati diriku sendiri. Tak lama, bandit itu pun kembali bersiap untuk menyerangku.
Dan saat dia berusaha melayangkan pedangnya untuk menyerang dan melukai ku, aku mati-matian berusaha menahannya.
Namun tentu saja itu tidak bisa bertahan dengan lama, tenagaku pun terbatas. Tangan dan tubuhku kelelahan, dan itu pun membuatku lengah sehingga ujung pedang bandit itu menusuk lengan kiri ku.
Pedang yang ada di genggaman ku terlepas dan kaki ku pun tertekuk sembari telapak tanganku yang memegang luka ku.
"Ssh...." rintih ku dengan genangan airmata yang mulai mengalir dari pelupuk mataku.
Sakit... ini sangat sakit.... Aku tak kuasa menahan tangisku, bandit itu pun kemudian tersenyum menang di wajahnya yang meremehkanku.
Dia memasukkan pedangnya ke dalam sampul pedangnya, lalu tangannya berusaha meraih dan menarikku untuk memaksa diriku mengikutinya.
Tak semudah itu, dasar orang ber IQ rendah!
Memang ini sangat sakit, tapi aku masih mempunyai sedikit tenaga di tubuhku. Di saat ia memasukkan pedangnya, di saat itu lah dia lengah.
Tampak dia terkejut dengan aksiku, dia pun menatap perutnya kemudian ia ambruk dengan pedang yang masih tertancap di tubuhnya.
Saat itu juga aku langsung kehilangan tenaga ku. Seluruh tubuhku lemas, rasa lega dan rasa takut menghampiri ku.
Bola mataku yang membelalak, melihat seonggok daging tak bernyawa tepat di hadapanku.
Awalnya memang aku berniat membunuhnya, dan aku pun tak merasa seperti ini awalnya. Tapi tak ku sangka raga ku malah bereaksi seperti ini, rasa bersalah menggerogoti hati ku.
Aku lega karena aku berhasil menyelamatkan diri ku. Dan aku takut terhadap diriku sendiri, karena aku baru saja melayangkan nyawa seseorang.
Dengan kedua tanganku sendiri.
Flashback off
Ku pandang kedua tanganku yang pernah melayangkan satu nyawa. Aku masih mengingat semua kejadian itu dengan jelas di memori ingatanku. Dan aku tak akan pernah bisa menghapus kejadian itu di ingatanku.
Luka di punggungku kemarin tak dapat di lihat orang, karena saat malam itu rambutku yang panjangnya melebihi pinggang menutupi luka ku.
Tanpa ku sadari, ternyata Elise tengah memanggilku dari tadi.
"Nyonya!"
"Ah, ya? Ada apa?" tanyaku terbuyar dari lamunanku.
"Justru saya yang harus bertanya seperti itu. Ada apa, Nyonya? Apa anda masih merasa tidak enak badan?" Elise berbalik tanya.
"Tentu saja aku baik-baik saja," kilah ku dengan nada seolah tak terjadi apa-apa.
"Apa anda tak ingin menjawab pertanyaan saya, Nyonya?"
Aku menaikkan sebelah alisku. "Pertanyaan apa?"
"Haish, padahal anda lebih muda dari saya, tapi anda sudah pikun."
"Hei, aku tidak pikun! Aku hanya sedikit tidak ingat, itu saja. Hehe," cengir ku pada Elise. "Jadi apa pertanyaanmu tadi?"
Elise hanya menghembuskan nafas pelan. "Saya bertanya, bagaimana anda bisa mendapat luka sayatan sebesar ini, Nyonya."
Sebenarnya aku tidak terlalu suka mengumbar privasi ku, jadi aku hanya menjawab. "Entahlah, aku tak ingat."
"Ya ampun, anda selalu lupa akan semuanya. Apa nanti Nyonya akan melupakan saya?" rajuk Elise dengan wajah cemberutnya. Aku terkekeh geli melihatnya.
"Ayolah, tidak mungkin aku akan melupakanmu. Karena kau adalah pelayan terbaik ku selamanyaaa," ujarku manja sambil memeluknya.
Elise pun tersenyum lembut padaku sambil membalas dekapanku. Hangat, walaupun aku tak pernah merasakan dekapan dari seorang ibu, tapi entah kenapa aku bisa tahu rasanya di saat Elise mendekapku.
Ya, karena aku adalah anak yatim piatu, aku tak pernah merasakan pelukan dari seorang ibu maupun ayah.
Tak lama dari acara berpelukan kami, kini terdengar suara ketukan di pintu kamarku.
"Masuk!" ujarku sedikit keras, dan pintu pun terbuka menampilkan seorang pelayan.
"Nyonya, anda di perintahkan untuk makan malam bersama Tuan dan Nyonya Anastasia," ucapnya menyampaikan pesan untukku.
Aku mengernyit bingung, makan malam bersama?
Tidak biasanya.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^9 November 2020^^^