
KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.
"Kau sudah memastikan kalau dia tidak membocorkan semuanya, kan?"
"Ya, Tuan. Anda masih aman untuk sekarang. Tapi Tuan, sepertinya anda harus lebih waspada. Karena Duke Arlen bukanlah lawan yang mudah,"
Pria yang mempunyai kedudukan sebagai Pangeran itu berdecak pelan. "Sebelum kau ingatkan, aku pun sudah mengetahui hal itu."
Ia lalu mondar-mandir untuk memikirkan rencana selanjutnya, karena waktu sudah semakin mendesaknya.
"Kau teruslah awasi dia, untuk sekarang usahakan lah untuk tidak meninggalkan jejak apa pun," titahnya.
"Baik, Tuan."
Pria itu mendaratkan pangkal paha nya di kursi yang ada di ruang kerjanya.
Sambil menyilangkan kedua kaki nya, ia kembali berpikir untuk menjalankan rencana yang telah ia susun matang-matang secara hati-hati.
Sebenarnya dirinya ingin sekali membunuh Duke yang menghalangi segala rencana nya. Tapi jika dia melakukan hal itu, sudah pasti wanita yang ia cintai akan marah dengannya.
Ia tak bisa melakukan hal itu, karena dirinya sangat mencintai wanita bersurai pirang itu lebih dari apa pun.
Dan, dia ingin wanita itu kelak menjadi ratu yang selalu mendampinginya sebagai raja yang mempunyai kewajiban untuk memimpin sebuah kerajaan yang akan berada di dalam genggamannya dan berada di bawah kendali nya.
Kekuasaan, harta, kekuatan, ia sangat menginginkan hal itu semua sejak lama.
Pria itu rela melakukan apa pun, termasuk harus membunuh dan menyingkirkan semua orang yang akan menghalangi rencananya.
...š„...
"Cih, dasar b*bi lemah yang bodoh," decih Arlen.
Netra biru langitnya pun tertuju pada sesuatu yang aneh tertempel di bagian lengan pria yang tak bernyawa itu.
Ia kemudian mendekati dan mengamati sesuatu yang aneh itu secara cermat.
Semacam logo tertempel di atas permukaan kulit itu.
"Charles, mendekatlah," perintahnya lalu kepala pelayan itu pun mendekatinya.
Charles sedikit membelalakkan kedua bola matanya. "Bukankah lambang ini juga ada di tubuh bandit yang sempat kita tangkap kemarin, Tuan?"
"Ya, kau benar, sepertinya ini adalah lambang yang di buat oleh Tuan mereka," terka Arlen.
"Kalau begitu, apa berarti semua kejadian ini merupakan ulah dari dalang yang sama, Tuan?"
"Sepertinya," ucap Arlen singkat. "Bahasa apa ini?" tanyanya sambil fokus mencermati lambang itu.
Charles tampak ber pikir-pikir sambil mengelus janggut nya yang lumayan panjang.
"Seperti bahasa Yunani, mungkin?"
Arlen menaikkan sebelas alisnya, "Yunani? Lalu apa artinya?"
"Entahlah, Tuan. Saya tidak terlalu tahu,"Ā jawab Charles membuat Arlen menghembuskan nafas.
"Kalau begitu kau ambilkan aku kertas dan pena, aku akan menggambar tulisannya, mungkin ini akan berguna untuk kita," titahnya, dan Charles pun pergi untuk mengambilkan apa yang di pinta oleh Tuannya tersebut.
Tak lama dari itu, kini Charles pun kembali, tetapi raut wajahnya terlihat sedikit berbeda.
Arlen menyadari hal itu, "Ada apa?"
"Anu... Tuan, Elise bilang pada saya bahwa Nyonya Cassandra tetap tidak mau memakan makanannya, apa anda mau menemuinya?"
Arlen kembali menghela nafas, ia lupa bahwa ia juga memiliki masalah lain sekarang.
"Kau bereskanlah semua ini, aku akan pergi menemuinya."
"Baik, Tuan."
Selepas Arlen pergi, Charles pun juga ikut-ikutan mengela nafas.
Entah kenapa dirinya selalu mendapat pekerjaan untuk membersihkan hal-hal seperti ini.
Tapi jika Tuannya itu telah menghilang dari sisinya, barulah dirinya langsung kalang kabut.
Saat dia menarik mayat itu, dia selalu mengingat bayang-bayang istri tercinta nya yang tersenyum sebagai penangkal rasa takutnya.
"Oh, istriku yang sangat kucintai! Beranikanlah suami mu tersayang mu ini!" batinnya dramatis.
...š„...
"Nyonya, cobalah makan sedikit saja," bujuk Elise, tapi majikan yang berada di hadapannya itu sama sekali tidak menggubrisnya.
Tubuh wanita itu semakin mengurus, bahkan bibirnya pun semakin memucat.
Pandangan matanya tetap sama, kosong.
Elise, wanita berumur ini sangat khawatir dengan keadaan majikannya ini.
Rasa kasihan pun mengganjal di hatinya, sehingga membuat ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah terjadi pada majikannya satu ini.
"Apa dia masih tidak mau makan?" tanya seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di pintu kamar Cassandra.
Elise menggeleng dengan wajahnya yang tampak murung.
"Berikan padaku," ujar Arlen meminta semangkuk bubur yang berada di tangan Elise.
Elise pun mengelus pundak Cassandra. Beruntungnya wanita itu tidak terlalu ketakutan seperti kemarin.
"Makanlah," ucap Arlen dengan nada datar, tidak seperti Elise yang bernada lembut sambil berusaha membujuk.
Cassandra bergeming, tidak ada reaksi sama sekali yang di tunjukkan oleh wanita itu.
"Makanlah, jika tidak makan kau akan bernasib seperti kemarin," ancam pria itu dan sontak Cassandra bergemetaran.
"Tuan! Apa yang anda lakukan?! Kenapa anda mengancam Nyonya seperti itu?!" protes Elise sontak langsung berdiri dan berkacak pinggang.
"Tentu saja aku berusaha membuatnya makan, apalagi selain itu?" jawabnya dengan raut tanpa dosa membuat Elise tak habis pikir.
"Tuan, anda sekarang tengah berusaha membujuk seorang wanita yang terkena trauma, bukan mengancam seorang tawanan!"
Omel Elise seperti ibu-ibu yang tengah memarahi anak laki-laki yang baru saja melakukan sesuatu yang tidak baik.
"Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Arlen lugu membuat Elise gemas.
"Tentu saja dengan membujuknya, bukan dengan mengancamnya, Tuan!"
Arlen berdecak kesal, mana ia tahu bagaimana cara membujuk orang, karena tugas dia selalu mengancam orang.
"Aku tahu kau trauma, tapi apa gunanya dengan kau bersikap seperti ini?"
"Tuan--" Belum sempat Elise menyelesaikan kalimatnya, Arlen mengadahkan tangannya menyuruh wanita itu diam.
"Dengan bersikap seperti ini, kau justru menunjukkan bahwa kau adalah orang lemah, kau bahkan tak bisa mengalahkan rasa takut mu sendiri," tutur Arlen, tapi Cassandra masih bergeming.
"Kau tak hanya menunjukkan bahwa kau lemah, kau juga hanya bisa membuat orang-orang di sekitarmu khawatir padamu dan menjadi beban bagi mereka."
"Bukankah kau dulu yang mengajari ku untuk selalu melawan rasa takutku? Tapi lihatlah dirimu sekarang. Kau seperti pengecut yang hanya bisa membual,"
Arlen melirik wanita itu yang ternyata sudah melirik nya terlebih dahulu.
Senyum remeh terlukis di sudut bibirnya, "Akhirnya kau menatapku."
"Tunjukkanlah padanya yang selalu menghantuimu, bahwa kau kuat, kau bisa melawan nya, buktikan kalau kau dapat mengalahkannya. Dengan cara itu, maka dia tidak akan berani lagi untuk menghantuimu,"
"Percayalah pada dirimu sendiri, yakinlah pada dirimu sendiri. Kau bisa mengalahkannya."
Jiwa Cassandra bagaikan kembali ke tempat asalnya. Netranya kembali bercahaya. Dan tanpa sadar, wanita itu menitikkan airmatanya dari netra coklat gelapnya yang sempat kosong beberapa hari yang lalu.
Setiap kalimat yang terlontar dari bibir pria bersurai pirang itu sangat menusuk sekaligus terasa seperti sesuatu yang membawa jiwanya yang sempat hilangĀ kembali.
^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^
^^^14 November 2020^^^