The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Memetik Kebahagiaan (End)



Recomended Inst: River Flows in You


Previously....


Telunjuk jari kanan gadis itu terarah pada seorang lelaki yang tengah berdiri di ruangan itu membaur bersama bangsawan-bangsawan lain.


"Dia adalah... Count Frostend Beronald."


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter...


...(47)...


Cassandra membeku. Awalnya dia memang menaruh kecurigaan dan berusaha menjaga jarak dengan sahabatnya, namun tak disangka ternyata lelaki yang telah lama menjadi teman masa kecilnya masuk ke dalam rencana untuk menghancurkan dirinya.


Rahasia apalagi yang tidak ia ketahui tentang hidupnya sendiri?


Ingin sekali dia bangun dari mimpi buruk berkepanjangan ini. Namun mau bagaimana pun, dirinya telah terbangun. Dan semua ini adalah kenyataan pahit dari hidupnya.


Gadis itu hanya berharap semoga dunia ini dijauhi oleh manusia-manusia dengan wajah ganda. Karena manusia seperti itu mampu membuat dunia ini hancur cepat atau lambat.


Tampak raja Hamilton sangat murka. Telapak tangannya terkepal keras dengan matanya yang seakan tenggelam oleh kobaran api kemarahan.


Cukup lama suasana senyap dan tak ada sesuatu yang menghasilkan suara, sehingga akhirnya raja Hamilton berdiri dari singgasananya dan mengetuk tongkat yang membantunya berdiri ke lantai sehingga menimbulkan bunyi yang keras.


Para bangsawan-bangsawan kini berjejer rapi menunggu beberapa patah kata yang akan menjadi keputusan akhir sang raja dari segala kekacauan ini.


"Karena usaha pemberontakan dan tuduhan palsu yang hampir melayangkan satu nyawa tak berdosa. Aku sebagai pemimpin Kerajaan Erosphire, dengan ini menyatakan akan mengirim Putra Mahkota Kerajaan Erosphire, Pangeran Yari Erosphire ke penjara gelap yang terasingkan di negeri ini," ujar sang raja.


Semua orang tahu, bahwa dikirm ke penjara gelap yang berada di negeri mereka adalah suatu hukuman yang paling buruk.


Para tawanan di penjara itu hanya mendapat segelas air dan sepotong roti setiap harinya. Hidup di dalam kegelapan tanpa disentuh oleh cahaya matahari yang hangat.


Menghabiskan waktu dengan kesunyian yang menemani, dan menunggu kematian yang akan menjemput dan mengantar kita ke tempat yang semestinya kita tempati.


Daripada mengalami hal mengerikan tersebut, banyak tahanan yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya terlebih dahulu.


"Sebuah perencanaan jahat yang tak terampun dikarenakan motif yang tersembunyi, dan akibat sebuah bala bantuan yang dilayangkan untuk membantu seorang pengkhianat mencapai tujuannya. Aku dengan ini menyatakan bahwa Count Frostend Beronald akan segera dieksekusi di saat matahari telah mencapai pucuk kepala pada siang ini, dengan semua penduduk Erosphire yang menyaksikan hukuman yang pantas atas perbuatannya," papar raja Hamilton membuat semua orang berbisik.


Frost yang ada di kerumunan para bangsawan hanya menatap kosong. Lelaki itu seakan tak lagi mempunyai cahaya kehidupan.


Sebenarnya apa yang telah ia lakukan? Hanya karena sebuah dendam, dirinya kini harus meninggalkan tanah yang ia pijak lebih awal dari yang seharusnya karena sebuah hukuman.


Tak lama dari itu, Frost pun terduduk sembari tertawa getir sembari menjambak surainya yang berwarna coklat.


Lelaki itu merasa kasihan atas dirinya selama ini. Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan hidupnya yang berharga demi seorang gadis yang telah mempunyai pemilik?


Cassandra hampir saja meneteskan air matanya. Meskipun terdengar bodoh, namun siapa yang tidak merasa sesak ketika sahabat yang selama ini selalu tersenyum kepada dirinya telah dinyatakan untuk dibunuh pada siang hari?


Seluruh kenangan kini terekam kembali di ingatan gadis berhelai coklat itu. Kebahagiaan, canda tawa, dan tangisan yang ia lalui bersama sahabat masa kecilnya itu kini hancur seperti kepingan kaca yang retak.


Arlen yang berada jauh dari gadis itu hanya bisa menatap sendu sang kekasih yang tengah berusaha menahan tangisnya dikarenakan kenyataan pahit membentur.


Inikah akhirnya? Apa semua ini telah berakhir?


Entahlah. Takdir bukanlah hal yang manusia ketahui. Takdir... adalah rahasia dari pencipta dunia yang indah ini. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui kemana kompas kehidupan mengarah.


"Terakhir... karena ikut dalam perencanaan mengkhianati dan menghancurkan negeri, maka dengan ini aku menyatakan bahwa Putri Veronica Erosphire akan dicabut gelarnya dan diasingkan dari negeri ini," terang raja Hamilton membuat Veronica tersenyum getir.


Tentu saja, semua perbuatan keji yang telah ia lakukan tentu harus ada bayarannya. Dirinya tak pantas untuk membantah dan menolak.


"Namun karena keberaniannya mengungkap segala kejahatan yang telah ia buat, maka aku akan menempatkannya di menara barat agar bisa membuatnya merenungi segala perbuatan yang telah ia lakukan," lanjut raja Hamilton.


Veronica membelalakkan matanya sembari mendongak menatap ayahnya. Setelah semua perbuatan pengkhianatan yang telah ia buat, ayahnya masih memberi belas kasihan pada dirinya?


Apa ia pantas mendapatkan seluruh belas kasihan ini?


Raja Hamilton sempat menatap tegas putrinya, hingga tak lama dari itu ia pun kembali berkata. "Penjaga! Bawa seluruh pengkhianat ini untuk menerima konsekuensi dari seluruh perbuatan hina mereka!"


Para penjaga pun kini datang menyergap dan hendak menyeret nama-nama yang telah pemimpin negeri itu sebutkan. Ada yang memberontak, dan ada pula yang menerima secara pasrah, serta menerima dengan senang hati.


Pangeran Yari yang lengannya telah dicekal keras oleh penjaga di kedua sisinya, kini menatap tajam Countess yang berada tak jauh dari hadapannya.


Karena di luar kendali ketika mengetahui kematian dan penyiksaan telah di depan mata, lelaki itu pun pantas langsung melepaskan cekalan kedua penjaga di sisinya dan langsung berlari menuju Cassandra dengan sebuah belati yang ada di tangan kanannya hendak menghujam gadis itu.


"SIALAN KAU!!!"


Cassandra hanya bisa tekejut dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya karena tak sempat mengelak kemudian bersiap menerima sayatan dan hujaman yang mungkin belati itu ciptakan di kulitnya.


Tetapi, belum sempat ujung belati yang tajam itu menyentuhnya, sebuah sosok langsung melesat di hadapannya dan terdengarlah suara besi tajam yang beradu memekakkan telinga.


Ting!


Selang beberapa saat, gadis itu membuka kelopak matanya dan mendapati lelaki yang ia cintai berada di hadapannya sembari menahan serangan yang tertuju padanya.


Arlen memang menangkis serangan cepat dari pangeran Yari, namun tak dapat dipungkiri bahwa belati pangeran itu sempat mengiris kulit pipinya hingga meneteskan darah yang hampir terjatuh ke lantai.


"Jangan sentuh dia, bajingan."


Lelaki bersurai pirang itu kini langsung mengayunkan tangkisan yang ia layangkan dan langsung menjatuhkan belati pangeran Yari. Tak lama, ia pun langsung mengunci pergerakan pangeran Yari dengan seluruh tenaganya.


"Cepat tahan dia!" perintah Arlen.


Tak lama ada tiga penjaga yang berbondong-bondong mendekatinya dan langsung mengunci pergerakan pangeran Yari dan menyeret putra mahkota itu ke tempat seharusnya ia berada.


Secara cepat, lelaki beriris biru tersebut mendekati kekasihnya yang terduduk di lantai dan melepaskan jubah merahnya yang terjuntai dan mengelunginya di tubuh ramping sang gadis.


"Kau baik-baik saja?" tanya Arlen merangkul sembari membantu sang gadis berdiri.


"Ya, aku baik-baik saja." Cassandra tersenyum lemah kemudian menyenderkan kepalanya pada dada kekasihnya yang terbalut armor yang keras.


Arlen kemudian meraih lembut tangan gadisnya yang terdapat sayatan yang cukup dalam dan sudah pasti menyakitkan bagi gadis itu.


Pangeran Yari kini diseret paksa sembari menatap tajam sepasang kekasih yang mulai menjauh darinya. "Kalian pasti akan membayar untuk ini! Lihat saja! Aku tidak akan melepaskan kalian begitu mudah! Camkan itu!!" teriak pangeran itu tak terkendali.


Cassandra dan Arlen bertatapan sejenak, kemudian tercipta senyum diantaranya. Mereka berdua pun mengacungkan ibu jarinya pada pangeran Yari, namun tak lama dari itu langsung memutarbalikkan ibu jari mereka mengarah ke bawah.


"Aku sudah sangat lama ingin melakukan itu," kekeh Cassandra dengan pandangan mata tak lepas dari pangeran Yari yang mulai menghilang.


Arlen mengeratkan rangkulannya pada kekasih yang ada di sampingnya, kemudian mengecup dahi gadis bernetra coklat itu dengan penuh rasa cinta yang semakin bertumbuh di dalam dirinya.


"Ah... akhirnya semuanya telah berakhir, kah?" Cassandra menghela nafas panjang sembari tersenyum. Namun, selang beberapa detik air mata langsung terjun deras dari bola mata cantiknya.


"Akhirnya... hiks... semuanya benar-benar telah berakhir.... Aku... hiks... benar-benar merasa lega.... Syukurlah...."


Arlen mendekap erat sang gadis kemudian menenggelamkan wajahnya pada bahu gadis itu.


Dapat Cassandra rasakan bahwa bahunya kini terasa basah. Dia tahu maksud dari semua itu, sehingga gadis juga membalas dekapan erat yang hangat sekaligus membuat mereka merasa lega akan semuanya.


Para orang-orang di sekitar hanya bisa menatap sepasang kekasih itu yang seakan baru habis melakukan pengorbanan besar untuk memperjuangkan satu sama lain.


Lelaki beriris biru yang awalnya mendekap erat sang gadis, kini melepaskannya sembari menangkup wajah sang gadis dan dengan dalam mengusapnya penuh dengan perasaan.


Sedikit air jernih yang melapisi iris biru langit itu menempel di pelupuk matanya dan menyangkut di bulu mata lentiknya. Dengan senyum lebar yang ia ciptakan dan layangkan hanya untuk belahan jiwanya, lelaki itu pun mengucapkan hal yang membuktikan betapa dirinya mencintai gadis tersebut.


"Semuanya akan baik-baik saja.... Aku selalu di sini untuk menenani sepanjang detik yang terlewati dalam hidupmu... Cassandra."


...~•~...


Beberapa saat lagi, eksekusi akan dilakukan seperti perintah raja sebelumnya. Cassandra kini pergi ke penjara bawah tanah istana di mana Frost ditahan sementara.


Gadis itu telah mengatakan pada Arlen bahwa dirinya ingin berbicara sejenak dengan sahabatnya, dan kekasihnya tersebut menyetujuinya.


Setelah beberapa langkah, akhirnya Cassandra telah sampai di sel yang mengurung sahabatnya tersebut.


"Countess. Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya seorang penjaga yang berada di depan sel milik Frost.


"Aku ingin berbicara empat mata dengan Count Beronald. Bisakah?" tanya Cassandra bersedekap.


"Tapi, Countess...."


"Apa kau meragukan kemampuanku untuk menjaga diri sendiri?" Gadis itu menatap tajam penjaga tadi.


"Baiklah... Countess," pasrah penjaga tadi membukakan sel kemudian berjalan menjauh.


Cassandra menghela nafas kasar kemudian masuk dan menghadap ke sahabatnya yang tengah terduduk sembari menatapnya mengerikan.


"Atas dasar apa Anda bisa mengunjungi saya seenaknya, Countess la Devoline?" Frost berkata namun terdengar menyindir.


Cassandra hanya bisa melipat bibir dan mengerutkan alis. Bagaimana bisa sahabatnya yang telah lama ia kenal tiba-tiba berubah dalam sekejap seperti ini?


Frost yang selalu tersenyum dan tergelak karena candaan yang lelaki itu buat sendiri. Frost yang selalu tersenyum dan bersikap seperti kakaknya sendiri ketika dirinya tengah susah. Frost yang selalu mendengarkan seluruh keluh kesahnya ketika dirinya terus menerus disakiti ayahnya.


Kemana perginya, Frost yang seperti itu?


"Kenapa...? Padahal kau adalah sahabatku yang sangat berharga, kenapa kau malah melakukan itu, Frost?" ucap Cassandra lirih.


Frost hanya menatap tajam gadis itu, kemudian berdecih. "Sahabat yang berharga? Aku tak butuh julukan itu," ketusnya.


"Apa seluruh kebersamaan yang kita lewati tidaklah berharga bagimu...?" Cassandra menunduk.


Frost hanya mengepalkan telapak tangannya. Kenapa gadis itu malah merasa bahwa dia yang paling menderita? Padahal dirinya lah yang selama ini lebih terluka.


"Kemana perginya Frost yang selalu tersenyum dan selalu memberikan candaan yang tidak jelas? Kemana perginya Frost yang selalu menemaniku ketika aku menangis? Kemana perginya... Frost yang selalu bersikap seperti kakak kandungku sendiri...?" imbuh gadis itu dengan cepat.


Lilitan duri seakan mencekik tenggorokan gadis itu.


"Munafik."


Cassandra langsung mendongak saat mendengar kata-kata itu.


"Kau... wanita munafik. Kau membuatku sangat jijik terhadapmu," hina Frost.


Cassandra lagi-lagi hanya bisa menahan rasa sakit yang sahabatnya itu layangkan melalui perkataannya menusuknya.


"Kau tahu bahwa aku selalu membuatmu senang. Kau tahu bahwa aku selalu melindungimu. Kau tahu bahwa aku selalu ada untukmu. Tapi kenapa kau malah memilih lelaki lain? Terlebih lagi dengan lelaki bangsat itu," cecar Frost.


Cassandra membungkam mulutnya dengan telapak tangannya. Ini tidak mungkin...! Siapa saja tolong katakan padanya bahwa semuanya tidak seperti yang ia pikirkan!


"F-frost... k-ka-kau.... Jangan-jangan...!"


Frost tersenyum getir. "Ya, selama ini aku menyukaimu, jal*ng."


Gadis bernetra coklat itu tak dapat lagi menahan air bening yang mengalir ke pipinya. Kenapa, hidupnya harus begitu rumit?


"M-maaf... Frost.... A-aku... benar-benar tidak tahu, bahwa kau... menyukaiku," ujar Cassandra tersendat-sendat. Dalam sekejap, seakan udara di dunia menghilang sehingga dirinya tak bisa bernafas.


Frost menutupi setengah wajahnya sembari menjambak setengah surai coklatnya. "Tidak... setelah dipikir-pikir... ini semua adalah kebodohanku. Dibandingkan banyaknya perempuan yang lebih baik darimu di dunia ini, aku malah menyukai kau yang menyebalkan dan tidak peka."


Cassandra hanya bisa diam dengan tangisnya. Gadis itu tak tahu lagi siapa yang bersalah dalam situasi seperti ini.


Kenapa takdir begitu kejam?


Lagi-lagi pertanyaan itu kembali menyangkut di benaknya.


"Kau bahkan lebih memilih lelaki manja itu dibandingkan aku. Lelaki yang dari masa kecilnya telah disuguhi oleh hormat dan pujian, membuatku sangat muak ketika selalu dibandingkan dengannya," papar Frost berdecih.


"Ini semua salahku. Aku akan berbicara kepada Yang Mulia untuk membebaskanmu," lugas Cassandra hendak berdiri dan berlari mencari keberadaan raja.


Namun, sebuah cekalan langsung menghentikannya. "Tunggu dulu, bodoh. Kau tak perlu melakukan itu."


"Tapi ini semua salahku! Jika saja aku menyadari perasaanmu dari awal...!"


"Apa kau akan menerimaku jika kau tahu perasaanku lebih awal?" potong Frost membuat Cassandra terdiam. Tak lama, lelaki itu kembali tersenyum hambar ketika mengetahui fakta tidak akan berubah. "Tidak kan? Mau bagaimana pun kau pasti akan memilih Arlen." 


"Bodohnya aku. Berpikir bahwa dengan membunuhmu, aku bisa menghilangkan perasaanku padamu dan bisa membuat Arlen menderita hingga mati."


"Namun semua itu tak berarti. Karena sesuatu yang diawali dengan niat jahat, tak akan pernah berjalan dengan mulus dan tak akan pernah tercapai."


"Lagipula, aku lebih baik mati sekarang daripada menanggung rasa malu akibat kebodohanku sendiri untuk waktu yang lama," terang Frost


Cassandra hanya terdiam. Gadis itu sudah lelah untuk memikirkan segalanya. Dirinya hanya ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu.


"Aku hanya ingin melakukan satu hal sebelum aku pergi. Jika kau mengizinkan," lontar Frost.


Tak lama, Cassandra pun merasakan kehangatan menyelimutinya. Kedua tangan Frost mengalunginya, memberikan dekapan yang membuat kenangan masa kecil mereka yang indah kembali mengambang.


"Jangan hiraukan kebodohanku. Berbahagialah, My Sister."


Dari sudut yang cukup jauh, seorang lelaki dengan iris birunya yang sedari tadi bersandar di dinding dan bersedekap hanya diam mengamati seluruh pergerakan dan emosi yang mengendalikan gadisnya.


Hingga tak lama ketika ia melihat sebuah dekapan yang penuh perasaan, lelaki itu pergi dengan langkah pelan.


...~•~...


Siang telah tiba, di mana matahari telah menaiki puncak dari langit dan berada di pucuk kepala menyinari sinar panasnya.


Sebuah batu dan sebuah kapak besar menjadi alat untuk melayangkan nyawa seseorang dengan cara yang tidak manusiawi.


Orang yang tengah dililit oleh tali ketat agar tak bisa lari, telah berada di posisi yang telah ditetapkan.


Seorang gadis berhelai coklat dengan seorang lelaki bersurai pirang di sampingnya melihat dari dekat bagaimana penyelenggaraan eksekusi itu akan berjalan.


Ketika melihat kegelisahan sang gadis, lelaki tersebut hanya bisa menggenggam tangannya berusaha untuk menenangkan sang gadis.


"Mulai eksekusinya."


Kalimat tegas yang terlontar dari bibir sang raja seakan merampas atmosfer di tempat itu.


Di saat melihat sebuah kapak yang besar terayun di atas kepala sahabatnya yang akan dieksekusi tersebut, Cassandra langsung menutup matanya dan melepaskan tautan tangan mereka kemudian menyatukan kedua tangannya di depan dada sembari menutup mata erat.


Dalam sekejap, gadis bernetra coklat itu dapat merasakan kedua telapak tangan menutupi lubang telinganya.


"Tetaplah pejamkan matamu," ujar Arlen yang ada di belakangnya.


Cassandra hanya menggangguk ketika mendengar samar-samar suara kekasihnya. Gadis itu pun mengeratkan kedua tangannya melayangkan doa untuk sahabatnya.


Hingga tak lama, Cassandra membuka matanya. Darah telah berceceran di mana-mana, dan tentu dia telah mengetahui maksud dari itu.


Gadis bernetra coklat itu hanya menatap langit sendu, dengan airmata yang tergenang di bola mata cantiknya.


"Maafkan aku, Frost."


...~•~...


Sore harinya, raja Hamilton memutuskan untuk langsung mengangkat pangeran Darren untuk menjadi raja dan mengambil alih takhta.


Di sinilah mereka, di sebuah balkon istana yang luas dengan seluruh rakyat-rakyat kerajaan Erosphire di bawahnya mendongak menatap sang pewaris takhta.


"Dengan ini aku menyatakan, takhta akan diwariskan pada pangeran kedua kerajaan Erosphire, Yang Mulia Raja Darren Erosphire!!"


"WHOA!!!"


Sorak sorai dari rakyat-rakyat menggema ketika mahkota agung milik sang raja berpindah ke kepala pangeran kedua kerajaan ini-- tidak.


Pangeran tersebut kini telah menjadi raja. Yang Mulia Raja Darren Erosphire dari kerajaan Erosphire. Ya, itulah namanya.


"Di bawah kekuasaanku, aku akan berusaha membuat suatu kerajaan yang dijunjung tinggi oleh keadilan. Di mana seluruh penduduk akan mendapat hak dan kewajiban masing-masing. Di mana kejahatan dan kebaikan dipisah, mencapai suatu negeri yang makmur dan bebas dari kejahatan!" papar pangeran Darren.


Di balkon itu, terdapat Cassandra dan Arlen berada di sisi raja Darren. Mereka tak tahu kenapa, tetapi raja itu ingin mereka berdua hadir di sana.


"Wahai rakyatku! Dengan ini, aku, sebagai pemimpin negeri ini, akan selalu melindungi kalian dalam naunganku, dan akan selalu melakukan yang terbaik untuk kehidupan kalian yang makmur!"


"Hidup Yang Mulia Raja!"


"Hidup!"


"Hidup Yang Mulia Raja Darren!"


"Hidup!"


"Hidup Yang Mulia Raja!!"


Sorak ramai terdengar memekakkan telinga, dan suara tepuk tangan yang membuat bulu kuduk merinding, namun membuat suasana menjadi sangat menyenangkan dan meriah.


Cassandra bertepuk tangan dengan sangat keras. Entah kenapa, rasa lega langsung menyerangnya seperti sebagaimana ketika dirinya telah mengalahkan pangeran Yari beberapa saat lepas.


"Dengar, para rakyat-rakyatku! Di dalam perang mengerikan yang sempat terjadi bebrapa waktu lalu, aku tidak sendirian. Aku dibantu oleh para orang-orang yang pantas diberi hormat oleh kalian. Sambutlah, Yang Mulia Grand Duke Arlen de Floniouse!!"


Cassandra membelalakkan matanya ketika mendengar gelar baru yang tercipta di nama milik lelakinya. Dapat gadis itu lihat bahwa kekasihnya juga cukup terkejut, itu berarti bahwa dia sama sekali tidak tahu tentang ini.


Cassandra pun hanya bisa melihat Arlen mendapat banyak sorak meriah dari para rakyat Erosphire, hingga tanpa sadar sebuah lengkungan senyum lebar tercipta di bibirnya.


"Berkat perjuangannya memimpin pasukan di baris utama, dia telah berhasil menerobos pertahanan utama kerajaan Nephorine dengan kegigihannya dan membawa kemenangan bagi Erosphire. Dengan ini, aku menghadiahkan gelar Grand Duke untuknya. Berikan tepuk tangan meriah kalian!!"


Arlen pun lantas menunduk hormat dengan satu tangan yang berada di atas dada pada seluruh kaum rakyat Erosphire.


Tak lupa dengan wajah tenangnya dan aura wibawa tegas yang selalu menemani lekaki beriris biru langit itu.


"Kedua, marilah kita sambut Countess Cassandra la Devoline!!"


"E-eh? A-aku?" tanya Cassandra menunjuk diri sendiri. Ketika melihat raja Darren yang tersenyum manis padanya, gadis bersurai coklat panjang itu langsung maju dan menghadap ke seluruh rakyat Erosphire yang berada di bawahnya.


"Berkat kecerdasannya dalam menyusun strategi perang, dan keberaniannya sebagai kaum wanita yang ikut dalam perang yang mengerikan, maka dengan ini aku memberikan gelar Dame untuknya! Dan juga, posisi penasihat kerajaan kini akan diisi olehnya! Berikan tepuk tangan untuknya!"


"Anda sangat keren, Countess!"


"Sebagai wanita, saya sangat bangga terhadap Anda, Countess!"


"Hidup Countess la Devoline!!"


Cassandra hanya tertawa kikuk ketika mendapat pujian seperti itu. Hingga tak lama dari itu dia kembali ke posisi awalnya yaitu berada di samping raja Darren.


"Dan terakhir, aku akan mengumumkan satu hal lagi. Kuharap kalian semua tidak terkejut mendengarnya," ujar raja Darren terkekeh sejenak membuat seluruh penduduk penasaran.


Hingga tak lama dari itu, sesosok gadis bersurai emasnya yang berkilau akibat terpaan sinar matahari muncul seakan merebut seluruh perhatian dan atmosfer.


Mata hijaunya mampu menghipnotis kaum pria maupun wanita dengan kecerahannya dan kecantikannya.


Anastasia. Ya, gadis itu yang kini tengah merebut segala perhatian dan atmosfer itu. Tak lama, Anastasia pun membungkuk hormat sehingga semua orang termangu akibat keanggunannya.


"Lady Anastasia. Atau bisa dibilang, calon ratuku."


"WAAA!!!"


Lagi-lagi, berjibun suara bergabung dan menggema membuat Anastasia semakin canggung. Dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian dengan orang-orang sebanyak ini.


"CIUM! CIUM! CIUM!"


Rona merah kini terpatri jelas di pipi Anastasia ketika para rakyat Erosphire meneriakkan kata seperti itu. Tidak mungkin dirinya melakukan hal memalukan seperti itu di depan banyak orang!


Anastasia tersentak ketika mendapati raja Darren yang semakin mendekat ke arahnya. "Y-yang Mulia...? Anda tak mungkin melakukan hal itu di depan banyak orang, bukan?"


Raja Darren tersenyum manis dengan kepala yang ia miringkan. "Kenapa tidak?"


Belum sempat gadis bersurai pirang itu menjawab, kini bibir kekasihnya telah sampai pada miliknya sembari memberikan sedikit gerakan pada tautan mereka.


"KYAAA!!!"


"HAHAHA!!!"


Ada yang tertawa, ada juga yang terjerit histeris karena perlakuan romantis raja baru mereka pada calon ratunya.


Raja Darren pun menarik bibirnya berserta wajahnya, melihat wajah kekasih yang sangat terkejut dan merah padam. Lelaki bersurai hitam itu hanya tertawa kemudian menarik sang gadis berlari dari balkon itu hingga akhirnya menghilang dari pandangan.


Sebelum mereka berdua menghilang, Anastasia malah ikut tergelak dan mengikuti kemana kekasihnya tersebut menariknya.


Cassandra terkekeh kecil ketika melihat adegan manis di hadapannya. Ketika itu juga, entah kenapa suasana menjadi diam dan sunyi. Dan tiba-tiba saja gadis itu terkejut ketika mendapati lelakinya tengah berlutut di hadapannya.


"A-apa yang kau lakukan?" tanya gadis bersurai bergelombang itu.


Arlen hanya diam sembari menangkup tangan gadisnya dan menatap dalam netra coklat gelap yang menenangkan tersebut.


Cassandra masih saja bingung dengan perlakuan lelaki di hadapannya ini. Suasana sunyi malah memperburuk rasa canggungnya.


"Aku tidak akan lama-lama karena aku tidak suka basa-basi," ucap lelaki beriris biru itu kemudian menarik pedangnya.


Bahkan jubah merahnya terjuntai mencapai dan menyapu lantai balkon. Arlen pun menyodorkan pedang itu sembari menunduk.


"Kuserahkan hidupku, kuserahkan ragaku, kuserahkan nyawaku untukmu, Cassandra la Devoline. Bisakah aku mengambil kehormatan dengan menemani sepanjang detik yang kau lalui di hidupmu?"


Cassandra terpelotot. Air mata kembali menggenang di bolamatanya. Tidak, ini bukan airmata kesedihan, melainkan kebahagiaan.


Rasa sejuk yang menyerang hatinya terus mendorongnya untuk menangis, dan rasa ketidakpercayaan membuat gadis itu membungkam mulutnya.


Sumpah ksatria. Ini adalah cara melamar yang sangat langka dikarenakan sang pelamar harus merelakan seluruh hidupnya dan apapun yang ia punya demi seseorang yang ia cintai.


Dan sekarang... dirinya malah menerima suatu lamaran seperti ini. Bagaimana bisa Cassandra tidak menangis?


"Cassandra... jadilah istriku untuk kedua kalinya," ujar lekaki bersurai pirang itu.


Di sela tangisnya, Cassandra malah terkekeh kecil ketika mendapat kenyataan bahwa mereka memang sudah pas awalnya sepasang suami istri.


Namun... tidak ada salahnya menikah untuk kedua kalinya dengan orang yang kau cintai.


"Ya. Dengan senang hati, Arlen de Floniouse."


"HUAAA!!!"


"Kenapa adegan romantis yang terjadi hari ini benar-benar membuatku iri?!"


"Beruntungnya Countess bisa mendapatkan pria seperti Grand Duke!"


"Dan Grand Duke benar-benar beruntung mendapatkan wanita seperti Countess!"


Banyak percakapan yang terlayang dan teriakan yang terlontar dari rakyat-rakyat kerajaan Erosphire. 


Gadis itu tak dapat menahan dirinya untuk mendekap erat lelakinya dan membagikan seluruh kebahagiaannya pada belahan jiwanya.


Hingga akhirnya, Cassandra merasakan bahwa tubuhnya telah berada di udara dengan kedua tangan Arlen yang memeganginya erat.


"Lebih baik, kita menunda bagian kecupannya," kelakar Arlen.


Cassandra terkekeh. "Kau benar."


Setelah sekian lama, akhirnya kebahagiaan menghampiri mereka. Akhir bahagia, adalah hal yang telah lama pasangan itu idamkan dan usahakan.


Percayalah, perjuangan dan usaha yang terkuras dikarenakan cinta, adalah hal terindah yang pernah ada.


Karena adanya perjuangan, cinta semakin kuat. Sehingga para pecinta menganggap bahwa pasangan mereka sangatlah berharga, sehingga mereka tak akan berpaling kepada yang lain.


Seusai melewati akhir buruk yang sempat mereka alami, Grand Duke Arlen de Floniouse dan Countess la Devoline bisa menikmati hasil dari usaha mereka yang telah lama dikerahkan.


Ya, waktu yang mereka tunggu telah tepat. Kuncup bunga dalam kehidupan mereka telah mekar, membuat pemiliknya merasakan kebahagiaan tiada tara.


Sudah waktunya... memetik kebahagiaan.


...The End...