The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 43 : Gadis yang Tersesat (3)



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Hai, ada yang rindu dengan kisah gadis yang tersesat di hutan dendam?


Jika iya, maka bersenanglah kalian, karena aku akan mengisahkan kelanjutan cerita yang terlupakan itu.


Sebenarnya cerita ini adalah cerita kelam yang tersembunyi rapat-rapat dan digembok kuat di pintu hati seseorang yang terluka.


Namun beruntunglah kalian, karena aku dapat menguak kisah menyedihkan itu.


Dan sekarang aku akan menceritakannya secara detail, tanpa terlewat sedikitpun.


Kebenaran yang sempat tertunda untuk diungkap, kini akan aku lemparkan pada kalian kebenaran itu.


Kisah seorang gadis yang semakin terjerumus ke dalam hutan dendam, dan dikelabui oleh sesosok penipu.


Sosok penipu yang menyamar menjadi pahlawan, seorang gadis yang telah rusak sepenuhnya.


Bunga kebahagiaan dan ketulusan, kini telah layu sepenuhnya, karena dihujani oleh taburan dendam di atasnya.


Jika kau ingin mengungkap seluruh kebenarannya dan menghilangkan dahaga penasaranmu, maka bacalah kisah ini dengan baik-baik.


Karena jikalau kau tak paham dengan apa yang kukatakan, maka jangan harap kau bisa menghilangkan dahaga keingintahuanmu.


Dan ini adalah kesempatan terakhirmu untuk mengetahui semuanya, dan aku tak akan pernah mengulangi perkataanku.


Cerita ini bukanlah semata-mata  hanyalah tentang kisah gadis yang tersesat, karena kisah kelam lainnya juga akan terkuak di sini.


Ah, sepertinya kau sudah tak sabaran lagi. Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi.


Marilah kita kembali ke beberapa tahun kemudian setelah gadis itu benar-benar telah terjerat oleh duri kebencian.


.


.


.


.


.


.


Sebuah pernikahan.


Sebuah pernikahan yang sangat membahagiakan dan mengharukan hati.


Sebuah pernikahan yang didasari oleh cinta, kasih sayang, dan janji yang tulus yang menjadi bumbu pembangkit hubungan di antara kedua insan yang melakukannya.


Sebuah ikatan suci yang menjadi tali penghubung di antara jiwa yang taklah sempurna.


Sebuah ritual yang menjadi penyatu kedua mahluk yang tak sempurna, untuk menghabiskan usia secara bersama-sama.


Cinta, lebih tepatnya cinta palsu yang telah membohongi semua hadirin yang menjadi tamu dari pernikahan tersebut.


Kedua insan tersebut tidaklah saling mencintai, kedua insan tersebut tidaklah benar-benar rela melakukan ritual itu.


Karena pernikahan itu hanyalah dilandasi oleh cinta satu aliran yang dirasakan oleh sang wanita, sedangkan yang satunya sangat tidak rela menikahi wanita yang tak dicintai sebagai lawan jenis.


Sebuah janji palsu yang tabu terucap dari bibir layu sang pria. Dia berkata akan menjaga sang wanita dengan segenap jiwanya, dia berkata akan mencintai sang wanita dengan sepenuh hatinya.


Dengan muaknya, sang pria mengucapkan akan rela menghabiskan seluruh kehidupannya dengan wanita yang berdiri di altar yang sama dengannya.


Hatinya berkata lain, hatinya tetap tertuju pada sang wanita lain. Seorang wanita dengan surai coklatnya yang menenangkan.


Wanita dengan netra coklat yang membuat hatinya menghangat.


Wanita dengan bibir merahnya bak apel merah nan menggoda.


Wanita dengan aroma jeruk yang selalu menyertai setiap permukaan dari tubuhnya.


Sang pria, sangat mencintai wanita itu. Wanita dengan kelemah-lembutan. Wanita dengan intonasi suara yang halus. Seorang wanita dewasa, yang dapat menenangkan dirinya yang terkadang terlepas kendali.


Tatapan lembut wanita itu bagaikan obat penawar untuk kegelisahan hatinya, dan ketulusan wanita itu bagaikan bongkahan permata yang sangat-sangat berharga untuk sang pria.


Wanita itulah yang mencuri hati sang pria pada pandangan pertama. Wanita itulah yang sang pria kelak berjanji akan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya.


Namun, wanita dengan seluruh kelebihan di dirinya itu tengah tersiksa oleh tusukan pedang kesakitan.


Wanita itu tengah tersiksa dengan beribu-ribu panah kekecewaan yang menusuk hatinya.


Lain halnya dengan wanita yang tengah berdiri di atas altar bersama sang pria.


Wanita itu memiliki surai pirang yang amat indah bagaikan emas yang membalut surai panjang lurusnya.


Senyum merekah bak bunga mawar yang baru saja mekar, terpatri di wajahnya cantiknya yang seperti boneka.


Ia tersenyum bangga. Dia bahagia, rencananya berhasil. Semua berjalan sesuai seperti yang telah ia rencanakan.


Dialah sang gadis yang tersesat di hutan dendam, dialah sang gadis yang masih tersisa butiran debu kebaikan di hatinya.


Sedangkan kebencian dan keegoisan bagaikan padang pasir di hatinya yang kering dan gersang karena tak pernah disirami oleh hujan ketulusan.


Gadis itu kini telah berubah status menjadi wanita. Dia sekarang bukan lagi gadis belia, melainkan wanita dewasa.


Pernikahan yang telah lama dinanti demi kepuasan egonya, telah terkabulkan beserta dengan janji palsu yang dilontarkan oleh sang pria.


Tentu saja, pernikahan ini tidak terjadi tanpa sebuah rencana licik yang telah disusun matang-matang.


Sebuah rencana yang sederhana, namun bisa merusak hubungan persahabatan yang telah lama terjalin.


Untuk menceritakan bagaimana rencana itu berjalan, aku sepertinya harus kembali ke beberapa bulan lalu.


Kalau begitu, marilah kita bersama-sama menguak kelicikan itu.


.


.


.


.


Gadis bersurai pirang itu tengah berbincang dengan seorang lelaki yang tak lama ini telah menjadi sosok ia berlabuh kesedihan, kekecewaan, dan kebencian.


Dan anehnya, lelaki itu dengan senang hati selalu menemani dan menyertai sang gadis, bahkan semua permintaan sang gadis selalu ia turuti.


"Apa yang kau ingin aku lakukan kali ini, Ana?" tanya lelaki itu. Surai hitamnya, kini berbaur dengan indahnya malam.


"Yang Mulia, kau bilang bahwa kau akan menuruti semua permintaanku, bukan?" tanya sang gadis dengan air muka yang mulai serius.


Lelaki tersebut tampak bingung dan heran dengan perilaku gadis itu yang secara tiba-tiba.


Namun sebuah senyuman selalu terpatri di wajah tampannya, dan sebuah persetujuan atas permintaan gadis itu selalu menyertainya. "Tentu saja, aku akan menuruti permintaanmu," jawabnya.


"Lalu... apa kau bisa membunuh seseorang untukku?" tanya gadis itu sembari menatap lelaki yang berada di hadapannya.


"Apa kau akan bahagia jika aku melenyapkan seseorang yang kau maksud itu?"


Gadis bersurai pirang itu menjawab dengan lantang. "Ya, aku akan bahagia. Dan aku akan sangat senang jika kau dapat melakukannya untukku, Yang Mulia."


Lelaki itu tampak diam. Entah apa yang dipikirkan olehnya, tatapan misterius hanya bisa mewakilkan sebagian dari apa yang ada di otaknya.


Senyum kembali terlukis, dan raut wajah yang tercipta dari senyum itu dapat membuat orang merinding.


"Baiklah, aku akan melakukannya dengan senang hati."


.


.


.


.


.


Kabar duka yang memukul keras perasaan keluarga Floniouse, menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri Erosphire.


Keluarga itu tampak mati, pakaian berkabung membalut tubuh mereka.


Tampak seorang pria bersurai pirang, seperti tengah dipukul oleh kerasnya kenyataan yang kejam.


Tidak ada airmata, tidak ada ekspresi, tidak ada kalimat yang terlontar.


Hanya tatapan kosong melapisi netra biru langitnya, hanya kepalan tangan yang menjadi lambang seluruh emosi yang berbenturan dan berkalut.


Adik perempuannya kini telah tiada, mati mengenaskan oleh perbuatan keji seseorang yang terbutakan oleh keegoisan.


Dan sosok yang melakukan itu adalah wanita yang selama ini mencintainya.


Ya, wanita yang ia hendaki untuk melabuhkan jiwa dan raganya. Seluruh bukti mengarah padanya, sehingga membuat sang pria menjadi yakin.


Gadis itulah yang telah memberitahukan tentang bukti-bukti yang mengarah pada sang pelaku.


Padahal, belum tentu sebuah bukti akan selalu menjadi yang nyata dan benar.


Belum tentu seluruh bukti merupakan sebuah kebenaran yang tersembunyi.


Namun emosi telah sepenuhnya menguasai dirinya, sehingga dia seakan kehilangan kendali.


Obat penawar kehilangan kendalinya, kini menjadi pemicu kehilang kendalinya tersebut.


Sungguh aneh bukan? Sejak kapan penawar bisa menjadi pemicu?


Seharusnya pria itu menyadarinya. Namun kemarahan dan kekecewaan menyapu bersih semua itu.


Kemarahan bagaikan banjir yang menyapu bersih seluruh perasaannya, sehingga yang mendominasi adalah kemarahan kemarahan dan kemarahan.


Kekecewaan bagaikan tanah longsor yang membuat pohon-pohon kasih sayang di dalam hatinya runtuh.


Namun pohon-pohon itu kelak akan tumbuh lagi di hatinya. Yang menjadi air untuk menyuburkan pohon-pohon itu ialah kesadaran dan rasa bersalahnya atas perbuatan yang akan dilakukan tanpa ia sadari saat ini.


Dengan langkah cepat, dirinya menaiki punggung kuda yang ia tunggangi, kemudian menuju kediamannya yang mana terdapat istrinya di tempat itu.


Meninggalkan seluruh keluarga yang tengah bersedih di atas pemakaman adiknya yang tercinta.


.


.


.


.


"Percaya lah, bukan aku yang melakukan semua itu. Aku tidak mungkin membunuhnya...!" ujar wanita yang tengah sesegukan ini membela dirinya sendiri.


Sungguh miris hidup wanita itu, di kala ia dituduh oleh orang yang selama ini dipercayainya. Ia di tuduh telah membunuh seseorang yang tak berdosa, padahal bukan dialah pelakunya.


Sekalipun memikirkan hal keji seperti itu pun dia tidak pernah, apalagi melakukan nya?


Namun, walaupun wanita ini telah berusaha mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah, tetap saja suami yang ada di hadapannya ini tak percaya.


Tak peduli seberapa banyak rintihan di kala suaminya itu mencambuknya, tak peduli seberapa banyak genangan airmata yang jatuh di pipinya karena rasa perih yang menusuk sekujur tubuhnya, pria itu tak akan mendengarkannya.


Tak peduli seberapa banyak kalimat pembelaan yang terlontar dari bibirnya yang kian memucat, pria itu tetap tak akan mendengarkannya.


"Semua bukti mengarah padamu, kau pikir aku bisa mempercayai semua omong kosongmu itu? Kau sungguh membuatku muak!"


Bagaikan di setrum aliran listrik yang konslet, badan wanita itu bergetar, seluruh tenaga di dalam tubuhnya seakan menghilang.


Dipandangnya wajah datar nan dingin suaminya, yang menatapnya dengan penuh kebencian di netra biru langitnya.


Sifat yang biasanya dingin namun perhatian, senyum tipis yang biasanya terpatri di wajah tampannya, kini menghilang.


Yang tersisa hanyalah tatapan kebencian yang begitu mendalam.


Sebenarnya apa salah dirinya? Padahal dia sama sekali tidak melakukannya, dan juga kenapa sahabat yang telah lama ia percayai tiba-tiba menuduhnya seperti ini?


Ia benar-benar tidak mengerti, sebenarnya apa kesalahannya sampai ia harus menerima semua ini?


"Kumohon mengakulah, Cassandra. Agar aku dapat memaafkanmu," mohon pria itu.


Namun wanita itu tetap tak menggubris, ia hanya mengeluarkan air mata yang tak tertahankan.


Seluruh tubuhnya habis dipenuhi oleh luka sayatan, matanya terlihat cekung dikarenakan air mata yang tak henti-henti terkuras.


Bibirnya pucat, menandakan bahwa sakit yang ia rasakan tengah menusuk-nusuk jiwa serta raganya.


Tatapan matanya kosong, tak tahu lagi harus bagaimana. Dia sudah berkali-kali menyatakan bahwa bukan dialah pelakunya.


Dia sudah berkali-kali mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa.


Dia sudah berkali-kali memohon agar pria itu mempercayainya, namun tetaplah cambukan yang selalu ia terima.


Tetaplah ketidakpercayaan yang ia terima. Jika sudah seperti itu, lantas apa yang harus ia lakukan?


Menerima semua tuduhan dan menjadi kambing hitam dari suatu fitnah? Bukankah hal itu sungguh keji untuk takdirnya yang sejak awal sudah buruk?


Sudah cukup masa kecilnya selalu dihiasi dengan tangisan, tanpa kasih sayang, dengan kesedihan.


Apa takdir benar-benar membenci dirinya?


Apakah kematian adalah jalan terbaik untuk keluar dari jeratan takdir yang kejam ini?


.


.


.


.


"Apa Ayah bercanda?! Adikku baru saja tiada dan kau menyuruhku untuk menikah lagi?!" murka seorang pria terhadap ayahnya.


Benar-benar tak menyangka bahwa keputusan tak dapat dipercaya seperti itu dapat terlayang dari ayahnya.


Sudah cukup dia keberatan oleh beban yang menyangkut di punggungnya, kini ayahnya berbuat menambahkan beban lain?


"Ayah tidak bercanda. Lagipula, istri yang kau banggakan itu telah membunuh adikmu sendiri, seharusnya kalian telah berpisah, kalau bisa bunuh wanita jal*ng itu," hina Duke Floniouse pada putra semata wayangnya itu.


"Dia tidak melakukannya. Dia tidak tahu apa-apa," bela pria itu untuk istrinya. "Aku telah melakukan berbagai cara untuk membuatnya mengaku, dan dia tetap mengatakan bahwa dia tidak melakukannya. Dan aku mempercayai hal itu," sergahnya tak terima atas perkataan ayahnya.


"Cih, pendosa mana mau mengaku," cibir sang ayah. "Intinya kau harus menikahi Anastasia. Sudah cukup kau mempermalukan keluarga kita waktu itu dengan seenaknya menikahi wanita kurang ajar itu. Untuk sekarang, kau harus menikahi Anastasia."


"Sudah kubilang aku tidak mau, Ayah." Pria itu menekankan setiap perjalannya disertai dengan tatapan mematikan.


"Jika kau menolak, maka aku tak akan segan-segan membunuh wanita itu seperti dia membunuh adikmu."


"Kau... bercanda?!"


"Tidak. Kalau bisa, sekarang pun aku bisa membunuh wanita itu. Kau tahu bahwa aku memiliki mata di setiap sudut Erosophire?"


Pria itu tak bisa berkata apa-apa. Seolah-olah ada baru yang tersangkut dan menyekik tenggorokannya untuk menahan suaranya keluar.


"Kau mengerti, bukan?" tanya ayahnya dengan tatapan menyalang. "Nikahi Anastasia jika kau ingin wanita itu hidup."


.


.


.


.


Seorang wanita bersurai coklat panjang bergelombangnya tengah menatap lirih ke arah depannya.


Sungguh sakit rasanya di kala suamimu menuduhnya yang tidak-tidak lalu tak lama dari itu menikahi wanita lain.


Sungguh sakit rasanya, mata harus menyaksikan secara langsung pernikahan itu di hadapannya.


Seluruh perbuatan lembut pria itu terputar kembali di otaknya tanpa seizinnya.


Netra biru langitnya yang melembutk di kala terkunci dengan netra miliknya, senyum tipis tulus yang hanya terlayang untuknya.


Dan telapak tangan yang besar dan hangat yang selalu membelai lembut pucuk kepalanya.


Ingatan itu kini berhamburan layaknya potongan kaca yang dapat menusuk dan membuat orang yang menyentuhnya terluka.


Wanita itu telah membuat keputusan. Dirinya harus segera menjauh dari suaminya.


Dirinya harus menjaga jarak, dan dirinya mau tak mau harus rela.


Suaminya membencinya, suaminya tak mempercayainya.


Suaminya... tidak lagi mencintainya seperti yang pria itu lakukan dulu.


Biarkanlah suaminya berbahagia dengan sahabat kecilnya yang kini berstatus menjadi istrinya.


Biarkanlah dirinya menjauh dan terlupakan.


Biarkanlah... kesedihan selalu menyertai dan kesakitan selalu melapisi dirinya yang malang.


Biarkanlah... cinta ini terus bertumbuh secara diam-diam dan tak terbalas lagi.


Sampai akhirnya, dirinya benar-benar sendirian.


Hingga dirinya mati tanpa seorang pun yang memperdulikan maupun mencintai dirinya yang malang.


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke^^^


^^^19 Desember 2020^^^