
...I Become Wife of the Atrocious Duke...
...His Heart Voice...
Sialan! Semua yang ada di dunia ini! Apa yang kalian lakukan padanya?! Jika kalian berani menyakitinya sehelai rambut saja, maka aku akan menebas kepala kalian!
Cintaku... tunggu aku. Aku akan membunuh semua orang yang menyakitimu. Aku akan menebas seluruh orang yang menyentuhmu.
Semua orang tidak pantas menyentuh tubuhmu sedikitpun, kecuali aku. Kau hanya milikku, aku hanya milikmu, kau adalah pemilik jiwaku.
Sudah cukup kau selalu tersakiti, sudah cukup kau melayangkan senyum seolah semuanya baik-baik saja.
Sudah cukup... kau terus menderita oleh rasa sakit yang disebabkan oleh takdir yang kejam.
Andaikan aku bisa, aku ingin merampas seluruh rasa sakit yang kau rasakan, aku ingin mengambil semua kesedihanmu, aku ingin merebut semua penderitaanmu.
Lorong yang sangat gelap, ruang bawah tanah yang dingin, dan apa arti tadi teriakan pilu mu tadi?
Diriku yang tak bisa apa-apa ini tak bisa membelamu, diriku yang tak berguna ini tak bisa melindungimu, diriku yang tak pantas ini sangat beruntung bisa merasakan kasih sayang dari dirimu yang sangat suci di mataku.
Saat aku melangkahkan kaki ku tepat di depan beberapa bajingan yang menjadi penginterogasinya, mataku terpelotot begitu saja.
Melihat dia yang tak berdaya, dengan luka cambukan di sekujur tubuhnya, dengan bekas airmata yang mengering, membuatku tak bisa menahan tangan ini untuk melayangkan pukulan pada para bajingan itu.
"Bed*bah!"
Bukh!
"Tuan Duke... tenanglah...!"
"Diam! Apa yang kalian perbuat padanya?!"
Raut wajah yang terlihat ketakutan dan badan mereka yang gemetaran, membuatku tak bisa menahan diri untuk berdecih.
Mereka berani membuat cintaku terluka tapi langsung takut hanya karena sebuah pukulan?
Benar-benar membuatku muak!
Bukh!
"Akh!"
Mereka hanya bisa mengerang kesakitan, mereka hanya bisa memohon tanpa perlawanan, tapi mereka tak bisa bersimpati ketika menyakiti seorang wanita tak berdaya.
Memuakkan, membuatku semakin ingin membunuh manusia sampah seperti mereka.
"Arlen...!"
Tangan yang awalnya terus bergerak, kini terhenti. Emosi yang awalnya meluap, kini mereda.
Kulihat dia yang tengah memanggil namaku dari bibirnya, kulihat dia yang tengah memandangku dengan matanya yang sayu dan lemah.
Kulepaskan cengkraman tanganku pada kerah leher mereka lalu mendorong mereka kuat hingga tersungkur dan aku tak peduli.
"Pergi."
Tanpa keraguan, mereka pergi dengan sangat cepat sehingga aku meludah jijik dengan tingkah pengecut seperti mereka.
"Arlen... apa yang kau lakukan... di sini...?"
Pikirkanku tak bisa berpikir jernih, sehingga aku menendang dan secara paksa pintu sel tersebut terbuka.
Kuraih tubuhnya yang lebih kecil dariku lalu menyekapnya erat dalam pelukanku.
Kehangatan tubuhnya yang kecil... membuatku bisa melawan dunia.
"Aku... sangat mengkhawatirkanmu...."
Aku tak peduli dengan air mata yang tiba-tiba saja turun, aku tak peduli dengan anggapan pria yang tidak boleh menangis. Aku hanya peduli pada dirinya, dan aku akan menyerahkan seluruh hidupku hanya padanya seorang.
"Kau tenang saja... aku baik-baik saja...," ucapnya berbisik.
Kenyamanan yang timbul dari usapan telapak tangannya yang kecil di pipiku, menenangkan seluruh saraf di dalam tubuhku.
Kepalaku kubenamkan di bahunya yang lembut, dan tiba-tiba saja rintihan dari bibirnya membuatku tersadar.
"M-maaf... hanya saja... seluruh tubuhku perih... ketika kau memelukku...."
Walaupun tak rela, aku perlahan-lahan melepaskan dekapanku padanya. Namun anehnya, dia malah menolak.
"Tidak... biarlah seperti ini... aku ingin tetap seperti ini... kumohon...."
Ya, apapun keinginanmu, aku akan selalu mengabulkannya. Bahkan jika kau ingin aku mati sekalipun.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanyaku tapi dia hanya diam.
Sering aku berpikir, apa arti di balik diamnya?
"Aku tidak apa-apa... kau tenang saja...."
Bagaimana bisa, kau selalu berkata semuanya baik-baik saja dengan senyummu itu?
Di tempat yang dingin seperti ini, di tempat yang gelap, seluruh tubuhmu terluka. Bagaimana bisa kau berkata bahwa kau baik-baik saja?
Terbuat dari apa hatimu itu? Terbuat dari apa kebaikanmu itu? Apa bisa seorang manusia mempunyai hati sepertimu?
Kenapa kau yang sempurna ini, selalu saja tersakiti?
"Arlen...?"
Mata coklatnya menatapku, wajah cantiknya memandangku khawatir, bibir merahnya kini menjadi pucat dan tak berwarna.
Wajahku menurun dan mataku menyusuri seluruh bagian tubuhnya yang telah dihiasi oleh luka sayatan.
Telapak tanganmu mengelus dan menelusuri setiap permukaan kulitnya sehingga dia meringis.
Airmataku kembali terjatuh, kenapa aku merasa sangat kesakitan mendengar rintihan dari bibirku itu? Kenapa... seolah-olah, aku lah yang merasakan semua sakit yang kau alami?
Aku tak bisa menahan diriku untuk menarik tengkuknya dan mencium bibirnya.
Dapat kurasakan dia mengalungkan kedua tangannya di leherku, sehingga aku semakin menekan bibirnya dan mendekatkan wajahku padanya.
"Jangan rasakan sakitmu, cukup rasakan bibirku," perintahku dan dia hanya mengangguk.
"C-cukup... Arlen...," lirihnya. Aku menjauhkan wajahku, dan melepaskan bibirnya.
"Ayo pulang," ujarku.
Dia terlihat sedikit terkejut dengan mata indahnya yang membola. Namun tak lama, dia melipat bibirnya dengan pandangan yang tertuju ke bawah.
Helai rambut coklatnya yang menghalangi wajah cantiknya, kusampirkan ke belakang daun telinganya.
"A-arlen... l-lebih baik kau pulang sendirian saja...."
Barusan dia bilang apa?
"Apa maksudmu? Kau tidak mungkin aku tinggalkan sendirian di sini!" sergahku tak percaya akan perkataannya.
"Kumohon...! Arlen... kumohon tinggalkan aku di sini...," mohonnya dengan tangisan.
Aku tak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini! Kenapa kau memohon hal seperti itu?!
"Kau mencintaiku... kan?"
Ya, aku mencintaimu, sangat. Oleh karena itu aku ingin membawamu pulang, mengobati seluruh lukamu, dan berada dalam pelukanmu selamanya.
"Ya, aku mencintaimu."
Dia tersenyum. Lagi.
"Maka dari itu kau mempercayaiku... bukan?"
Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai diriku sendiri.
"Ya."
Telapak tangannya kembali terulur untuk mengusap pipiku, dengan air matanya yang mulai menurun.
"Jika begitu, Arlen.... Percayalah padaku, aku pasti akan kembali padamu. Tinggalkan aku di sini. Tunggu aku."
Satu kecupan ia berikan padaku. Kuserap beribu-ribu perasaan yang ia berikan padaku.
Seluruh permintaannya membuatku tertunduk. Aku sudah terlanjur berkata bahwa aku mempercayainya. Oleh karena itu aku harus menerima dan menuruti seluruh permintaannya.
"Baiklah. Aku mempercayaimu, oleh karena itu secepatnya... kembalilah padaku."
Dia mengangguk, dengan senyuman. Senyuman yang bisa membuatku kalah telak, senyuman yang bisa membuatku berlutut, senyuman yang hanya tertuju padaku.
Senyuman... yang mengubah seluruh hidupku.
...🥀...
Apa-apaan ini?!
Secara cepat aku langsung berlari keluar, yang ada di pikiranku hanya dia dan dia. Mendengar kabar dari istana, bahwa istana telah membuktikan bahwa dia bersalah.
Wanita yang kucintai telah terbukti menjadi pelaku dari pembunuhan terhadap Yang Mulia Raja.
Kau pikir aku akan diam saja?! Aku tidak akan bisa, ketika kau menuduhnya sembarangan dan ingin merenggut seluruh sumber kebahagiaanku.
Eksekusi akan dilaksanakan beberapa saat lagi, hingga dengan cepat kuda yang kutunggangi ini melaju ke tujuan.
Kabut salju semakin lebat, seakan tengah menghalangi jalanku menuju ke istana. Akhirnya setelah sekian lama, aku pun sampai.
Dan dia yang tengah terduduk dengan sekujur badannya yang kotor dan dipenuhi luka, bersama dengan dia pengawal istana yang setia berada di sampingnya.
Kemarahan mulai menghampiri, ketika aku melihat tangan kotor mereka dengan kasar mencengkram pergelangan tangannya hingga membiru.
Sring!
"Argh!"
Secara paksa aku melepaskan tangan kotor mereka yang menyentuh wanitaku tanpa seizinku.
Tangan mereka terjatuh dengan erangan kesakitan yang mengundang suasana menjadi ricuh dan para pengawal istana lainnya mulai mengepung dan mengacungkan pedang mereka ke arahku.
Kutekuk kakiku untuk berlutut dan memeriksa keadaannya. "Kau baik-baik saja?" tanyaku sangat khawatir.
Matanya setengah terbuka dengan bibirnya yang mulai membiru. Apa yang telah terjadi padamu, Cintaku?
Di mana binar matamu yang sangat berkilau itu? Kenapa sekarang malah digantikan oleh tatapan kosong yang menyakitkan?
Kemana perginya bibirmu yang merah seperti apel itu?
"Arlen... apa yang kau lakukan di sini...? Bukankah sudah kubilang untuk menungguku?"
"Menunggu?! Maksudmu menunggu kau mati terpenggal di sini?!" teriakku.
Jadi ini maksud dari perkataannya waktu itu?! Menunggu dirinya mati terpenggal?!
"Arlen...."
Telapak tangannya kembali hinggap di pipiku dan mengusapnya pelan. Kumohon jangan gunakan taktik ini lagi, sudah cukup hatiku melemah di saat kau berlaku seperti ini.
"Tidak, kau harus pulang bersamamu. Aku tak akan melepaskanmu lagi, aku akan mengurungmu. Aku akan melindungimu, karena aku tahu kau sama sekali tidak bersalah," tegasku.
Sudah cukup aku bersikap lembut, walaupun aku harus kehilangan gelarku, aku akan tetap menyelamatkannya dari semua ini.
Karena gelarku sama sekali tidak berharga dibandingkan dengan dirinya yang sempurna.
Aku bangkit dan kemudian kembali berbalik, menghadapi para pengawal istana yang telah mengepung.
Kutarik lengannya yang dingin dan kurus, dan menempatkannya tepat di belakangku.
Agar seorangpun tak bisa menyakitinya sebelum menghadapi dan melangkahiku.
"Tuan Duke...! Lepaskan dia! Dia adalah pembunuh Yang Mulia Raja! Pengkhianat harus dihukum! Dia pantas mati!"
Aku tersenyum remeh. "Pantas mati? Jangan banyak bicara kau, Bangs*t."
Brukh!
Raut wajah itu lagi. Getaran di tubuh itu lagi. Dasar, jika melihat tubuh tak bernyawa saja sudah ketakutan setengah mati.
Ingin berlagak seperti pahlawan yang baru saja menangkap musuh? Jangan mimpi.
"Arlen...."
"Aku akan melindungimu."
"Arlen!"
Dia berteriak membuatku sedikit tersentak. Aku pun berbalik untuk menghadapnya.
Wanita ini menunduk, dengan airmata yang mulai jatuh menetes ke tanah dan mengering.
"Kau... percaya padaku bukan?"
Kata-kata itu lagi. Kenapa kau terus menanyakan itu ketika kau telah mendapat jawabannya?
"Ya. Aku sangat mempercayaimu, dan kau juga harus mempercayaiku saat ini," jawabku.
Dia kemudian mendongak. "Kau mencintaiku, bukan?"
Telapak tangannya kembali menangkup wajahku, entah sudah berapa kali dia melakukan itu, namun aku tak pernah bosan.
Kucoba mengukir senyum untuk meyakinkannya. "Ya, aku sangat mencintaimu. Sehingga aku bisa menghancurkan dunia."
"Itu berarti... kau akan menerima seluruh permintaanku, bukan?"
"Ya, jika itu membuatmu senang."
"Kalau begitu... maafkan aku... Arlen."
"Ap--"
Deg!
Brukh!
Hatiku seakan tertusuk tombak, tubuhku gemetaran seperti baru saja tersambar petir, mataku membelalak seakan ingin keluar dari tempatnya.
"A... apa yang kau... lakukan... Cassandra...?"
Aku tak bisa bergerak, ketika dia secara cepat mengambil pedangku saat aku lengah tadi kemudian mendorongku hingga terjatuh.
Bahkan sekarang... dia menodongkan ujung pedang itu pada kulit lehernya. Seluruh tubuhku kaku, tenagaku menghilang begitu saja.
Airmata mulai turun dari bolamatanya yang berwarna coklat gelap itu, sangat deras... sehingga duniaku terasa hancur begitu saja.
Alisnya mengernyit, dengan isakan yang mulai terdengar menyayat hatiku dan membuat dadaku sesak.
"Maafkan aku... Arlen. Namun... aku melakukannya untuk kebaikanmu... aku tidak ingin egois...."
Apa yang kau katakan? Egois? Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu? Kenapa kau berbuat seperti itu?
"Sekali lagi... maafkan aku.... Tapi... aku benar-benar harus melakukannya...."
Kenapa... Cassandra...? Kenapa... kau berbuat seperti ini?
"Terimakasih.... Aku mencintaimu, Arlen de Floniouse."
"Penjaga, bawa dia!"
Aku tak bisa memberontak di saat para pengawal itu menyeretku paksa, karena dia mengancamku dengan pedang yang ada di lehernya.
Saat itu, para pengawal lain pun menarik dia secara kasar dan mulai menaruh kepalanya di tiang pancung.
Kumohon... jangan lakukan itu...!
"Lakukan eksekusinya."
"Jangan! Kumohon jangan... Cassandra!"
"CASSANDRA!!"
Mataku tak bisa berhenti mengeluarkan airmata, kumohon jangan lakukan! Kumohon...!
Deg!
Dia menatapku... dan dia mengucapkan beberapa patah kata dengan senyumnya.
"Aku mencintaimu."
Plugh!
Ha... apa... yang barusan terjadi...?
Cassandra... apa yang terjadi padamu...? Kenapa... kepalamu menggelinding di lantai?
Kenapa... begitu banyak darah di antaramu...?
Kenapa salju di antaramu menjadi merah?
Hei... Cintaku... Apa yang baru saja terjadi padamu? Kenapa senyummu menghilang...?
"ARGHHH!!!"
...🥀...
Musim salju. Musim yang amat memuakkan. Sudah berapa kali musim dingin datang ke dunia?
Namun anehnya, setiap kali di musim dingin, aku selalu menulis beberapa kata di buku diary nya.
Di musim dingin, aku selalu mengingatnya. Senyumnya... yang menjadi penghangat musim dinginku.
Senyum yang tersimpan jelas di otakku itu, sangatlah memabukkan, sekaligus... membuatku terus tersiksa.
Ah... aku sungguh merindukannya. Apa aku bisa bertemu dengannya lagi? Apa aku bisa berada dalam pelukannya lagi?
Apa aku masih bisa mencium bibir apelnya? Apa aku masih bisa menghirup tubuhnya yang beraroma jeruk itu?
Saat baru saja ingin menulis beberapa kata yang mungkin saja tersampaikan padanya, tiba-tiba saja suara ketukan terdengar.
Aku kantongi buku itu di sakuku, kemudian bangkit berdiri.
"Tuan, sudah saatnya."
Ah, ternyata waktu sudah berlalu, ya? Sebaiknya aku cepat bersiap.
.
.
.
.
"Hidup Yang Mulia Raja!"
"Hidup Kerajaan Erosphire!"
Banyak pujian yang terdengar, disertai dengan teriakan yang membuat bising. Sungguh merepotkan.
"Terimakasih, Duke. Telah berpartisipasi di perang kali ini. Para rakyat sungguh bahagia atas kemenangan mereka," ujarnya.
Pelaku yang membunuh pemilik jiwaku yang telah menjabat sebagai Raja.
"Itu sudah menjadi tugas saya, Yang Mulia," jawabku berlutut hormat.
Pria itu tersenyum, kemudian berbalik membelakangiku.
Saat itu juga, aku melakukan sesuatu yang telah kutahan beberapa tahun ini. Kesempatan emasku telah datang.
Sring!
Plugh!
Haha... akhirnya. Lihatlah, ekspresi terkejut dan ketakutan itu. Aku sudah menunggunya sejak lama.
"KYA!!"
"YANG MULIA RAJA!"
Ah, akhirnya. Melihat kepalanya yang menggelinding disertai dengan darah di antaranya, membuatku merasa puas.
Andaikan kau bisa melihatnya... Cintaku.
Lihatlah pemandangan yang menyenangkan ini, bukankah ini sangat indah?
"TANGKAP PEMBUNUH ITU!!"
Seketika para pengawal mengepungku dan menyanderaku. Untuk sekarang aku tak peduli, karena tujuan aku bertahan di dunia selama ini telah tercapai.
Dan, inilah yang ku tunggu-tunggu. Akhirnya aku bisa bertemu dengan pemilik jiwaku.
Aku sudah tidak sabar.
.
.
.
.
Jadi seperti ini perasaan dia beberapa tahun lalu. Disiksa dan ditanyai di penjara bawah tanah yang dingin dan gelap.
Angin yang berhembus kencang mengenai luka yang lebar disebabkan oleh cambuk yang terlayang.
Sebelum aku kehilangan nyawaku besok, sepertinya aku harus menulis pengalamanku hari ini di bukunya.
Aku harus meninggalkan surat untuknya, lalu setelah itu aku akan bisa bertemu dengannya.
Semoga kau suka dengan suratku, Cintaku.
...π...
...Musim dingin kelima tanpamu......
...Cintaku, apa kau masih mengingatku? Apa kau masih ingat dengan kebersamaan kita?...
...Musim dingin tanpamu benar-benar menyakitkan bagiku, tapi aku akan tetap bertahan, demi sesuatu yang harus kulakukan....
...Aku merindukanmu. Apa kau ingat buah jeruk? Itu adalah buah kesukaanmu, dan buah itu selalu mengingatkanku padamu....
...Hari ini, adalah akhir yang ku tunggu-tunggu. Aku akan memenggal kepala Raja sialan itu, seperti yang dia lakukan kepadamu dulu....
...Hei, kenapa kau tak pernah muncul di mimpiku? Jika saja kau muncul, mungkin dengan itu rindu ini akan terobati....
...Aku merindukan suaramu, aku merindukan pelukanmu, aku merindukan segala hal tentangmu....
...Dan hari ini, akhirnya aku akan pergi menemuimu....
...Nyawa ini akan kulayangkan, demi agar dapat bertemu denganmu....
...Cintaku, sekaligus......
......pemilik jiwaku....
...π...
...His Heart Voice...
...01 Januari 2021...