The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Bonus : Sepenggal Cerita Lama



Bagi yang lagi berpuasa, lebih baik membacanya pas sudah berbuka, ya.... Karena takutnya, puasanya jadi gak sempurna sebab ada beberapa adegan yang mungkin tidak begitu dianjurkan ketika dibaca pas berpuasa, hehe :)


Enjoy ❤


___________________________________________________


Seorang gadis muda dengan tatapan sayunya yang terdapat warna biru langit di iris berkilau yang persis seperti milik ayahnya, tengah berjalan di lorong rumahnya yang panjang dan mewah.


Sembari dengan angin sepoi-sepoi memainkan surai pirang berkilaunya yang berasal dari jendela yang terbuka, gadis tersebut tersenyum manis menikmati alam yang tengah memanjakannya.


Langkah kakinya kini terhenti di depan pintu ruangan yang sedikit terbuka menampilkan sosok ibunya yang tengah terduduk di sofa kecil di sudut ruangan dengan jendela yang terbuka.


Gadis berwajah manis itu pun langsung mengetuk pintu dengan sopan dan menyapa ibunya. "Selamat siang, Ibu."


Ibu dari gadis itu mengalihkan pandangan yang sebelumnya tertuju pada sulaman di tangannya, kini menuju perawakan putrinya.


"Masuk, Sayang," ujar wanita berumur itu tersenyum menenangkan pada putrinya sembari mengajaknya masuk.


Gadis muda tadi langsung tersenyum lebar dan langsung bersimpuh di kaki ibunya yang berada di atas sofa sembari membenamkan kepalanya pada pangkuan sang ibu.


"Ibu menyulam? Bukankah sekarang masih musim panas?" tanya gadis itu mendongak.


"Ibu hanya ingin menghabiskan waktu saja. Bagaimana denganmu, Carla? Apa kau masih memikirkan tentang hal yang disampaikan ayahmu kemarin?" Sang ibu mengusap penuh kasih sayang helai demi helai rambut putrinya.


Gadis bernama Carla itu memanyunkan bibirnya. "Tentu saja, Ibu," jawabnya menghela nafas.


Cassandra kembali tersenyum. "Kau tenang saja. Lagipula, ayahmu juga tidak memaksa. Keputusan ada di tanganmu. Jadi kau bisa menolak kalau kau memang tidak mau."


Helaan napas terhembus dari paru-paru gadis itu. Sebenarnya dia bingung. Namun dia juga tidak boleh terus-menerus bersikap seperti ini.


"Hei, Ibu. Bolehkah Ibu menceritakan tentang sesuatu?" tanya Carla dengan mata berbinar.


Sang ibu pun menaikkan alis. "Menceritakan tentang apa?"


"Aku dengar dari bibi, kalau Ibu dan Ayah adalah pasangan yang paling romantis. Bisakah Ibu menceritakan bagaimana Ibu dan Ayah pertama kali bertemu?"


Tercetak jelas dari wajah gadis itu kalau dirinya benar-benar ingin tahu bagaimana kisah yang telah lama berlalu tersebut.


Wanita berumur yang mendapat pertanyaan tersebut dari putrinya itu hanya tersenyum malu ketika mengingat momen tak terlupakan itu.


Meskipun sudah banyak hal yang terjadi dan menyangkut di memorinya, namun ingatan berharga itu tak pernah tersingkirkan dari memorinya.


"Kau benar-benar ingin mendengarnya?"


"Ya! Bisakah Ibu menceritakannya?! Sampai ke detailnya juga, lalu-- ah, Kakak! Kemarilah!" seru sang gadis pada sosok lelaki muda yang kebetulan lewat di depan pintu ruangan yang terbuka.


Lelaki yang memiliki surai coklat gelap lurus tadi langsung menghentikan langkahnya, kemudian melirik sejenak ibunya yang tengah bersama adiknya.


Tak butuh waktu lama, lelaki tadi langsung berjalan menuju ibunya dan adiknya yang tengah berduduk santai diterpa angin sejuk.


"Selamat siang, Ibu," sapa lelaki tersebut dengan wajah datarnya yang tenang.


"Kassen." Cassandra langsung menyentuh bahu tegap putranya secara lembut. "Bagaimana dengan tugas dari ayahmu? Apakah sudah selesai?"


"Ya. Beruntungnya, aku tidak mati karena kelelahan menandatangani berkas-berkas yang memusingkan itu," keluh Kassen memegangi kepalanya.


Sang ibu beserta adiknya tergelak mendengar nada lelah dari lelaki bernetra coklat itu.


"Kasihannya. Untung saja ayah tidak pernah menyuruhku menandatangani berkas-berkas, hahaha!" gelak Carla pada kakaknya yang ikut duduk di lantai bersama dirinya dengan dua kaki yang disilangkan.


"Tentu saja. Karena ayah terlalu mengistimewakanmu. Sedangkan aku, selalu menerima bagian yang terburuknya."


Tawa Carla langsung memudar, ketika mendengar nada tidak suka dari kakak satu-satunya itu. Dirinya tahu kenapa kakaknya bersikap seperti itu.


Karena dari dulu, ayahnya selalu memperlakukan kakaknya sedikit lebih keras.


"Kassen," panggil Cassandra pada putranya. "Percayalah, ayahmu melakukan semuanya demi kebaikanmu. Karena, ayahmu menaruh harapan tinggi padamu untuk meneruskan tanggung jawabnya."


Kassen hanya diam, lelaki itu tak berniat membuka suara lagi.


Cassandra menghela nafas ringan, kemudian kembali tersenyum. "Kalau begitu, Carla. Ibu akan menceritakan hal yang sebelumnya kau minta," jelasnya.


Carla langsung kembali menenggelamkan kepalanya hingga pipi kanannya menyentuh paha ibunya dengan manja. Tak lama, ia pun mengisyaratkan sesuatu.


Sang ibu pun hanya tersenyum mengerti akan isyarat putrinya, hingga tak lama dia pun mengusap lembut pucuk kepala putrinya sama seperti dulu ketika dirinya menceritakan dongeng pada putri kecilnya.


"Kassen, apa kau juga ingin mendengar cerita dari Ibu dan usapan di kepala?"


"Memangnya aku anak kecil? Aku akan mendengarkannya saja," tolak Kassen bersedekap dan menghela nafas.


Cassandra dan Carla hanya terkikih kecil. Kemudian, wanita berhelai coklat panjang yang sudah menjadi ciri khasnya itu membuka mulutnya.


"Hari itu, Ibu tengah dalam situasi tidak mengenakkan, di mana Ibu dipaksa menikahi seorang lelaki bangsawan yang menyebalkan oleh kakekmu."


"Oleh karena itu, Ibu berusaha untuk kabur upaya menghindari pernikahan—"


"Kakek memaksa Ibu menikahi lelaki bangsawan yang menyebalkan? Jika aku jadi Ibu, aku malah tidak akan pernah lagi menampakkan wajahku di depan kakek," potong Carla dengan nada kesal.


"Carla. Pernah belajar untuk tidak memotong perkataan orang yang lebih tua?" peringat Kassen penuh tekanan.


Carla langsung terkesiap, hingga tak lama gadis itu meringiskan senyum. "M-maaf."


Cassandra hanya tersenyum kemudian kembali melanjutkan ceritanya.


"Seperti yang Ibu bilang, Ibu saat itu tengah berusaha melarikan diri. Ibu nekat melompat dari balkon kamar milik Ibu dan berniat kabur dari rumah."


"Namun naas, Ibu tidak menyadari bahwa saat itu bahwa ada seseorang yang berada tepat di bawah Ibu."


"Alih-alih jatuh ke tanah, Ibu malah merasakan bahwa tubuh Ibu melayang. Dan di saat itulah, Ibu bertemu ayah kalian."


"Ayah kalian menangkap Ibu, dan saat itu adalah pertama kali kami bertemu."


"Beberapa hari dari kejadian itu, entah kenapa Ibu sering bertemu dengan ayah kalian. Dan seiring dengan kami yang selalu menghabiskan waktu bersama, tiba-tiba saja muncul perasaan asing di dalam diri Ibu."


"Awalnya Ibu tidak terlalu menganggap serius perasaan itu, hingga tiba akhirnya di mana ayah kalian tiba-tiba saja menyatakan perasaannya."


"Benar-benar romantis!" celetuk Carla menangkup kedua pipinya.


Kassen hanya memutar bola mata malas melihat kelakuan adiknya tersebut.


"Tentu saja, awalnya Ibu terkejut dan tidak menyangka. Sehingga semakin lama, kami semakin dekat. Dan Ibu, merasakan kenyamanan yang tidak pernah Ibu temui di lelaki lain kecuali ayahmu."


"Itu sebabnya, Ibu mulai mencoba menjalin hubungan dengan ayahmu. Namun tidak disangka, di balik wajah datarnya, ternyata ayah kalian adalah lelaki yang paling manis yang pernah Ibu temui selama ini."


"Setiap hari, kami selalu menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama. Hingga akhirnya Ibu menyadari, bahwa Ibu ternyata telah menaruh perasaan pada ayah kalian. Bahkan sampai sekarang."


Cassandra tersenyum manis mengingat setiap detik momen yang masih terekam di ingatannya. Waktu di mana dia pertama kali bertemu Arlen, sebelum dirinya terlempar ke dunia modern yang kejam, kemudian kembali lagi ke dunia di mana dirinya sebenarnya terlahir.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan? Dan, bagaiamana cara ayah melamar Ibu?" Carla masih berantusias, dengan binar pijar di bola mata birunya yang indah.


Sedangkan Kassen, lelaki itu hanya diam menunggu beberapa patah kata yang akan ibunya luncurkan.


Cassandra sedikit bingung, karena... dirinya mendapat lamaran dari suaminya tersebut sebanyak dua kali... dia juga tidak mungkin mengatakan kepada putrinya bahwa sebenarnya dirinya pernah mengulang kehidupan.


Hal itu... cukup menjadi rahasia bagi orang yang menutupinya.


"Lamaran dari ayahmu... benar-benar sangat membahagiakan bagi Ibu." Cassandra tersenyum mengenang perasaan yang membanjirinya ketika mendapat lamaran dari suaminya sembilan belas tahun yang lalu.


"Apa kalian masih ingat tentang perang antara Erosphire dan Nephorine?"


Kassen dan Carla sontak mengangguk. Tentu mereka ingat. Itu adalah perang yang sering diceritakan oleh ayah mereka ketika mereka tengah rutin berlatih pedang di pagi hari.


Ya, Kassen dan Carla selalu rutin berlatih bela diri di pagi hari karena hal tersebut merupakan perintah mutlak dari sang ayah.


"Tepat setelah perang itu berakhir, Yang Mulia Raja Darren diangkat menjadi pemimpin Erosphire, dan mengumumkan calon ratunya, Yang Mulia Ratu Anastasia di depan seluruh rakyatnya," jelas Cassandra.


"Benarkah? Tidak kusangka ternyata Yang Mulia Raja seromantis itu kepada Yang Mulia Ratu," balas Carla.


Cassandra tersenyum. "Ya, tepat bersudahan dengan itu, ayah kalian yang baru saja kembali dari medan perang, berlutut di depan Ibu, sembari menyodorkan pedangnya dan melamar Ibu dengan sumpah Ksatria."


"Sumpah Ksatria?! Bukankah itu adalah cara melamar paling langka?! Karena jika melamar dengan cara sumpah Ksatria, sang pria harus merelakan seluruh hidup maupun harta yang ia miliki pada wanitanya. Ayah melamar Ibu dengan itu?!!" jerit Carla tak percaya.


Gadis itu tidak menyangka, ayahnya yang terlihat dingin dan tegas itu melamar ibunya dengan cara yang sangat romantis. Ternyata... hidup memang penuh kejutan!


"Memangnya itu sangat langka? Lagipula, bukankah sudah seharusnya sang pria menyerahkan dan membagi segala yang ia punya dengan wanita yang mereka cintai? Kenapa cara melamar seperti itu sangat langka?" celetuk Kassen bingung.


Carla terpelongo menatap kakak lelakinya tersebut. Tak lupa dengan bibir gadis itu yang tak dapat terkatup.


Kassen menukikkan alis mendapati adiknya mematung sembari menatapnya. "Apa?"


"Kakak...." Carla menggantung perkataannya, membuat sang kakak menjadi bergidik ngeri karena mata adiknya yang membola. 


Cukup lama gadis berhelai pirang lurus itu melotot, hingga beberapa kata patah pun keluar dari bibir tipis miliknya. "Kakak... jadikan aku pengantinmu!"


Carla pun berniat menghamburkan pelukan manja pada kakaknya tersebut, namun langsung ditepis oleh Kassen.


"Hei, menjauhlah dariku!" teriak Kassen sembari tergelak kecil menjauhkan tubuh adiknya tersebut.


Sang ibu pun ikut tertawa melihat keluarganya yang bahagia, seakan angin ketenangan menyapu hatinya menengok senyum lebar yang terpatri di bibir putra  dan putrinya.


"Oh iya, Ibu. Bagaimana dengan pernikahan Ibu. Bisakah Ibu menceritakannya?" tanya Carla masih tak cukup puas.


Cassandra menaikkan irisnya, kemudian dia pun menceritakan segala yang ia ingat di hari membahagiakan dalam hidupnya tersebut.


Flashback on


Setelah tiga tahun dari bekerja menjadi penasihat kerajaan, Cassandra kini melepas jabatannya karena gadis itu telah membuat keputusan yang menurutnya sangat tepat.


Gadis bersurai coklat panjang itu akan memberikan gelarnya pada sahabat yang ia percaya, nona Charlina.


Awalnya, nona Charlina merasa tidak enak hati dan enggan untuk menerima keputusan tersebut. Namun setelah berbagai bujukan dari Cassandra, putri Baron Krystilian itu akhirnya menyetujuinya.


Cassandra telah mempersiapkan dirinya untuk menempuh jenjang hidup yang baru, gadis itu ingin menciptakan keluarga harmonis.


Karena telah merasa puas dengan gelarnya, kini gadis itu berpikir bahwa dia lebih baik menghabiskan banyak waktunya bersama keluarga daripada menemani berkas-berkas yang tak habis-habisnya.


"Kau yakin? Kau ingin merelakan gelar yang kau dapatkan dengan usahamu sendiri demi menikah denganku?" tanya Arlen pada kekasihnya sekali lagi untuk memastikan.


Tentu saja, sebenarnya lelaki itu sangat senang ketika mendengar Cassandra yang ingin menghabiskan waktunya untuk memperhatikan keluarga yang akan mereka ciptakan nantinya.


Tapi, tentu saja merelakan gelar yang didapatkan sendiri adalah hal yang patut dipikir ulang.


"Sebenarnya kau juga masih bisa melanjutkan pekerjaanmu meski kau telah menjadi istriku. Aku akan selalu mendukung keputusanmu," lanjut Arlen mengelus wajah kekasihnya kemudian memainkan rambut halusnya.


Cassandra yang berada di atas pangkuan Arlen, kini mengalungkan tangannya pada leher kekasihnya kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu kanan lelaki itu.


"Aku telah lama memikirkannya. Aku merasa... daripada mengubur diriku pada tumpukan berkas, bukankah lebih baik jika aku menciptakan memori dengan anak-anakku kelak nantinya?" ucap gadis itu tersenyum.


"Misal saja... takdir berkata lain dan aku mati muda, dan aku juga belum sempat menghabiskan waktu dengan anak-anakku, bukankah hal itu sangat mengerikan...?" Cassandra tertunduk.


"Hidup penuh kejutan, oleh karena itu... aku ingin menggunakan waktuku yang tersisa untuk menciptakan sesuatu yang bermakna bagi diriku. Bukankah lucu ketika aku sekarat, aku malah mengingat kenanganku yang tengah mengubur diri dengan berkas-berkas pekerjaaan?"


Arlen menatap dalam sejenak kekasihnya yang sempat tertawa hambar. Hingga tak lama, lelaki beriris biru itu langsung menyentil dahi kekasihnya.


Cassandra meringis sembari mengusap-usap dahinya. Dia pun ingin memprotes tak terima, namun kernyitan yang tercetak di dahi Arlen dan tatapan penuh makna dari pandangan lelaki itu membuat Cassandra mengurungkan niatnya.


"Kau harus menemaniku. Sampai akhir. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku lebih awal. Ini adalah perintah."


Arlen mengeratkan pelukannya pada pinggang kekasihnya tersebut, sembari mendekap gadis itu kian erat.


"Baiklah, jika kau sudah memberikan perintah, maka aku bisa apa?" Cassandra menghela nafas kemudian tersenyum. "Aku akan menemanimu, sampai akhirnya kita mencapai keabadian yang menunggu kita."


"Kuharap kau menepati janjimu," jawab Arlen menatap lurus ke pandangan terdalam milik gadisnya.


"Kalau begitu, sebaiknya kapan kita menggelar pernikahan?" Cassandra menaikkan kedua alisnya tampak berpikir.


"Apa kau sebegitu tidak sabarnya ingin menjadi istriku?" Muncul senyum miring di sudut bibir persik lelaki bersurai pirang itu.


Cassandra tergelak. "Itu benar. Aku benar-benar tidak sabar ingin menjadi istri dari Yang Mulia Grand Duke Arlen de Floniouse."


"Benarkah? Kalau begitu, kita akan menikah satu bulan lagi."


"Kedengarannya bag-- tunggu, sebulan lagi?!!"


.


.


.


.


Seperti yang dikatakan sebelumnya, Arlen dan Cassandra benar-benar menikah di bulan berikutnya.


Saat ini, bumi tengah dilanda musim semi. Di mana bunga-bunga bermekaran dan berlomba-lomba menunjukkan kecantikan mereka yang menawan disertai dengan sinar matahari yang tersenyum.


Cassandra, gadis itu kini tengah dalam persiapan untuk muncul sebagai bintang utama dari pernikahannya.


Gugup? Tentu saja gugup. Walaupun dia telah melakukan pernikahan dengan orang yang sama sebelumnya, entah kenapa gadis itu masih saja gugup.


Ratu Anastasia yang meluangkan seluruh waktunya untuk mengakhiri pernikahan sahabatnya, kini terkekeh kecil melihat Cassandra yang tak henti-hentinya menggaruk rahang milik gadis itu sendiri dengan jari telunjuknya.


"Kau gugup?" tanya Anastasia sembari memasangkan kerudung putih pada surai coklat panjang sahabatnya yang telah tertata rapi dengan permata-permata berharga yang berkilauan.


"Aku bohong jika aku berkata tidak." Cassandra menghela nafas panjang, membuat Anastasia kembali terkekeh.


"Meskipun aku tahu kau bercanda, namun kenyataannya aku benar-benar merasa seperti itu."


"Hahaha!"


.


.


.


.


Cassandra menarik nafas panjang ketika dirinya bersama dengan ayahnya berjalan berdampingan menuju pengantin pria yang telah menunggunya di altar.


Gereja yang menjadi milik istana kerajaan Erosphire tersebut kini telah dihias semenawan dan semegah mungkin.


Tentu saja, ini adalah pernikahan keluarga kerajaan. Tidak heran jika acaranya diadakan semewah mungkin.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan untuk mencapai pengantin pria, Cassandra pun kini telah berdiri di hadapan calon suaminya tersebut beserta dengan pastor yang berada di sebelahnya.


Tak butuh waktu lama untuk mengucapkan janji sakral, hingga akhirnya kedua insan Tuhan tersebut benar-benar telah kembali terikat dengan benang suci yang akan mengekang mereka dengan cinta yang abadi sampai napas terakhir.


Tak terduga, secarcik airmata melapisi  bola mata milik pengantin wanita. Dirinya bahagia, sangat bahagia.


Namun sang pria hanya tersenyum manis, karena dirinya tahu bahwa saat ini istrinya tersebut tengah menghasilkan bulir bening kebahagiaan.


Tanpa keraguan, Arlen pun mencium istrinya sebagai salam pembuka untuk kehidupan rumah tangga mereka yang baru.


Dengan senang hati, Cassandra menerima dengan senang hati salam pembuka itu hingga akhirnya salam penutup juga akan ia terima di akhir hayatnya.


"Kumohon berikanlah kebahagiaan pada kami untuk selamanya, Tuhan."


Flashback off


"Jadi, Ibu merelakan gelar Ibu demi untuk menghabiskan waktu dengan kami? Apa Ibu... benar-benar tidak menyesal sedikitpun?" tanya Carla dengan hati-hati.


Cassandra tersenyum. "Tidak. Ibu tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Karena selama Ibu menghabiskan waktu dengan kalian dan ayah kalian, yang ada di hati Ibu... hanyalah kebahagiaan dan keceriaan."


Carla melipat bibirnya. Mendengar langsung ibunya mengatakan hal tersebut, membuat dirinya menjadi sadar bahwa dirinya sangatlah beruntung.


Di saat para bangsawan wanita yang memiliki anak di luar sana lebih memilih pekerjaan mereka daripada anak mereka sendiri, ibunya justru merelakan gelarnya untuk menghabiskan waktu dengannya bersama kakaknya.


"Terima kasih, Ibu. Karena telah selalu berada di sisi kami dan selalu menemani kami di setiap saat," ujar Kassen membuat Carla menoleh.


"Aku dan Carla mungkin belum bisa membalas jasa Ibu, namun suatu saat... kami pasti akan selalu berusaha... untuk membahagiakan Ibu."


Cassandra merasakan perasaan yang tengah menggedor-gedor pintu hatinya saat ini. Kebahagiaan seakan tak sabaran untuk menyeruak masuk ke dalam hatinya dan menenangkan seluruh sarannya.


"Selama kalian bahagia... tidak ada lagi yang bisa Ibu minta. Karena kebahagiaan kalian... adalah alasan Ibu hidup selama ini. Begitupun dengan mencintai ayah kalian dengan segenap hati Ibu."


Mereka saling melempar senyum, hingga pada akhir, pertanyaan dari bibir Carla kembali terlempar.


"Kalau begitu, Ibu. Bisakah Ibu menceritakan satu hal lagiiii saja? Aku janji, ini benar-benar yang terakhir!" Carla memohon dengan kedua tangannya yang ia katupkan di depan dada.


Kassen daritadi hanya bisa menghela nafas menghadapi sikap adiknya.


"Baiklah, baiklah. Carla ingin bertanya tentang apa?" tanya Cassandra tersenyum sembari mengusap gemas pucuk kepala putrinya.


"Bagaimana reaksi ayah ketika Ibu pertama kali hamil? Lalu, bagaimana juga reaksi ayah ketika kakak pertama kali terlahir?"


"Pertama kali terlahir? Memangnya kau pikir aku bayi ajaib yang bisa terlahir untuk kedua kalinya?" sela Kassen.


"Hehehe!" Carla hanya menyengir menunjukkan barisan gigi putih yang tertata rapi, membuat gadis itu semakin terlihat manis.


"Reaksi Arlen ketika Kassen terlahir...?" gumam Cassandra berusaha menggali kenangan yang hampir terkubur tersebut.


Setelah berusaha, akhirnya wanita itu kembali mengingat semuanya.


Flashback on


19 tahun yang lalu....


Di musim panas yang terik dan menyengat, kini seorang wanita tengah terbaring lemas di atas ranjangnya karena demam yang menyerangnya malam kemarin.


Arlen, sedari tadi malam enggan untuk meninggalkan istrinya, sehingga pria itu pun setia duduk menemani istrinya yang tengah melewati demam.


"Aku sudah memanggil dokter. Kau baik-baik saja, kan?" tanya pria itu khawatir sembari mengusap dahi istrinya yang tengah dibanjiri peluh.


Cassandra tersenyum tipis. "Aku tidak selemah itu. Demam seperti ini, aku sudah biasa melewatinya."


Setelah berkata seperti itu, kini terdengar suara ketukan pintu. Arlen segera membukanya dan mempersilakan tabib yang ia panggil untuk memeriksa keadaan istrinya.


Seusai tabib itu menyelesaikan perkerjaannya, Cassandra pun bertanya.


"Apa yang terjadi padaku, Tabib? Memang sebelumnya aku sering terkena demam, namun setelah empat tahun belakangan ini, aku jarang sekali sakit."


Nada bicara wanita itu sedikit khawatir, karena dirinya takut sesuatu akan terjadi pada tubuhnya.


Tabib itu tersenyum. "Tidak perlu khawatir, Grand Duchess. Karena kondisi tubuh yang lemah, adalah hal biasa bagi seorang ibu yang tengah mengandung."


Arlen dan Cassandra melototkan matanya ketika mendengar beberapa patah kata yang terlayang dari tabib tersebut.


"Cassandra... hamil?" beo Arlen dengan nada dingin tak percaya.


Cassandra sedikit terkaget mendengar nada bicara suaminya yang terdengar dingin. Dirinya kini menjadi gelisah tanpa alasan.


"Ya. Untuk saat ini, kandungan Grand Duchess masih sangatlah muda. Dimohon untuk Grand Duchess agar tidak terlalu banyak beban pikiran dan diperkenankan untuk tidak melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu," papar sang tabib.


"Baiklah. Kalau begitu kau boleh pergi," ujar pria beririsan biru langit itu membuat sang tabib berpamitan kemudian mengundurkan diri.


Suara pintu yang tertutup, menjadi awal dari suasana dingin yang mencekam.


Entah kenapa, Cassandra jadi merasa takut. Terlebih lagi dengan tatapan dingin yang terlayang dari suaminya.


"Tidak kusangka, kau akan hamil secepat ini."


"Y-ya, aku juga tidak menyangka." Cassandra tergagap. Apa ini? Kenapa reaksi pria itu biasa saja ketika mereka telah mendapat kabar untuk membangun keluarga?


"Hei. Aku pikir aku akan gila," ujar Arlen membuat Cassandra semakin bingung.


"Apa?"


Belum sempat wanita itu akan kembali bertanya, dirinya langsung melayang di udara ketika Arlen mengangkat tubuhnya dan memutar-mutarnya.


"Aku akan menjadi ayah!! Hahaha!!"  gelak pria itu dikelilingi oleh kebahagiaan yang membentur dan melingkupi dirinya.


Sudah sejak lama, pria bergelar Grand Duke itu menginginkan sebuah anak dari wanita yang ia cintai. Dan kini keinginannya pun tercapai.


"Hei, Arlen! Berhenti! Aku jadi bertambah pusing!!" gaduh Cassandra membuat Arlen menyadari bahwa saat ini istrinya tengah sakit.


"Maaf maaf, aku lupa." Pria itu terkekeh, kemudian menghentikan putaran yang ia ciptakan karena bahagia yang tak tertahankan.


"Astaga! Kau ingin membunuhku dan anak kita?!" kesal Cassandra memukul dada suaminya cukup keras.


"Aku minta maaf. Aku terlalu senang," jawab Arlen kemudian kembali membaringkan istrinya di atas ranjang.


"Hah... tadi, ketika melihat reaksimu saat ada tabib, hampir aku berpikir bahwa kau tidak suka mendengar kabar kalau aku hamil," curhat wanita bersurai coklat itu menghela nafas berat.


"Apa yang kau katakan? Pria sinting dan bodoh mana yang tidak senang ketika mendapati bahwa istrinya tengah mengandung anaknya sendiri?" tanya Arlen dengan polos.


Cassandra tergelak. "Kau benar juga," katanya sembari menutup mulutnya ketika tertawa. "Aku yakin bahwa anak pertama kita adalah lelaki tampan yang mempunyai mata biru dan rambut pirang sepertimu."


"Apa yang kau katakan? Tentu saja anak pertama kita adalah perempuan cantik yang mempunyai rambut dan mata coklat sepertimu," tolak Arlen dengan cepat.


"Kalau begitu, apa kau mau membuat taruhan? Jika tebakanku benar, maka kau akan mencuci kakiku setiap malam sebelum tidur selama sebulan. Jika tebakanku salah, maka aku akan mencuci kakimu sebelum tidur selama sebulan. Apa kita sepakat?"


"Sepakat."


Lengkungan senyum kini tercipta di antara mereka. Mereka sangat yakin, bahwa anak mereka akan lahir seperti yang mereka kira.


Namun, semua perkiraan mereka hancur bagaikan kepingan kaca yang rapuh ketika anak mereka lahir pada sembilan bulan yang mendatang.


9 bulan kemudian....


"Anak laki-laki... dengan rambut coklat dan mata coklat," ujar sepasang suami-istri itu bersamaan.


Bayi mungil yang memiliki iris coklat tua yang dalam, dengan surai lembutnya yang bernada sama dengan matanya.


Ternyata, tidak ada tebakan yang benar di antara mereka. Cassandra dan Arlen sempat berpandangan sejenak, namun tak lama dari itu pun mereka tergelak dengan sangat keras.


Ternyata... penuh itu memang penuh kejutan.


Flashback off


"Pfft! Ahahaha! Jadi, ternyata kakak tidaklah termasuk kriteria anak yang ayah dan ibu inginkan?! Hahaha!!" gelak Carla puas menggoda kakaknya.


"Hoi. Apa kau sadar bahwa kau juga bukan kriteria anak yang ayah dan Ibu inginkan?" celetuk Kassen.


Cassandra terkekeh. "Benar. Ayah kalian dan Ibu sempat tak percaya pada awalnya. Namun walaupun begitu, kami tetap saja menyayangi kalian segenap hati kami."


"Kalau begitu, Ibu. Di antara ayah dan Ibu, siapa yang paling mencintai pasangan kalian?" tanya Carla.


"Bukankah kau tadi bilang bahwa pertanyaanmu sebelumnya adalah pertanyaan terakhir?" sela Kassen.


"Hehehe!" Lagi-lagi, Carla hanya bisa menyengir tanpa dosa membuat kakaknya itu sedikit kesal.


"Hm... benar juga. Ayah kalian dan Ibu sebenarnya memang saling mencintai. Namun jika dijawab menurut pertanyaan Carla tadi... sepertinya ayah kalian yang lebih mencintai Ibu," jelas Cassandra.


"Benarkah? Jika seperti itu, maka bisakah Ibu menjelaskan alasannya?" tanya Carla berantusias.


"Apa ini semacam wawancara?" Kassen menghela napas berat.


Cassandra tersenyum bangga. "Sejak dulu, ayah kalian pasti akan memperjuangkan Ibu. Bahkan, dia pun rela memberikan nyawanya pada Ibu. Itu berarti, ayah kalian pasti lebih mencintai Ibu, daripada Ibu mencintai ayah kalian!" seru wanita itu dengan berkacak pinggang.


Kassen lelah dengan seluruh percakapan antara ibunya dan adiknya satu ini. Sementara Carla, gadis itu semakin ber antusias.


"Ibu kalian itu adalah pembohong," celetuk seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di ambang pintu.


"Apa maksudmu itu ya, Grand Duke yang terhormat?" balas Cassandra tersenyum jengkel.


"Justru dialah yang paling mencintai Ayah, sehingga dia bahkan rela memberikan nyawanya pada iblis hanya untuk bersama dengan Ayah," jelas Arlen membuat wanita itu kesal.


"Ya ampun. Sepertinya otakmu itu telah berkarat ya, Pak Tua. Siapa ya, yang dulu bilang bahwa dia akan menemani seluruh detik dalam kehidupanku?" sindir Cassandra tak mau kalah.


"Akuilah, bahwa kau sangat mencintaiku, Cintaku."


"Haha, candaan yang unik. Namun, sepertinya lebih baik kau intropeksi diri sebelum berbicara seenaknya pada istrimu sendiri."


Sepasang suami istri itu kini langsung beradu mulut dan tak ingin kalah pada satu sama lain. Membuat kedua anak mereka menatap jengah kelakuan kedua orang tua mereka.


"Apakah semua orang selalu seperti ini? Di saat muda, mereka akan berlomba-lomba menciptakan kata-kata indah untuk mengungkapkan rasa cinta mereka. Namun di saat mereka tua, mereka malah mengejek satu sama lain dengan perkataan mereka sendiri," terang Kassen tak habis pikir.


"Kami tidak tua!!" sahut Cassandra dan Arlen dengan cepat.


"Meskipun jarang, namun kali ini aku setuju denganmu, Kak," jawab Carla mengiyakan.


Cukup nama kedua manusia itu saling beradu mulut, hingga akhirnya keduanya terkekeh atas sikap masing-masing.


Kassen dan Carla hanya berusaha untuk berpura-pura tidak melihat kelakuan orang tuanya tersebut.


"Apa kalian semua lupa bahwa hari ini kita akan dilukis?" tanya Arlen bersedekap.


"Oh iya! Aku hampir melupakannya! Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo kita segera bersiap-siap!" ujar Cassandra kemudian menarik Carla keluar dari ruangan itu untuk bersiap-siap.


Kassen hanya menatap lurus kepergian ibu dan adiknya yang tampaknya sangat kegirangan tersebut. Namun tak lama, sebuah tepukan pelan di pundaknya membuat ia tersadar.


"Grand Duke Kassen de Floniouse di masa depan, tentu ingin melihat lukisan dirinya saat masih muda," kata Arlen tersenyum kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Sebuah lengkungan tipis kini tercipta di wajah tampan lelaki bersurai coklat itu. Hingga akhirnya, dia pun juga pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan diri.


Tak lama dari itu, mereka berempat pun telah rapi dengan pakaian mereka. Seusai dari itu, kini lukisan mereka pun telah selesai.


Lukisan itu kini ditaruh di dinding yang terletak di dekat tangga rumah mereka yang cukup besar. Sehingga jika seseorang memasuki rumah itu, maka lukisan yang ukurannya besar tersebut terpampang dengan jelas.


Ya... terpampang dengan jelas, bahwa di lukisan itu... keluarga Floniouse sangatlah bahagia.


___________________________________________________


Halo hai! Bertemu lagi dengan author setelah hampir setengah bulan tidak memberikan kepastian untuk membuat chapter bonus :v


Jadi gini nih men-temen, karena akhir-akhir ini banyak banget komentar dari readers² yang bikin author seneng, ya jadi beginilah.


Author memutuskan untuk membuat chapter bonus. Gak tau sih bakal masih ada yang baca atau gak, karena kemungkinan besar pembaca lama udah ngehapus cerita ini dari favorit, atau mungkin tidak...?


Entahlah, tapi setelah melihat-lihat kembali chapter sebelumnya, memang sih moment romance di season 2 agak kurang, karena terlalu fokus sama konflik ehe. Jadi yah... author buat deh chap bonus ini berharap bisa memuaskan readers yang haus akan happy and romance moment.


Okelah, karena tak ingin berbicara lebih panjang lagi, author akan berpamitan sampai di sini.


Semoga kita bisa bertemu di kesempatan lain, senang bisa mengenal readers² semua!


Btw, ada yang masih inget nama Carla? Kalo enggak, coba lagi baca chap 26, tehe!! :)


Ciao! ❤