
Previously....
Anastasia menatap kosong lelaki di hadapannya itu dengan bibir yang terkatup. Dia tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaan yang saat ini menghampirinya.
Dia hanya bisa merasakan bahwa hatinya seperti digedor sangat kuat. Dan dadanya terasa seperti ditekan sangat kuat seakan dia tak bisa bernafas.
Dan perkataan Arlen selanjutnya, seakan membuat nafasnya berhenti.
"Aku mencintainya."
...~•The Atrocious Duke's Wife•~...
...Chapter...
...(17)...
Cassandra Pov
Apa aku harus mengunjunginya? Karena aku khawatir bagaimana keadaannya walaupun sudah pasti penawar itu akan bekerja dengan baik.
Tapi tetap saja perasaan ini masih gelisah jika tidak melihatnya secara langsung.
Aih, daripada terus gelisah seperti ini, lebih baik menemuinya saja!
Aku langsung melangkah dan membawa beberapa buah tangan kemudian menuruni tangga.
Saat aku melewati ruang tamu yang langsung mengarah ke pintu utama masuk, tiba-tiba saja suara ayah menghentikan langkahku.
"Mau kemana kau?"
Aduh kenapa harus berpapasan, sih?!
Aku langsung membungkukkan badanku dengan kepala yang tertunduk. "Ehm, aku ingin pergi mengunjungi temanku yang sedang sakit, Ayah," ujarku.
Ya, itu tidak sepenuhnya bohong, bukan?
"Tunda dulu kegiatanmu itu. Lady Krystillian ingin bertemu dan berbicara denganmu," terang ayah membuatku langsung tersadar.
Tidak sadar ternyata ada nona Charlina yang tengah duduk di kursi sofa dengan sopan. Kuhembuskan nafasku pelan karena kegiatanku untuk mengunjunginya kembali tertunda.
Segera, aku berjalan pelan kemudian duduk di atas permukaan sofa yang empuk. Tak lupa dengan senyum yang mengembang.
"Suatu kehormatan bisa kembali bertemu dan berbicara dengan Lady Krystillian, ada apa anda datang kemari?" sapaku sembari memposisikan telapak tanganku yang saling bertindih di atas paha.
"Maaf jika saya menganggu waktu anda, tapi saya benar-benar ingin mengatakan suatu hal yang penting untuk anda," katanya terdengar serius.
"Namun sebelumnya, karena ini bersifat pribadi, saya membutuhkan beberapa privasi," imbuhnya.
Sontak aku melirik ke arah ayah, dia hanya diam dengan tatapan datar. Tapi tak lama dia langsung meninggalkan kami berdua seakan mengerti maksud nona Charlina.
"Jadi, apa yang ingin anda katakan kepada saya?" tanyaku.
Dia tampak ragu dan sedikit bingung, bagaimana akan menyampaikan gak yang ingin dia beritahukan kepadaku.
"Itu... sebelumnya, saya sangat benar-benar berterimakasih atas kebaikan Lady la Devoline karena merahasiakan perbuatan jahat saya, saya benar-benar menyesal," sesalnya dengan kepala tertunduk.
"Tidak perlu, lagipula anda juga telah memberikan penawarnya kepada saya. Itu bukan masalah besar," balasku.
"Tentu itu masalah besar!" sergahnya membuatku sedikit terkejut.
Tapi tak lama dari itu, dia kembali menundukkan kepalanya. "Jika masalah itu sampai tersebar... keluarga saya pasti akan terkena imbasnya. Itu semua karena diri saya yang terlalu bodoh...."
Perempuan di hadapanku ini kemudian terisak, membuatku bingung harus bagaimana. Karena sedari tadi aku tidak tahu apa yang ingin di sampaikannya.
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Tidak perlu diperpanjang," ucapku.
Nona Charlina pun mengusap airmatanya dan hidungnya secara kasar kemudian kembali mendongakkan kepalanya.
"Oleh karena itu, Lady la Devoline, saya ingin memberitahukan sesuatu pada anda."
Aku hanya diam mempersilakan dia berbicara. Karena sepertinya dia butuh waktu.
"I-itu... sebenarnya, ada seseorang yang selalu mengunjungi saya akhir-akhir ini," jedanya. "Lalu dia pun mulai membicarakan hal buruk tentang anda pada saya," paparnya.
Hal buruk tentangku? Baiklah ini semakin terdengar serius.
"Saya tidak tahu sama sekali siapa sosok tersebut, namun dia selalu mengunjungi saya setiap malam. Dia mulai berbicara buruk tentang anda, dan saya pun termakan perkataannya dan mulai membenci anda sejak saat itu."
Apa orang itu semacam penguntit? Atau penghasut?
"Tapi yang pasti, orang itu selalu mengawasi anda. Karena dia selalu tahu apa yang anda lakukan, dan selalu tahu di mana anda berada."
Seketika bulu kudukku berdiri, namun aku harus tetap tenang. Aku harus mencari dan menggali sebanyak mungkin informasi tentang penguntit mengerikan ini.
"Oleh karena itu, Lady," ujar nona Charlina kemudian menggenggam kedua tanganku. "Berhati-hati lah, karena mungkin saja orang tersebut mempunyai niat buruk terhadap anda."
Sepertinya dia tidak berbohong, karena mimik wajahnya benar-benar terlihat mengkhawatirkanku.
Aku mencoba mengukir senyum untuk menenangkannya. "Kau tenang saja, aku akan selalu berhati-hati."
Dia mengangguk, kemudian kembali pada posisi awalnya. "Maaf jika sekali lagi saya mengganggu anda, saya jadi merasa tidak enak," katanya.
"Astaga, bukankah sudah kubilang tidak apa-apa? Lagipula, anda juga sudah repot-repot ke sini hanya untuk memberitahukan hal ini kepada saya, jadi anda tidak perlu merasa tidak enak," balasku.
"Kalau begitu, Lady. Saya tidak ingin berlama-lama dan menyia-nyiakan waktu anda. Saya pamit, terimakasih atas jamuannya," pamitnya kemudian berdiri.
"Ya, berhati-hati lah," jawabku dan dia mengangguk sembari tersenyum.
Tak lama dari itu, nona Charlina perlahan-lahan menghilang di ambang pintu dan terdengar suara tapak kaki kuda. Itu berarti dia telah pergi.
Namun aku masih penasaran, siapa sosok itu? Dan nona Charlina bilang dia selalu mengawasiku? Lebih baik aku berhati-hati dan bersikap biasa saja agar penguntit itu tidak curiga.
...~•~...
Akhirnya aku telah sampai di depan gerbang kediaman keluarga Floniouse. Seperti biasa, bangunan yang besar dan megah langsung membuat takjub bagi yang melihatnya.
Tak lama dari itu, aku langsung berjalan menuju pintu masuknya dan berniat mengetuk secara sopan. Tapi belum sempat kepalan tanganku menyentuh pintu kayu itu, tiba-tiba saja pintunya terbuka dan menampilkan seorang gadis yang sibuk mengomel.
"Kenapa ketika aku ingin bicara kalian selalu memotongku--"
Gadis di hadapanku ini baru tersadar ketika bola matanya menangkap kehadiranku.
"Kak Cassie?! Akhirnya kau datang! Aku sudah menunggumu dari kemarin!" serunya langsung menghamburkan pelukan.
"Maaf, karena aku sedikit ada urusan. Jadi tidak sempat datang ke sini," kilahku menggaruk tulang rahangku.
Entah kenapa kebiasaan ini tak bisa kuhentikan.
"Tidak apa-apa, kalau begitu ayo masuk!" ajaknya tanpa menunggu persetujuanku dan langsung menarikku begitu saja.
Dapat kulihat Duke dan Duchess Floniouse tengah duduk di ruang tengah, sehingga aku langsung membungkukkan badanku hormat sembari menundukkan kepala.
"Salam, Tuan Duke dan Nyonya Duchess Floniouse. Maaf atas kedatangan saya yang menganggu waktu kalian," ucapku.
"Ah, tidak perlu se formal itu. Apa kau ke sini ingin menjenguk Arlen?" jawab Duchess ramah.
Tatapan dingin yang ditujukan Duke Floniouse membuatku jadi tidak nyaman. Apa keputusanku datang kemari salah?
"Ya, jika anda tidak keberatan," balasku masih setia tunduk.
"Tentu saj--"
"Tidak semua orang bisa mengunjungi putra dari keluarga Floniouse," sahut Duke Floniouse membuatku sedikit terkejut dan tersentak.
Dia masih sama, membenciku dalam diam. Dan tidak suka dengan keberadaanku.
Apa dia telah tahu bahwa Arlen terluka karena diriku? Entahlah. Jika iya, mungkin itulah penyebab dia membenciku. Atau dia membenciku karena statusku yang merupakan seorang Viscount bisa dibilang cukup rendah dibandingkan dirinya yang merupakan seorang Duke.
Dalam seketika, Daisy langsung menyergah secara cepat. "Tentu dia bisa, jika kak Ana bisa mengunjungi kakak, kenapa Kak Cassie tidak?!"
"Jaga nada bicaramu, Daisy!" hardik Duke Floniouse membuat Daisy tersentak dan membulatkan matanya.
Astaga sebegitu susahnya kah hanya untuk mengunjungi seorang teman?
"Sudahlah, Daisy," bisikku memegang lengannya.
Tak kusangka, dia melepas kalungan tanganku dengan menyentaknya. "Lepaskan, Kak!"
"Lagipula, apa Ayah dan Ibu tahu?! Sebenarnya Kak Cassie lah yang susah payah mencarikan penawar itu untuk kakak! Tapi kalian selalu memotongku dan tidak mendengarkanku. Kalian selalu memuji kak Ana! Aku muak!"
Ingin rasanya aku bertepuk jidat saat ini juga, hanya untuk mengunjungi saja harus melewati pertengkaran antar keluarga dulu.
Seketika aku langsung menyesali dan menyesali keputusanku untuk mengunjunginya.
Daisy langsung berjalan keluar dari ruangan ini dan meninggalkan suasana yang sangat sangat canggung serta hening.
"Maafkan saya, karena saya semuanya menjadi seperti ini," ujarku.
"Ah, tidak perlu. Entah kenapa, Daisy akhir-akhir ini sangat sensitif. Jadi kau tak perlu merasa bersalah. Bisakah kau mengejarnya? Untuk saat ini, dia pasti hanya akan mendengarkanmu," papar Duchess Floniouse.
"Sebuah kehormatan bagi saya. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Semoga hari kalian menyenangkan dan semoga kalian selalu diberkati," pamitku.
Tak butuh waktu lama untukku keluar dari situasi mencekam ini. Dengan segera, aku langsung mengejar Daisy yang belari ke arah taman belakang.
Dia langsung duduk di sebuah bangku dengan wajahnya yang penuh kekesalan. Bahkan alisnya pun mengerut dan tatapannya masih menyalang ke depan.
Secara perlahan, aku pun duduk di sampingnya dan mengelus pundaknya. Berusaha memadamkan amarahnya yang mendidih.
"Ayah dan Ibu selalu memuji kak Ana karena telah memberikan penawar itu pada kakak, padahal Kak Cassie lah yang telah mendapatkannya," cecarnya.
Sebenarnya aku tak terlalu peduli siapa yang memberikannya, yang penting lekaki itu sembuh, aku sudah sangat bersyukur.
"Sudahlah, lagipula semuanya telah beres. Aku tidak masalah akan hal itu," jawabku.
"Tapi tetap saja--"
"Daisy," ucapku dan dia langsung terdiam dan menghembuskan nafas gusar.
"Tadi kak Cassie ingin menjenguk Kakak, bukan? Aku akan berbicara dengan ibu," katanya.
Entah kenapa aku malah jadi tidak ingin menjenguknya, karena aku tidak ingin menyebabkan kejadian seperti tadi terjadi lagi.
"Ah, tidak perlu. Lebih baik aku pulang saja."
"Tapi kenapa?" Daisy tampak tidak setuju dan tekejut.
"Karena barusan aku teringat ada sesuatu hal mendesak yang harus kulakukan, oleh karena itu aku harus pergi sekarang."
Daisy tampak murung.
"Oh iya, apa kau bisa memberikan ini untuk kakakmu?" pintaku kemudian menyodorkan beberapa buah tangan yang sempat kubawa. "Bilang padanya untuk cepat sembuh," imbuhku.
Daisy kembali menghembuskan nafas lelah. "Baiklah."
Aku pun mengukir senyum, kemudian pamit padanya. Dia pun melambaikan tangannya padaku dan aku segera membalasnya.
Kunaikkan tubuhku ke dalam kereta kuda yang akan membawaku pulang. Sempat kutatap kediaman megah itu hingga akhirnya menghilang dari pandanganku.
Hah... sesusah inikah untuk bertemu dengannya?
...~•~...
Malam telah tiba, senantiasa kala bulan selalu berjuang menerangi, walaupun beribu-ribu tahun lamanya tidak akan sebanding dengan matahari.
Suara jangkrik yang bersahutan mengisi keheningan, dengan angin malam yang menerpa kulit.
Berusaha menenangkan pikiran, aku pun duduk di atas bangku taman menikmati taburan bintang yang menggelitik mata untuk melihatnya.
Saat bola mataku sibuk menatap ke atas, tiba-tiba saja terdengar suara dari semak-semak. Sontak aku langsung waspada dan berdiri secara perlahan-lahan.
Apa itu adalah penguntit yang dibicarakan nona Charlina?
Secara perlahan aku meraba punggungku untuk mengambil pisau dapur yang sempat kuselipkan di belakang korsetku.
Aku tahu ini berbahaya, namun aku tak bisa memikirkan tempat yang cocok untuk menyembunyikannya karena sekarang aku tengah memakai piyama yang tidak ketat.
Kudekati semak-semak itu dengan langkah kucing denga perasaan was-was. Jantungku berdebar keras dengan tangan yang sedikit gemetar.
Saat ada sosok berjubah tepat di hadapanku, aku langsung menodongkan pisau yang sempat aku bawa dengan gerakan cepat.
Siapa dia? Apa dia yang selama ini menguntitku dan mengawasiku?
Suasana hening, karena tidak ada satu patah kata pun keluar dari bibir kami. Hingga akhirnya dia pun menyerah dan membuka suaranya.
"Gerakanmu cepat juga."
Suara ini...!
Secara cepat aku menyingkirkan tudung yang menutupi wajahnya kemudian aku langsung terbelalak kaget.
"Bagaimana bisa kau ada di sini?!" tanyaku histeris. Tentu dengan suara tertahan, karena jika aku berteriak lepas bisa-bisa ayah mendengarnya.
"Mengunjungi seseorang yang tidak jadi menjengukku," jawabnya santai.
Aku menghembuskan nafasku gusar. "Kukira kau adalah penguntit yang dibilang nona Charlina," gumamku tanpa sadar.
"Penguntit? Apa maksudmu?"
Seperkian detik aku langsung tersadar, dengan cepat aku mencari alasan lain. "Bukan apa-apa," bohongku kemudian duduk di kursi tempatku tadi.
"Kau mempunyai penguntit?"
"Sudah kubilang, bukan apa-apa," tegasku mengalihkan pandangan.
Dia terdiam, sepertinya dia tidak ingin bertanya lebih dalam lagi. Syukurlah.
Namun aksi yang dia lakukan selanjutnya membuatku terkejut. Dia tiba-tiba saja duduk di sebelahku kemudian menjatuhkan kepalanya di pangkuanku.
"Kau gila?!" sergahku.
"Kenapa? Aku adalah orang sakit. Salahkah jika aku ingin beristirahat?"
Meskipun aku tak ingin mengakuinya, namun dia sangat pintar dalam berkata. Membuatku pasrah dan melakukan apa yang dia mau. Lagipula... entah kenapa ini terasa nyaman.
"Langitnya bagus bukan?" ujarnya tiba-tiba sambil menatap ke arah atas. Pertanyaannya acak sekali.
"Ya," jawabku seadanya.
"Bagaimana rasanya menjadi nona bangsawan?"
"Jujur, ada baiknya ada buruknya."
"Apa?"
"Aku jadi lebih dipandang dan dihormati oleh orang-orang, namun aku juga selalu mendapat surat cinta dari lelaki bangsawan yang aneh dan tak kuketahui," jelasku.
"Pfft!"
Aku langsung menatap ke arahnya, apa barusan dia terkekeh?
"Jadi, apa kau membalas surat cinta mereka?"
"Tentu saja tidak!" selaku. "Aku bahkan tidak mengenal mereka, bagaimana aku harus membalas mereka?"
"Begitu."
Dia menjawab singkat. Entah kenapa keheningan menyergap, sehingga kau pun memutuskan untuk kembali mencari topik pembicaraan.
"Kalau kau bagaimana? Kudengar kau populer di kalangan gadis bangsawan. Apa kau sering mendapat surat cinta dari gadis aneh?" tanyaku jahil.
"Lebih parah. Bahkan terkadang kamarku penuh akibat hadiah-hadiah dan bunga pemberian mereka," jelasnya membuatku terkekeh.
"Lalu kau apakan hadiah dan bunga mereka? Kau simpan atau kau abadikan di suatu ruangan tertentu?"
Lelaki ini tampak berpikir sembari meraih sejumput helai rambutku dan memainkannya. "Aku buang semuanya."
"Kau buang?!" ucapku kaget.
"Ya."
"Daripada kau buang kenapa tidak kau gunakan saja? Atau kau berikan pada orang lain?"
"Itu terlalu merepotkan."
"Haha...," tawaku hambar. Ternyata dia tidak sebaik yang kukira. Entah kenapa selanjutnya aku tiba-tiba mengatakan hal ini. "Jika aku yang memberimu hadiah, apa kau akan menerimanya?"
Iris biru langitnyanya yang menggelap dan dihiasi dengan pantulan cahaya bintang kini menatapku. Tiga kata yang ia ucapkan selanjutnya membuat nafasku seakan terhenti.
"Dengan senang hati."
...01.02.2021...