The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
Chapter 28 : Gadis yang Tersesat (1)



KARYA INI HANYA FIKSI. NAMA, TOKOH, PERISTIWA, TEMPAT, HANYALAH KHAYALAN SEMATA. HARAP PEMBACA BIJAK DALAM MENANGGAPI.


Ini adalah kisah seorang gadis yang tersesat di hutan dendam. Semakin dia ingin berlari dan berusaha keluar, dendam tersebut semakin menahannya sehingga dia terluka dan akhirnya luka tersebut tak dapat disembuhkan.


Semakin dia berusaha mencari jalan keluar, semakin dia tersesat ke dalam hutan gelap tersebut.


Seraya dengan bayang-bayang yang setia menemani setiap langkah yang dihasilkan oleh kaki kecilnya yang telah kelelahan.


Jikalau ia ingin meminta pertolongan, namun bukan seseorang yang ia harapkanlah yang menyelamatkannya.


Di kala ia ingin lepas dari rasa itu, semakin dia terjatuh ke dalam kubangan rasa dendam itu.


Saat sisi lainnya berkata untuk terus berusaha berlari keluar, namun sisi yang lainnya lagi terus bersikeras menghalangi dan menghambat perjuangan gadis kecil yang malang itu.


Tangisnya mengguyur pipi hingga terjatuh dan diserap oleh tanah yang kering, ia merasa sakit.


Sakit, namun rasa sakitnya kini tengah dibohongi oleh dendam yang tercipta dan mulai mengontrol hati kecilnya.


Terhasut, tersakiti, hingga akhirnya dia berakhir menyakiti orang lain.


Inilah kisahnya.


Kisah antara persahabatan yang telah lama pupus. Kisah persahabatan yang telah lama terbuat, kisah persahabatan yang menjadi pemicu rusaknya hubungan mereka.


Kisah antara dua gadis dan satu laki-laki.


Penasaran? Ingin segera mendengarnya?


Kalau begitu aku akan langsung saja. Marilah kita kembali kepada lima tahun silam.


5 tahun lalu....


Gadis kecil bersurai pirang lurus itu tengah bersenandung ria seraya menyisir rambutnya dengan menatap refleksi dirinya di cermin.


Saat itu, dia tengah bersiap-siap untuk menemui dan memperkenalkan kedua sahabat yang sangat ia sayangi.


Dengan langkah yang diserayai lompatan kecil ia langkahkan di lantai licin dan mulus tempat tinggalnya.


Di kala netra hijau jernihnya melihat keberadaan orangtuanya yang tengah duduk bersama dengan secangkir teh yang tertera rapi di hadapan mereka, kedua orangtuanya itu saling berbincang sambil mengeluarkan kekehan-kekehan kecil yang terlontar dari bibir mereka.


Senyum merekah tercetak jelas di wajah cantik gadis itu yang polos, kemudian secara sopan membungkukkan badannya dengan ujung rok gaunnya yang ditarik hingga mengembang.


"Selamat pagi, Ayah! Selamat pagi, Ibu!" sapanya ceria seperti hari-hari biasanya.


"Ah, Ana ku sayang! Ayo sini kemarilah, duduk bersama kami!" ajak sang ibu dari gadis itu.


Ayah dan ibu dari gadis itu merupakan sepasang Count dan Countess.


Count Emerald dan Countess Emerald.


Gadis itu pun mulai melangkahkan telapak kakinya yang telah terpasang sepatu hak yang biasa dipakai oleh gadis  remaja bangsawan pada umumnya, kemudian mendekat dan duduk di samping kedua orangtuanya.


"Apa kau ingin sarapan? Makanlah terlebih dahulu," tawar ayah gadis itu seraya menyodorkan sebuah kue yang telah terpanggang sempurna.


Dari tampilannya saja, dapat dilihat bahwa kue itu terasa sangat lezat.


"Tidak perlu Ayah, aku sudah makan tadi. Jika aku terlalu banyak makan, nantinya tubuhku tidak akan ramping lagi," canda gadis itu sukses membuat suasana menjadi hangat karena tawa mengisinya.


"Terserahmu saja. Anak Ayah memang yang tercantik."


Gadis itu hanya menampilkan senyum manisnya seraya puas.


"Oh iya sayang, kau berdandan cantik seperti ini mau kemana?" Ibu gadis itu bertanya.


"Hari ini aku akan menemui Arlen dan Cassandra, sekalian aku akan memperkenalkan mereka berdua!" serunya dengan mata berbinar-binar.


Sungguh gadis yang sangat polos.


"Cassandra? Maksudmu putri dari Viscount Devoline?"


"Ya, Ibu."


"Sejak kapan kau mengenalnya? Bukankah kau tidak ingin berteman dengan siapapun kecuali dengan Arlen?" kelakar sangat ibu membuat gadis itu memanyunkan bibir merah mudanya.


"Kata siapa! Aku mau saja berteman dengan orang lain kecuali Arlen. Hanya saja, waktu itu aku belum bertemu dengan teman yang baik selain dia. Dan sekarang aku telah bertemu dengan Cassandra, dia adalah teman yang baik!" papar gadis itu disertai dengan pujian yang ia layangkan untuk teman barunya.


"Benarkah? Namun bagaimana bisa kalian saling kenal? Bukankah Cassandra lebih tua tiga tahun darimu?"


"Waktu itu aku bertemu dengan Cassandra saat aku tengah...." Gadis itu menggantung perkataannya karena rasa malu yang tiba-tiba menyerangnya untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tengah apa?" tanya sang ayah penasaran dengan kalimat yang digantungkan oleh putri semata wayangnya.


Gadis itu memainkan kedua kukunya ragu. "P-pokoknya itu adalah urusan wanita, Ayah! Intinya waktu itu Cassandra menolongku di saat aku tengah kesusahan. Dan sejak saat itu, aku berteman dengan Cassandra karena dia perempuan yang sangat baik dan lembut!"


Sang ibu pun hanya terkekeh kecil di kala putrinya itu malu saat ingin mengatakan sesuatu yang menjadi kebiasaan wanita setiap bulannya.


"Sepertinya dia sangat baik, lain kali cobalah untuk membawanya kesini, Ibu dan Ayah ingin berkenalan dengannya," pintanya.


"Tentu saja, Ibu! Lain kali aku akan mengenalkannya pada kalian!" ujar gadis itu kegirangan. "Oh iya, aku akan terlambat! Kalau begitu, aku pergi terlebih dahulu, Ibu, Ayah!"


Setelah itu, dengan tergopoh-gopoh, gadis itu berlari dengan menarik roknya agar tidak kotor karena menyapu lantai.


Dengan kebahagiaan dan kegirangan yang mengisi hatinya, gadis itu tak sabar untuk bertemu kedua sosok yang menjadi sahabatnya.


Namun, tak ada yang tahu kapan kegirangan itu akan bertahan lama.


Dan tak ada yang tahu kapan ketulusan hatinya itu akan bertahan lama.


...🥀...


Sebuah mansion yang sedikit lebih kecil dari mansion tempat tinggalnya, berada tepat di hadapan gadis itu.


Dengan langkah pelan, ia mengetuk pintu utama mansion itu secara sopan.


Seusai menunggu beberapa saat, muncullah seorang pelayan yang membuka pintu itu.


"Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya pelayan itu sopan dan berusaha lembut.


"Ah, aku Anastasia Emerald. Aku ingin bertemu dengan Cassandra, apa dia ada di dalam?" Gadis itu bertanya secara sopan dan ia berharap bahwa seseorang yang tengah ia cari ada di dalam.


Pelayan itu tampak ragu dan bingung, yang mana membuat gadis bersurai pirang itu sedikit bingung.


"Uhm... itu...."


"Apa kau tak bisa menjaga sikapmu?!"


Terdengar suara teriakan menggelegar dari dalam kediaman itu. Gadis itu pun semakin bingung dibuatnya.


Plak!


Terdengar suara tamparan yang sangat keras, membuat gadis itu sedikit terkejut dan terheran-heran. Apa yang terjadi di dalam sana?


Jika saat itu gadis itu mengkhawatirkan sosok yang ia cari. Sekarang, pasti gadis itu kesenangan melihat sosok yang ia cari tengah menderita.


"Jika aku mendapati kau tak bisa diam dan menerima pernikahan ini dengan baik dan patuh, maka jangan harap kau akan menjadi bagian dari keluarga Devoline lagi!!"


Pelayan yang berada di hadapan gadis itu pun tampak mengernyitkan kedua alisnya seraya dengan kedua kelopak matanya yang ia tutup rapat-rapat.


"Hei, apa yang terjadi di dalam? Kenapa aku mendengar suara tamparan?" tanya gadis itu tak bisa menahan rasa penasaran yang membuncah di hatinya.


"N-nona... l-lebih baik anda pulang terlebih dahulu. Nona Cassandra hari ini sedang tidak enak badan...." jawab pelayan itu tergagap.


Tentu gadis itu tahu bahwa pelayan itu sedang membohonginya sekarang. Namun untuk menjaga sopan santun, ia tidak akan memaksa pelayan itu memberitahukan kebenarannya.


"Baiklah, jika Cassandra telah sembuh, tolong kabari ak--"


"N-nona...!" lirih pelayan itu dengan raut kekhawatiran yang menghiasi wajahnya.


Gadis bersurai coklat bergelombang itu memindahkan netra yang seirama dengan warna surainya kepada sosok lain yang berada di antara mereka.


"Nona Anastasia? Ada gerangan apa datang kemari?" tanyanya dengan senyum manis yang terulas dari kedua sudut yang terangkat.


Gadis bersurai pirang itu mengernyitkan alisnya seraya dengan kedua kelopak matanya yang sedikit terangkat sehingga matanya membola.


Gadis itu melihat bekas merah keunguan di pipi kiri sosok yang tengah di carinya.


Ia ingin bertanya dan mengungkapkan kekhawatirannya, namun formalitas menghalanginya untuk melakukan itu semua.


"Anu... begini, Cassandra. Aku ingin mengajakmu untuk berkenalan dengan sahabatku, apa kau mau ikut denganku?" Gadis bersurai pirang itu menjadi ragu dan tidak enak.


Namun ia juga akan merasa sedih jika temannya yang satu ini menolak ajakannya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu, Nona Anastasia."


Kata-kata itu langsung membuat gadis bersurai pirang itu merasakan kesenangan yang merambat di hatinya.


"Terimakasih Cassandra. Oh iya, karena kau telah kuanggap sebagai sahabatku, kau boleh memanggilku Anastasia atau Ana saja!" seru gadis itu membuat lawan bicaranya terkekeh kecil.


"Baiklah, Anastasia. Kalau begitu, kau juga jangan sungkan-sungkan untuk memanggil nama depanku," balas gadis bersurai coklat itu.


"Reina. Aku akan ikut dengan Anastasia, bisakah kau menyampaikannya kepada Ayahku?" pintanya.


Pelayan itu langsung mengangguk dan menundukkan kepalanya. "Baiklah, Nona. Saya akan menyampaikannya kepada Tuan."


"Ayo Cassandra. Ikutlah bersamaku menaikkan kereta kudaku!" ujar gadis bersurai pirang itu seraya menarik-narik pergelangan tangan sahabatnya tak sabaran.


"Uhm... apa aku tidak perlu berganti pakaian terlebih dahulu, Anastasia?"


Gadis bersurai pirang itu menolaknya. "Aih, kau tak perlu berganti pakaian lagi. Kau bahkan sudah sangat cantik saat ini," puji nya membuat lawan bicaranya kembali terkekeh kecil.


Mereka berdua terlihat sangat bahagia dan akrab, namun siapa sangka kalau mereka kelak akan menjadi musuh bebuyutan di masa yang akan mendatang.


...🥀...


"Arlen! Arlen!" teriak sang gadis meneriakki nama sahabatnya yang tak kunjung menoleh ke arahnya.


Selang beberapa saat, kini sahabatnya yang memiliki rambut pirang lurus berkilau yang sama dengannya itu pun akhirnya menoleh.


Raut tenang dan dingin seperti biasa, selalu menghiasi wajah tampannya yang mampu membuat kaum hawa tergila-gila padanya.


Gadis itu pun mendekati laki-laki itu sambil setia menarik pergelangan sahabat barunya untuk mengikutinya.


Tak lama dari itu, gadis bersurai pirang itu mengernyit bingung karena kedua sahabat yang akan dia perkenalkan, kedua-duanya memasang tampang terkejut dan tak percaya.


"Kau?!"


Pekik laki-laki itu seraya menunjuk sahabat barunya, jarang-jarang laki-laki itu memasang tampang terkejut seperti itu.


"Ada apa, Arlen? Kau mengenal Cassandra?" tanya gadis bersurai pirang itu tak dapat membendung rasa penasarannya.


"Ah... itu, aku dan Tuan Arlen sempat bertemu beberapa kali, namun kami selalu tak sempat berkenalan," ujar sahabat gadis itu.


"Begitu, karena kalian belum berkenalan secara benar. Aku akan mengenalkan kalian secara resmi!" seru gadis itu seraya menarik pergelangan kedua sahabatnya dan membuat mereka berjabat tangan.


"Arlen, ini Cassandra. Cassandra, ini adalah Arlen. Laki-laki paling menyebalkan di dunia ini."


"Apa maksudmu menyebalkan? Daripada kau, tidak badan, tidak pikiran, semuanya pendek," sindir laki-laki itu tajam membuat sang gadis langsung menoyor kepalanya.


"Rasakan itu! Beraninya mengejekku! Hmph!" rajuknya seraya mengembungkan kedua pipinya.


Sebuah kekehan berhasil keluar dari bibir gadis yang mempunyai surai coklat tua yang berada di sana.


Membuat kedua sahabat masa kecil itu langsung menoleh ke arahnya.


"Kenapa kau tertawa, Cassandra?"


"Tidak apa. Hanya saja, kalian berdua sangat lucu, kalian seperti kembar tak seiras yang saling bertengkar saja," kekeh gadis itu sambil berusaha menutupi mulutnya dengan jari telunjuk yang ia lingkaran dan ia posisikan di depan bibirnya.


"Dan apa kau tahu, Cassandra? Laki-laki menyebalkan ini akan menjadi tunanganku, bukankah aku sangat tidak beruntung?" ejek sang gadis bersurai pirang dengan kekehan seraya merangkul laki-laki yang ada di sampingnya.


"Justru aku yang tidak beruntung, mempunyai tunangan sepertimu," balas laki-laki itu tak mau kalah.


Sedangkan sang gadis hanya berpura-pura tidak mendengar perkataan laki-laki itu dengan mengangkat kedua bahunya.


Gadis bersurai coklat itu menutupi mulutnya yang membentuk lingkaran. "Oh benarkah? Kalau begitu semoga pertunangan kalian berjalan lancar, dan kalian akan saling mencintai satu sama lain," ujarnya seraya tersenyum.


"Tentu saja! Walaupun laki-laki satu ini menyebalkan, aku tetap akan mencintainya!" ucap gadis itu kegirangan.


Namun anehnya, laki-laki di sebelahnya seperti tidak bahagia sama sekali.


Raut wajah dingin dan datar masih saja setia menemaninya.


"Oh iya! Malam ini orangtuaku akan makan makan bersama dengan orangtua Arlen! Dan mereka juga mengundangmu, apa kau mau, Cassandra?"


"Jika itu keinginanmu, maka dengan senang hati aku akan memenuhinya."


Dan dua gadis itu pun kini saling melempar senyum tulus yang berasal dari dalam hati mereka.


...🥀...


"Ternyata kau memiliki putri yang sangat cantik, Viscount Devoline," puji Countess Emerald pada Viscount Devoline.


"Terimakasih, Countess. Cassandra bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Anastasia yang sangat cantik dan terlihat sangat anggun di usianya yang masih bisa dibilang cukup muda."


Gadis bersurai coklat yang menjadi perbincangan kedua bangsawan itu pun hanya bisa menampilkan senyum palsunya yang getir.


Bahkan di saat seperti ini pun, ayahnya sama sekali tak menghargainya.


"Baiklah, mari kita langsung saja membicarakan tujuan utama kami mengundang kalian semua kesini," ujar Count Emerald membuat semua orang yang berada di sana mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Aku dan keluarga Floniouse telah menyepakati hal ini sejak lama. Kami akan mengumumkan, bahwa putri kami, Anastasia, akan menjadi tunangan dari putra keluarga Duke Floniouse, Arlen," jelasnya panjang membuat gadis bersurai pirang yang ada di ruangan itu menjadi gugup karena perkataan ayahnya.


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat, namun tak lama dari itu, suara berat nan rendah mengisi keheningan itu.


"Aku menolak," ujar laki-laki bersurai pirang membuat seluruh manusia yang ada di ruangan itu terperangah.


"Apa maksudmu, Arlen?!" teriak Duke Floniouse, ayah dari laki-laki itu.


Bahkan gadis bersurai pirang itu seakan ingin mengeluarkan bola matanya dan sesuatu seakan mencekik tenggorokannya.


"Aku menolak. Karena aku telah mempunyai seseorang yang aku sukai, dan orang yang aku sukai adalah dia," tunjuk laki-laki itu dan sontak semua pandangan menuju ke arah jari telunjuknya.


"Cassandra la Devoline."


Bagaikan tertimpa oleh batu berukuran besar yang tak terkira, gadis bersurai pirang yang ada didalam ruangan itu merasa hatinya seakan hancur dan remuk.


Airmata kesakitan tak dapat ia tahan untuk mengalir keluar dari pelupuk matanya.


Mengapa secara tiba-tiba?


Setelah bertahun-tahun mereka saling mengenal, kenapa laki-laki itu berkata seperti itu?


Sebenarnya, apa maksud dari semua ini?


^^^I Become Wife of the Atrocious Duke ^^^


^^^04 Desember 2020^^^