The Atrocious Duke'S Wife

The Atrocious Duke'S Wife
{Season 2} Permohonan



Previously....


Aku terdiam. Aku hanya bingung bagaimana membalasnya.


"Cassandra. Kau dan Arlen hanya berteman, bukan?" tanya Anastasia.


Belum sempat aku membalas, dia kembali berkata.


"Oleh karena itu, bisakah kau menjauh dari Arlen mulai sekarang?"


...~•The Atrocious Duke's Wife•~...


...Chapter ...


...(26) ...


Angin malam lewat berhembus kencang mengibaskan beribu-ribu helai kedua manusia yang tengah dalam tenggelam dalam percakapan tersebut.


Cassandra terdiam sembari terlarut dalam pikirannya sendiri sehabis mendengar pernyataan Anastasia.


Apa maksud putri dari pasangan Count dan Countess itu secara tiba-tiba mengatakan hal tersebut?


"Apa maksudmu, Anastasia? Menjauh? Bukankah sudah kubilang aku dan Lord Arlen hanyalah teman?" ujar gadis bernetra garnet itu.


Anastasia memainkan kuku jari-jemari nya sembari berkata. "Aku tahu. Tapi, bukankah tidak baik bagi seorang lelaki yang mempunyai tunangan dekat dengan perempuan lain?" balasnya.


"Dekat dengan perempuan lain?" Cassandra mendengus, kemudian bersedekap. "Jadi maksudmu aku adalah orang asing? Bukankah kau bilang bahwa aku adalah sahabatmu?"


"T-tentu saja kau bukan orang lain, kau adalah sahabatku." Entah kenapa tiba-tiba gadis bersurai emas itu tiba-tiba tergagap.


"Lord Arlen adalah lelaki yang kau sukai bukan? Tentu saja aku sebagai sahabatmu tidak mungkin merebutnya. Kau pikir sahabat macam apa aku ini? Kau pikir setega itu untuk merebut lelaki yang kau cintai?"


Anastasia tersentak. Gadis itu mendadak dirundungi rasa bersalah. "T-tentu... tidak...," gagapnya dengan nada hanyut.


"Tidak kusangka ternyata aku seperti itu di pikiranmu. Ternyata sahabat hanyalah embel-embelmu saja, pada akhirnya kau tetap tidak percaya padaku sebagai sahabat," tutur Cassandra membuat mata hijau milik Anastasia memanas.


"A... aku...  tidak bermaksud seperti itu...." Lagi-lagi gadis bersurai emas itu berkata dengan nada tenggelam. Ya, dia ditenggelamkan ke dasar lautan rasa bersalah oleh perbuatan dia sendiri.


"Kupikir persahabatan kita cukup kuat, ternyata hanya karena rasa salah paham dan suka, persahabatan ini begitu rapuh dan hancur begitu saja," imbuh Cassandra.


Suasana menjadi sangat dingin dan menusuk, perkataan Cassandra seperti kunai yang melesat dan menancap tepat di hati Anastasia.


Kenapa dirinya tidak pernah memikirkan ini sebelumnya? Lagipula, tidak mungkin Cassandra akan mengkhianatinya bukan? Bukankah Cassandra adalah perempuan yang baik?


Kenapa dirinya bisa menjadi se bodoh ini? Akibat perbuatannya sendiri, dia membuat Cassandra kesal.


Dirinya tidak memikirkan dampak dari perkataannya. Sudah pasti Cassandra akan kesal dan kecewa ketika dirinya dengan seenaknya menuduh dan berbicara seperti itu.


"M... maaf... aku salah...," ucap Anastasia. Bahkan airmata pun telah mengguyuri pipinya, dan wajahnya tertunduk dengan tangan yang meremas rok gaun dengan kuat.


Tapi Cassandra tidak peduli dengan tangisan pilih gadis itu, dia masih setia dengan raut kesal dan tatapan dingin di wajahnya yang biasanya menunjukkan ekspresi lembut.


"Namun jika kau memang ingin seperti itu, baiklah. Aku akan menjauhi Lord Arlen seperti yang kau minta. Setelah itu, aku tidak akan mendekati Lord Arlen dan juga kau," kata gadis bersurai coklat itu penuh penekanan.


Anastasia terus membisu dibuatnya, tak tahu bagaimana lagi harus mendeskripsikan perasaan gadis bersurai lurus itu.


"Kuharap kau puas dengan keputusanku," lontar Cassandra kemudian membungkuk hormat sekilas. "Kalau begitu. Selamat malam, Lady Emerald."


Kemudian langkah dari sepatu hak tingginya lama-lama kian menghilang, Anastasia hanya terdiam sembari menatap kepergian Cassandra.


Entah kenapa saat ini, dia merasa bahwa dirinya benar-benar telah keterlaluan.


...~•~...


Cassandra Pov


Selepas usai pesta tadi malam, dapat kurasakan tubuhku sakit semua. Namun itu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah sikap Anastasia.


Perempuan itu telah kembali jahat. Dapat kulihat dari tatapannya saat menyuruhku untuk menjauh dari Arlen. Namun tidak sepenuhnya jahat, karena sepertinya dia masih bimbang dan labil.


Hal yang membuatku penasaran sejak dulu adalah, jika memang awalnya Anastasia adalah perempuan yang baik, lalu apa yang membuatnya berubah menjadi jahat? Tidak mungkin hanya karena merasa terkhianati dia langsung berubah se drastis itu.


Pertanyaan itu telah lama mengendap di pikiranku, dan sampai sekarang belum terjawab. Dan tugasku adalah menuntaskan dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.


Pikirkanlah Cassandra, siapa itu. Sebelum-sebelumnya, tidak ada hal yang mencurigakan dari Anastasia. Lalu, sejak kapan dia tiba-tiba mulai berubah?


"Kak Ana terlihat tengah menyembunyikan sesuatu. Bahkan dia sekarang terlihat seperti orang yang berbeda. Dia tidak sama seperti kak Ana yang kukenal."


Seketika perkataan Daisy kembali terngiang-ngiang di pikiranku. Kalau tidak salah, Daisy mengatakan hal itu ketika tengah membahas tentang festival tahun baru denganku. Berarti belum lama ini.


Apa dia termakan hasutan seseorang? Tiba-tiba pertanyaan lain muncul di pikiranku.


Jika dia memang termakan hasutan seseorang, itu artinya seseorang tersebut pasti memiliki niat jahat. Itu sudah pasti.


Mataku terbelalak begitu saja ketika teringat akan perkataan nona Charlina waktu itu.


Astaga bagaimana bisa aku melupakan dan melewatkan hal itu?!


"I-itu... sebenarnya, ada seseorang yang selalu mengunjungi saya akhir-akhir ini."


"Lalu dia pun mulai membicarakan hal buruk tentang anda pada saya."


"Saya tidak tahu sama sekali siapa sosok tersebut, namun dia selalu mengunjungi saya setiap malam. Dia mulai berbicara buruk tentang anda, dan saya pun termakan perkataannya dan mulai membenci anda sejak saat itu."


"Tapi yang pasti, orang itu selalu mengawasi anda. Karena dia selalu tahu apa yang anda lakukan, dan selalu tahu di mana anda berada."


Jika dipikir-pikir ini masuk akal. Mungkinkah penguntit yang dimaksud nona Charlina adalah orang yang mempengaruhi Anastasia?


Kalau memang ia berniat jahat padaku, maka dia bisa mengincar Anastasia untuk membenciku. Penguntit itu pasti tahu, kalau Anastasia adalah sosok yang mudah terpengaruh sehingga dia mengincarnya.


Dengan begitu, Anastasia pasti akan membenciku karena termakan hasutannya dan sudah pasti gadis itu akan nekat dan melakukan perbuatan jahat terhadapku.


Ibaratkan Anastasia tertangkap telah melakukan perbuatan kejahatan padaku, maka perempuan itu yang akan terkena imbasnya.


Sedangkan penguntit itu sudah pasti akan kabur dan tak peduli lagi dengan Anastasia. Dia pasti akan mencari orang lain yang bisa dijadikan mangsa.


Kalau memang benar begitu, maka penguntit itu bukanlah orang biasa karena bisa memikirkan hal seperti itu.


Penguntit itu berarti adalah orang yang benar-benar dendam padaku. Tapi siapa? Seingatku aku tak pernah berbuat mengesalkan dan merugikan seseorang.


Aku juga tidak pernah melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat seseorang membenciku.


Sepertinya... aku harus memata-matai dan mengawasi Anastasia secara diam-diam, serta aku harus kembali bersikap biasa. Seolah-olah aku tidak tahu apa-apa.


Karena nona Charlina bilang, penguntit itu selalu mengawasiku dan mengetahui segala pergerakanku.


Hah... apa aku bisa mengatasi permasalahan dan kekacauan yang berkepanjangan dalam hidupku ini?


Kenapa hidupku harus serumit ini?


...~•~...


Di dalam sebuah ruangan kerja pribadi yang mewah dan luas, terdapat seorang lelaki yang tengah sibuk dengan kertas-kertas dokumen di atas permukaan meja kerjanya.


Sebotol tinta kecil dan sehelai pena bulu menjadi temannya sejak sedari tadi, jam kuno yang berdetak terus menjadi irama yang mengiringi suasana hening itu.


Wajah seriusnya menjadi penanda bahwa ia tengah tenggelam dalam pekerjaannya dan menjadi pertanda bahwa dia sedang tidak ingin diganggu.


Terkadang, dia menyingkap poni pirangnya yang lumayan panjang dan menutupi dahi beserta pandangannya.


Tanpa diundang, tiba-tiba saja ada sebuah ketukan yang terdengar menganggu konsentrasi lelaki itu. Ia mendengus pelan, kemudian mempersilakan orang yang mengetuk untuk masuk.


"Masuk."


Kehadiran sesosok pelayan muncul di ambang pintu, kemudian menunduk hormat pada snang majikan.


"Sebaiknya kau mengatakan hal yang penting sampai harus mengganggu waktuku," hardik lelaki itu dengan pandangan tak lepas dari kertas dokumennya.


"Maafkan atas kelancangan saya, My Lord. Namun, saya mendapat perintah untuk memberitahukan anda bahwa His Lordship, ayah anda tengah memanggil anda ke ruangannya," ujar pelayan itu penuh hormat.


Pergerakan jari lelaki itu pada permukaan kertas terhenti, dengan netranya yang tampak memikirkan sesuatu. Tak lama dari itu, dia meletakkan penanya kemudian berdiri keluar dari ruangan itu.


"Jangan sampai ada yang masuk ke sini," titahnya sebelum benar-benar melangkah pergi dari ruangan itu.


"Baiklah, My Lord."


.


.


.


.


Tak lama dari itu, kini lelaki yang beralaskan pakaian rapi ala bangsawan itu telah tiba di mana ayahnya menyuruhnya untuk pergi.


Sang ayah duduk diam tampak tengah menunggu kehadirannya sejak tadi sembari membelakanginya, hingga akhirnya berbalik menghadap ke arah lelaki itu.


"Aku dengar Ayah memanggilku," ujar lelaki itu.


"Ya. Ayah ingin memberitahukan sesuatu padamu. Lusa kau akan pergi ke perbatasan timur antara Kerajaan Erosphire dan Kerajaan Uraby, perang akan segera dimulai."


"Perang? Kenapa ayah tidak membicarakan ini lebih awal?" tanya lelaki itu tidak suka.


"Ayah ingin menguji kemampuanmu, ayah sengaja memberitahumu di akhir agar kau tidak kehilangan nyali dan tertekan hingga akhirnya melarikan diri," cecar sang ayah.


Lelaki itu hampir tergelak dibuatnya. "Melarikan diri? Ayah pikir aku se pengecut itu?"


"Tentu saja tidak. Bukankah Ayah bilang bahwa Ayah ingin mengujimu?"


Arlen hanya diam mencermati perkataan ayahnya, sembari menunggu hal lain yang akan dilontarkan padanya.


Netra aquamarinenya menatap lurus ke arah ayahnya dengan tatapannya yang tenang dan menelisik. Seakan tak terusik dengan perkataan ayahnya yang membahas tentang perang.


Tempat di mana perjuangan, nyawa, kekuatan, keahlian, dan rasa kehilangan terkuras dan terlayang.


"Selepas kau kembali, maka saat itulah Ayah akan mengangkatmu sebagai penerus Duke Floniouse selanjutnya."


Lelaki bersurai pirang itu hanya diam mengerti. Saat ia ingin membuka suara, ayahnya sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Dan saat itu juga, kau akan Ayah nikahkan dengan Anastasia."


Seketika tatapannya menyalang tak suka, dia dengan cepat mengeluarkan suara. "Menikah? Bukankah aku sudah menolak untuk menikah dengan Ana?" sarkasnya.


"Keluarga kita dengan keluarga Count Emerald telah lama merencanakan pernikahan ini, Ayah tidak mungkin membatalkannya begitu saja."


Sebuah decakan lolos dari bibir persik lelaki itu, kemudian dia pun menatap tajam lawan bicaranya. "Aku bisa menjadi Duke tanpa harus menikah," ketusnya.


"Memang bisa, namun ini sudah menjadi kesepakatan. Kau tidak bisa menolak begitu saja, kecuali Anastasia juga tidak menginginkan pernikahan ini. Dan kau, jangan coba-coba untuk mengancam gadis itu," terang ayahnya.


"Jika begitu, maka aku akan menyerahkan gelar ini pada adikku," lugas Arlen.


Pria yang bergelar Duke Floniouse langsung berdiri dari tempat duduknya. Kemarahannya telah mencapai puncak. "Apa maksudmu? Ini bukan saatnya bercanda, Arlen de Floniouse!" hardiknya menekankan nama putranya tersebut.


"Aku serius. Jika Ayah masih bersikeras menikahiku dengan Ana, maka aku akan mencoreng Floniouse dari namaku," ancam lelaki itu tak terbantahkan.


Sang ayah menghembuskan nafas kasar mendengar tuturan sang putra. Dia juga tak bisa memaksa lagi jika putranya itu mengancam seperti itu.


Karena dia sudah pasti akan menanggung malu ketika ada rumor yang mengatakan bahwa putra keluarga Floniouse melarikan diri dan membuang gelar Duke nya.


"Baiklah. Tapi, kau tetap harus mencari calon wanita yang akan kau jadikan istrimu nantinya," pasrah pria berumur itu.


Lelaki itu tampak puas, lagipula dia juga tidak terlalu peduli akan gelar dan harta.  Karena hal itu tak akan pernah memuaskan dirinya sampai kapanpun. Kecuali satu hal, yang tersimpan rapat-rapat dalam hatinya.


"Kau juga harus membicarakan hal ini dengan Anastasia sebaik-baiknya, Ayah tidak ingin nama keluarga kita tercoreng," lanjut sang ayah.


Arlen pun menundukkan kepalanya dengan tangan kanan yang ditaruh di dada kiri. "Sesuai perintahmu, Ayah."


Lantas, lelaki itu kembali pada kegiatan awalnya. Ia harus menyelesaikannya, karena dirinya harus melakukan sesuatu sebelum keberangkatannya ke medan perang besok.


Saat dia telah sibuk dengan kertas dokumennya, tiba-tiba saja ada pelayan yang kembali mengganggunya, dan memberikan sebuah surat padanya.


Selepas dia membaca isinya, dia langsung beranjak pergi menuju tempat yang dituliskan oleh si penulis.


...~•~...


Seorang gadis, kini telah berada di sebuah taman sembari meminum secangkir teh bersama seseorang yang ada di hadapannya.


Seusai dia menyesap tehnya, dia pun kemudian berkata. "Maafkan atas perkataanku kasarku tadi malam, Anastasia," ucapnya dengan raut penuh penyesalan.


Dia pun menunduk, sehingga surai coklat garnetnya menutupi wajahnya.


Lantas, sosok bernetra hijau di hadapannya langsung menyuruhnya mengangkat kepalanya. "Tidak perlu, Cassandra. Lagipula akulah yang salah, karena seenaknya menuduhmu dan tidak percaya padamu. Aku benar-benar menyesal."


Anastasia lagi-lagi hampir menumpahkan tangisnya, namun dia berhasil menahannya.


"Tidak ini salahku. Sudah pasti kau akan merasa seperti itu, oleh karena itu aku akan menjauhi Lord Arlen," tegas Cassandra.


Anastasia terdiam, gadis itu masih dilanda oleh kebingungan harus bagaimana.


Tak lama, Cassandra pun tampak teringat akan sesuatu dan langsung berdiri.


"Astaga, maaf Ana. Aku teringat ada sesuatu yang harus kulakukan, kalau begitu aku pergi dahulu. Selamat sore," pamitnya kemudian terburu-buru.


"Apa aku harus mengantarmu?" tawar Anastasia.


"Eh? Ah... t-tidak usah. A-aku bisa sendiri," gagunya kemudian berlari terburu-buru yang mana mengundang kecurigaan Anastasia.


Karena penasaran, lantas Anastasia mengikuti Cassandra. Gadis berhelai coklat itu diikuti secara diam-diam oleh Anastasia di belakangnya.


Akhirnya, Cassandra berhenti ketika telah berada di hadapan seorang lelaki. Sontak, Anastasia ikut berhenti kemudian bersembunyi sembari menguping dan memata-matai.


Anastasia sedikit terkejut ketika ada kehadiran seorang lelaki yang ia sukai, namun dia berusaha diam sembari menatap.


Cassandra tampak melipat bibirnya ketika menatap Arlen di hadapannya, kemudian dia menarik napas.


Bibirnya bergetar, dengan matanya yang mulai berair. Kemudian dia berkata dengan nada tenggelam namun masih bisa didengar jelas oleh Anastasia.


Bahkan gadis berhelai emas itu bisa mendengar jelas nada suara getar Cassandra dan airmata yang mulai menggenang di bola matanya.


"Saya mohon, mulai sekarang tolong menjauhlah dari saya, My Lord."


...17.02.2021...